
Seminggu sudah sepasang pengantin ini tinggal diperkebunan. Namun masalah belum juga terselesaikan. Mereka memilih untuk tinggal lebih lama disana.
Kini keduanya tengah bergulat didapur. Bukan pergulatan panas dari tubuh keduanya, namun pergulatan panas dari atas kompor dan wajan.
Rencananya mereka akan membuat sarapan dengan memasak nasi goreng. Alih-alih sang istri yang harus memasak makanan untuk suaminya. Ini justru sebaliknya.
Bang Ar yang tengah bergulat dengan wajan, ditempelin rerus oleh sang istri. Membuat Ia tak bisa berkonsentrasi.
"Yang lepasin dulu ya! Abang gak bisa gerak nih." Titahnya, mengelus lembut lengan sang istri yang bertengger diperutnya.
"Gak mau. Pengen kek gini." Ayra semakin mengeratkan pelukannya.
"Kalo kek gini caranya, abang gak akan makan nasi goreng dong!"
"Terus makan apa?"
Bang Ar mematikan kompor dan membalikkan badannya. "Makan kamu!" Bang Ar menyerang bibir ranum yang selalu menjadi candunya itu.
"Bikin part baru enak kayanya?" Tanya bang Ar.
"Part apa?"
"Part silatutahmi didapur!" Bang Ar sudah kembali menyerang benda kenyal yang selalu membuatnya ingin melakukan lebih dan lebih lagi.
Bang Ar menuntun sang istri untuk bersender dimeja makan tanpa melepaskan pagutannya. Kondisi rumah yang sepi membuat mereka leluasa untuk melakukan apapun dirumah itu. Mang Asep yang biasa menjaga rumah itu hanya datang tiap tiga hari sekali untuk membersihkan rumah.
Keduanya terbuai dengan permainan yang mereka ciptakan. Suara decapan terdengar merdu memenuhi ruangan yang lumayan luas itu. Hingga keduanya sudah siap untuk menyatu, Ayra menghentikan aksi sang suami, berdiri dan berlari meninggalkannya dengan si pisang yang tengah tegang-tegangnya menuju washtaple.
Uweeekk!! Uweekkk!!
Ayra memuntahkan isi perutnya yang tak ada isinya disana.
Bang Ar yang khawatir, segera menghampirinya. "Sayang kamu kenapa?" Tanyanya seraya mengelus tengkuknya.
"Perut aku sakit bang!" Timpalnya lemas dengan air mata yang sudah beruraian.
"Abang kan udah sering bilang, jangan terlalu banyak makan pedes! Kamunya sih ngeyel." Omel bang Ar.
Ayra tak menjawab dan kembali muntah, namun hanya air saja yang keluar. Membuat tubuhnya lemas. "Air bang!" Pintanya.
Bang Ar mengambilkan segelas air putih dan memberikannya pada sang istri.
"Bang ambilin baju aku sini!" Ayra yang sudah berhenti muntah, ingin kembali memakai pakaiannya yang tadi sudah tertanggal hanya menyisakan benda segitiga ditubuhnya.
Bang Ar hanya menghembuskan nafasnya panjang seraya melihat si pisang yang masih on didalam cangkangnya.
"Udah ntar lagi. Aku lemes, ke kamar aja yuk! Pengen tidur." Ayra yang sudah lemas, tak menghiraukan si pisang yang ingin dimanjakan. Membuat sang suami pasrah, mengambil pakaian keduanya dan memakainya.
"Gendong bang! Lemes." Pintanya dan diiyakan sang suami.
__ADS_1
Bang Ar menggendong tubuh langsing sang istri ala bridge style menuju kamarnya. Direbahkannya tubuh itu dikasur.
"Kita keklinik ya!" Ajak bang Ar yang duduk disisi ranjang mengelus rambut sang istri sayang.
"Gak papa bang! Aku cuma lemes aja pengen istirahat." Timpalnya.
"Gak. Pokoknya kamu harus diperiksa. Kek nya perut kamu emang bermasalah deh, sering banget muntah sama diare."
"Aku gak papa bang beneran!" Tolaknya lagi.
"Ya udah kalo gak papa kita lanjut bikin part, gimana sanggup gak?" Tanya bang Ar menyeringai.
Sejujurnya bang Ar bukan ingin memaksakan keinginannya itu. Namun Ia sengaja memancing sang istri agar mau diajak ke klinik.
"Ihh abang mah!" Ayra merenggut, membuat bang Ar tersenyum.
"Udah yuk! Kita berangkat!" Bang Ar mencoba membangunkan sang istri.
"Lemes bang jalannya juga. Terus kliniknya jauh lagi." Timpalnya memberi alasan.
"Kita naik mobil. Ayo cepetan!" Ayra pun pasrah, Ia bangun dan langsung digendong sang suami.
