Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Soal cinta


__ADS_3

Setelah menanyakan beberapa hal dengan Kiya, Syakirah memutuskan sambungan telponnya. Dia menatap nanar hpnya itu. Tidak percaya kalau Kiya tidak menyukai Evan, padahal Evan sudah mengeluarkan banyak uang untuknya tapi Kiya masih tidak menyukai Evan.


Syakirah sampai bingung melihat perasaan kakaknya yang sulit sekali di tebak. Syakirah berfikir kalau hati kakaknya sudah membeku atau mungkin karena dia pernah merasakan sakit hati? Tapi dengan siapa? Secara Kiya tidak pernah berhubungan dengan lelaki manapun. Asraf? Apa mungkin Kiya suka dengan Asraf? Dan hatinya membeku karena Asraf pergi meninggalkannya? Tapi apakah itu mungkin? Kiya bahkan tidak menyukai Asraf sama sekali, karena perbuatan Asraf di masa lalu. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala Syakirah secara tiba-tiba. Bingung dengan jalan perasaan kakak sepupunya itu.


"Kiya bilang dia tidak menyukai Evan kan? Itu bukan masalah yang besar juga. Jika Kiya tidak suka dengan Evan dan suatu hari Kiya akan tahu kebenarannya, mungkin dia tidak akan sakit hati atau akan sakit hati Tapi hanya sedikit." ujar Ahmad.


"Tidak. Kak Kiya akan tetap merasakan patah hati di saat dia tahu kebenarannya. Kau tahu kenapa? Karena dia juga pernah bahagia dengan Evan, apalagi mereka juga pernah dinner bersama. Itu adalah momen bahagia menurutku, semua orang pasti akan patah hati jika melihat orang yang pernah dinner dengannya, ternyata lebih memilih orang lain." ujar Syakirah.


"Lalu, kau mau bagaimana?" tanya Ahmad kebingungan.


"Ah sudahlah, aku juga tidak tahu."


"Kau sendiri tidak tahu, lalu bagaimana dengan aku yang tidak pernah melihat langsung kejadiannya? Dan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi?" protes Ahmad.


"Kau memang tidak tahu waktu kak Kiya dinner, tapi kau yang mengalami saat Evan menghadangmu."


"Ah sudahlah, berdebat denganmu tidak akan pernah menang sekalipun mulutku berbusa!"


Mereka berdua kembali ke ruangan mereka karena bel istirahat selesai telah berbunyi. Saat ada di ruangan, Syakirah memandangi Wahyu yang sibuk dengan berkasnya. Ada terbesit rasa bersalah di hati kecil Syakirah.


Apa memang Wahyu lebih baik dari pada Evan? Bagiku mereka berdua sama-sama baik, tapi Wahyu lebih baik dari Evan, hanya saja kenapa Wahyu tidak mau mengungkapkan isi hatinya? Bukannya itu lebih baik dari pada dia terus menutupi itu semua? Harusnya aku mendukung Wahyu dari pada Evan, karena Wahyu tidak mempunyai niat apa-apa. Harusnya aku mengikuti alur kak Kiya, bukan malah membuat alur sendiri. batin Syakirah.

__ADS_1


Jika di bandingkan dari segi fisik, Evan memang lebih baik. Tapi jika di bandingkan dari segi keseriusan, Wahyu lebih baik dari Evan, dia lebih serius dari Evan dan dia juga bertahan di bandingkan Evan. bahkan sampai bertahun-tahun. Tapi semuanya itu tergantung Kiya sendiri, Kiya berhak memilih di antara mereka berdua atau menolak di antara mereka berdua dan tidak memilih siapa-siapa. Semua keputusan ada di tangan Kiya dan Kiya lah yang berhak memutuskan siapa yang pantas untuk dirinya.


***


Sementara di kantor perusahaan Novanda, Evan sedang merenungkan sesuatu. Bahkan sekretarisnya sampai geleng-geleng melihat Evan yang diam saja tanpa melihat berkas yang ada di atas meja kerjanya itu.


"Tuan muda, apa ada yang menganggu pikiran anda? Saya bisa menyelesaikannya, supaya pikiran anda tidak terus tertuju padanya." ujar sekretarisnya itu.


"Apa lo pernah jatuh cinta?" tanya Evan yang membuat sekretarisnya terkejut.


