
"Siap..... pa.....? " nada bicara Wahyu melemah saat mendengar suara di seberang sana.
Wahyu seperti mengenal suara itu, suara itu sudah tidak asing lagi di telinganya. Tapi mana mungkin itu dia, pikir Wahyu. Sambungan telpon mereka masih tersambung dan tidak terputus hanya saja mereka sama-sama diam. Wahyu melihat ponselnya yang tertera nomor yang tidak di kenalnya. Antara percaya dan tidak percaya, tapi lebih banyak tidak percayanya.
"Ini tidak mungkin." lirih Wahyu sambil menatap ponselnya nanar.
Wahyu masih belum percaya dengan orang yang baru saja menelponnya. Orang ini tiba-tiba hilang, tiba-tiba datang lagi. Maunya apa sih? Pikir Wahyu
"Wahyu, lo masih ada disana kagak sih?" tanya di seberang sana.
Huh! Nada bicaranya sama saja seperti dulu. Wajar, dia kan orang kota, anak orang kaya lagi. batin Wahyu.
"Iya, gue masih ada. Kenapa lo tiba-tiba telpon gue? Dari mana aja lo? Ngilang gak jelas, tiba-tiba datang aja. Dapat dari mana lo nomor ponsel gue?" ujar Wahyu. Wahyu mengikuti gaya bicara di seberang sana.
"Baru aja gue datang, lo udah ngomel-ngomel gini. Lo tau kan kalau gue itu habis dari Jakarta, gue menetap disana beberapa tahun ini. Lo jangan marah sama gue, gue juga sebenarnya kagak mau tapi mau bagaiamana lagi? Mau gak mau gue harus menetap disana, setelah beberapa tahun ini gue akhirnya kembali juga kan. Untuk urusan gue dapat nomor lo dari mana, lo gak usah tau deh." ujar di seberang sana.
"Huh! Ck! Terserah lo deh! Buat apa sekarang lo telpon gue sekarang?"
"Ya, buat nanya soal Syakirah lah. Buat apalagi emang?"
"Buat apa lo cari dia, Evan? Lo gak usah cari dia lagi!"
Ya, orang di seberang sana adalah Evan. Evan mantan Syakirah, dan Wahyu sangat membencinya karena Evan meninggalkan Syakirah begitu saja tanpa pamit. Jangan di tanya sebenci apa Wahyu kepada Evan, sangat, sangat benci bahkan sampai urat dan kukunya sekalipun.
"Kok lo ngomong gitu sih? Gue itu masih sayang sama Syakirah. Lo kok gitu amat sih sama gue." ujar Evan di seberang sana.
"Sayang? Sayang lo bilang? Maksud lo apaan coba ngomong gitu? Lo bilang lo masih sayang sama Syakirah? Lo mikir kagak sih? Lo tiba-tiba ninggalin Syakirah gitu aja, seolah-olah Syakirah adalah barang yang udah gak lo butuhin lagi. Meskipun waktu itu hubungan lo sama dia berakhir, tapi jangan ninggalin dia gitu. Lo gak mikir apa perasaan dia kayak gimana? Lo yang udah buat dia berubah. Lo yang buat dia merasakan cinta lagi. Tapi lo juga yang udah ninggalin dia. Lo tau gimana perasaan Syakirah waktu itu? Hancur! Sangat, sangat hancur. Lo gak tau gimana dia waktu itu. Seandainya lo tau lo gak akan tega lihatnya." Wahyu emosi.
__ADS_1
Yang di seberang sana diam, tidak menjawab dan tidak membantah. Dia memang bersalah karena dia sudah meninggalkan Syakirah begitu saja.
Gue ngelakuin ini juga karena terpaksa. Apa kalau gue bilang dulu ke Syakirah waktu itu, Syakirah akan mengizinkan? Belum tentu. batin Evan.
"Lo gak tau gimana posisi gue waktu itu, Wahyu. Lo gak akan paham. Gue juga terdesak di posisi itu. Gue mau pamit sama Syakirah, tapi gue ragu. Apa Syakirah mengizinkan gue apa nggak? Dan gue tau jawabannya nggak. Dan gue mau gak mau harus pergilah ke Jakarta. Wahyu, please lah. Lo ngertiin posisi gue waktu itu." ujar Evan di seberang sana.