Keduanya hendak keluar rumah, namun baru membuka pintu bu Titin ingin mengetuk pintunya juga.
"Assal-" bu Titin yang datang dengan membawa bingkisan ditangannya tak meneruskan salamnya. Dan terlihat shok melihat Ayra yang digendong suaminya.
"Eeh.. Kenapa ini neng Ay?" Tanya bu Titin khawatir.
"Tunggu-tunggu! Muntah-muntah?" Tanya bu Titin dan dijawab anggukan keduanya.
"Pagi-pagi gini?" Tanyanya lagi dan kembali dijawab anggukan keduanya.
"Ini sih udah pasti, si eneng lagi hamil." Tutur bu Titin membuat keduanya melongo. Hamil?
"Udah gak usah diperiksa dulu! Tar kalo udah lebih dari sebulan baru periksa." Bu Titin memberikan opininya sendiri.
Namun sepasang suami istri ini mendadak oleng. Otaknya tak bekerja dengan baik. Masih belum percaya dengan opini bu Titin.
"Aku hamil bang?" Tanya Ayra tak percaya dan hanya dijawab anggukan bang Ar dengan sama tak percayanya.
"Udah si enengnya ditidurin dulu sini! Ibu membawa sarapan untuk kalian. Dimakan ya neng biar gak lemes!" Bu Titin yang sudah masuk rumah. Menyiapkan bantal sofa untuk Ayra tiduri dan menyiapkan makanan yang Ia bawa tadi di atas meja.
Bang Ar menurut dan merebahkan sang istri disofa. Bang Ar yang sudah mencerna kata-kata bu Titin, tiba-tiba hatinya menghangat. Membentuk lengkung senyum yang menggambarkan hatinya.
"Sayang kamu hamil!" Bang Ar mengembangkan senyumnya memeluk tubuh sang istri mencium pucuk kepalanya berkali-kali. Bahkan bang Ar sampai meneteskan air mata bahagianya.
"Bentar lagi kita akan jadi orang tua sayang! Abang Akan jadi Papa!" Bang Ar terus mendekap tubuh sang istri kegirangan.
Namun berbeda dengan sang suami yang begitu bahagia. Ayra tampak murung. Ia bangun dari tidurnya membuat bang Ar melepas dekapannya dan keheranan.
__ADS_1
"Kamu kenapa sayang?" Tanyanya.
"Aku mau kemar mandi dulu bang!" Ayra berlenggang begitu saja. Membuat bang Ar dan bu Titin keheranan.
"Dia kenapa?"
"Mungkin neng Ay masih belom percaya, kalo dia hamil. Tapi gak papa itu biasa. Mungkin karena usianya juga yang masih muda, dia masih belom menginginkannya." Tutur bu Titin.
Bang Ar yang mendengar penuturan bu Titin jadi teringat dengan percakapan mereka dikamar mandi waktu itu. Apa benar istrinya ini belom siap untuk hamil? Apa salah jika Ia bahagia akan menjadi seorang Ayah?
Pertanyaan demi pertanyaan berputar diotaknya. Pemikiran tentang sang istri yang belom menginginkan momongan seolah dibuktikan dengan tak kunjung kembalinya sang istri dari kamar mandi.
'Apa yang dia lakukakan dikamar mandi?' Batinnya.
Bang Ar berjalan memasuki kamarnya, mencari sang istri yang masih belum kembali. Diketuknya pintu kamar mandi pelan.
"Sayang! Kamu masih didalam?" Tanyanya namun masih belum ada jawaban darinya.
"Sayang! Buka pintunya!" Bang Ar terus menggedor pintunya.
"Sayang! Abang tau kamu belum siap. Tapi abang mohon jangan kek gini! Ini rejeki untuk kita. Kamu harus terima." Belum juga ada tanda-tanda pintu terbuka.
"Sayang! Jangan kek gini. Abang gak suka!" Seperti pamungkas kata-kata itu mampu membuat pintu kamar terbuka.
Nampak wajah Ayra yang berantakan dengan air mata yang berderai dipipinya. "Sayang!" Bang Ar mendekap tubuh sang istri. Membuat Ayra terisak.
"Kenapa? Kamu gak seneng kalo kita punya baby?" Tanya bang Ar.
"Aku seneng." Timpalnya.
"Terus kenapa kamu nangis?"
"Karena aku gak hamil."
"Maksudnya?"
"Aku datang bulan!"
*****************
Kutunggu jejakmu readers😊
Makasih buat yang selalu dukung mak othor🤗 Sehat selalu untuk kaleeaannn🙏
Ini yang kecewa belum bisa jadi Papa😂
__ADS_1
Ini yang dikira belom siap jadi Mama😂