
Setelah melalui serangkaian perdebatan panjang dengan suami pasien, sang dokter pun akhirnya bisa mengecek pembukaan. Biarpun sang dokter seorang wanita, namun bang Ar tetap kekeuh tak mau ada yang melihat apalagi meraba benda kesayangannya. Membuat si calon Mama ikut frustasi akan tingkah suaminya.
Namun dengan sabar sang dokter menjelaskan tata cara proses persalinan, hingga akhirnya bang Ar mengerti dan sang dokter bisa melakukan tugasnya. Ternyata pembukaannya sudah memasuki empat centi. Masih ada waktu cukup lama sampai pembukaan lengkap.
Dokter menyarankan agar si calon Mama bisa sabar dan boleh mengikuti serangkaian tata cara memepercepat pembukaan. Dengan cara berjalan-jalan, duduk bergoyang diatas birthing ball, dan merangkak. Dokter juga menjelaskan pada si calon Papa untuk bisa bersabar dan ikut tenang, menyemangati si calon Mama.
Setelah memasangkan infus dan berbagai pengecekan detak jantung bayi dan darah si calon Mama, dokter dan tim berlalu meninggalkan keduanya, setelah dinyatakan semuanya normal. Devan pamit terlebih dahulu untuk menjemput istri dan putranya. Ayra mulai duduk diatas bola besar elastis dan mencoba bergoyang.
"Bang lucu ya harus goyang gini?: Tanya Ayra. Mulesnya memang masih beraturan, masih belum terlalu sering. Hingga Ia masih bisa bercanda.
Bang Ar tersenyum. "Kamu bayangin aja kek lagi goyang diatas abang!" Kekeh bang Ar membuat Ayra tertawa.
"Tapi bener juga itu bisa ngaruh deh kayanya " Keduanya terus tertawa sampai Ayra kembali merasakn mules nya.
Ayra hanya berdesis kecil, bang Ar yang siaga langsung mengelus perut dan pinggangnya. "Pasti sakit ya! Maafin abang ya!" Timpal bang Ar sendu. Ia sungguh tak tega melihat kondisi sang istri saat ini.
Ayra tersenyum. "Maaf untuk apa bang?"
"Karena abang gak bisa ngerasain apa yang kamu rasa sekarang. Kita bikinnya aja berdua, ngerasa nikmat berdua, eh giliran sekarang kamu kesakitan, malah sendiri." Timpal bang Ar membuat hati Ayra benar-benar menghangat.
Ia tangkup wajah sang suami yang tengah menunduk didepannya dengan kakinya yang menekuk dilantai. Ia dongakkan wajah tampannya hingga bersitatap dengannya. "Abang gak salah. Ini sudah kodrat aku sebagai seorang perempuan. Dan hal ini adalah salah satu keinginan terbesar bagi seorang perempuan. Bisa mengandung dan melahirkan keturunan orang yang di cintainya. Dan sekarang aku merasakan itu. Aku bahagia bang bisa jadi wanita sempurna untukmu!" Tuturnya tersenyum.
Bang Ar menariknya kedalam dekapan, Ia elus surai hitam sang istri dan terus menciumi pucuk kepalanya berkali-kali.
"Makasih sayang! Maksih! Kamu udah bersedia jadi ibu dari anak-anak abang. Maksih atas segala sakit yang kamu rasa saat ini. Abang gak tau harus membalas pengorbananmu ini dengan apa." Tutur bang Ar yang tak kuasa membendung rasa harunya. Hingga air matanya lolos begitu saja.
Ayra melerai pelukannya. Ia kembali menangkup wajah tampan suaminya. Diusapnya lelehan dipipi sang suami dengan ibu jarinya.
"Hanya satu cara untuk membalas setiap pengorbanan wanita."
"Apa?"
__ADS_1
"Setialah dan jadikan wanitamu sebagai Ratu dihidup dan hatimu." Timpal Ayra membuat keduanya tersenyum.
"I promise!" Bang Ar membawa jari klingkingya kedepan dan disambut oleh sang istri.
Mules itu kembali datang, beruntungnya Ayra tak seperti kebanyakan wanita yang akan menjerit bahkan menggigit apapun untuk melampiaskan rasa sakitnya. Ia hanya mendesis pelan dengan menggigit bibir bawahnya, dan satu tangannya meremat kuat tangan sang suami sebagai pelampiasan. Ia tundukkan kepalanya dibahu sang suami, dan bang Ar dengan telaten mengusap pinggang sampai kepunggungnya.
Mamih, Ibu, Ayah dan bang Agung pun datang. Keempatnya masuk dan menghampiri pasangan itu.
"Gimana udah pembukaan berapa?" Tanya Mamih, ikut mengusap punggung putri bungsunya.
