
Sementara itu, kuda besi yang dikendarai Shaka melesat membelah jalan raya. Bukan sekolah yang Ia tuju, tapi suatu tempat yang Ia kunjungi. Motor pun berhenti ditepi jalan dekat pertigaan. Ia matikan mesin motor dan duduk disana seraya menunggu seseorang dan sesekali melirik jam ditangannya.
"Ck! Lama banget sih!" Gerutunya dengan menghembuskan nafasnya kasar.
Tiba-tiba seorang gadis dengan seragam yang sama dengannya menghampiri motor dan sipemiliknya. "Sorry gue telat!" Ucapnya seraya menepuk pundaknya hingga membuat Shaka sedikit terlonjak.
"Ya ampun! Ngagetin aja lu." Timpal Shaka seraya mengusap dadanya membuat si gadis tersenyum.
"Jadi gimana? Mau kita lanjutin dramanya atau-" Belum juga selesai ucapannya, tiba-tiba si gadis berhambur memeluknya, menyembunyikan wajahnya diceruk Shaka. Membuat dirinya sedikit oleng dan hampir jatuh dengan motornya, untung saja reflek kakinya cepat menahan bobot motor dan dirinya.
Hening!
Shaka tak mengeluarkan suara apapun, mendadak tubuhnya kaku mendapatkan perlakuan seperti itu. Hingga suara gadis yang memeluknya menyadarkannya.
"Kita lanjut! Gue akan pastikan dia menyesal. Dan lu harus bantuin gue!" Ucapnya membuat Shaka tersenyum sinis.
Apalagi kala melihat seseorang yang melewati mereka dengan mobilnya tengah bersama seorang gadis. Dan Ia mengerti kenapa gadis yang sudah melerai pelukannya itu berbuat seperti demikian.
"Ada harga yang harus lu bayar buat jasa gue! Gimana?" Tanya Shaka dengan seringainya. "Deal!" Shaka mengulurkan tangannya.
Si gadis ikut tersenyum sinis "Oke! Deal!" Bukan menggapai, Ia justru mengeplak uluran tangan Shaka hingga membuatnya tertawa.
"Ya udah lu naik cepetan!" Titah Shaka. Tanpa menjawab Ia pun menaiki motor dan duduk diboncengan Shaka.
Motor pun melesat meninggalkan tempat itu dengan kecepatan tinggi, membuat si gadis memeluknya erat dan menyembunyikan wajahnya dipunggung lebar Shaka.
'Gue akan bikin siapapun yang nyakitin lu, bertekuk lutut dihadapan lu. Gue janji itu, Jin!' Batinnya.
**
Kuda besi yang dikendarai Abi dan Sena sudah terparkir apik diparkiran sekolah. Semua mata tertuju pada kedua remaja itu yang tengah berjalan beriringan dikoridor.
"Njirr mereka cuco bingits!"
"Ini mah King n Quenn nya most wanted."
"Mau dong jadi Sensen!"
Dan masih banyak lagi ocehan-ocehan dari para gadis penghuni sekolah. Hingga keduanya hampir sampai didepan aula olahraga dan kembali menjadi perhatian penghuni disana, termasuk team basket yang memang penggemar Sena.
"Eh! Eh! Itu Sensen kita sama siapa?" Tanya salah seorang dari mereka pada teman-temanya.
"Kek nya anak baru tuh!" Timpal salah seorangnya lagi.
"Wahh gak bisa dibiarin nih!"
"By the way, si Aska kemana? Tu anak kan udah kek bapaknya ngintil mulu. Giliran ada yang gandeng, dianya malah ngilang!"
__ADS_1
"Iya. Padahal kita mana pernah dikasih kesempatan sama dia buat deketin dedenya itu?"
"Ya udah kita cegat. Jangan sampe tu anak nikung kita!"
"Iya. Apalagi kalo sampe bikin si Aska ngamuk, bisa berabe."
Mereka sudah siap didepan aula untuk mencegat sepasang muda mudi yang akan melewati mereka.
"Hai adek Sensen?!" Sapa Edo, salah satu anak basket. Membuat keduanya berhenti disana.
"Hai kak!" Sapa Sena balik dengan ramah dan jangan lupakan lengkungan senyum manis yang mampu memporak porandakan hati mereka.
"MashaAlloh! De senyumnya jangan terlalu manis napa? Kakak meleyot!" Timpalnya dengan memegang dadanya dramatis.
Sena semakin melebarkan senyumnya dan menampilkan deretan giginya. Dan hal itu sukses membuat Abi memutar bola matanya malas.
Tanpa menunggu penuturan dari anak-anak team basket lagi dan persetujuan Sena, Abi menggenggam tangan Sena dan menyeretnya menjauhi tempat itu.
"Eh! Eh! Lu mau bawa kemana adek Sensen gue woy!" Teriak Edo, namun tak digubris Abi.
