
Syakirah melihat-lihat jaket yang terpajang, dia mengambil jaket yang terbuat seperti parasut. Syakirah meminta penjual untuk menjelaskan tentang jaket yang dia tunjukkan. Penjual tadi bilang kalau jaket itu juga bisa di balik, katanya kalau musim hujan atau hawa sedang dingin jaketnya bisa di balik dan berganti dengan dengan kain yanh seperti hoodie. Dan begitu pula sebaliknya, kalau hawa sedang panas, bisa di balik menjadi parasut dan menjadi dingin. Dengan penjelasan penjual tadi, Syakirah cukup tertarik dengan jaket ini. Syakirah meminta kepada penjual itu untuk mencari jaket warna yang sama dengan warna yang dia pegang. Syakirah langsung membeli jaket itu dengan warna yang sama tentunya.
"Kenapa kau membeli 2 warna yang sama?" tanya Ahmad.
"Satu untukku dan satunya lagi untukmu, nanti saja saat sampai rumah aku berikan untukmu. Sekarang ayo cari pesanan kak Rani." jawab Syakirah.
"Ke... "
"Sudah jangan kebanyakan protes. Ayo cari pesanan kak Rani dan segera pulang. Aku lelah dan langsung ingin istirahat." potong Syakirah dengan cepat.
***
Sementara di kamar Kiya, Kiya sedang menulis sesuatu di buku. Tangan Kiya terhenti saat mengingat ucapan Syakirah tadi siang, yang bilang apakah dia suka dengan Evan. Jujur, pertanyaan dari Syakirah sedikit membuat jantungnya berdegud dengan kencang sekali, tidak tahu karena apa.
Sebenarnya bagaimana perasaanku dengan Evan? Aku saja juga tidak tahu. Tadi Syakirah bertanya dan aku hanya menjawab asal saja. batin Kiya.
Kiya memang tadi menjawab asal pertanyaan Syakirah, karena dia sendiri tidak tahu bagaimana perasaannya dengan Evan.
"Hei." panggil kak Rahman tiba-tiba.
Kiya langsung kesal melihat kakaknya yang tiba-tiba masuk ke kamarnya dan tidur di ranjang kesayangannya itu.
"Apa kau tidak punya tangan? Harusnya kau mengetuk pintu dulu!" ujar Kiya marah.
"Aku sudah ketuk tadi, kau saja yang tidak dengar." balas kak Rahman.
Kiya diam, tidak tahu siapa yang salah, karena tadi dia memang melamun dan memikirkan pertanyaan Syakirah.
"Apa yang membuatmu kesini?" tanya Kiya.
Setahu Kiya kak Rahman tiba-tiba saja pergi saat dinnernya dan tidak pamit kepadanya. Kiya hanya membiarkannya saja, karena itu sudah menjadi kebiasaan kak Rahman. Pergi tanpa pamit adalah kak Rahman.
"Bagaimana dengan dinner mu?" tanya kak Rahman balik. Kiya tersenyum kecut mendengar pertanyaan kakak Rahman.
"Bukankah seharusnya kau sudah tahu? Secara kau sudah tahu kalau aku kenal dengannya bukan? Jadi apakah aku harus menjawab pertanyaanmu." jawab Kiya menohok.
__ADS_1
"Hei Kiya, aku ini kakakmu bukan temanmu. Seharusnya kau berbicara dengan bahasa yang baik saat berbicara denganku!" kesal kak Rahman. Karena setiap kali berbicara dengan Kiya, Kiya selalu menjawab dengan jawaban yang menohok dan menancap sekali di hatinya.
"Cih! Aku tidak mau! Lebih baik kita tetap seperti ini saja!" balas Kiya.
Kak Rahman berdecak kesal melihat adik perempuannya yang satu ini. Apa memang semua wanita selalu bermulut pedas? Pikir kak Rahman.
"Jadi, bagaimana? Apa kau bahagia disana?" tanya kak Rahman.
"Tidak." jawab Kiya singkat.
Kak Rahman langsung duduk saat mendengar jawaban dari Kiya. Bukankah Kiya harusnya bahagia dinner dengan Evan? Pikir kak Rahman.
"Kenapa kau tidak bahagia? Harusnya kau kan bahagia dinner dengan Evan!" ujar kak Rahman emosi.
