Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 105


__ADS_3

Suara melengking tangisan bayi begitu nyaring hingga terdengar keluar ruangan. Semua yang menunggu diluar begitu terharu mendengarnya. Tangis bahagia ditumpahkan kedua wanita paruh baya yang sudah menyandang status nenek.


Namun dibalik rasa bahagia itu, terbesit kembali rasa khawatir. Seperti dejavu hal yang pernah mereka lalui, kembali terjadi. Mereka kembali dibuat khawatir kala, belum ada tim dokter yang mengabari mereka.


Ceklek


Pintu ruang bersalin terbuka, nampaklah seseorang dengan setelan jasnya. Mereka berdiri dari duduknya. Dengan perasaan waswas mereka menunggu sang dokter berbicara. Hingga sang Mamih yang tak sabar mencecar pertanyaan padanya.


"Gimana dok keadaan cucu saya? Terus ibunya gimana? Mereka sehat kan dok?" Tanya Mamih khawatir.


"Alhamdulillah bayinya laki-laki, dengan berat tiga koma lima kilogram. Dan keadaannya sehat." Timpal dokter membuat mereka menghembuskan nafasnya lega.


"Alhamdulillah!"


"Terus ibunya gimana dok?" Tanya Mamih, membuat mereka kembali tegang.


"Ibunya sehat, tapi!"


"Tapi apa dok?" Tanya Ibu, membuat mereka semakin tegang. Perasaan mereka begitu berdebar mendengar apa yang akan dikatakan sang dokter.


Dokter tersenyum, membuat mereka semakin tak menentu. "Tapi ada sesuatu yang ibunya inginkan." Timpal dokter.


Mereka semakin shok dan gugup. Bahkan wajah mereka nampak pucat. Dengan gemetar Mamih bertanya.


"Apa dok?"


"Dia...."


Semua begitu tegang menunggu, sesuatu yang mereka ingin hindari seolah sudah menari didepan mata.


"Dia ingin makan! Sepertinya bu Ayra tak sempat makan tadi. Hingga sekarang usai melahirkan Ia begitu kelaparan." Jawab dokter melipat bibir, menahan tawanya. Kala tadi pasiennya, mengatakan kelaparan ingin makan.


Semua orang melongo mendengar ucapan sang dokter. Sampai beberapa detik kemudian mereka tersenyum bahkan tertawa kecil.


"Baik dok. Kami akan memberinya makan." Timpal Ibu. Mereka memang sampai melupakan makan. Apalagi melahirkan pastilah butuh banyak energi. Sudah dipastikan usai melahirkan Ayra kelaparan.


Setelah berbincang sebentar dokterpun berlenggang meninggalkan mereka. Bayi dan Ibunya bisa ditengok setelah dipindahkan ke ruang rawat inap.


Sementara itu didalam ruang bersalin, bang Ar tengah mengelap keringat diseluruh wajah sang istri. Mendaratkan ciumannya bertubi-tubi disana. Dengan terus menggumamkan "Maksih!" Bang Ar begitu bahagia. Ini adalah satu hal yang takan pernah Ia lupakan diseumur hidupnya.


"Udah bang! Malu tuh sama susternya." Ayra memperingati suaminya yang tak berhenti menciumi wajahnya. Ia melirik dua suster yang tengah senyam senyum pada keduanya.

__ADS_1


"Gak papa! Pokoknya abang bahagia. Sangat!" Bang Ar tak juga berhenti. Hingga suara suster menglihkan perhatiannya.


"Maaf pak! Ini bayinya di adzani dulu!" Titah seorang suster memberikan bayinya pada bang Ar.


Bang Ar menerimanya dengam senyum yang tak luntur dari bibirnya. Ia pandangi lekat-lekat wajah putranya. Hasil jerih nikmatnya, berbuah begitu tampan menggemaskan. Ia usap pipi chuby nya dan ingin mulai mengumandangkan adzannya namun diselak sang istri.


"Bang adzan ya! Jangan takbir!" Kekehnya. Membuat para suster disana tersenyum melipat bibir, mendengar penuturan pasiennya.


Bang Ar tersenyum. "Gak! Mau nyanyi." Timpalnya membuat Ayra tertawa kecil.


Mereka mengingat malam tadi saat menonton video seorang bapak yang salah mengumandangkan adzan. Bukannya adzan Ia malah takbir. Dan tiba-tiba hal itu sukses mengingatkan keduanya.


Bang Ar pun mulai mengumandangkan adzan ditelinga kanan putranya hingga selesai, dan iqomah ditelinga kirinya. Ia tatap kembali wajah sang putra dan mencium keningnya lama.


