
Ayra dan bang Ar yang mendapati kabar dari sang Mamih bahwa kakak iparnya akan melakukan persalinan langsung bergegas menyusul ke rumah sakit.
Setelah menyelesaikan makan siangnya keduanya langsung berpamitan pada Ibu untuk pergi ke rumah sakit terlebih dahulu, dan Ibu akan menyusul setelah kepulangan Ayah.
Kali ini keduanya berangkat menggunakan motor, karena Ayra yang kekeuh ingin menaiki kuda besi kesayangan mereka. Tak membutuhkan waktu yang lama keduanya pun sampai di rumah sakit.
"Mih! Gimana keadaan kakak?" Tanya Ayra yang ikut duduk dibangku disisi sang Mamih.
Mamih langsung berhambur kepelukan putri bungsunya, dengan air mata yang berderai membasahi pipinya. Kini mereka tengah menunggu diruang UGD. Hanya bang Agung yang bisa masuk kedalam. Sedangkan Mamih dan Papih menunggu dibangku luar. Ibunya kak Icha sendiri masih diperjalanan menuju rumah sakit.
Ayra pun tak kuasa untuk menahan air matanya, Ia tak menyangka sesuatu terjadi pada kakak iparnya dan ini belum waktunya untuknya melakukan persalinan.
Ayra melerai pelukannya dan meminta penjelasan pada sang Mamih tentang apa yang terjadi pada kakak iparnya. Mamih pun menjelaskan bahwa sang kakak yang tengah menyebrang berusaha menyelamatkan seorang anak kecil dan membuatnya tersenggol motor hingga terjatuh. Tak ada luka dari dirinya namun air ketubannya sudah pecah terlebih dahulu. Hingga membuatnya harus segera melakukan persalinan dengan cara SC.
Usia kandungan yang baru menginjak delapan bulan ini, memang menjadi resiko terberat akan bayi yang akan lahir secara prematur. Namun mereka menyerahkan segala halnya kepada tim dokter untuk melakukan yang terbaik. Asal Ibu dan bayinya sehat dan selamat.
"Udah ya Mih jangan nangis! Kita doain kakak dan dede bayinya baik-baik aja!" Ayra kembali memeluk sang Mamih berusaha menenangkannya.
Sementara Papih dan bang Ar pergi ke bagian administrasi untuk mengurus surat-surat dan tindakan selanjutnya.
Tak berselang lama ruang UGD terbuka, nampaklah brankar kak Icha yang didorong semua petugas bergegas menuju ruang operasi. Dua wanita beda generasi itu ikut menyusul mengekorinya.
Brankar berhenti sebentar didepan ruang operasi. Kala Mamih dan Ayra menghentikannya.
"Kakak! Kakak yang kuat ya! Harus semangat!" Dengan air mata yang tak berhenti Ayra menghampiri brankar kakak iparnya dan menyemangati sang kakak.
Kak Icha tersenyum begitu manis ke arahnya. Dengan selang oksigen dan selang infus yang menempel di hidung dan tangannya. "Iya! Makasih ya Ay! Kakak sayang kamu! Kamu jangan nangis!" Tuturnya menggenggam tangan adik iparnya.
"Kamu dan cucu Mamih pasti sehat. Pasti kuat. Jangan takut ya Nak! Kita semua disini mendoakanmu!" Mamih ikut menggenggam tangan anak dan mantunya dengan deraian air mata dan kembali disambut seyuman manisnya.
"Iya Mih. Icha sayang Mamih! Mamih adalah Mamih terbaik yang Icha temui. Jika Icha punya salah sama Mamih, maafin Icha ya Mih." Ucapnya membuat Mamih semakin histeris. Entah kenapa serasa sesuatau yang besar akan terjadi pada keluarganya.
Sebelum brankar kembali dibawa masuk, Ibu kak Icha datang. Ia langsung berhambur memeluk putri satu-satunya itu. Kak Icha yang sudah ditinggalkan sang Ayah dari kecil tentu begitu dekat dengan Ibunya.
__ADS_1
"Icha sayang! Kamu harus kuat ya Nak, kamu harus sehat! Ibu sayang kamu!" Ucap Ibu tersedu-sedu membuat bulir dari ujung mata kak Icha jatuh.
"Ibu, makasih atas segala pengorbanan Ibu buat Icha. Sekarang Icha merasakan gimana rasanya jadi Ibu. Maafin semua kesalahn Icha ya bu!" Ucapnya yang terus berusaha untuk tersenyum.