"Udah empat katanya Mih!" Jawab bang Ar.
Kedua wanita paruh baya itu menghela nafas panjang. Sebagai seorang Ibu mereka tentu tau, masih lama untuk sampai dipembukaan lengkap.
Ibu menghampiri dan ikut mengelus rambut sang mantu. Melihat Ayra hanya mendesis kecil, tanpa mengeluarkan kata-kata. Membuatnya ikut merasakan sakit. "Sabar ya sayang! Kamu pasti bisa!" Ibu menyemangati dan dijawab anggukan oleh mantunya.
"Kira-kira kapan itu bisa lahirnya?" Tanya bang Agung.
"Pas pembukaannya lengkap, mungkin sekitar lima jam an lagi." Timpal Mamih.
Tak berselang lama Papih pun tiba, Papih yang sedang kembali kerumahnya, baru datang setelah diberi kabar sang abang untuk menyusul.
"Kamu pulang aja bang! Kasihan dede Aska. Biar Mamih disini berempat sama Ayah dan Ibu!" Titah Mamih pada bang Agung.
Bang Agung pun menyetujuinya. Ia juga tak boleh melupakan putra kesayangannya itu. Walaupun dirumah ada Siska dan bu Titin, tapi kasihan juga kalo harus dititipin bayi.
"Ya udah. Abang pulang ya Ar! Maaf gak bisa nemenin!" Sesal bang Agung.
"Iya bang gak papa. Kasihan juga kakak!" Timpal bang Ar.
"Kalo ada apa-apa kabarin ya!" Pinta bang Agung dan diiyakan bang Ar.
__ADS_1
Bang Agung pun keluar, menyisakan enam orang diruangan itu. Ayah dan Papih ikut mendekat. Memberi semangat pada Ayra.
"Putri Papih pasti bisa! Semangat ya!" Ucap Papih memberi semangat pada putri bungsu kesayangannya itu dengam mengelus rambutnya yang sudah kembali duduk diatas brankar. Seperti biasa Ayra hanya mengangguk untuk menimpalinya.
"Kamu Mama yang kuat. Pasti bisa! Semangat!" Ayah ikut memberi semangat pada mantu kesayangannya itu dan kembali dijawab anggukan olehnya.
Ayra begitu bahagia, dikelilingi orang-orang yang sayang dan peduli padanya. Kedua orangtua lengkap, kedua mertua lengkap, dan sang suami yang siaga untuknya. Membuat Ia bersemangat untuk melewati masa-masa ini.
Dua jam kemudian, rasa mules yang dirasanya semakin sering, keringat dingin mulai membanjiri seluruh tubuhnya. Kini Ia sudah tak bisa lagi bangun, Ia terus berbaring menghadap kiri. Bang Ar stay disisinya. Ia terus mengelus bagian yang ditunjuk sang istri. Dengan terus menggumamkan tasbih ditelinga sang istri dan mengelap keringat diseluruh wajahnya.
"Bang sakit!" Cicit Ayra, dengan air mata yang luruh begitu saja. Tangannya menggenggam erat tangan sang suami.
"Yang sabar ya sayang! Abang disini. Kamu boleh lakuin apa saja sama abang hem!" Titah bang Ar. Ayra yang semakin tak kuat merasakan mulesnya, satu tangannya sampai menarik kerah baju sang suami.
"Mamih!" Kali ini Ia sampai memanggil sang Mamih. Mamih menghampirinya dan terus memberi semangat. Ibu yang ikut panik langsung memberitahu tim dokter.
Tim dokter datang dan kembali mengeceknya. Kali ini pembukaan sudah lengkap. Tim dokter sudah siap membantu persalinan. Selang oksigen sudah terpasang dihidungnya untuk membantu pernafasan. Semua disuruh menunggu diluar, kecuali sang suami yang tetap stay disisinya dengan tak melepaskan genggaman tangannya.
"Ikuti intruksi saya ya bu!" Timpal dokter. "Tarik nafas dari hidung, buang lewat mulut."
"Ya bagus seperti itu. Jika ada yang ingin dikeluarkan, mulailah mengejan."
"Euuuugh!" Ayra sampai menjambak rambut sang suami untuk mendapatkan kekuatan.
"Ya bagus terus bu! Kepalanya sudah terlihat."
"Euuuuggghh!! Aaaahhhhh!!!"
"Oaaakkkkk!!!"
"Alhamdulillah!!!
__ADS_1
****************
Mari-mari tinggalkan jejaknya ya readers! Terus kasih dukungannya! Vote, like dan komennya ditunggu ya😊 Yang mau kasih hadiah buat mak othor, eh buat baby🤭 Mangga ditunggu😉