
Syakirah dan Ahmad sudah duduk di restoran XX dan sedang memesan makanan mereka.
"Apa ada rekomendasi makanan pembuka dan penutup disini?" tanya Ahmad kepada pelayan.
"Kami merekomendasikan makanan pembukaan adalah kue, tuan. Dan kami merekomendasikan makanan penutup seperti buah." jawab pelayan tadi. Ahmad mengangguk mengerti.
Ahmad memesan dua kue red velvet dan juga dua jus jambu. Mereka berdua menunggu pesanan mereka sampai sambil berbincang.
"Aku tidak tahu kau suka kue apa, Syakirah. Jadi aku memesannya saja."
"Tidak apa-apa." Ahmad mengangguk mengerti.
Ahmad memperhatikan penampilan Syakirah. Dia cukup terkagum-kagum melihat penampilan Syakirah sekarang. Ahmad memperhatikan mata Syakirah yang memakai lensa.
"Syakirah." panggil Ahmad.
"Ya?" jawab Syakirah.
"Apa kau suka memakai lensa sekarang?" tanya Ahmad.
"Tidak. Aku baru saja memakainya karena aku di belikan oleh temanku. Tidak enak juga kalau aku tidak memakai pemberiannya. Apa aku terlihat aneh saat memakai lensa? Aku sedikit minder."
"Tidak. Kau malah terlihat… cantik."
Blush…
Pipi Syakirah merona sempurna saat mendengar ucapan Ahmad. Syakirah memalingkan wajahnya agar Ahmad tidak melihat rona di pipinya.
Syakirah, jangan kerayu oleh gombalan Ahmad okay. Tetap pada pendirianmu. ujar Syakirah dalam hati.
__ADS_1
Imut sekali. ujar Ahmad dalam hati saat dia tidak sengaja melihat rona di pipi Syakirah.
Mereka memakan kue mereka yang diberikan oleh pelayan tadi. Setelah memakan makanan pembuka mereka, mereka melanjutkan makanan utama mereka dan di lanjutkan dengan makanan penutup.
Mereka berdua sudah ada di dalam mobil sekarang. Mereka melanjutkan perjalanan mereka. Saat sampai di wisata XX, mereka membeli tiket lalu mereka berdua masuk.
"Tempatnya sudah berbeda dari yang dulu." gumam Syakirah yang masih bisa di dengar oleh Ahmad.
"Tempatnya tidak cukup ramai karena ini bukan hari libur." Syakirah mengangguk mendengar ucapan Ahmad.
Baiklah, aku dan Syakirah sudah sampai disini. Berbicara dulu atau menaiki wahana dulu ya? ujar Ahmad dalam hati.
Ahmad mengeluarkan ponselnya dan menghidupkannya lagi. Dia melihat ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Hanifa, tapi Ahmad tidak menggubrisnya. Dia mengirimkan pesan kepada kak Rani.
"Kak, aku sudah sampai. Sekarang apa yang harus aku lakukan?" pesan terkirim.
Ada pesan masuk dan Ahmad langsung membukanya.
"Tanyakan itu kepada Syakirah saja."
Ahmad mengerti dengan pesan yang dikirimkan kakaknya itu. Semuanya tergantung kepada Syakirah untuk hal ini.
"Syakirah."
"Ya?"
"Kita memulai dari mana? Kau ingin mendengarkan penjelasanku atau menaiki wahana dulu?" tanya Ahmad. Syakirah terlihat berfikir.
"Kita bicara dulu saja." jawabnya.
__ADS_1
Ahmad mengangguk dan mengajak Syakirah ke restoran wisata XX. Syakirah dan Ahmad duduk dan memesan makanan atau minuman. Mereka hanya memesan minuman dan salad buah saja, karena perut mereka masih kenyang.
"Aku harus memulai dari mana?" tanya Ahmad sambil meminum minumannya.
"Terserah kau saja. Disini kau yang bercerita bukan aku."
Ahmad menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Syakirah hanya mengamati getak-gerik Ahmad.
"Syakirah, dulu aku tidak berniat untuk menyakitimu… " ucapan Ahmad di potong oleh Syakirah.
"Mulailah dari saat kau berselingkuh dengan Abel." potong Syakirah.
"Apa?" tanya Ahmad tak percaya.
"Kenapa? Apa kau tidak mau?"
Ahmad sudah kalah telak, jika dia menolak maka Syakirah akan menjauhinya dan lebih parahnya Syakirah akan menganggap Ahmad sebagai orang asing. Ahmad sudah siap untuk hal ini, mau gak mau Ahmad harus menerima resikonya ini.
