Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 123


__ADS_3

Malam ini Ayra tak bisa tidur dengan nyenyak. Dengan keadaan perutnya yang semakin membulat, membuat Ia susah untuk bergerak. Menurut prediksi dokter, hari perkiraan lahir sekitar satu minggu lagi. Namun Ia sudah mulai merasakan tak nyaman diarea sensitifnya, bahkan Ia sampai bolak balik kamar mandi karena terus buang air kecil.


"Bang bangun!" Ayra menggoyangkan tubuh suaminya pelan, untuk membangunkannya.


Bang Ar tak berkutik sama sekali, lelahnya akibat membuat part terlalu banyak membuatnya benar-benar pules.


"Bang bangun ihh! Ambilin minum kebawah, ini airnya abis!"


Bang Ar yang selalu siaga, mendadak sulit sekali dibangunkan. Bahkan hanya terdengar gumaman kecil dari mulutnya.


"Ya udah jangan marah ya! Aku mau ambil air kebawah." Ucapnya namun tak membuat bang Ar terusik.


Bang Ar memang tak mengizinkan sang istri turun diwaktu malam. Ia yang akan turun jikalau sang istri membutuhkan sesuatu. Melihat bagaimana kehamilannya yang begitu besar, bang Ar terlalu khawatir untuk membiarkannya naik turun tangga.


Bang Ar sudah mendiskusikan hal itu dengan sang istri. Supaya tak lagi naik turun tangga, bang Ar sudah mengajaknya pindah kamar ke lantai bawah. Namun Ayra tetap kekeuh, ingin dikamar atas. Katanya takut gak betah cenah. Akhirnya bang Ar pasrah, membiarkan keduanya untuk tetap dikamar atas. Meski Ia harus bolak balik, mengambil apapun kebutuhan istrinya.


Ayra pun berlenggang keluar kamar. Saat Ayra baru saja keluar, bang Ar yang baru bisa membuka matanya, celingukan mencari sang istri.


"Sayang kamu dimana?" Teriaknya sambil bangun dari tidurnya dan menguceuk matanya.


"Apa dia dikamar mandi yah?" Tanyanya bermonolog sendiri.


Ia bangkit dari ranjang. Dengan keadaannya yang hanya memakai boxer dengan telanjang dada, Ia berlenggang kedepan kamar mandi dan mengetuk pintunya.


"Sayang! Kamu didalem?" Teriaknya, namun tak ada jawaban dari sana. Ia pun mencoba memutar knopnya. Pintu terbuka, namun tak menampakan siapapun disana membuat bang Ar khawatir.


Ia ambil kaos yang berserakan dilantai dan memakainya. Lalu kemudian berlenggang keluar kamar dan terus berteriak memanggil sang istri. Perasaannya tiba-tiba saja tak menentu, apalagi tak ada sama sekali jawaban darinya.


Bang Ar sudah menuruni satu persatu anak tangga. Dan kembali memanggil istrinya itu. "Sayang! Sa-" Ucapannya berhenti kala netranya menangkap seseorang yang tergeletak diatas lantai dekat meja makan.


"Sayang!" Pekik bang Ar dan segera berhambur menghampirinya. Ia begitu shok saat tau siapa yang tertidur diatas lantai. Ia memangku kepalanya dan menepuk-nepuk pipinya.


"Sayang kamu kenapa? Apa yang terjadi? Bangun yang bangun!" Bang Ar begitu panik, kala sang istri tak kunjung bangun. Ia menggendong tubuh berat sang istri menuju sofa.


Ia terus mencoba membangunkannya, namun masih tak ada tanggapan. Ia pun menelpon sang Ayah untuk mengantarnya kerumah sakit. Karena mobil bang Ar tengah ada di bengkel.


Terdengar nada masuk, namun tak ada jawaban darinya. Ia baru ingat kalau tengah malam sang Ayah suka men silent Hp nya. Ia coba menghubungi sang Papih, namun hasilnya masih sama, pastilah Papih dan Mamihnya tengah tertidur pulas. Mengingat ini sudah jam satu malam.


Ia mencoba menghubungi abangnya. Terdengar nada masuk. Namun masih belum ada jawaban. "Angkat bang! Angkat!" Ia terus bergumam dengan berlutut dibawah sofa dihadapan sang istri dan satu tangannya terus membelai rambutnya.


Bang Agung


Hallo Ar?


Me

__ADS_1


Hallo bang! Bang cepetan kesini. Bawa mobil, Ayra pingsan, sekarang harus kerumah sakit!


Bang Agung


Apa? Iya! Iya, gue jalan sekarang.


**


Sambungan pun terputus, Ia terus mencoba menyadarkan sang istri, menciumi wajahnya yangkian memucat.


"Sayang bangun! Abang mohon! Abang gak akan memaafkan diri abang sendiri. Kalo sesuatu terjadi padamu." Bang Ar menggenggam tangannya yang kian dingin. Air matanya luruh begitu saja.


Ia ambil kayu putih dari dalam laci, menuangkannya dan menggosok kedua tangannya bergilir. Hingga suara klakson mobil, mengalihkan atensinya. Dengan tergesa pintu digedornya keras. Bang Ar bangkit dan membukanya.


