Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
S2 Pacar Sensen


__ADS_3

Lengkungan dari bibir manis itu terbentuk sempurna. Sena begitu terpaku melihat senyum yang menggetarkan hati. Hingga Ia tersadar kala sesuatu mengenai ujung bibirnya.


"Kamu ngeces!" Abi berbisik dengan nada meledek seraya tangan yang menyentuh bibir sexy itu, hingga mata Sena membola sempurna dengan tangan yang Ia biarkan meraba tangan sang kekasih.


Sena memukul kesal bahu Abi. "Isshh paan sih!" Rajuknya.


Abi tertawa kecil mendapati wajah menggemaskan sang kekasih. Ia merangkul dari samping leher dengan wajah menekuk itu dan mencoba membujuknya.


"Becanda." Bujuk Abi. Sena hanya mencebikan bibir sebagai tanggapan.


Ia tarik hidung mancung sang gadis hingga membuat siempunya merengek kesakitan. "Sakit ihh bi.." Abi tak menanggapi dan hanya kembali tertawa kecil.


Abi menarik dagu sang gadis sesaat setelah menghentikan tawa yang membuat gadis cantik itu semakin cemberut.


"Mau lanjut kemana?" Tanyanya.


Sena masih merasa kesal pada sang kekasih. Wajah cantik itu masih menekuk dan masih enggan menimpali.


Tanpa mendengar jawaban. Abi melepaskan rangkulannya, kemudian berdiri dan mengulurkan tangan untuk disambut gadis cantik itu. Sena mendongak melihat kearah sang kekasih. Terlihat senyuman manis Abi yang membuat Ia luluh, Ia pun sambut tangan besar itu, hingga genggaman ditangan didapati dari tangan hangat tersebut. Senyum manis pun ikut terukir dari bibir sang gadis.


Setelah membayar makanan, kini sepasang kekasih itu sudah meninggalkan kedai tersebut. Keduanya kembali berjalan dengan tangan saling bertautan. Bahkan mereka melupakan alasan yang diberikan pada kedua sahabatnya yang kini berada ditoko buku.


"Mau es krim?" Tanya Abi. Sena menganggukan kepala sebagai jawaban.


Mereka pun berlalu mendekati stand es krim yang terlihat nangkring ditepi jalan yang tak jauh dari kedai yang mereka kunjungi. Tau rasa apa yang harus Ia pesan, tak membuat Ia harus bertanya lagi pada sang gadis.


Tak membutuhkan waktu lama, mereka pun mendapatkam makanana dingin yang akan menghilangkan rasa dower dibagian bibirnya. Dengan kembali berjalan, sang gadis sudah menikamati es krim itu.


Abi memegang tangan kiri Sena yang tengah memegang es krim itu, hingga langkah keduanya berhenti. Tanpa diduga Abi mengangkat tangan itu, hingga es krim masuk kedalam mulutnya. Sena melongo mendapati hal itu.


"Hemm manis." ucap Abi seraya menyeka sisa es krim disudut bibirnya.

__ADS_1


Mata indah itu mengerjap cepat. Dan didetik kemudian tangannya terulur mengusap kasar wajah sang kekasih.


"Ihh kamu tuh main comot aja. Kalo mau kenapa gak beli sendiri sih?" Protes Sena membuat Abi terkekeh.


Sepertinya menggoda sang gadis membuat kesenangan tersendiri untuk pemuda tampan itu.


"Cuma mau rasain bibir manis kamu aja." Bisikan Abi sukses membuat Sena menutup mulut dengan sebelah tangan.


Sena mengeplak lengan sang kekasih yang terus saja menggodanya. Hingga Abi tertawa menanggapi gadis cantik itu.


**


Hari mulai mendung, sepasang kekasih itu memutuskan untuk pulang. Tak ingin kejadian waktu itu terulang lagi, yang mengakibatkan sang gadis sakit. Tanpa menunggu sang hujan turun, mereka sudah melesat meninggalkan tempat tersebut.


