
"2 minggu lagi adalah ulang tahun Ahmad. Setiap hari ulang tahun Ahmad, Ahmad selalu mengadakan acara makan-makan di rumahnya kan. Jika kita di undang, kita akan menolaknya tapi nanti kita akan tetap datang. Kita buat dia terkejut kalau kita datang. Terus nanti kalau kita di tanya kenapa tidak bisa datang, kita harus jawab kalau kita ada urusan yang tidak bisa di skip karena urusannya ini penting sekali, jawab saja begitu. Aku yakin dia pasti akan percaya saja, karena itu sudah alasan yang baik agar Ahmad tidak curiga. " jelas Rey.
"Oh begitu ya, ya sudah kalau begitu." ujar Syakirah.
"Apa kau sudah menyiapkan hadiah untuknya?" tanya Wahyu.
"Sudah. Aku sudah menyiapkannya saat aku ada di rumah Aliya." jawab Syakirah.
Syakirah memang membeli hadiah untuk Ahmad saat dia ada di rumah Aliya. Dia berpindah-pindah mall untuk mencari hadiah yang cocok untuk Ahmad, karena biasanya hadiah untuk lelaki itu lebih susah karena memang barangnya tidak sebanyak perempuan. Jadi Syakirah harus menyiapkan hadiah untuk Ahmad jauh dari hari ulang tahun Ahmad akan terlaksanakan.
"Wahyu dan Syakirah sudah selesai, lalu kita akan memberi dia hadiah apa? Aku tidak pernah memberi hadiah kepada seseorang, kecuali kalian, itupun jika kalian yang minta sendiri." ujar Ryan.
Ryan selalu mentraktir temannya jika temannya sedang ulang tahun, karena dia tidak pandai mencari hadiah yang pantas untuk temannya, kecuali Syakirah. Untuk Syakirah agak spesial karena Syakirah perempuan, apalagi Syakirah juga selalu menerima pemberian orang lain tanpa melihat barang apa yang di berikan. Jadi Ryan mudah mencari hadiah untuk Syakirah.
"Beri saja apa yang menurutmu pantas." ujar Rey.
"Apa yang pantas? Aku tidak tahu apa yang pantas untuk dia. Memangnya kalian tahu dia suka barang apa?" tanya Ryan yang masih kebingungan.
Rey dan Navile sudah mau menjawab tapi urung karena mereka sendiri juga tidak tahu barang kesukaan Ahmad.
Sebuah tepukan bahu pelan mendarat di bahu Wahyu dan juga Rey, mereka berdua reflesk mendongakkan kepala mereka.
"Sepertinya seru sekali. Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Ahmad.
Ya, yang menepuk bahu Wahyu dan juga Rey adalah Ahmad. Ahmad baru saja kembali dari ruangan CEO dan dia juga baru saja makan siang bersama dengan CEO pabrik.
"Tidak ada, hanya sedang berbicara soal yang tidak penting." ujar Rey. Ahmad menarik kursi di sebelah Rey dan duduk disana.
__ADS_1
"Hei Ahmad, apa barang yang kau sukai?" tanya Ryan tiba-tiba. Ahmad mengerutkan keningnya tak mengerti melihat sikap Ryan yang tiba-tiba bertanya soal barang kesukaannya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Ahmad heran.
"Jawab saja! Apa barang kesukaanmu?!" paksa Ryan. Ahmaf berfikir sejenak untuk mencari barang kesukaannya.
"Tidak ada barang yang aku sukai." jawab Ahmad.
"Kau tidak membantu sama sekali. Memangnya kau tidak pernah membeli barang yang kau sukai apa?!" ujar Ryan dengan kesal.
"Hmm, entahlah. Kalau aku pikir-pikir lagi aku suka bermain PS, aku mengoleksi banyak sekali game PS di rumah. Tapi itu dulu, sekarang sudah tidak. PS ku rusak jadi aku tidak pernah bermain PS lagi, biasanya aku hanya memainkan game online yang ada di ponselku saja." jelas Ahmad.
"Lalu apa kau masih suka bermain PS?" tanya Ryan yang sangat tertarik.
"Iya, aku masih suka. Biasanya jika aku bermain di rumah temanku, aku akan bermain PS semalaman." jawab Ahmad.