"Apa yang terjadi Ar? Gimana keadaannya Ay sekarang?" Tanya bang Agung panik, dengan menerobos masuk.


"Gue gak tau pasti bang, saat gue bangun dia udah gak ada dikasur, gue cari dan ternyata sudah tergeletak diatas lantai." Timpal bang Ar seraya duduk diatas lantai dekat sofa yang ditiduri sang istri.


"Gue harus gimana bang? Gue takut!" Air matanya tumpah seraya menggenggam tangan sang istri dengan wajah tertunduk.


Bang Agung menepuk pundak adik iparnya. "Udah! Gak ada waktu buat nangis! Sekarang lu siap-siap. Kita berangkat kerumah sakit." Titah bang Agung.


Bang Ar mengangguk dan bangun. Lalu bergegas kekamarnya, dan mempersiapkan segalanya. Tak lupa Ia juga membawa perlengkapan baby dan istrinya.


Dengan tergesa Ia sudah kembali kebawah dan hendak mengendong sang istri. Namun pundaknya ditepuk sang abang.


Bang Ar beralih melihat dirinya, Ia sampai mengusap wajahnya kasar dan segera berlenggang kembali ke kamar.


Dengan penampilan yang sudah rapih, namun nyatanya hanya bajunya saja yang rapih. Karena wajah dan rambutnya masih acakadul.


"Sett dah! Tu muka gak mau dicuci dulu apa?" Tanya bang Agung.


"Gak bang! Gak keburu, cepetan kita berangkat!" Timpal bang Ar yang sudah menggendong sang istri ala brigde style menuju pintu luar.


Bang Agung hanya geleng-geleng kepala, Ia ambil tas keperluan adik dan ponakannya, berlalu mengikuti adik iparnya.


Ketiganya masuk kedalam mobil dengan Ayra digendongan suaminya. Mobilpun berlalu meninggalkan halaman rumah bang Ar.


**


Selang beberapa menit mobilpun sampai. Saat ditengah perjalanan bang Ar sudah menghubungi pihak rumah sakit untuk menyambutnya. Hingga pas turun dari mobil, para petugas sudah siaga dengan brankar yang mereka bawa.


Merekapun masuk mendorong brankar dengan tergesa menuju ruang UGD. Bang Ar tetap setia disisi sang istri, sedangkan bang Agung menunggu diluar.


Tim dokter segera mengambil tindakan, mulai memeriksa kondisi Ayra dan baby nya. Bang Ar terus menggenggam tangannya dengan perasaan tak menentu.

__ADS_1


"Dok? Gimana keadaannya?" Tanya bang Ar panik.


"Kondisi bayinya Alhamdulillah baik! Hanya saja air ketubannya semakin mengering. Dan sepertinya bu Ayra terpeleset dan terbentur. Karena terdapat benturan kecil dikepalanya hingga membuatnya tak sadarkan diri. Tapi bapak tenang saja bu Ayra akan segera sadar!" Tutur sang dokter.


Bang Ar menghela nafasnya berat, jantungnya masihberdegup begitu kencang. "Terus apa yang harus kita lakukan?" Tanyanya.


"Kita harus melakukan operasi SC. Karena kalau dibiarkan, itu akan berbahaya bagi bayinya." Timpal dokter dan disetujui bang Ar.


Tim dokter pun dengan cepat membawanya menuju ruang operasi. Bang Ar ikut masuk menemaninya. Diluar bang Agung tak sendiri, sudah ada kedua orangtua mereka juga disana.


Kegiatan didalam pun mulai dilakukan. Ayra sudah membuka matanya.


"Bang kita dimana?" Tanyanya pada sang suami.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar. Kita dirumah sakit. Kamu akan melakukan operasi SC, dedenya akan lahir sayang!" Timpal bang Ar mencium tangan digenggamannya.


"Tapi aku takut bang!" Tutur Ayra hingga menjatuhkan air mata dipipinya.


"Kamu tenang aja. Semuanya akan baik-baik aja! Ada abang disini ya!" Bang Ar mencium kening istrinya lama dan menghapus jejak kebasahan dipipinya.


Hingga tak butuh waktu lama tangis bayipun terdengar menggema diruangan itu.


Owaaakkk!!!


"Selamat pak bayinya perempuan!" Ucap sang suster.


"Alhamdulillah!!"


...-TAMAT-...


************


Maaf ya readers kita tamatin ampe disini. Tapi tenang aja masih ada exta, extra, extra partnya😊


Ikhlas gak ikhlas ya pokoknya udah we lah🤧Udah pada bahagia juga ya!


Gak tau harus bilang apa sama readers semua pokoknya Makasih! Makasih! Makasih! Udah temenin mak othor dari awal ampe sekarang😘😘😘😘 Sehat-sehat buat kaleann🙏🙏🙏🙏🙏🙏


Kita pindah ke lapak abang duda ya! Yuk ramaikan juga disana😊



Bang Ar: Teganya dirimu thor, kita ditinggalin😪


__ADS_1


Ayra: Kita diselipin bang😭


__ADS_2