Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 34


__ADS_3

Seperti yang sudah disepakati malam ini mereka benar-benar ngecamp dihalaman rumah.


Sudah terpasang empat tenda kecil disana. Rencananya mereka akan tidur dua orang dalam satu tenda. Namun bukan satu tenda sepasang tentunya.


"Buruan nyalain apinya! Dingin ini." Rengek Ayra yang tengah duduk diatas bangku kecil depan tenda sambil terus menggosokkan kedua tangannya.


Meski sudah memakai hoodie dan penutup kepala namun tak mampu membuatnya hangat.


"Sabar dikit lah Ay, itu juga lagi dibuat." Timpal Agel yang melihat keempat pemuda yang tengah menyusun kayu bakar.


"Kek nya lu bener-bener kedinginan ya Ay? Masuk aja gih!" Titah Feby yang melihat sahabatnya ini setengah menggigil.


"Gak lah, cuma dingin biasa. Gak seru dong kalo gue gak ikutan." Elak Ayra karena memang Ia ingin bergabung dengan yang lainnya.


Sebenarnya Ayra suka mengalami hipotermia, Ia tidak pernah mau dihawa yang terlalu dingin seperti ini. Namun karena ini moment yang sangat langka, Ia tak mau melewatinya begitu saja.


"Bener tuh, mening lu masuk deh. Takut kenapa-napa juga." Timpal Rila. Ketiga sahabatnya ini tau tentang keadaannya yang anti dingin.


"Gue gak papa, tar kalo apinya dah nyala juga gue bakal baik-baik aja." Ucap Ayra membuat ketiga gadisnya menghela nafas pasrah.


Sebenarnya mereka begitu khawatir dengan keadaan Ayra. Pasalnya pernah waktu camping semasa sekolah, Ayra sampe pingsan karena hipotermianya. Jadi mereka terus mewanti-wanti Ayra takut terjadi hal yang tak diinginkan.


Setelah api menyala, bang Ar mendekati mereka berempat kala mendengar perdebatan mereka.


"Ada apa?" Tanya bang Ar.


"Nih bang cewek lu, ngeyel banget dibilangin." Adu Feby.


"Kenapa?" Tanya bang Ar lagi penasaran.


"Gak papa kok bang." Timpal Ayra tersenyum.


Ketiga gadis itu hanya geleng-geleng kepala, dan berlalu menjauhi keduanya.


Bang Ar mengambil bangku kecil dan mendudukkan dirinya disamping Ayra.


"Kenapa?" Tanya bang Ar lembut dengan menyelipkan anak rambut yang menjuntai diwajah Ayra.

__ADS_1


Ayra menatap bang Ar dan tersenyum. "Gak papa bang, cuma dingin aja!" Jawabnya seraya merangkul tangannya sendiri.


"Sini biar abang angetin." Timpal bang Ar menariknya kedalam dekapannya dari samping.


Ayra bersandar didada bidang sang kekasih yang begitu nyaman, merasakan detak jantung bang Ar yang bersahutan dengan detak jantungnya.


Bang Ar mengeratkan rangkulannya dan menghirup dalam-dalam aroma rambut gadisnya. Begitu menenangkan.


"Hadeuhh... mulai sekarang gue musti terbiasa melihat adegan-adegan kek gini. Tolong hati bersabarlah!" Celetuk Feby mengusap dadanya dramatis.


Membuat mereka tertawa menanggapinya.


"Gak ada gitu niatan lu buat jadian sama Rio?" Tanya Rila.


"Gak!" Jawab Feby singkat.


"Dicoba dulu lah Feb. Sapa tau cocok." Timpal Agel.


"Lu fikir barang bisa dicoba dulu. Ini hati Gel, hati. Hati gue bahkan tertinggal dirumah." Jawaban Feby membuat kedua gadis itu terkekeh.


"Eh cewek-cewek, mao pada bakar-bakar gak?" Tanya Devan. Mendekati Ketiganya yang tengah duduk diatas tikar.