Sura menjadi riuh dari anak-anak basket disana. Segala umpatan mereka layangkan pada Abi. Bahakn mereka hendak mengejarnya, namun tanpa diduga Abi berhenti dan berbalik kala mendengar derap langkah mereka yang mengikutinya.
Tak ada kata yang dikeluarkan dari bibirnya, hanya tatapan tajam dan dingin yang menghunus ke arah mereka. Membuat mereka semua berhenti seketika, kala melihat tatapan membunuh seorang Abi. Lama Abi menatap mereka, membuat mereka bungkam dan tak ada yang berani megengeluarkan sepatah katapun. Hingga hawa dingin menyelimuti suasana yang tadinya riuh itu menjadi hening. Bahkan bukan hanya mereka saja, Sena juga merasakan hawa menyeramkan sampai bulu kuduknya berdiri.
Abi kembali berbalik dan berjalan menggandeng tangan Sena. Sena hanya mengikutinya dan sesekali menoleh memperhatikan wajah menyeramkan sepupunya itu.
"Ajipp! Auranya itu pak'e gak main-main."
"Iya. Gue sampe merinding ini."
"Tu orang apa makhluk ya?"
"Siapa sebenarnya tu anak? Kenapa dia bisa sedekat itu dengan Sensen?"
"Udahlah yuk cabut!"
Merkapun kembali memasuki aula untuk bersiap-siap latihan.
**
Sementara itu Abi menyeret Sena bukan ke kelasnya namun ke ruang UKS, hingga membuat Sena bingung dan bertanya-tanya.
"Eh! Tunggu-tunggu! Kenapa kita kesini?" Tanyanya seraya menarik tangannya agar Abi berhenti. Namun Abi tak menggubrisnya, Ia tetap menyeret Sena sampai masuk ruangan kesehatan itu.
Setelah pintu tertutup, Abi membawa Sena sampai ditembok dan mengukungnya. Ia menatap matanya dalam, dengan satu tangannya menjadi penyangga.
Hal itu sukses membuat Sena shok, hingga menelan salivanya susah payah. Degup jantungnya kembali berpacu dua kali lebih cepat. Apalagi tatapan itu, benar-benar membuat dirinya tak berkutik.
__ADS_1
"A-Abi?" Tanyanya terbata. "L-Lu kenapa?" Sena benar-benar gugup kala wajahnya dengan wajah sang sepupu yang semakin dekat.
"Apa tiap kali tanggapan lu kek gini?" Tanyanya.
"M-Maksud lu?"
"Ngumbar senyum, sama semua makhluk penghuni disini?" Tanyanya lagi.
"Iya!" Jawabnya singkat.
"Dan dengan senang hati lu mau digoda mereka? Hah?" Tanyanya lagi dengan meninggikan nadanya satu oktaf, membuat Sena terlonjak dan ketakutan.
Bukan menjawab Sena menunduk, hingga air matanya luruh begitu saja. Ini pertama kalinya ada yang benar-benar membentaknya. Bentakan sang Mama dan Shaka tak sampai membuat Ia menangis. Tapi kali ini bentakan Abi, sukses membuat Ia ketakutan.
Abi ingin mengumpat dan mengeluarkan kekesalannya, namun melihat gadis dihadapannya yang menangis membuatnya mengurungkan niatnya. Ia pun hanya menghembuskan napasnya panjang, menekan emosi yang menjalari aliran darahnya.
Ia tarik tubuh Sena kedalam dadanya. Mendekapnya erat tubuh ringkih yang tengah sesenggukan itu. Ia usap sayang rambut yabg tergerai indah itu dan mencoba menenangkannya.
"Maafin gue!" Gumamnya dan terus membelai rambutnya. Dengan reflek Ia juga menciumi pucuk kepalanya bertubi-tubi.
Hingga beberapa menit kemudian tangis dari bibir itu hilang. Menyisakan isakan kecil, yang sepertinya kata-kata Abi begitu menyakitkan hatinya.
Ia lerai dekapannya, merapihkan rambut yang sedikit berantakan. Menghapus jejak kebasahan yang menghiasi wajah cantiknya.
"Maafin gue! Gue gak maksud bentak lu." Tuturnya "Hanya saja." Abi menjeda kalimatnya hingga membuat Sena yang menunduk menjadi mendongak.
"Gue gak suka! Jangan pernah kasih lengkungan indah itu buat orang lain, selain gue!" Tegasnya.
****************
Alon-alon aja yaa, mak othornya sibuk nyari baju bedug euyyš eh duitnya maksudnyaš¤£
Jangan lupa like dan komennya ya! Kasih vote lah hari senin iniš¤ tabur-tabur bunga jugaa yaaš
Tengkyuuuuššš
.
.
Ini yang dingin-dingin menyegarkanš kek es buahš¤£
Ini yang sukses bikin meleyotš
__ADS_1