"Maaf, tuan muda. Saya masih belum pernah merasakan jatuh cinta, saya juga tidak ingin merasakannya sama sekali. Hidup saya hanya untuk mendampingi anda saja." jawab sekretarisnya itu.


"Semuanya sudah di atur oleh Tuhan, tuan muda. Semuanya akan datang sendiri jika sudah waktunya." jawab sekretarisnya itu.


"Berapa umur lo?" tanya Evan lagi.


"28 tahun." jawabnya.


"Nikah aja sama kak Cherly, dia juga pasti mau sama lo. Perbandingan umur kalian kan juga 2 tahun, gak jauh-jauh amat juga, nikah aja sama dia. Oke?" suruh Evan dengan entengnya.


Apa-apaan ini? Kenapa tuan muda tiba-tiba menyuruhku menikah dengan kakaknya? Apa dia sudah gila ya gara-gara jatuh cinta dan ngebet nikah? batin sekretarisnya itu dengan kebingungan.

__ADS_1


"Maafkan saya, tuan muda. Nona muda Cherly tidak pantas mendapatkan saya. Saya hanya seorang sekretaris dan bukan CEO perusahaan besar." tolak sekretarisnya itu.


"Kak Cherly itu gak pernah memandang materi cowok, yang penting setia sama punya kerjaan, meskipun hanya karyawan pabrik juga oke-oke aja kalau dia. Masalah uang mah dia gak terlalu mikirin." ujar Evan.


Sekretarisnya ini tidak menjawab ucapan Evan, berdebat dengan Evan memang tidak ada habisnya, apalagi sekretarisnya irit sekali bicara.


"Ah udahlah percuma ngomong sama lo, gak guna dan percuma. Emang ngomong soal cinta sama lo itu gak akan pernah nyambung." Evan mencibir sekretarisnya.


"Gue punya kenalan cewek, gue juga sempat dinner sama dia. Dia hampir 11 12 sama lo, dingin iya, cuek iya, gak ada halus-halusnya kalau ngomong iya, kalau udah ngomong kadang sampek menancap ke tulang-tulang juga iya, pokoknya semuanya soal cuek sama-sama dingin, gak tau lagi gue mau ngomong soal dia kayak gimana. Cuma dia cantik sama... dia juga nutup auratnya, kayak pakai kerudung gitu sama baju gamis muslim kayak gitu, cuma dia gak cadaran. Menurut lo gimana soal dia? Dia cocok gak sama gue?" ujar Evan.


Bagaimana saya tahu tentang dia, sementara anda selalu melarang saya untuk mengikuti anda? Apa seperti ini orang yang sedang gila oleh cinta? Sungguh sangat memalukan! batin sekretarisnya ini.


Memalukan? Ah ya, itu hanya sebutan dari orang yang tidak pernah merasakan cinta seperti sekretarisnya Evan ini. Karena baginya cinta itu tidak terlalu penting juga.


"Nih gue kasih fotonya." ujar Evan sambil memperlihatkan foto Kiya kepada sekretarisnya.


Tunggu! Bukankah itu sepupu dari nona Syakirah? Sungguh tidak bisa di percaya, putus dengan nona Syakirah langsung beralih ke sepupunya? batin sekretaris Evan terkejut.


Sekretarisnya Evan memang tahu tentang Syakirah sampai hal yang terkecilnya, dia juga tahu soal sepupu perempuan Syakirah yang ada di pesantren itu. Tapi sekretaris ini tidak memberitahu tentang hal ini kepada Evan, karena Evan tidak terlalu tertarik jika tentang saudara Syakirah. Yang dia pikirkan hanyalah orang tua Syakirah, adik Syakirah, Syakirah, Syakirah dan Syakirah, yang dia pikirkan hanya itu saja. Oleh sebab itu sekretarisnya tidak pernah memberitahu Evan tentang sepupu Syakirah. Sekretaris juga selalu menyelidiki semua orang yang dekat dengan Evan, tapi itu dulu sekarang sudah tidak, karena Evan melarangnya. Jika tidak di suruh maka dia juga tidak akan bertindak juga, karena itu juga bisa membuat kemarahan Evan datang. Kecuali jika situasi sedang genting, Evan tidak menyuruh pun dia akan tetap melakukannya.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2