
"Tadi ngomongin apa sama Ayah? Kok lama banget? Apa ada masalah?" Tanya Ayra yang tengah tertidur didada sang suami.
Setelah melaksanakan ritual cari pahala dengan part barunya, sepasang pengantin yang lagi gemes-gemesnya merasakan gejolak yang baru keduanya rasakan ini tengah saling memeluk, dan masih enggan menutup matanya. Padahal waktu sudah mencukupi untuk beristirahat.
"He'em!" Jawaban singkat sang suami membuat Ayra mendongak. "Apa?"
"Ada sedikit masalah di perkebunan. Ayah lagi sakit, jadi gak bisa ngontrol kesana. Jadi abang yang akan gantiin. Kamu ikut ya!" Ajaknya.
"Emm..tentu! Aku kan udah bilang, akan pergi kemanapun abang pergi." Tutur Ayra tersenyum membuat bang Ar ikut tersenyum juga dan terus membelai rambut sang istri.
Ayra semakin tak mau untuk jauh dari suaminya barang sedikitpun. Entah emang karena hawa pengantin baru yang mereka sandang atau memang Ia takut sang suami digondol orang.
Apalagi saat tau suaminya akan pergi ke perkebunan, Ia yakin hama disana begitu menakutkan. Ingatannya kembali pada sosok yang membuat dirinya kabur bersama sang suami untuk menghindarinya. Ia harus extra hati-hati disana takut-takut hama disana mengusiknya lagi.
"Kita nginep bang?" Tanyanya lagi.
"He'em. Gak papa kan?"
"Nggak lah! Asal sama abang aku mah siap aja. Mau kita tinggal disana ampe tua juga boleh." Timpalnya membuat bang Ar tertawa.
Ia sangat bersyukur memiliki istri seperti wanita didekapannya, begitu mengerti situasi dan kondisinya. Ia berjanji dalam hatinya untuk membahagiakan gadis halalnya ini.
"Makasih ya sayang!" Bang Ar terus membelai lembut surai hitam yang masih setengah basah dengan keringat itu dan mencium pucuknya berkali-kali.
"Abang harus janji sama aku, kalo ada masalah apapun abang cerita sama aku. Jangan ada yang ditutup tutupi. Biar aku gak bisa bantu, tapi kan aku bisa suport abang!" Tutur Ayra.
"Iya. Abang akan ceritain apapun itu sama kamu. Abang gak akan memintamu membantu abang. Cukup kamu jadi pendengar yang baik buat mendengar keluh kesah abang." Timpalnya dan dijawab anggukan sang istri.
"Abang mau tanya. Kamu jawab ya!"
"Iya. Apa?"
"Seandainya abang tiba-tiba down, gak bisa mencukupi segala kebutuhan kamu. Apa kamu masih bersedia hidup bersama abang?" Tanya bang Ar ragu. Ia takut sang istri akan meninggalkannya kala masalah tak bisa Ia selesaikan.
__ADS_1
"Kok abang ngomongnya gitu sih. Nih ya, abang denger baik-baik! Kalopun misalnya ada masalah yang membuat abang benar-benar down, aku akan tetap bersama abang. Kita akan membangunnya lagi bersama. Meski abang berada dititik terendah sekalipun. Kita akan bangkit bersama. Berjuang bersama." Ayra menjeda sebentar ucapannya.
"Karena sesuatu yang kita perjuangkan dari nol itu berasa begitu bermakna. Kita bisa merasakan sakit dari yang namanya perjuangan. Dan saat mencapai puncak kita akan menghargai buah hasil dari yang kita perjuangkan." Tuturnya membuat bang Ar mengeratkan pelukannya.
Iya benar-benar beruntung memiliki sosok sempurna didekapannya. Ia tak habis fikir bagaimana sosok gadis yang usianya jauh lebih muda darinya itu ternyata lebih dewasa dari dirinya. Benar kata orang usia tak menjamin kedewasaan seseorang. Bahkan yang seharusnya Ia mengajari sang istri, justru Ia yang diajarinya.
"Udah abang jangan mikir yang macem-macem, kita akan selesaikan ini bersama. Biarpun aku gak merasakan duduk dibangku perguruan tinggi, tapi otakku cukup untuk mengenal angka dan huruf." Tutur Ayra.