Setelah itu suster kembali mengambil bayinya dan memberikannya pada sang Mama untuk melakukan IMD. Diletakannya sang bayi dengan posisi tengkurap didada ibunya agar menjangkau pucuk kehidupannya. Ayra sampai menitikkan air matanya. Terharu. Ia masih tak percaya sudah menjadi seorang Ibu.


Bang Ar mendekat mengusap kepala sang istri mencium pucuk kepalanya. Dan beralih mengambil satu tangan sang bayi, membiarkannya menggenggam jari telunjuknya. Bang Ar tersenyum kala sang putra dapat menjangkau pucuk favoritnya.


"Kek nya akan ada acara penyerahan benda favorit ya!" Kekeh bang Ar membuat keduanya tertawa kecil.


**


Ceklek


"Nih, Ibu bawain makanan. Kamu makan ya sayang!" Ibu menyimpan sebagian makanan di meja sofa dan membawa bagian untuk Ayra.


"Iya bu. Makasih! Aku laper banget." Timpal Ayra membuat mereka tertwa.


Bang Ar mengambil bingkisan dari sang Ibu. Membukanya dipiring dan mulai menyuapi sang istri.


"Aaa!" Ayra menerima suapan dari suaminya dengan senang hati.


"Makan yang banyak ya! Biar energinya ke isi lagi." Titah bang Ar yang dengan telaten menyuapi istrinya dan dijawab anggukan olehnya.


"Gak cuma buat energi aja. Sekarang ada baby yang butuh asi kamu, jadi makannya harus extra! Biar banyak asinya." Timpal Mamih dan diiyakan bang Ar dan istrinya.


Seseorang mengetuk pintu kamar membuat atensi mereka teralihkan. Ia masuk setelah mendapat izin dari penghuni didalamnya.


"Permisi! Saya mengantarkan bayinya bu Ayra." Seorang suster masuk mendorong box bayi. Semua tersenyum bahagia menyambut anggota keluarga baru mereka.


Setelah baby box ditempatkan disisi ranjang ibunya, suster pun berpamitan keluar.

__ADS_1


Ibu dan Mamih dengan bersemangat mendekati baby box ingin melihat cucu mereka.


"Ya ampu cucu Mimih, ganteng banget. Gemoy nyaa!" Ucap Mamih seraya menggendong cucunya. Ia menciumi wajahnya gemas. Tak menyangka akan jadi nenek dari dua cucunya sekaligus.


"Giliran bu. Saya juga mau gendong!" Pinta Ibu. Mamih pun menyerahkannya untuk digendong satu neneknya lagi.


"Ini mah Ardi kecil. Persis banget." Ibu mencium pipi gembul cucunya. "Gantengnya nenek!"


"Jangan nenek lah bu masih muda!" Protes Mamih.


"Gak papa bu, saya seneng dipanggil nenek! Apalagi ini cucu pertama saya." Timpal Ibu girang membuat Mamih tersenyum geleng-geleng kepala.


Para kakek juga tak mau kalah. Mereka ikut bergabung dan ikut menggendong cucu mereka bergantian. Sampai bayi dikembalikan pada kedua neneknya, sang bayi masih anteng dengan tidurnya. Dua nenek itu terus asyik menciumi wajah sang cucu hingga barulah Ia terbangun dan menangis.


Mamih membawanya kedepan Mamanya. "Kayanya mau mimi deh Ay!"


Ayra yang sudah menyelesaikan makannya mengambil alih bayinya dan mendekapnya. "Dede mau mimi ya?" Ayra akan membuka kancing bajunya. Namun dicegah bang Ar.


"Eee tunggu!" Aksi bang Ar tentu membuat mereka heran.


"Ayah sama Papih keluar dulu. Dedenya mau mimi!" Mereka tertawa mendengar penuturan si Papa ini. Ternyata masih saja posesif. Dan kedua kakek itupun berlenggang keluar.


Ayra mulai member asinya. Ternyata tak membutuhkan waktu lama bayinya sudah bisa menggapainya. Ayra sedikit meringis kala sang putra menghisapnya begitu kuat.


"Gak papa, tahan ya! nanti juga terbiasa." Mamih yang tau apa yang dirasa putrinya memberi pengertian dan diiyakan Ayra.


Setelah selesai kedua kakek pun kembali masuk.


Sang bayi yang masih didekapan Mamanya, terus mendapat belaian dari kedua orangtuanya.


"Kamu sudah punya nama buatnya Ar?" Tanya Ayah.


"Udah yah!" Balas bang Ar.


"Siapa?"


"Arshaka Ravindra Pratama"


******************


Jangan lupa like dan komnennya! Votenya juga ya😊 Yang mau ngasih hadiah buat baby Shaka juga boleh banget😁 Makasih readersss🙏

__ADS_1



Baby Shaka😍


__ADS_2