"Memangnya kenapa? Tidak biasanya kau tanya sampai seperti itu. Jangankan untuk bertanya, kau berpapasan denganku saja sudah malas kan dan ini malah bertanya. Aku terkadang bingung melihat dirimu yang maju mundur seperti ini." ujar Ahmad heran.
"Tidak apa-apa. Aku hanya bertanya saja. Memangnya tidak boleh ya jika aku bertanya?!" ujar Ryan dengan sangat ketus sekali. Ahmad hanya mendengus kesal melihat sikap Ryan yang tiba-tiba kembali seperti biasanya.
Ahmad suka PS? Apa barang itu mahal ya? Dulu waktu sekolah sih mahal, aku biasanya hanya mampir ke warnet saja jika mau bermain PS. Nanti saja aku coba untuk mencari di toko. batin Ryan.
Sepertinya Ryan ingin membelikan hadiah PS untuk Ahmad, tapi itu tergantung harganya juga sepertinya. Jika harganya mahal, mungkin Ryan tidak akan membelinya. Bisa-bisa harga PS itu sama dengan gaji sebulannya saat bekerja lembur di pabrik.
Mereka akhirnya kembali ke ruangan mereka lagi saat mendengar bel istirahat pabrik sudah habis.
***
__ADS_1
Jam pergantian sift pagi sudah berbunyi, Syakirah ikut pulang karena dia bisa menyelesaikan berkas-berkas yang ada di mejanya dengan cepat dan akurat. Syakirah memijat telapak tangannya yang kram gara-gara terus mengetik tiada henti.
"Syakirah." panggil Ahmad dari belakang Syakirah. Syakirah pun refleks menoleh.
"Ada apa?" tanya Syakirah.
"Bisa kita bicara sebentar. Ada yang harus kita bicarakan secara pribadi." pinta Ahmad.
Syakirah menoleh kepada ke empat temannya, mereka semua menganguk dan pergi pulang meninggalkan Syakirah dengan Ahmad berdua saja. Ahmad membawa Syakirah di sebuah warung pabrik. Mereka berdua hanya memesan minuman saja karena Syakirah ingin makan di rumahnya sendiri, rindu masakan ibu.
"Ada apa? Tumben kau mengajakku bicara secara pribadi seperti ini? Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan denganku?" tanya Syakirah. Terlihat Ahmad menghela nafas berat.
"Iya, ini soal Kiya." jawab Ahmad.
"Kak Kiya? Memangnya ada apa dengan kak Kiya? Apa ada sesuatu yang terjadi dengannya?" tanya Syakirah panik.
"Tidak, bukan begitu." jawab Ahmad mencoba untuk menenangkan Syakirah yang tiba-tiba panik.
"Lalu apa? Kau kalau bicara jangan setengah-setengah!" ujar Syakirah kesal.
Ahmad mulai menceritakan kejadian Evan menghadangnya saat ada di makam, serta pengakuan Evan tentang Syakirah yang sudah menjadi miliknya lagi. Syakirah mendengarkan cerita Ahmad dengan sangat hikmah sekali, sesekali dia terkejut dengan cerita Ahmad.
"Itu tidak mungkin." ujar Syakirah tak percaya saat Ahmad sudah selesai bercerita.
"Aku tidak tahu apa ini benar atau ini salah, atau hanya kecurigaanku yang tinggi saja. Ada kemungkinan Evan hanya memanfaatkan Kiya untuk mendekatimu. Jika dia memang sayang tulus dengan Kiya, lalu kenapa dia bilang kalau kau adalah miliknya lagi. Bukannya aku cemburu atau apa, aku hanya kebingungan saja dan meminta jawaban darimu. Apa kau juga ada pikiran seperti itu?" jelas Ahmad.
"Aku tidak tahu apa yang Evan pikirkan saat ini. Jika Evan memanfaatkan kak Kiya untuk mendekatiku, tidak mungkin juga dia mengeluarkan uang sebanyak itu untuk kak Kiya. Gaun yang di pilih kak Kiya sangat mahal sekali, dia bahkan sampai me booking seisi restoran XX semuanya hanya untuk dinner dengan kak Kiya. Dia tidak mungkin memanfaatkan kak Kiya, dia bahkan sudah keluar uang yang sangat banyak sekali." ujar Syakirah yang masih berfikiran positif tentang Evan.
__ADS_1
Bersambung......