
Hari ini Wahyu dan ketiga temannya tidak masuk kerja. Mereka izin untuk menjenguk Syakirah yang sedang sakit, meskipun tadi di tolak Bu Ariana karena hanya menjenguk orang sakit saja, tapi Wahyu tetap bersih keras untuk mendapatkan izin tidak masuk kerja. Karena mendapat paksaan dari Wahyu dan Wahyu juga mengancam akan keluar dari pabrik XX jika tidak di izinkan, maka terpaksa Bu Ariana memberikan izin untuk Wahyu dan ketiga temannya, karena kehadiran mereka sangat penting untuk pabrik XX ini.
Mereka sudah sampai dirumah Syakirah, mereka mengetuk pintu rumah Syakirah dan mengucapkan salam.
Tok...tok...tok...
"Assalamualaikum." ujar Wahyu, tapi tidak ada sahutan sama sekali.
Tok...tok... tok...
"Assalamualaikum." ujar Wahyu lagi. Tapi tetap tidak ada sahutan. Tak lama kemudian, ada seorang nenek yang menghampiri mereka.
"Eh, ini bukannya nak Wahyu ya?" ujar nenek tadi. Wahyu langsung berbalik dan menatap nenek tersebut. Wahyu tahu nenek itu, dia adalah nenek Syakirah. Rumah Syakirah memang berdekatan dengan rumah neneknya.
"Eh? Nek. Assalamualaikum." ujar Wahyu tadi sambil mencium punggung tangan nenek Syakirah. Rey, Ryan dan Navile juga melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Wahyu.
"Nek, saya mau menjenguk Syakirah, tapi dari tadi waktu saya ketuk pintunya tidak ada sahutan nek." ujar Wahyu.
"Waalaikumsalam. Syakirah dibawa ke rumah sakit semalam karena dia pingsan, jadi dia ada di rumah sakit sekarang." ujar nenek Syakirah sedih. Wahyu langsung terkejut mendengar ucapan dari nenek Syakirah tadi.
"Apa nek? Syakirah dibawa kerumah sakit? Kalau boleh tahu dimana rumah sakitnya ya nek?" ujar Rey khawatir.
"Hmm... Maafkan nenek ya... Nenek tidak tahu rumah sakit mana yang merawat Syakirah."
"Jadi, nenek tidak tahu?" Tanya Wahyu sekali lagi. Nenek Syakirah hanya menggelengkan kepala tanda tidak tahu. Setelah berbicara kepada mereka, nenek Syakirah pamit untuk ke warung untuk membeli gula dan teh, karena sedang ada tamu dirumahnya.
"Bagaimana ini? Nenek Syakirah tidak tahu dimana Syakirah sedang dirawat!" ujar Wahyu panik.
Mereka hanya berdiam diri di rumah Syakirah, karena mereka sedang menunggu seseorang seperti ayah atau ibu Syakirah untuk pulang, agar mereka tahu dimana Syakirah dirawat.
Mereka sudah menunggu selama dua jam, tapi tetap tidak ada orang yang pulang ke rumah Syakirah. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Sebelum mereka pulang, mereka di hampiri oleh seorang wanita berpakain gamis dan berkerudung panjang yang sedang mengendarai motornya. Mereka tidak tahu siapa wanita itu, karena wanita tersebut memakai helm. Saat wanita tersebut melepas helmnya semua terkejut, wanita tersebut ternyata Kiya.
"Sedang apa kalian dirumah Syakirah?" tanya Kiya kepada mereka.
__ADS_1
"Kiya, kami tadinya mau menjenguk Syakirah, tapi saat kami mengetuk pintunya tidak ada sahutan. Tadi nenekmu juga bilang kepada kami, kalau Syakirah dirawat dirumah sakit, tapi nenekmu tidak tahu rumah sakit mana yang sedang merawat Syakirah." ujar Wahyu.