"Karena aku tidak menyukainya, makanya aku tidak bahagia!" balas Kiya.
Tatapan mereka berdua sangat tajam seperti elang yang akan menerkam mangsanya.
"Karena aku tidak bahagia, jadi aku tidak perlu tinggal di apartment milikmu saat kau sudah menikah nanti. Sesuai dengan perjanjian kita." ujar Kiya.
"Tidak bisa! Kau harus tinggal denganku apapun itu alasannya!" tolak kak Rahman dengan tegasnya.
"Heh! Aku ini kakakmu, bukan musuhmu!"
"Iya, kau musuhku. Kakak berkedok musuh! Karena apa?! Karena kau suka mengatur hidupku seenak dirimu! Kau tahu itu!"
"Pokoknya aku akan membawamu saat aku sudah menikah nanti! Mau tidak mau, suka tidak suka, pokoknya kau akan tetap tinggal denganku! Ini juga demi kebaikanmu!"
"Kebaikan apanya?! Kau malah membuat hidupku menjadi lebih sengsara!"
"Kiya, ini juga demi kebaikanmu! Dengan kau tinggal denganku, kau tidak akan di paksa oleh ayah dan ibu untuk menikah! Harusnya kau tahu itu!"
"Aku lebih memilih untuk tinggal dengan ayah dan ibu, dari pada aku tinggal bersamamu yang malah membuat hidupku lebih suram lagi!"
"Terserah kau mau mengatakan apa saat ini! Pokoknya kau harus siap-siap saat acara pernikahanku sudah selesai nanti!"
__ADS_1
"Akan ku pastikan kalau itu tidak akan pernah terjadi!"
"Itu akan tetap terjadi!"
Setelah berdebat dengan Kiya, kak Rahman langsung keluar dari kamar Kiya dengan membanting pintu kamar Kiya. Kiya bahkan sampai mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak dia ucapkan untuk kakaknya.
***
Ahmad dan Syakirah sudah ada di rumah Syakirah, mereka sudah mendapatkan barang yang mereka inginkan. Syakirah menyerahkan satu jaket itu kepada Ahmad.
"Syakirah, kau... "
"Sudah ambil saja." potong Kiya.
Ahmad menerima jaket pemberian Syakirah dengan menghela nafas.
"Seharusnya kau tidak perlu membuang uangmu untukku. Bukankah kau sedang membangun rumah? Harusnya uangnya kau tabung untuk mempercepat pembangunan rumahmu." ujar Ahmad.
Ucapan Ahmad sontak membuat Syakirah terkejut.
"Jadi kau tahu kalau aku sedang membangun rumah?" tanya Syakirah tak percaya.
"Iya, rumah yang sedang di bangun di pinggir jalan dekat dengan rumah tante dan om mu itu kan rumahmu." jawab Ahmad.
"Bagaimana bisa kau tahu?"
"Tentu saja aku tahu, karena tanah yang kau bangun rumah itu adalah tanah ayahmu yang di berikan untukmu. Aku tahu ini dari ayahku, kalau tidak di beritahu ayahku, aku juga tidak akan tahu."
"Oh begitu ya."
"Sepertinya tekadmu waktu smp terjadi juga ya."
"Aku tidak mungkin tinggal dengan orang tuaku terus menerus, lagi pula aku membangun itu dengan uangku sendiri."
"Kau memang anak yang baik, Syakirah. Wajar jika kau membangun rumah karena kau anak pertama, sementara aku adalah anak terakhir yang mewarisi rumah orang tuaku."
__ADS_1
Syakirah mengangguk dengan ucapan Ahmad. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Ahmad pulang. Kalian tahu apa yang di maksud Ahmad tekad Syakirah saat smp? Dulu waktu smp Syakirah sudah memikirkan masa depannya karena dia tidak kuliah. Syakirah selalu bilang kalau saat dia lulus sekolah nanti, dia akan bekerja dan membangun rumah impiannya yang sesuai dengan kriterianya. Dan Syakirah juga bilang kalau dia akan tinggal di rumah itu dengan suami dan anaknya nanti. Ahmad yang mendengar masa depan Syakirah membuat dirinya tertawa terbahak-bahak, karena waktu itu umur mereka masih 13 tahun. Seharusnya mereka memikirkan sekolah mereka, bukan malah memikirkan soal masa depan dan membangun rumah.
Bersambung......