
"Kalau lo mah gak lupa tapi emang gak niat buat beli'in. Cuma manis di bibir doang, kenyataannya juga kagak. Bikin cewek sakit hati tau! Kalau lo bukan adik gue, udah gue ceburin lo ke kandang buaya. Biar lo di makan tuh sama temen lo sendiri. Enak kan? Teman makan teman sendiri!"
Evan rasanya tercekik sekali mendengar ucapan kak Cherly yang begitu sangat menancap hatinya. Bagaimana bisa dia punya kakak yang mulutnya ceplas ceplos tidak ada saringannya seperti ini.
"Terserah kakak deh!" ujar Evan pasrah. Melawan perempuan memang sangatlah sulit, jangankan untuk menang, seri saja belum tentu bisa.
"Kenalin ke mama dong, Van. Masa iya kamu doang yang kenal. Ajak main ke rumah juga." ujar mama Evan.
"Lain kali deh, ma. Kayaknya dia gak bakalan mau kalau sekarang, soalnya dia kan kerjanya seorang guru, apalagi ini juga udah mau ujian tengah semester jadi aku yakin dia gak bakalan mau." jelas Evan kepada mamanya.
"Halah... ! Ngeles aja lo! Bilang aja kalau gak mau ngenalin dia ke mama!" cerocos kak Cherly lagi.
"Astagfiruallah, kak. Mana ada yang kayak gitu, emang dia gak bakalan mau. Dia itu guru kerjanya, apalagi ini udah mendekati ujian tengah semester, dia gak bakalan mau." jelas Evan lagi.
Sungguh, jika sudah berdebat dengan kakaknya membuat mulutnya pegal sekali. Karena kakaknya punya seribu kata untuk melawan laki-laki. Jadi jika sudah berdebat dengan lelaki minggir saja, tidak akan ada yang bisa melawannya.
"Ngeles!" cibir kak Cherly.
"Kalau gak percaya gue telpon dia, gimana?" tantang Evan.
"Silahkan. Gue mau tau gimana reaksinya juga." tanggapan kak Cherly.
Evan lalu menekan sebuah nama Kiya disana, masih belum di angkat. Mama Evan hanya geleng-geleng kepala melihat kedua anaknya yang sedang berdebat, satunya malas jika sudah berurusan dengan cinta, satunya lagi akan gila jika sudah jatuh cinta. Akhirnya sambungan telpon tersambung, Evan mengaktifkan speakernya agar mama dan kakaknya bisa mendengar suara Kiya.
"Eh, Kiki." ujar Evan kepada seberang sana.
"Waalaikumsalam." ujar di seberang sana yang tiba-tiba.
Evan langsung gelagapan mendengar suara Kiya yang ada disana. Mama Evan dan kak Cherly menahan tawanya saat mendengar suara di seberang sana. Evan melengos melihat mereka berdua.
"Iya, maksud gue. Assalamualaikum." ujar Evan kepada seberang sana.
"Waalaikumsalam. Ada apa?" jawab di seberang sana.
__ADS_1
"Kiya, lo ada waktu gak besok, lusa atau weekend mungkin?" tanya Evan kepada seberang sana.
"Maaf, aku tidak ada waktu untuk satu bulan ke depan." jawab Kiya yang ada di seberang sana.
Evan melirik kak Cherly sambil tersenyum kemenangan. Kak Cherly sendiri hanya melengos melihat Evan yang meliriknya dan tersenyum arti kemenangan.
"Loh? Kenapa gak bisa? Emang lo mau ngapain?" tanya Evan pura-pura tidak tahu.
"Aku akan mengurus soal ujian tengah semester murid-muridku. Jadi untuk sebulan ke depan aku tidak bisa pergi kemanapun, jika tidak terlalu penting." jawab Kiya yang ada di seberang sana.
"Ooh, gitu ya."
"Ada apa memangnya?" tanya Kiya yang ada di seberang sana.
Evan sudah mau berbicara, tapi sayangnya hpnya sudah di rebut oleh mamanya. Kak Cherly langsung pindah di sebelah mamanya, Evan berdecak kesal melihat kedua perempuan yang ada di depannya.
"Halo? Assalamualaikum, Kiya?" ujar mama Evan.