"Boleh deh, laper juga yang." Jawab Rila.


"Yaudah tar kita bakar jagung sama sosis ya!" Jawabnya mengusek rambut sang kekasih.


Sedangkan Juna dan Rio tengah menyiapkan bantal dan selimut untuk mereka.


**


"Bang aku mau cerita." Ucap Ayra yang masih dalam posisi yang sama.


"Hemm..apa?" Tanya bang Ay yang tak berhenti menciumi rambut Ayra bahkan sesekali menguseknya dengan hidungnya. Sepertinya ini akan jadi hoby baru bang Ar.


"Abang percaya sebuah mimpi gak?" Tanya Ayra lagi.


"Emm..Gak sepenuhnya sii. Mimpi kan hanya bunga tidur." Jawabnya.

__ADS_1


"Pernah gak mimpi abang kenyataan?" Ayra kembali bertanya dan mendongakkan wajahnya melihat wajah sang kekasih.


"Emm.." bang Ar berfikir sejenak. "Pernah."


"Mimpi apa?" Tanya Ayra terus menatap bang Ar.


"Mimpi kamu." Jawab Bang Ar menunduk untuk melihat gadisnya seraya tersenyum.


"Mimpi abang buat dapetin kamu jadi kenyataan." Lanjutnya dengan senyum begitu manis.


Ayra tersipu, selalu aja ada hal yang membuat pipi dan hatinya itu menghangat.


"Emmm abang. Tapi bukan itu maksud aku." Ayra menunduk menyembunyikan rona dipipinya.


"Terus apa dong?" Tanya bang Ar semakin mempererat dekapannya.


"Aku pernah bermimpi, dan mimpi itu seperti sebuah makna, sebuah firasat dan berhubungan dengan kenyataan." Tutur Ayra.


Bang Ar mengerenyitkan dahinya. "Emm.. Mimpi apa?" Tanyanya penasaran.


"Jadi gini, sebelum mimpi itu aku kan udah cerita ya sama abang kalo aku suka sama abang dari dulu, dari aku masih kecil. Dari situ aku selalu memikirkan abang, aku gak pernah berpaling pada yang lain. Yang ada di hati dan fikiran aku tu cuma abang." Ayra menjeda ucapannya sebentar.


"Sampe kita bertemu lagi di acara nikahan bang Agung. Aku bahagia banget bisa bertemu abang lagi, aku kira akan ada kesempatan untukku mengenal dekat abang. Namun saat abang bilang udah punya pacar, hancur sudah harapanku." Jedanya lagi sendu.


"Dari situ aku memutuskan untuk gak berharap lagi, untuk membuka hati aku buat orang lain. Tapi apa abang tau? Aku malah terus dihantui dengan sebuah mimpi yang sama. Mimpi dimana aku ingin pergi, namun abang menahanku. Dan itu gak sekali. Hampir setiap hari aku bermimpi seperti itu." Jedanya lagi.


"Aku jadi bingung, bimbang apa yang harus ku lakukan? Bahkan kita sama sekali gak pernah ketemu lagi." Jedanya menggela nafas sejenak, lalu menggenggam tangan bang Ar.


"Dan ini!" Ayra mengangkat genggaman tangan mereka. "Ini adalah jawaban dari mimpiku selama ini." Tuturnya tersenyum lebar.


Bang Ar yang mendengar tuturan sang kekasih begitu terenyuh serasa menjadi orang yang begitu diharapkan, menjadi sosok yang begitu spesial.


Ia sampai menetesakan air matanya. Air mata bahagia. Begitu berhargakah dirinya? Ia semakin mempererat rangkulannya dan menciumi pucuk kepala Ayra berkali-kali dengan terus menggumamkan kata terima kasih.


"Kamu menjadiknku seoramg yang begitu berharga. Dan aku akan menjadikanmu seorang yang begitu bermakna. Kamu adalah hal yang patut aku perjuangkan."


***********

__ADS_1


__ADS_2