Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Kak Dara kesal


__ADS_3

Kiya berharap kalau Syakirah bisa mengerti dengan keadaannya ini. Kiya sedang tidak ingin membahas tentang Evan yang membuat hatinya berdenyut nyeri. Inilah kenapa Kiya tidak terlalu suka berteman ataupun bergaul dengan laki-laki, apalagi Kiya juga takut sekali dengan yang namanya sakit hati.


"Ya sudah kalau kakak tidak mau cerita. Aku juga gak maksa kakak kok. Kalau begitu aku tutup telponnya kak. Assalamualaikum." pamit Syakirah.


"Waalaikumsalam." jawab Kiya.


Kiya memandangi hpnya dengan nanar dan tersenyum kecut. Sementara Syakirah merasa sangat curiga sekali.


Kayaknya emang ada masalah antara kak Kiya sama Evan, tapi masalah apa? Perasaan mereka berdua baik saja kok? Tanya kak Kiya, kak Kiya juga tidak mau kasih tahu. Tanya Evan, Evan juga tidak tahu masalah apa. Kak Kiya kalau sudah seperti ini tidak akan memberitahu siapapun dan memendamnya sendiri. batin Syakirah.


***


Sementara di kediaman keluarga Roy, Clara langsung done saat mendengar kalau Roy pergi dari rumah. Penyakit yang sudah hampir tidak pernah kambuh lagi kini menjadi kambuh karena kepergian Roy. Papa, Mama Roy dan kak Dara panik bukan main karena Clara tiba-tiba pingsan.


"Lagian kenapa sih Roy pakek acara keluar dari rumah segala?! Kan bisa di selesaikan baik-baik! Dasar bocah!" cibir kak Dara.


"Mama juga gak tau, Dar. Padahal kalau mama pikir ini bisa di selesaikan baik-baik kok." ujar mama Roy.


"Tadi aku udah telpon dia."


"Terus? Di angkat atau nggak?"


"Di angkat."


"Terus dia ngomong apa?"


"Gak ngomong apa-apa. Waktu aku bilang kalau Clara pingsan gara-gara dia pergi, tiba-tiba aja dia mutusin telponnya. Terus waktu aku telpon lagi ternyata hpnya udah gak aktif." jelas kak Dara.

__ADS_1


Terlihat Papa dan Mama menghela nafas berat. Mama Roy terus memandangi wajah Clara yang sedang pingsan dan tidak sadarkan diri sejak pagi tadi.


"Eemmm... Roy... "


Clara tiba-tiba bergumam menyebut nama Roy padahal dia pingsan.


"Clara?! Kamu sudah sadar nak?!" ujar mama Roy sedikit tenang.


Lama-lama Clara membuka matanya perlahan, masih di iringan dengan tetesan air mata. Mama Roy menjadi sedih lagi saat melihat ekspresi dan air mata Clara yang tidak bisa berhenti.


"Roy... " ujarnya lirih.


"Clara. Clara gak boleh mikirin Roy terus. Roy pergi ke luar negeri juga belajar, sayang. Dia ke luar negeri ingin menambah wawasan dan belajarnya. Kalau tugasnya udah selesai, dia bakalan balik lagi kesini buat nemuin Clara." jelas mama Roy dengan di iringi tangis.


"Iya, La. Apa yang di omongin Mama itu bener. Roy kesana juga belajar dan buat nambah wawasannya. Jadi lo gak usah nangis lagi." tambah kak Dara.


Beberapa pelayan tiba-tiba datang sambil membawa beberapa nampan yang berisi makanan, ternyata Papa Roy yang memanggil mereka untuk kesini.


"Clara, kamu makan dulu ya nak? Biar kamu cepet sembuh."


Bujuk Mama Roy sambil menyuapkan makanan ke mulut Clara. Bukannya membuka mulutnya, Clara malah menutup mulutnya rapat-rapat. Melihat makanan yang ada di depannya saja sepertinya dia tidak ingin sama sekali.


"Heh! Clara! Lo gak usah nangisin Roy lagi! Ada gue disini! Emang sih gue bukan cowok, tapi sifat, wajah sama kelakuan gue gak jauh beda kan sama Roy. Jadi anggap aja gue ini Roy versi ceweknya. Atau gue aja yang nyuapin lo?" ujar kak Dara.