"Dulu aku memang mengimpikanmu Syakirah, tapi saat aku pertama kali masuk ke pesantren aku melihat Abel. Aku melihat Abel dengan perasaan yang berbeda. Saat itu aku baru mengenal Abel setelah 3 bulan ada di pesantren. Aku selalu mengajaknya bicara jika aku satu kelas dengannya, karena aku merasa nyaman saat berbicara dengannya. Tanpa aku sadari, aku sudah menaruh perasaan lebih kepada Abel. Aku tidak bisa menyangkal perasaanku pada Abel. Akhirnya aku memutuskan untuk menyelingkuhimu, tapi… seiring berjalannya waktu kau sudah tahu tentang aku dan Abel. Aku cukup terkejut dengan hal itu, ada rasa tidak rela saat kau mengakhiri hubungan kita. Kau mengakhiri hubunganku denganmu dan pergi meninggalkan aku sendirian. Kak Rani cukup kecewa denganku saat dia tahu aku sedang berselingkuh dengan Abel, kak Rani mendiamkanku selama berbulan-bulan. Tidak mengajakku bicara sama sekali, jangankan bicara denganku untuk menatap wajahku saja dia enggan. Lalu tidak lama dari kekecewaan kak Rani, Abel mengakhiri hubunganku dengannya. Saat itu aku heran kenapa Abel tiba-tiba mengakhiri hubunganku dengannya. Saat aku bertanya kepadanya, dia menjawab kalau Kiya sudah tahu tentang hubungannya denganku. Aku dibuat terkejut lagi dengan hal itu. Abel juga bilang kalau Kiya sudah tidak menganggapnya sebagai temannya lagi, Abel menderita saat itu karena Kiya lah yang menjadi temannya saat itu. Abel tidak memiliki teman karena Kiya marah kepada Abel. Setiap Abel menyapa Kiya, Kiya selalu mendiamkannya dan Abel menyalahkanku dengan perubahan sikap Kiya. Aku yang tidak terima di tuduh Abel seperti itu langsung marah dan berkata, jika kau memang mementingkan Kiya lalu kenapa kau dulu menerimaku? Ini bukan hanya salahku tapi juga salahmu! Tidak hanya Abel yang di diamkan oleh Kiya, tapi juga aku. Kiya mendiamkan aku seperti kak Rani mendiamkanku. Berbulan-bulan aku membujuk Kiya agar dia mau mendengarkan penjelasanku tapi Kiya menolak dengan tegas. Abel sudah tidak ada lagi kontak denganku dan seiring berjalannya waktu, hubungan Kiya dan Abel mulai membaik." Ahmad berhenti sejenak untuk minum, setelah minum dia melanjutkan berceritanya. Syakirah hanya mendengarkan ucapan Ahmad tanpa menjedanya sama sekali.
"Lalu, setelah dua tahun akhirnya aku berpacaran dengan Hanifa. Aku menjalin hubungan dengan Hanifa hanya untuk pelampiasanku saja, tidak lebih. Aku tidak menaruh perasaan kepada Hanifa sama sekali. Aku pernah berfikir untuk mengakhirinya dulu tapi dia malah menuduhmu karena telah merusak hubunganku dengannya. Aku tidak ada cara lain lagi selain tetap menjalin hubungan dengan Hanifa untuk menyelamatkanmu. Aku tidak mau kau kenapa-napa karena Hanifa. Bukannya aku meremehkanmu tapi kau selalu diam saat ada masalah dan itu cukup membuat aku pusing sendiri jika aku bertanya kepadamu. Aku bertanya kepadamu apa yang dilakukan Hanifa kepadamu dan kau hanya menjawab tidak ada apa-apa, tapi kenyataannya beda dengan apa yang kau ucapkan. Aku tidak pernah ada niat untuk menyakitimu, Syakirah. Marahlah jika kau marah. Sakiti aku jika itu bisa membuatmu lebih tenang. Tapi, aku mohon jangan menjauhiku dan keluargaku. Jika kau menjauhiku itu tidak masalah tapi setidaknya jangan menjauhi keluargaku."
Syakirah memalingkan wajahnya karena sudah ada air mata di pelupuk matanya. Dia tidak bisa menahan air matanya. Dia salah karena sudah menjauhi keluarga Ahmad, padahal masalah Syakirah ada di Ahmad bukan pada keluarga Ahmad.
"Syakirah percayalah kepadaku, aku tidak pernah berniat untuk menyakiti hatimu. Waktu itu aku khilaf. Katakan kepadaku apa yang bisa aku lakukan agar kau mau memaafkanku." ujar Ahmad menyentuh tangan Syakirah. Syakirah tidak menolak saat tangannya di sentuh oleh Ahmad.
Apa aku salah jika aku terlalu egois? ujar Syakirah dalam hati.
Bersambung......
__ADS_1