Ibu semakin histeris mendengar penuturan putrinya. "Jangan bicara seperti itu, kamu pasti kuat! Demi suami kamu, demi bayi kamu!" Kak Icha hanya tersenyum menanggapi ucapan Ibunya.
Kini waktunyanya kak Icha memasuki ruang operasi. Semua menunggu diluar kecuali bang Agung. Mamih dan Ibu kak Icha terus menangis dengan saling mendekap memberi kekuatan satu sama lain. Ayra yang masih tersedu didekapan sang suami. Ayah yang menunduk dengan terus memijat pelipisnya.
Semua begitu tegang menunggu kegiatan diruangan sana.
Sementara didalam. Bang Agung terus menggenggam tangan istri tercintanya. Mengusap kepalanya dengan melantunkan doa dan ayat-ayat suci Al-qur'an ditelinganya. Ia yang baru diberitahu tim dokter ada faktor lain yang menunjang terjadinya pecah ketuban dini tentu begitu shok. Namun Ia berusaha kuat didepan sang istri.
Dengan air mata yang terus luruh dipipinya bang Agung berusaha tegar Ia terus memberi kekuatan untuk sang istri. Walaupun tak dapat dipungkiri, dadanya begitu sesak. Kenapa Ia tak pernah tau tentang kondisi istrinya? Padahal selama ini Ia selalu ada untuknya, menemaninya? Ia seperti orang bodoh yang begitu tak mengenal istrinya ini? Dalam hatinya Ia terus merutuki kebodohannya itu.
"Abang jangan nangis! Aku baik-baik aja." Kak Icha berusaha menghapus air mata suaminya. Masih ada waktu untuknya berbicara setelah melakukan bius.
"Kenapa kamu sembunyiin ini dari abang? Kenapa?" Bang Agung sampai tak kuasa mengucapkan kata.
"Aku juga belum lama tau bang. Dan aku gak suka membuat abang sedih. Udah abang jangan nangis, ini gak sakit kok!" Timpalnya dengan wajah yang semakin memucat Ia berusaha tersenyum.
"Maafin Icha ya bang gak jujur sama abang! Icha cinta sama abang! Icha sayang sama abang! Abang janji sama Icha. Jaga putra kita ya!" Ucapnya semakin lirih.
Bang Agung semakin histeris, Ia terus menggelengkan kepalanya. "Nggak! Nggak sayang kamu harus kuat! Kamu harus kuat!"
Kak Icha terus berusaha tersenyum dalam kesadarannya. Bang Ar terus menguatkannya dengan menggenggam tangannya.
Operasi pengangkatan bayi pun dimulai, semua dokter telah bersiap. Bang Ar terus berada di dekat kepala sang istri.
"Bang?!"
"Iya sayang!"
"Aku ngantuk. Aku tidur ya!
__ADS_1
"Nggak sayang. Jangan tidur! Kamu harus tetap bangun. Buka mata kamu, lihat abang!" Titahnya bang Agung panik.
"Tapi aku lelah bang. Aku ngantuk."
"Sayang kamu udah janji sama abang gak akan ninggalin abang. Kamu harus tepati janji itu!" Titahnya semakin panik.
Detak jantung didalam monitor menandakan jantung kak Icha semakin melemah. Namun suara tangis bayi membuyarkan ketegangan itu.
Oeeekkk!!!
Rasa syukur bang Agung lantunkan, kala sang putra terlahir dengan sehat dan sempurna. Meskipun dengan keadaan prematur. Namun suara dari monitor membuat jantungnya kembali terpacu.
Suara yang melengking diruangan itu, tentu terdengar sampai luar. Semua tampak mengucap syukur mendengar tangis bayi yang terdengar begitu nyaring.
Namun lampu hijau pertanda operasi masih berjalan nampak belum berubah. Semua masih begitu tegang menanti berita yang akan mereka dengar.
Hingga lampu merah telah mereka lihat. Seorang dokter keluar dengan beberapa perawatnya. Semua berdiri menyambut dokter yang menghampiri mereka.
"Bagaimana dok, keadaan ibu dan bayinya?"
"Alhamdulillah bayinya tampan, sehat, dan sempurna."
Semua bernafas lega mendengarnya.
"Tapi?"
"Tapi apa dok?"
"Maaf ibunya tak bisa tertolong!" Jelas sang dokter membuat mereka semua bsmenar-benar shok.
*****************
😭😭😭😭😭😭😭😭
__ADS_1
Tak bosan-bosan buat ngajak readers, ninggalin jejak ya😊 Biar nyemangatin bang Agung😭