
Syakirah dan Kiya bersiap-siap untuk pulang kembali. Padahal masih ada waktu satu hari untuk tetap tinggal di Madura, tapi Kiya memaksa untuk pulang.
"Kak, apa kau yakin kita akan pulang?" tanya Syakirah memastikan lagi.
"Ya." hanya jawaban itu yang di berikan oleh Kiya.
Abel bahkan merasa bingung melihat Kiya. Dia hanya bisa pasrah saja, padahal jauh di lubuk hatinya dia tidak rela.
"Kalian yakin mau pulang, kan belum waktunya?" tanya Abel.
"Ya Bel. Maafkan aku, mungkin kita bisa berkunjung di lain hari lagi."
Abel hanya mengangguk saja dengan ucapan Kiya. Setelah membereskan perlengkapan mereka dan memasukkannya ke dalam mobil, Kiya dan Syakirah pamit ke orang tua Abel.
"Kalian yakin tidak mau pulang besok?" Kiya memeluk Abel yang sedang bersedih. Lalu Kiya melepaskan pelukannya.
"Jangan sedih, masih ada hari lain untuk kita."
Abel mengangguk. Setelah itu Syakirah dan Kiya memulai perjalanan pulang mereka.
Syakirah tidak banyak bertanya kepada Kiya, karena sepertinya Kiya sedang merahasiakan sesuatu darinya. Tapi, bagaimanapum dia tidak boleh curiga karena ini urusan Kiya bukan urusannya. Dia tidak mau ikut campur urusan Kiya, yang ada dia akan kebingungan sendiri nanti.
Syakirah hanya fokus mengemudi tanpa banyak bergeming sedikitpun. Sementara Kiya sedang memikirkan kejadian kemarin malam.
Kemarin malam…
Kiya tidak bisa tidur karena memikirkan Syakirah, padahal ini sudah jam setengah dua belas malam. Dia harus mencari cara agar Syakirah tidak mengalami patah hati yang terlalu dalam lagi.
Aku harus menghubungi Ahmad lagi. Dia itu sumber dari segala masalah ternyata. batin Kiya.
Saat ini Kiya sedang berbalas pesan dengan Ahmad.
"Ahmad, kita harus bicara secepatnya!!"
"Kenapa?"
"Aku tidak mau tahu. Pokoknya kau harus datang weekend ini di caffe XX!"
"Ada apa? Aku tidak bisa weekend ini. Aku sudah ada janji."
"Yakin tidak mau? Ini menyangkut Syakirah loh."
"Kiya, berhentilah untuk menggunakan cara itu. Aku tidak bisa weekend ini, jika kau mau kita bisa bertemu saat malam hari."
"Baiklah, aku tunggu kau weekend malam ini."
"Secepat itu?"
"Terserah."
Kiya mengingat-ingat kejadian malam kemarin. Dia begitu sangat kesal. Dia berfikir kalau Ahmad itu sok sibuk, padahal Kiya selalu melihat Ahmad di rumah terus.
Bicara kalau weekend tidak ada waktu, kalau kau mau pergi dengan Hanifa katakan saja, tidak usah kebanyakan alasan. ujar Kiya dalam hati.
***
__ADS_1
Sekitar tujuh jam mereka menempuh perjalanan, akhirnya mereka sampai ke tempat tujuan. Mereka berhenti di sebuah pasar tempat oleh-oleh, untuk membelikan keluarga mereka oleh-oleh. Harusnya mereka membawa oleh-oleh dari Madura tapi karena kepulangan mereka yang mendadak, jadi terpaksa mereka hanya bisa membeli disini.
Mereka mengambil beberapa makanan dan minuman. Kiya membeli beberapa accessories untuk dirinya sendiri. Sementara Syakirah sibuk mencari makanan.
"Syakirah."
"Ya kak?"
"Ayo kita berkunjung ke rumah Ahmad."
Syakirah menganga tak percaya dengan ucapan Kiya. Ada apa dengan kakaknya ini. Begitu gumamnya. Karena semenjak Kiya tahu bahwa Syakirah sakit hati akibat Ahmad, Kiya tidak pernah menginjakkan kakinya ke rumah Ahmad sama sekali. Dan ini, kenapa tiba-tiba saja Kiya mengajak ke rumah Ahmad.
"Kakak tumben sekali mau kesana?" tanya Syakirah penasaran.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengobrol dengan kak Rani. Aku dengar dia baru saja pulang seminggu yang lalu, saat kau di rawat di rumah sakit."
"Oh itu sih memang iya. Hehe. Maaf ya aku gak ngasih tahu kakak."
"Tidak apa-apa."
Kiya benar-benar membeli beberapa sesuatu untuk pergi ke rumah Ahmad. Syakirah bahkan di buat bingung oleh Kiya. Syakirah hanya menurut saja, tidak membantah sedikitpun. Syakirah tahu bahwa kakaknya ini memiliki niat tersembunyi untuk datang ke rumah Ahmad.
Setelah membeli beberapa oleh-oleh tadi, mereka melanjutkan perjalanan mereka.
***
Sudah satu jam mereka menempuh perjalanan untuk ke rumah Ahmad, akhirnya mereka sampai. Syakirah memandangi rumah yang ada di depannya ini dengan takut.
Sudah lama aku tidak datang kesini.
