Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 93


__ADS_3

Flashback on


Brankar didorong dengan tergesa menuju ruang UGD, perasaan seseorang yang setia disisi pasien yang terbaring diatasnya begitu cemas dan ketakutan.


"Sayang kamu harus kuat! Kamu pasti bisa!" Ucap bang Agung menggenggam tangan sang istri yang terbaring lemah.


"Kita harus segera mengambil tindakan!" Ucap seorang dokter ketika brankar sudah sampai di ruangan itu.


"Maaf dok! Istri saya gak apa-apa kan?" Tanya bang Agung merasa kalau istrinya tak apa-apa. Karena memang tak ada luka yang serius.


"Iya. Tapi bayinya harus segera diangkat, harus dilakukan SC." Tegasnya.


"Bu Icha anda sudah siap? Seperti yang sudah saya katakan, banyak konsekuensi yang akan anda hadapi." Tanyanya lagi pada kak Icha dan disambut dengan senyum olehnya.


Hal itu membuat bang Agung mengerenyitkan dahinya tak mengerti. "Tunggu! Tunggu! Maksudnya apa dok?" Tanyanya.


Dokter pun merasa heran. "Bu Icha, bukankah anda sudah membicarakan hal ini dengan suami anda?" Tanyanya.


kak Icha hanya menggeleng lemah membuat bang Agung semakin penasaran. "Ada apa sayang? Membicarakan apa?"


Kak Icha tak menjawab Ia hanya menatap sendu suaminya. "Sayang?!" Tanya bang Agung meminta penjelasan.


"Sebaiknya kita bicara diruangan saya pak. Mari!" Dokter mengajak bang Agung keruangannya. Bang Agung pun mengikuti langkah dokter setelah berpamitan kepada sang istri. Sementara Mamih dan Papih belum sampai dirumah sakit.


Keduanya keluar dari ruang UGD dan masuk kedalam ruang dokter. Dokter mengambil sebuah map dari beberapa tumpukan map lain dimejanya dan menyerahkannya kepada bang Agung.


"Apa ini dok?" Bang Agung membuka isi map tersebut dengan perasaan khawatir.


"Kondisi bu Icha kian hari kian melemah. Saya sudah menyarankannya untuk membicarakan ini dengan bapak. Namun sepertinya Ia tak menuruti saran saya itu." Tutur dokter.


Bang Agung yang melihat deretan kalimat hasil dari pemeriksaan, tentu tak mengerti mengenai masalah kedokteran.


"Ini maksudnya?" Tanya bang Agung semakin khawatir, hatinya begitu berdebar mendengar penjelasan sang dokter.


"Ada sel kanker didalam rahim bu Icha."

__ADS_1


Deg


Bang Agung terpaku, tubuhnya mendadak lemas. Jantungnya berdegup begitu cepat. Ujung hatinya begitu tersayat mendengar penjelasan sang dokter.


"Kanker?" Bayangan-bayangan sang istri yang mendadak sering sakit, dan beberapa perubahan dalam fisiknya membuat bang Agung tersadar akan satu hal, dan ini?


Bang Agung menggeleng-gelengkan kepalanya merasa tak percaya dengan apa yang terjadi, air dari ujung matanya jatuh begitu saja.


"Sejak kapan?" Tanya bang Agung dengan tatapan kosongnya, menggenggam kertas yang Ia pegang.


"Sel ini baru terdeteksi saat usia kandungan bu Icha baru empat bulan. Saya sudah menyarankan bu Icha untuk mengangakat janinnya agar bisa segera melakukan kemo, dan segera membicarakannya dengan anda. Tapi saat pemeriksaan berikutnya, dia bilang sudah membicarakan semuanya dengan anda. Dan memilih mempertahankan janinnya sampai melahirkan." Tuturnya.


"Saya sudah memprediksi segala kemungkinannya. Banyak resiko yang akan dialaminya. Saya berulang kali menyarankan hal yang sama, namun bu Icha tetap pada pendiriannya." Lanjutnya.


Bang Agung tak mampu berkata apa-apa, Ia hanya terus menggelengkan kepala dengan air mata yang terus luruh dari matanya.


"Kini kondisinya semakin memburuk, jaringan selnya sudah menyebar. Walaupun itu tak berdampak pada bayinya. Namun saya tak bisa memprediksi keadaan tubuhnya." Tuturnya lagi.