"Iya, Syakirah memang sedang dirawat di rumah sakit. Karena semalam dia pingsan saat dari kamar mandi. Nenekku memang tidak tahu Syakirah dirawat dimana, karena waktu itu sudah tengah malam, jadi wajar saja jika nenekku tidak tahu." jawab Kiya.
"Lalu, apakah kau tahu dimana Syakirah sedang dirawat?" tanya Rey kepada Kiya.
"Ya, aku baru saja menjenguk Syakirah. Syakirah di rawat di rumah sakit XX, ruangan anggrek no.11, Syakirah dirawat disana. Dia masih belum sadarkan diri sampai saat ini. Dan kau harus tahu Wahyu, dia selalu menyebut namamu dan mengucapkan kata maaf di tengah ketidak sadarannya." ujar Kiya menatap Wahyu tajam. Wahyu semakin bersalah terhadap Syakirah. Dia tidak mendengarkan celotehan Kiya dan bergegas untuk pergi. Melihat Wahyu yang pergi begitu saja membuat Kiya berteriak.
"Hei! Mau kemana kau Wahyu? Aku belum selesai bicara denganmu!" teriak Kiya kepada Wahyu yang sudah pergi dari sini. Rey, Ryan dan Navile pun mengikuti Wahyu dan berbicara kepada Kiya kalau Wahyu mau menjenguk Syakirah di rumah sakit. Mendengar ucapan Rey, membuat Kiya mendengus kesal. Akhirnya Rey dan kedua temannya berangkat menyusul Wahyu ke rumah sakit dan meninggalkan Kiya sendirian.
***
Wahyu sudah sampai di rumah sakit, dia sudah berjalan ke ruang rawat Syakirah. Dia sedikit berlari agar cepat sampai. Saat wahyu sudah ada di depan pintu ruang rawat Syakirah, dia begitu gugup. Dia menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Dia mengetuk pintu ruang rawat tersebut.
Tok.... tok.... tok....
"Assalamualaikum." Wahyu mengucapkan salam, lalu membuka pintunya perlahan. Dia melihat Syakirah yang tengah berbaring lemah tak sadarkan diri, dengan infus yang berada di punggung tangan kanannya, serta terdapat ventilator untuk mempermudah Syakirah bernafas. Wahyu menatap Syakirah sendu.
"Eh? Iya tante. Saya datang kesini untuk menjenguk Syakirah. Saya mendapatkan alamat rumah sakit yang merawat Syakirah dari Kiya tante, jadi saya langsung bergegas untuk kemari." ujar Wahyu sambil mencium punggung tangan ibu Syakirah. "Kalau boleh tahu, Syakirah sakit apa tante ya?" tanya Wahyu.
"Kata dokter, Syakirah terkena infeksi lambung. Dia tidak sadarkan diri gara-gara perutnya yang terlalu sakit. Dokter bilang kalau perutnya tidak terlalu sakit dan sudah reda, Syakirah akan sadar sendiri. Tante hanya bisa berdoa untuk kesembuhan Syakirah." ujar ibu Winda sedih. Sementara ayah Syakirah sedang ke ruangan Dokter untuk mendengarkan penjelasan dari Dokter mengenai keadaan Syakirah saat ini. Wahyu begitu sangat tertekan dan menyesal.
Dia menghampiri Syakirah dan duduk di kursi yang ada disamping berangkar Syakirah. Dia memegang tangan Syakirah dan menggenggamnya.
Syakirah, maafkan aku. Tolong maafkan aku. Aku mohon sadarlah Syakirah. Jangan seperti ini! ujar Wahyu dalam hati dengan pilu.
Tak lama Rey, Ryan dan Navile datang keruangan Syakirah. Mereka melihat Syakirah yang berbaring lemah tak sadarkan diri. Mereka segera mencium punggung tangan ibu Syakirah, setelah itu mereka menghampiri Syakirah dengan tatapan sendu. Dan mereka juga pertama kali ini melihat Syakirah yang tanpa mengenakan kerudung dan melihat rambut panjang Syakirah yang tergerai.