"Ayo Syakirah, kita turun." ajak Kiya. Syakirah hanya mematung saja. Kiya tahu apa yang di pikirkan Syakirah saat ini. Dia menghela nafas.
"Kalau begitu kau harus mulai dari sini dulu."
"Apa kakak yakin?" Kiya mengangguk.
Setelah mereka membawa oleh-oleh mereka, mereka mengetuk pintu rumah Ahmad.
Glek
Syakirah benar-benar hampir kehilangan oksigen saat menginjak rumah ini. Pintu pun terbuka, dan mendapati kak Rani sedang berdiri menatap mereka dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"Syakirah, Kiya." ujarnya.
"Assalamualaikum kak." salam Kiya dan Syakirah bersama.
"Waalaikumsalam. Ada apa kalian datang kesini? Apa Ahmad baru saja mencari gara-gara dengan kalian?" tanya kak Rani khawatir. Mereka berdua menggelengkan kepala mereka.
"Lalu?"
"Kami hanya ingin berkunjung ke rumahmu, kak. Apa tidak boleh?" ujar Kiya.
"Tentu saja kakak senang. Hanya saja kakak bingung, kenapa kalian datang kesini, padahal sudah sekitar lima tahu kalian tidak menginjakkan kaki kalian di rumahku." Mereka tidak menjawab.
"Oh iya maaf. Silahkan masuk, kita bicara di dalam saja."
__ADS_1
Mereka masuk dan duduk di sofa. Mereka mengamati ruang tamu rumah Ahmad. Tidak ada yang berbeda, bahkan foto Syakirah dan Ahmad berdua saja masih terpajang rapi di dinding.
Oh, jadi Ahmad masih menyimpan foto kenangannya bersama Syakirah. Luar biasa. Dia sudah memiliki kekasih tapi dia masih memajang foto itu. Kekasihnya saja seperti kucing garong, bagaimana kalau sampai Hanifa tahu, sudah pasti akan terjadi peperangan hebat. Kiya.
Ahmad, kenapa kau masih menyimpan foto kita? Bagaimana kalau Hanifa tahu? Dia pasti akan marah kepadamu dan membalas semuanya kepadaku. Syakirah
Kak Rani datang dari dalam rumah sambil membawa minuman dan beberapa camilan.
"Minumlah." ujar kak Rani. Mereka berdua mengucapkan terima kasih kepada kak Rani.
Tidak ada yang membuka suara sama sekali. Mereka merasa canggung karena sudah lama tidak bertemu seperti ini.
"Kak, apakah Ahmad ada di dalam?" Kiya memulai pembicaraan.
Ada apa dengan anak ini? Tiba-tiba saja mencari Ahmad. Tunggu! Ahmad sedang tidak membuat masalah dengan Kiya kan? kak Rani.
Hah! Kenapa kak Kiya tiba-tiba saja mencari Ahmad? Aku pikir tadi dia hanya ingin berkunjung tanpa mencari Ahmad. Tapi, ternyata dugaanku salah, dia mencari Ahmad. Syakirah.
"Iya. Dia ada di dalam." jawab kak Rani.
"Apa dia sibuk?"
"Tidak. Dia sedang bermain PS."
"Apakah kakak bisa memanggilnya?"
"Tentu saja. Tunggu sebentar ya."
Kak Rani masuk ke dalam untuk mencari Ahmad. Syakirah tetap diam tidak bergeming sedikitpun. Syakirah kebingungan, kepalanya sudah pusing tujuh keliling melihat perubahan Kiya.
Sementara di dalam kamar Ahmad sedang terjadi perdebatan yang cukup membingungkan.
"Ahmad, apa kau membuat masalah dengan Kiya atau Syakirah?"
"Apa yang kak Rani katakan?" Aku bahkan tidak merasa bertemu dengan mereka. Aku hanya berbalas pesan dengan mereka." ujar Ahmad sambil meletakkan PSnya kembali.
"Lalu, kenapa sampai mereka berdua datang kesini?"
Ahmad menatap kakaknya tak percaya. Jangan mengarang cerita yang aneh-aneh. Begitu gumamnya.
"Apa yang kakak bicarakan? Jangan mencoba untuk menipuku! Aku sudah tahu apa yang sedang kakak pikirankan saat ini."
"Apa! Dasar adik tidak tahu di untung. Masih bagus aku memberitahumu dari pada tidak sama sekali. Aku sedang tidak merencanakan sesuatu. Sekarang keluarlah dan selesaikan masalahmu!"
Ahmad tidak bergeming. Dia mulai berjalan ke ruang tamu dengan mengendap-ngendap. Dia melihat di balik tembok dan mendapati Syakirah dan Kiya sedang duduk bersama. Ahmad tentu saja terkejut dengan kedatangan mereka berdua. Dia bersembunyi lagi di balik tembok
"Ahmad, apa yang kau lakukan? Cepat temui mereka!" ujar kak Rani setengah berbisik.
"Aku takut. Percayalah kak, aku tidak membuat masalah apapun dengan mereka."
"Kalau begitu cepat temui mereka. Mungkin mereka hanya ingin menyapamu."
"Bagaimana kalau tidak?"
"Temui saja dulu!"
__ADS_1
Ahmad menormalkan pernapasannya agar tidak terlalu gugup dan takut. Setelah nafasnya normal, dia mulai berjalan ke ruang tamu dan di ikuti kak Rani di belangkangnya.
Bersambung......