"Abang tau kamu emang pintar. Tapi kok ya, waktu sekolah kamu gak dapet beasiswa buat masuk kuliah gitu?" Tanya bang Ar merasa penasaran dengan kehidupan istrinya.
"Otakku emang pintar. Tapi tubuhku sebaliknya." Timpal Ayra membuat bang Ar mengerenyitkan dahinya heran.
"Kenapa?"
"Keenakan bolos!" Timpal Ayra tergelak membuat bang Ar ikut tertawa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kamu nakal juga yaa?" Bang Ar sampai mencubit hidungnya gemas.
"Sebenarnya dulu aku tuh anak rajin dan penurut loh bang. Berhubung aku maennya bareng anak-anak somplak aku tertular virus barbar mereka. Itu kenapa kita suka dikejar anjing mang Dadang. Keseringan kesiangan atau sengaja bolos." Tutur Ayra.
Istrinya ini benar-benar bawel plus absurd. Namun itu selalu membuatnya tertawa. Kata-katanya selalu mengukir lengkungan dibibirnya.
"Iya deh yang banyak fans. Abang benar-benar beruntung dong bisa miliki gadis idaman semua kaum adam." Goda bang Ar membuat istrinya ikut tergelak.
Gelak tawa keduanya, makin memepersulit mereka untuk tertidur. Hingga obrolan mereka terus berlanjut. Dari menceritakan masa kecil keduanya sampai masa-masa sekolah mereka.
"Jadi Anna itu, cinta pertama abang dong?" Tanya Ayra.
"Emm.. Entahlah abang juga gak tau."
"Kok gitu?" Tanya Ayra heran.
"Karena abang gak pernah merasa seperti sekarang saat bersama kamu. Dengannya, mungkin itu hanya sekedar sayang, sekedar ingin menjaga, layaknya seorang kakak yang mengkhawatirkan adiknya. Entahlah yang jelas rasa itu berbeda." Timpal bang Ar.
__ADS_1
"Isshhh...abang ini gak ngerti cinta. Kek aku dong. Cintaku cuma satu, dan sudah mentok pula diabang!" Kedunya kembali tergelak.
"Udah malem, cepet tidur! Besok kita berangkat pagi. Kerumah Mamih dulu ambil baju kamu." Titah bang Ar.
"Abang sih ngajak ngobrol mulu jadi gak ngantuk kan?" Protes Ayra.
"Mana ada. Kamunya aja yang doyan ngobrol!" Timpal bang Ar menarik lagi idungnya.
"Aduh abang idung aku benar-bener bisa mancung ini. tar ngalahin Katrina Kaif lagi." Bang Ar tergelak.
"Aduh kamu tuh kalo gini caranya sampe ayam kongkongok kita gak bakalan bisa merem. Udah cepet tidur!" Titahnya.
"Tumben gak minta nambah?" Tanya Ayra heran.
"Abang gak mau sampe kamu kelelahan kek kemarin, apalagi ampe buat si nona manis tersakiti. Bisa rugi bandar!" Timpalnya membuat Ayra tergelak lagi.
"Itu mah abangnya aja yang gak kira-kira main ngulang mulu ampe berkali-kali. Ngalahin aturan minum obat kan." Keduanya benar-benar tak berhenti dengan tawanya.
Malampun semakin larut keduanya masih enggan menutup mata, bahkan terlihat semakin seger.
"Kita ngulang aja yuk biar cepet tidur!" Ajak bang Ar.
"Katanya tadi gak mau." Goda Ayra.
"Kek nya sekarang emang bikin part bisa jadi obat tidur." Timpal bang Ar yang sudah berada diposisi atas tubuh sang istri melayangkan kecupan-kecupannya disana sini.
Bukannya terpancing Ayra merasa geli dengan perlakuan suaminya. Bahkan ada sesuatu yang terasa mengganggunya. Ia mendorong tubuh suaminya hingga terbangun.
"Kamu kenapa?" Bang Ar yang sudah siap merasa heran dengan sikap sang istri.
Namun Ayra malah bangkit dari tidurnya, dan ngibrit ke kamar mandi.
"Aku muleus bang!" Teriaknya.
__ADS_1
*****************
*Itu votenya, like dan komennya jangan lupa! Tar dikasih ngulangš