Sena memeluk erat tubuh tegap didepannya. Ia tak akan sungkan lagi untuk memeluk punggung ternyaman itu. Debaran hati menjadi melodi yang akan mengiringi perjalanan mereka. Senyum tak luntur dari bibir pasangan kekasih baru itu, menandakan hari ini akan menjadi sejarah baru untuk mereka.


Terlihat lampu merah menyala, Abi menghentikan laju kendaraannya mengikuti rentetan kendaraan yang sudah berhenti didepannya. Usapan lengan pada tangan yang bertengger diperutnya tak pernah Ia lepaskan.


"Ck! Mereka dari mana? Kenapa setiap hari mereka makin dekat?" Gumamnya pelan dengan mata yang terus menatap sejoli itu.


Tinn!!


Suara klakson mengalihkan atensinya. Hingga Ia kembali menyalakan mesin motor dan melesat meninggalakn tempat itu. Begitupun sejoli yang jadi bahan perhatian. Mereka pun berlalu bersama kuda besi yang mereka tumpangi.


**


Ceklek!


Abi keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri, Ia dibuat kaget melihat seseorang yang tengah duduk disofa kamarnya. Ia tatap sekilas pemuda yang masih mengenakan seragam putih abu lengkap, yang tengah fokus dengan layar pipih ditangannya.


Abi berlalu kedepan lemari untuk mengambil pakaian yanga akan dikenakan, tanpa memedulikan kakak sepupunya yang sedari tadi menunggu.

__ADS_1


"Kalian dari mana?" Tanya Aska mulai menginterogasi.


Setelah melihat sejoli itu dilampu merah, Ia memutuskan untuk berkunjung kerumah sang adik. Ia yang penasaran dari mana mereka pergi, memutuskan untuk bertanya langsung.


Abi mengambil salah satu kaos dan celan pendek yang biasa Ia gunakan untuk bersantai. "Kenapa?" Tanyanya dengan nada seperti biasa.


Aska menatap tajam pada Abi. Ia berdiri dan mendekat kearahnya yang baru selesai berpakaian. "Apa gue gak boleh tau?" Tanyanya.


Abi menoleh seraya menggosok rambutnya yang basah. Ia tersenyum tipis menanggapi itu. "Gue rasa itu bukan urusan aka."


"Jelas itu urusan gue. Lu bawa dede kelayaban dan hampir kehujanan lagi. Lu sadar gak sih, tingkah lu tuh ngebahayain orang lain. Kalo dede sampai sakit lagi gimana hah?" Tutur Aska dengan nada sedikit meninggi, melihat kedekatan mereka ternyata membuat Ia naik darah.


Abi tertawa kecil menanggapi itu. Ia tatap sang kakak tak kalah tajam dengan wajah yang beberapa detik kemudian berubah dingin.


"Cukup aka nganggep Sensen seorang adek. Jangan lebih!" Peringat Abi.


"Kenapa kalo gue nganggep dia lebih?" Tanya Aska dengan nada menantang.


"Sebaiknya buang rasa itu. Karena Sensen milik gue." Penjelasan Abi membuat Aska mengepalkan tangannya dengan mata penuh kilat amarah.


"Milik lu? Cih!" Aska berdecih menahan amarah. "Siapa lu? Lu hanya orang baru yang hadir dihidup Sensen. Gue bahkan lebih tau dia dari lu." Lanjutnya.


"Aka tanya siapa gue? Gue Abi pacar Sensen." Tegas Abi.


"Aka mungkin mengenal baik Sensen dari pada gue. Tapi hati Sensen, hanya gue yang tau."


Kilat amarah jelas terlihat dari mata yang beradu sengit itu. Keduanya hening setelah Abi melontarkan kalimat terakhirnya. Hingga Sena masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu dengan berteriak memanggil sang pujaan, tanpa tau sang kakak ada didalam sana.


"Bi, aku masuk ya!" Panggil Sena dengan manja. "Kamu mau makan ap-" Ucapan Sena terhenti kala melihat kedua pemuda itu yang terdaim dengan mata yang hanya saling bicara. Ia dibuat terpaku melihat sang kakak yang ternyata ada didalam sana.


**************

__ADS_1


Jangan lupakan jejaknya yaašŸ¤—


__ADS_2