
"Sen?! Lu kenapa?" Tanya Jingga, kala dirinya baru memasuki kelas dan duduk dibangku sebelah Sena.
Ia tangkup kedua pipi bestienya itu, dan melihatnya bolak balik. "Lu nangis?" Tanya lagi.
"Nggak! Gue gak papa." Sangkalnya dan sukses membuat Jingga berdecak.
"Ck! Lu mau cerita? Apa mau peram sendiri?" Tanyanya lagi dengan nada kesalnya membuat Sena menghembuskan nafasnya panjang.
"Iya. Ntar gue ceritain!" Ucap Sena melirik kearah Abi yang tengah merebakan dirinya dimeja, menyangga kepala dengan lipatan kedua lengannya dipojok sana.
Jingga mengikuti arah tatapan Sena, kemudian Ia pun tersenyum. "Pasti karena dia." Ucap Jingga mengalihkan perhatian Sena.
Sena tersenyum. Bestienya ini, memang paling mengerti dirinya. Tanpa penjelasan panjang kali lebar, Ia sudah memahaminya lebih dulu.
Ia dekap tubuh sahabatnya itu, namun tatapannya masih enggan terlepas dari pemuda yang mengesalkan namun mampu membuat jantungnya berdegup lebih cepat itu. Ia menceritakan inti dari apa yang Ia alami dari kemarin dengan sepupunya itu. Dengan berbisik-bisik tetangga, agar tak didengar orang lain.
"Gue gak tau apa yang sebenernya terjadi sama gue. Gue udah menyangakal semuanya. Tapi?" Ia kembali menghembuskan nafasnya panjang. "Gue gak ngerti, perasaan apa ini?"
Tanyanya seraya menenggelamkan wajahnya dibahu sang bestie.
"Cinta!" Tutur Jingga membuat Sena reflek melerainya.
"Whaat?" Pekik Sena kaget hingga Ia dengan cepat menutup mulutnya dengan telapak tangan, kala atensi dari beberapa penghuni kelas melihat ke arahnya.
Kelas yang memang masih terlalu sepi, hanya dihuni oleh beberpaa siswa yang baru datang. Tak membuat acara curhat mencurhat keduanya terganggu. Bahkan mereka tengah sibuk dengan dunia mereka masing-masing.
"Jangan bercanda deh gak lucu!" Ucap Sena seraya menutup wajah Jingga dengan telapak tangannya hingga membuat Jingga tertawa.
"Ya apalagi coba? Dari cerita lu yang gue tangkap emang kek gitu." Tutur Jingga.
Sena kemabali menyembunyikan wajahnya dibahu bestienya itu. "Tapi kan kita sepupuan? Dan kenapa harus rasa ini?" Tanya Sena pelan, merasa tak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Ada hal yang perlu lu tau. Cinta itu tanpa batas! Cinta tak pernah mengenal siapa dan bagaimana? Kita tak bisa menentukan pada siapa cinta kita menepi? Karena hanya hati lah yang berbicara." Tutur Jingga membuat Sena mendongak.
"Dan lu gak akan bisa ngelak. Sekuat apapun lu menghindar, maka rasa itu akan semakin kuat menahan lu pergi dan menyangkalnya." Lanjutnya.
"Gue cuma saranin lu, agar tak pernah mengelaknya! Agar lu terhindar dari rasa sakit. Biarkan rasa itu mengalir apa adanya. Karena cinta gak pernah salah!" Penuturan Jingga membuat keduanya tersenyum.
"Bijak banget sii.." Ucap Sena menjewel kedua pipi bestienya itu gemas hingga membuatnya mengaduh.
"Sayang Jinjin!" Ucapnya dramatis membuat Jingga seolah ingin memuntahkan isi perutnya.
__ADS_1
Sena tak memeperdulikan ekspresi Jingga, Ia kembali memeluk tubuhnya erat dan membuatnya berontak. Hingga suara seseorang mengalihkan perhatian mereka.
"De?!" Sapanya. Membuat Sena melepasakan pelukannya.
"Aka?!" Jawabnya dan lamgsung disambut kakak sepupu yang berasa seperti kakaknya sendiri itu.
Ia mendudukan dirinya dibangku depan kedua gadis itu. Memutar kursi mengarah kehadapan keduanya.
"Gimana kak keadaan timom?" Tanya Sena yang begitu khawatir dengan kondisi timom mereka.
"Gak papa. Timom udah diperiksa dokter, udah dikasih vitamin juga." Timpal Aska.
"Emang timom sakit apa? Kok cuma dikasih vitamin?" Tanya Sena heran.
"Malarindu." Timpal Aska dan sukses membuat kedua gadis didepannya tergelak.
"Si timom nih ada-ada aja. Masa rindu sampe sakit-sakitan segala?" Sena berkomentar disela gelak tawanya.