Ada yang membuka pintu ruangan Syakirah, orang itu adalah ayah Syakirah. Ayah Syakirah baru saja kembali dari ruangan Dokter. Dia melihat teman-teman Syakirah yang sedang menjenguknya, dia tersenyum melihat Syakirah yang dikelilingi orang-orang baik seperti mereka.
"Maaf, apa kalian bisa menjaga Syakirah sebentar? Kami ingin pulang untuk mengambil perlengkapan Syakirah dan juga perlengkapan kami untuk menginap disini." ujar Pak Rudi. Nama ayah Syakirah adalah Rudi. Mereka menoleh ke sumber suara.
"Om rudi! Kami akan menjaga Syakirah om. Om Rudi pulang saja, tidak perlu khawatir, kami akan menjaganya!" ujar Rey.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu. Maaf ya sudah merepotkan kalian."
"Tidak om. Kami tidak merasa direpot'i sama sekali. Justru kami sangat senang karena telah membantu om." ujar Wahyu. Setelah mendengar jawaban dari mereka. Pak Rudi, ibu Winda dan anak bungsunya kembali ke rumah untuk mengambil perlengkapan mereka saat di rumah sakit nanti.
Wahyu terus menggenggam tangan Syakirah. Dia begitu sedih melihat Syakirah yang saat ini. Rey menatap Wahyu yang sedang pilu.
"Wahyu, jangan salahkan dirimu sendiri, ini bukan salahmu!" ujar Rey menenangkan Wahyu.
"Tapi.... Syakirah sakit gara - gara aku Rey." jawab Wahyu sendu. Rey tidak bisa berkata apa-apa saat Wahyu bicara begitu. Karena memang ini adalah kesalahan Wahyu yang ceroboh dan juga kesalahan Syakirah yang memaksakan dirinya sendiri.
***
Kiya baru saja datang. Dia terkejut melihat teman-teman Syakirah yang belum pulang dari tadi siang, padahal ini sudah jam sembilan malam dan mereka menunggu seharian disini.
"Apakah kalian tidak pulang? ini sudah malam. Lebih baik kalian pulang, besok kalian datang kesini lagi ya!" ujar Kiya sambil meletakkan perlengkapannya untuk menginap di rumah sakit.
"Tidak. Aku tidak akan pulang sebelum Syakirah sadar!" jawab Wahyu.
Dia masih betah menggenggam tangan Syakirah. Rey sudah membujuk Wahyu untuk pulang beberapa kali, tapi tetap saja Wahyu menolak dan menyuruh Rey untuk pulang sendiri. Mendengar jawaban Wahyu membuat dia urung untuk membujuk Wahyu pulang. Karena dia harus pulang bersama dengan Wahyu, kalau tidak nanti ibunya Wahyu bisa mencarinya.
"Hei.... ini sudah malam. Biarkan Syakirah istirahat agar dia lekas sembuh. Kau bisa saja membuat dia tambah sakit nanti!" ujar Kiya kesal. Mendengar ucapan Kiya membuat Wahyu membelalakkan matanya tak percaya.
"Apakah itu benar Kiya?" jawab Wahyu sambil menatap Kiya.
"Ya, tentu saja. Kau mengganggu waktu istirahatnya Wahyu. Pulanglah sekarang, biarkan syakirah istirahat!"
Mendengar Kiya bicara seperti itu membuat wahyu takut, takut kalau Syakirah tidak akan sadar. Jadi, dia memutuskan untuk pulang. Dia menitip pesan ke Kiya untuk menyampaikan ke ibu Winda, bahwa Wahyu sudah pulang. Kiya pun menyanggupi permintaan Wahyu. Setelah itu Wahyu dan teman-temannya bergegas untuk pulang.
Kiya menatap Syakirah sendu, dia sudah menangis. Sejak tadi dia ingin menangis karena melihat Syakirah yang tak sadarkan diri, tapi dia menahannya.
Syakirah aku mohon sadarlah! Jangan seperti ini syakirah! ujar Kiya dalam hati.
Bersambung......
__ADS_1