"Haha. Ini calon mama mertua kamu. Hehe." jawab mama Evan tiba-tiba yang sukses membuat Kiya yang ada di seberang sana tak percaya. Kiya melihat hpnya lagi, barang kali nomor panggilannya tiba-tiba di ganti, tapi ternyata tidak.
Hah?! Calon mertua?! Dari mananya?! Kenapa sih mama sama anak sama saja?! batin Kiya kebingungan.
"Eh? Iya? Tante? Ada apa ya?" tanya Kiya gelapagan.
"Manggilnya jangan tante, mama aja. Biar lebih akrab gitu. Haha." cerocos mama Evan.
Kiya benar-benar pusing sekali mendengar ucapan mama Evan yang tiba-tiba seperti ini, karena ini juga pertama kalinya baginya.
"Iya. Ada apa?" tanya Kiya lagi.
"Gak apa-apa kok, Kiya. Mama cuma mau ngobrol sama kamu aja. Oh iya, kamu kapan-kapan main dong ke rumah mama. Biar kita lebih dekat gitu." celetuk mama Evan tiba-tiba.
"Iya, Kiya. Lain kali main ke rumah gue, nanti gue ajakin lo jalan-jalan sama ngomongin hal-hal yang buruk tentang Evan." celetuk kak Cherly tiba-tiba. "Oh iya, kenalin gue. Nama gue Cherly, panggil aja kak Cherly atau kakak ipar gitu. Hehe." lanjut kak Cherly.
__ADS_1
"Eh? Ah, iya. Maaf ya, untuk sebulan ke depan Kiya tidak bisa main kemana-mana karena sedang ujian tengah semester. Kalau berkenan untuk menunggu juga tidak apa-apa." ujar Kiya yang ada di seberang sana.
"Ah iya, gak apa-apa kok Kiya. Mama sama kakak ipar kamu ini selalu menunggu kamu. Kapan pun kamu datang, rumah mama ini selalu terbuka untuk kamu. Mau pagi, mau siang, mau sore, mau malam, mau subuh, mau senja, pokoknya pintu rumah mama selalu terbuka buat kamu." ujar mama Evan dengan sangat semangat.
"Haha. Iya, nanti Kiya bakalan mampir kalau ada waktu." ujar Kiya gagu.
"Ya udah kalau gitu, kamu istirahat atuh. Udah malam soalnya."
"Iya, ini Kiya juga mau istirahat."
"Ya udah, kalau gitu hpnya mama kasih ke Evan lagi."
Mama Evan memberikan hp milik Evan lagi dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya. Evan hanya mendengus kesal.
"Sorry ya. Emang mama sama kakak gue kayak gini orangnya, jadi gak usah kaget." ujar Evan kepada Kiya.
"Iya, gak apa-apa. Kalau begitu, aku tutup telponnya ya. Assalamualaikum." ujar Kiya yang ada di seberang sana.
"Iya. Waalaikumsalam."
Sambungan telpon mereka akhirnya terputus. Evan melihat kakaknya lagi sambil tersenyum kemenangan. Dia mengulurkan lidahnya tanda mengejek kakaknya.
"Udah dengar sendiri kenyataannya kan? Siapa coba yang mau ngeles? Kakak aja yang terlalu berfikiran negatif sama gue." ujar Evan sambil melengos.
"Biasanya kan emang lo kayak gitu, jadi wajar dong kalau gue ngomong kayak gitu!" ujar kak Cherly dengan sangat kesal.
"Eh, gue gak pernah ya kayak gitu. Gue itu selalu jujur apa adanya, kakak aja yang selalu berfikir negatif!" ujar Evan tak kalah kesal.
"Halah! Ngeles lo bisanya!"
"Udah! Cukup! Kalian berdua jangan berantem! Gak enak di dengar orang rumah! Kalian mau papa kalian marah?! Hah?! Udah jangan ribut mulu! Gak malam, gak pagi, gak siang, gak sore, kalau ketemu ribuuuuuttt mulu! Tapi kalau gak ada, nyariin. Kalian berdua itu aneh ya!" ujar mama Evan melerai pertengkaran kedua kakak beradik itu. Evan dan kak Cherly sama-sama mengulurkan lidahnya tanda mengejek. Mama Evan sampai memijat pelipisnya yang terasa nyut-nyutan melihat kedua anaknya itu.
Bersambung......
__ADS_1