"Gak nyadar! Lu sendiri dulu gitu, ditinggal Abi." Timpal Jingga membuat Sena berhenti tertawa dan jangan lupakan ekspresi Aska yang mendadak melengos.
Sena memang sering mengeluh hanya pada bestienya mengenai kerinduamnya pada pemuda yang berstatuskan sepupunya itu. Ia tak pernah curhat apapun pada kedua kakaknya.
"Ishhh paan sih lu!" Elak Sena seraya memberi kode pada bestienya itu untuk tutup mulut. Jingga langsung bungkam, kala tau bibirnya keseleo membeberkan aib bestienya ini didepan kakaknya.
"Ya udah Aka ke kelas dulu. Kalian belajar yang bener!" Ucapnya mengusek pucuk kepala Sena dengan sayang seraya menyunggingkan senyuman termanisnya.
Dan kembali, perlakuan Aska terhadap Sena tak luput dari perhatian Abi. Hingga membuatnya tersenyum sinis. 'Lu boleh dapat perhatian dia. Tapi nggak dengan hatinya.' Batinnya.
**
Istirahat pun tiba, kini semua penghuni kelas behamburan menuju kantin. Begitupun Sena, Ia sudah ditarik lebih dulu menuju kantin. Jingga dan Rizky hanya mengikutinya dari belakang.
"Aduh bi! Pelan-pelan dong jalannya!" Omel Sena dengan jalannya yang terseret.
"Lamban!"
"Bukan lamban, kaki lu kan jangkung jangan samain sama punya gue lah!" Protesnya lagi.
Abi pun pasrah memperlambat jalannya. Hingga akhirnya mereka tiba dikantin. Sena mengedarkan pandangannya mencari kedua bestie nya itu.
"Jinjin sama Iki kemana?" Tanyanya seraya mendudukan dirinya diatas bangku, diikuti Abi disampingnya.
__ADS_1
"Ntar juga dateng." Timpal Abi dingin.
"Bisa gak ngomong lu tuh biasa aja! Heran gue." Protes Sena melihat kearah sepupunya itu.
Abi ikut menoleh dengan menyangga tangannya menahan kepalanya, hingga wajahnya mendekat ke arah Sena. "Terus mau lu kek gimana?" Tanyanya dengan nada lembut membuat Sena terpaku dengan suara lembut itu, apalagi tatapan itu. Membuat degup jantungnya kembali berpacu.
Sena berdehem untuk menetralkan pipinya yang tiba-tiba terasa terbakar.
"Ehemm! Y-ya kek gitu." Timpalnya sedikit gugup.
Abi menyunggingkan senyumnya tipis melihat rona pipi yang menghiasi wajah cantik gadis didepannya.
"Sana! Jangan terlalu deket!" Titah Sena menyingkirkan wajahnya yang terlalu dekat dengannya.
"Kenapa?" Goda Abi.
"Gue bisa mati!" Timpalnya, namun hanya Ia ucapkan dalam hati.
"Udah sana! Tu banyak yang lihatin!" Ucap Sena salah tingkah dan kembali menyingkirkan wajah tampan itu dari hadapannya hingga Abi kembali menyunggingkan senyum tipisnya.
Ternyata interaksi keduanya dilihat Aska yang baru saja sampai dikantin. Entah kenapa hawa sekitar membuatnya mengembang kempiskan pipinya mengambil oksigen dalam-dalam seraya meniupi wajahnya yang terasa memanas.
Jingga dan Rizky pun sudah gabung disana, disusul Aska dan Shaka yang baru bergabung. Dan hal itu membuat Abi kembali kesosok aslinya.
"Udah pada pesen?" Tanya Shaka.
"Belum. Kenapa aka mau neraktir ya?" Tanya Sena.
"Enak aja! Bayar sendiri. Udah dapet jatah nya masing-masing juga." Protesnya membuat Sena mencebikan bibirnya. Mereka tersenyum melihat kedua kakak beradik ini.
"Kamu mau pesen apa? Ntar Aka bayarin!" Tanya Aska.
Dengan senyumnya yang lebar, Sena hendak melontarkan ucapannya. Namun Abi segera nenyelaknya.
"Gak perlu! Gue udah pesen seblak dua porsi." Timpalnya membuat Sena mengurungkan ucapannya dan nmenghembuskan nafasnya pelan.
Senyap. Tak ada suara dari mereka, mendadak hawa dingin menyelimuti sekitar mereka. Mereka hanya saling lirik tanpa mau mengeluarkan kata. Apalagi melihat tatapan Abi yang beradu dengan Aska, seolah tengah ada perang batin disana.
"Kita lihat siapa yang jadi winner nya disini?"
*****************
__ADS_1
Ayo gaisss ramaikan😉 Jangan lupa jejaknya ketinggalan yaa😊