Bang Agung sampai mengusap wajahnya kasar dan menjambak rambutnya frustasi. "Kenapa cha? Kenapa? Kenapa kamu sembunyiin ini dari abang?"


"Apa masih ada harapan?" Tanya bang Agung.


"Semoga! Kita akan mencoba melakukan yang terbaik!" Tuturnya.


Bang Agung keluar dari ruang dokter dan kembali menuju ruang UGD dengan langkah gontai.


Ia buka pintu dan melihat sang istri yang terbaring lemah. "Sayang?!" Bang Agung langsung berhambur memeluknya. Air matanya berderai membasahi pipinya, suaranya seakan tercekat ditenggorokan.


"Abang kenapa nangis?" Tanya kak Icha mengusap kepala sang suami didadanya.


"Kenapa sayang? Kenapa kamu nyembunyiin ini semua dari abang? Kenapa?" Cecar bang Agung dengan menyembunyikan tangisnya didada sang istri.


"Maafin aku bang! Aku gak maksud buat nyembunyiin ini semua dari abang." Timpal kak Icha ikut menangis.


Bang Agung bangun dan menatap tajam kearah sang istri. "Kenapa cha? Kenapa? Kamu anggap apa abang hah?" Emosinya mulai tersulut.

__ADS_1


Kak Icha terisak lirih tak menjawab ucapan suaminya.


"Apa arti abang buat kamu? Apa abang gak lebih dari orang lain buat kamu? Apa abang begitu gak bergunanya buat kamu?" Sentak bang Agung dengan menjambak rambutnya frustasi.


Dokter mencoba menenangkan bang Agung. Icha hanya terisak dengan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Apa abang tak pantas untuk tau? Sebenarnya abang ini siapa buat kamu?" cecarnya lagi dengan suara semakin melemah dengan wajah tertunduk dilengan sang istri. Isak tangis bang Agung beguitu lirih menandakan betapa sakit hatinya saat ini.


Tangisan kak Icha pun pecah melihat betapa terlukanya sang suami yang baru mengetahui semua ini. Niat hati tak ingin membuat hati sang suami bersedih, malah membuatnya sebaliknya.


"Maafin aku bang! Maafin aku, aku hanya gak mau abang bersedih. Aku tau abang pasti akan mempertahankan aku dari pada bayi kita. Dan aku gak mau itu." Ucapnya disela isak tangisnya.


"Tapi kenapa cha? Kita bisa cari solusinya sama-sama. kita bisa cari jalan keluarnya bersama. Abang akan ngelakuin apapun untuk kalian berdua." Tutur bang Ar menatap sendu sang istri.


Ia tangkup wajah pucat sang istri memebelainya lembut. "Abang sayang sama kamu cha, abang gak mau kehilangan kamu." Tuturnya.


"Aku juga sayang sama abang, aku ingin melahirkan keturunan abang. anak abang. Jika memamg ini kesempatan terakhirku aku tak apa bang. Asal aku bisa mengandung dan melahirkan bayi ini. Bayi kita! Aku bahagia bang. Bahagia!" Tutur kak Icha dengan tangis memilukan.


Bang Agung berhambur memeluk sang istri dengan erat. Menyalurkan betapa Ia sangat menyayangi sang istri dan takut kehilangannya. Kata-kata yang istrinya ucapkan bagaikan tombak yang mengoyak hatinya.


"Kamu harus janji sama abang. Kamu akan kuat. Kamu akan bertahan demi abang, demi bayi kita! Kamu harus janji gak akan ninggalin abang. Kamu harus janji!" Tuturnya dan hanya dijwab anggukan sang istri.


Bang Agung melerai pelukannya. Ia usap air mata sang istri dipipinya. Mengusap pucuk kepalanya lembut dan mengecup keningnya lama.


"Kamu harus janji, kamu harus kuat ya!" Ucapnya mengusap pipi sang istri dan mencoba untuk tersenyum memberi kekuatan untuknya.


"Iya. Abang harus janji satu hal sama aku!" Ucapnya dengan mencoba tersenyum juga.


"Apa?" Tanya bang Agung.


"Apapun yang akan terjadi abang jangan pernah menyesali hal yang telah menjadi kehendak-Nya."


*****************


Dikasih dulu bawang bombay ya! Mak othornya lagi melow belom dapat vote dari readersnya🤧

__ADS_1


Mari-mari merapat, ramaikan like dan komennya! Vote dan tabur-tabur bunganya ya biar authornya kembali ceria😊


__ADS_2