"Terserah lo mau ngomong apa, gue gak peduli!"
"Oke, kalau gitu gue minta nomor Syakirah."
"Jangan harap! Lebih baik lo gak usah ada kontak lagi dengan Syakirah. Lo bisa cari nomor gue tapi lo gak bisa cari nomor Syakirah, lucu gak sih?" Wahyu tertawa getir.
Gue udah punya nomornya, Wahyu. Tapi gue gak berani buat hubungi dia, gue takut dia marah dan semakin benci sama gue. batin Evan di seberang sana.
"Terserah lo deh, Wahyu. Capek gue ngomong sama lo!"
Tut...
Wahyu mematikan sambungan telponnya dengan Evan. Percuma berdebat dengan bedebah seperti Evan, pikir Wahyu. Wahyu berjalan keluar toilet dan menuju ke ruangannya.
Yang di seberang sana mengumpat dengan kesal karena Wahyu tiba-tiba mematikan sambungan ponselnya secara sepihak.
"Wahyu aja sebenci ini sama gue, terus gimana dengan Syakirah? Gue yakin kalau dia benci banget sama gue. Evan, lo sendiri juga bodoh banget sih. Ngapain coba lo ninggalin dia dulu? Kalau gini jadinya lo kan yang repot." gumam Evan merutuki kebodohannya.
Evan menegakkan tubuhnya, yang awalnya tubuhnya bersandar di pagar tingkat lantai 3 menjadi tegap. Evan memicingkan matanya, terlihat ada seorang berhenti di depan rumahnya.
"Siapa dia?" gumam Evan sambil melihat getak-gerik orang tersebut.
__ADS_1
Evan masih memicingkan matanya, mencoba untuk mencari tahu siapa orang yang berhenti di depan rumahnya. Jika di lihat-lihat dari motornya, itu seperti motor yang berhenti malam-malam di depan rumah Evan waktu itu.
Saat seorang itu turun dari motornya dan melihat-lihat ke arah dalam, Evan tambah memicingkan mata. Tapi hasilnya nihil, orang itu memakai masker wajah dan juga kacamata hitam. Evan sulit untuk mengenali orang tersebut.
Sementara orang yang ada di depan gerbang rumah Evan terlihat merutuki kebodohannya dan memukul kepalanya, Evan yang melihat itu juga tertawa.
"Syakirah, kau bodoh sekali! Bagaimana bisa kau datang lagi kesini? Memangnya kau siap jika bertemu dengan Evan? Kau kan marah dengannya." ujar Syakirah sambil memukul kepalanya.
Syakirah membenturkan kepalanya di gerbang rumah Evan, merasa dirinya sangat bodoh sekali. Syakirah naik lagi ke motornya, percuma saja dia disini tidak akan ada apa-apa, pikirnya. Syakirah mulai menjauhi rumah Evan.
Sementara Evan sendiri sedang mengetikkan nama seseorang di ponselnya. Evan menempelkan ponselnya di telingan kanannya.
Tut... tut... tut...
Sambungan telpon pun tersambung.
"Cari tau orang yang berhenti di depan rumah gue tadi. Dia pakai pakaian hoodie hitam dan celana pendek, memakai masker hitam dan juga kacamata hitam. Dan motornya adalah motor matic vario 125 warna hitam putih dengan plat nomor X XXXX X. Cari tahu tentang dia dan tujuan dia datang kesini. Gue curiga aja karena dari kemarin dia juga datang kesini malam-malam. Gue pikir dia ngikutin kak Cherly, tapi gue gak tau tujuannya apa. Lo cari tahu tentang dia sedetail-detailnya. Barang kali dia menginginkan sesuatu dari keluarga gue." ujar Evan kepada seberang sana.
"Oke, lo tunggu informasinya nanti malam ya." jawab di seberang sana.
Bersambung......
***
"Woy Evan, lo kagak tau apa kalau itu Syakirah. Iya sih lo juga gak akan tau kalau itu Syakirah, Syakirah kan juga sempet ganti motor juga. Wajar sih kalau lo kagak tau. Hehe." Author.
Semoga kalian suka dengan cerita novelku ya ^_^
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen dan Vote biar Author semangat updatenya ^_^