Mendengar ucapan kak Dara membuat Clara menoleh dan melihat wajah kak Dara. Memang persis, baik sifat maupun wajah tapi mau bagaimanapun kak Dara tetap kak Dara, bukan Roy.


Clara tiba-tiba mengangguk saja. Karena Clara mengangguk akhirnya kak Dara yang menyuapi Clara. Papa dan Mama Roy sangat senang karena akhirnya Clara mau makan.

__ADS_1


***


Pukul 00.30


Jam menunjuk tengah malam. Ada seseorang yang masuk secara diam-diam ke dalam kamar Clara di saat Clara tengah tertidur dengan sangat pulas karena efek obat yang tadi dia minum. Orang itu mendekati Clara secara perlahan dan melihat wajah Clara yang tengah tertidur. Baru saja orang itu mau menyentuh wajah Clara tapi tiba-tiba saja suara dari seseorang mengagetkannya.


"Siapa lo?" ujar seseorang itu yang tak lain adalah kak Dara.


Orang itu terkejut dan langsung membalikkan badannya. Kak Dara tidak terkejut sama sekali saat melihat orang itu. Dia tahu kalau orang itu akan datang kesini. Kalian tahu siapa orang itu? Ya, orang itu adalah Roy. Roy langsung memesan tiket pesawat saat mengetahui kalau Clara tiba-tiba done.


"Ikut gue." suruh kak Dara kepada Roy dan langsung pergi meninggalkan Roy yang sedang berdiri.


Mereka berdua sedang berada di balkon rumah mereka saat ini, memandangi langit yang gelap dan hanya di sinari oleh rembulan.


Kak Dara tiba-tiba mengeluarkan rokok dan juga korek api. Dia membakar ujung rokok itu dan menghisapnya. Aahh... kalian pasti baru tahu bukan? Kebiasan kak Dara adalah merokok secara diam-diam karena dia juga takut di marahi oleh kedua orang tuanya, karena dia adalah perempuan. Kak Dara lebih tomboy dari pada kak Cheryl (Kakaknya Evan) Kak Cheryl masih bisa bersikap lemah lembut, tapi jangan harapkan kepada kak Dara. Dia sangat jijik sekali jika bersikap lemah lembut, kecuali kepada orang tua dia akan bersikap lemah lembut (Khusus).


"Ternyata kebiasaan kakak masih mendarah daging ya sampai sekarang? Kalau sampai ketahuan sama Papa, kakak pasti udah di masukin rumah sakit supaya bisa berhenti ngerokok." ujar Roy.


"Kalau cowok bisa ngerokok, kenapa cewek nggak?" jawab kak Dara begitu sangat santai.


Jleb


Kata-kata kak Dara cukup menancap sekali. Roy lebih memilih diam dari pada harus berdebat dengan kakak durjananya ini. Dia berdebat pun tidak akan bisa menang sama sekali.


"Ngapain lo balik?" tanya kak Dara pada akhirnya. Tidak ada jawaban dari Roy, dia masih tetap diam. "Lo kasihan sama dia? Kalau kasihan ngapain lo ninggalin dia? Gak usah munafik lo!" lanjutnya. "Lo yang ninggalin dia! Lo juga yang nyakitin dia! Tapi kenapa lo yang balik lagi buat nemuin dia?! Kalau lo kasihan harusnya lo gak ninggalin dia! Kalau lo ninggalin dia, ya udah tinggalin aja! Gue yang akan jagain dia! Gue yang akan ngerawat dia!Gue yang akan tanggung jawab soal dia! Apapun itu masalahnya! Elo itu cowok! Punya mental jangan kayak kapas! Sekali di tiup langsung terbang! Harusnya masalah itu di selesaikan baik-baik, gak langsung pergi gitu aja! Kayaknya lo emang gak pantes buat jadi cowok!" lanjutnya lagi.


Kak Dara bahkan sampai menunjuk dahi Roy dan mendorongnya cukup keras karena saking kesalnya dengan Roy adiknya ini.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2