
Weekend sudah menunjukkan pukul enam malam. Dan, Ahmad juga sedang mengendarai motornya. Dia sangat lelah sekali, seharian ini dia tidak tidur sama sekali dan dia juga harus memikirkan strateginya.
Saat sampai di sebuah caffe, Ahmad turun dari motornya dan memperhatikan caffe ini.
Ini benar caffe apa bukan sih? Aku gak pernah tau kalau ada caffe disini. Kiya juga ngajak janjian, tapi kenapa ngajak janjiannya jauh banget? Caffenya juga sepi lagi. Ini caffe apa kuburan sih? ujar Ahmad dalam hati dan masuk kedalam caffe tersebut.
Dia mengedarkan pandangan sekelilingnya untuk mencari keberadaan Kiya. Dia berjalan ke meja Kiya saat dia sudah menemukannya. Dia duduk sambil memperhatikannya tajam, Kiya pun juga sama, dia juga menatap Ahmad dengan sangat tajam.
"Kiya, apa yang ingin kau bicarakan? Sampai-sampai ketemu di tempat sepi seperti ini?" tanya Ahmad memulai pembicaraannya.
"Ahmad, apa yang akan kau lakukan jika aku membawa Syakirah pergi?" tidak menjawab pertanyaan Ahmad tapi malah bertanya balik. Zaman sekarang memang tren ya seperti ini.
"Kiya, aku tahu kau pasti akan melakukan sesuatu jika aku menyakiti Syakirah. Tapi, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." ujar Ahmad. Kiya memalingkan wajah malas mendengar ucapan Ahmad baru saja.
"Ucapanmu tidak pernah bisa di pegang sama sekali, Ahmad! Tidak pernah!"
"Aku akui waktu itu aku salah. Tapi… biarkan aku memperbaiki kesalahanku dengan caraku sendiri."
"Dengan apa kau bisa memperbaiki kesalahanmu sendiri? Memberikan Syakirah luka yang begitu dalam lagi?" ujar Kiya emosi.
"Kau sekarang berbeda!"
"Itu karenamu, Ahmad! Aku berbeda itu karena dirimu! Aku sangat sedih melihat keadaan Syakirah. Bagaimana bisa wanita sebaik dia bisa mendapatkan perlakuan buruk dari lelaki brengsek sepertimu?" Ahmad diam tidak menjawab. Dia tahu dia salah, tidak ada yang perlu di bantah.
"Apakah kau pernah merasakan sakit hati yang begitu dalam, Ahmad? Tidak pernah kan? Aku tahu… seharusnya aku tidak pernah ikut campur urusan kalian, tapi bagaimanapun Syakirah adalah adik sepupuku. Dia sangat terluka karenamu. Apa yang bisa kau bertanggung jawabkan atas kesalahanmu? Memberikan cinta seperti dulu? Mungkin Syakirah tidak akan sama seperti dulu. Ahmad, aku pernah menyarankanmu untuk mencari wanita lain dan membiarkan Syakirah hidup dengan bahagia, tapi kenapa kau menolak? Apakah kau kurang puas untuk menyakiti Syakirah?" lanjut Kiya bertubi-tubi.
Ahmad diam seribu bahasa. Dia sangat mengakui kesalahannya, sangat sangat mengakuinya. Tapi, dia harus bagaimana?
"Lalu? Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya kepada Kiya. Kiya menatap Ahmad tajam.
"Jauhi Syakirah! Tinggalkan Syakirah! Biarkan dia hidup bahagia tanpa mengenang masa lalunya!" jawab Kiya.
Ahmad tentu saja tidak mau menjauhi Syakirah, sudah cukup lima tahun ini dia menjauhi Syakirah. Baginya lima tahun itu adalah hal terberat dan hal yang pernah dia sesali seumur hidup.
__ADS_1
"Aku akan melakukan apapun, tapi tidak untuk menjauhi Syakitah. Kiya, sudah cukup aku menjauhinya lima tahun ini. Aku akan menebus kesalahanku dengan caraku sendiri. Bagiku lima tahun sangat lama, aku menyesalinya. Harusnya aku tidak membuat masalah denganmu dan Syakirah. Tapi, biarkan aku minta maaf dengan caraku sendiri."
Kiya memalingkan wajahnya. Matanya sudah memanas bahkan sudah ada air mata, hanya saja dia menahannya.
"Ahmad, kenapa kau keras kepala sekali? Jika kau seperti ini terus menerus, lalu begaimana dengan nasib Syakirah? Dia begitu sangat terpuruk sekali. Apa kau tidak merasa kasihan dengannya? Apa kau masih memiliki hati, Ahmad? Aku yakin jika kau masih memiliki hati, maka kau akan kasihan dengannya."
"Aku juga sangat sedih, Kiya. Aku sangat sedih melihat Syakirah yang begitu terpuruk karena ulahku. Tapi, aku harus bagaimana? Meminta maaf kepada Syakirah sekarang?"
"Aku sudah bilang padamu tadi kan? Menjauhlah dari Syakirah maka dia akan bahagia!"
"Kiya, aku mohon berikan aku kesempatan sekali lagi."
"Kenapa?"
"Aku sangat mencintai Syakirah, Kiya."
"Lalu, kenapa kau dulu menyia-nyiakannya? Bahkan kau dulu juga pernah bilang kalau Syakirah adalah wanita jalang."
Ahmad diam tidak menjawab. Dia bingung sekali harus melakukan apa. Dia sudah meminta Kiya untuk memberikannya kesempatan, tapi yang ada Kiya menolak. Menjauhi Syakirah lagi? Bisa gila dia kalau harus melakukan itu.
Kiya terus memainkan minumannya. Memutar-mutar sedotannya sambil melamun. Dia harus bagaimana lagi? Memberikan Ahmad kesempatan lagi bukanlah hal yang mudah.
"Aku tidak tahu harus melakukan apa lagi, Ahmad. Ajak Syakirah bertemu dan bicaralah secara pribadi dengannya. Aku beri kau waktu seminggu, jika kau masih belum bertemu dengan Syakirah maka maafkan aku, aku akan membawa Syakirah pergi dari hadapanmu!"
Setelah mengatakan itu, Kiya pergi dengan sangat lesu sekali. Dia benar-benar membuang waktunya untuk masalah Ahmad dan Syakirah. Dia yakin sekali, Ahmad akan sangat gengsi jika harus bertemu dengan Syakirah secara pribadi. Tapi keputusannya sudah bulat, Ahmad bertemu dengan Syakirah atau dia harus membawa Syakirah pergi.
Sebelum Kiya mengendarai motornya, dia menelpon seseorang.
"Aku sudah mengatakannya, hanya tunggu tanggal mainnya saja. Maka kita akan membawa Syakirah pergi bersama-sama."
Tut…
Setelah menutup panggilan telponnya tanpa mendengar jawaban yang ada di seberang sana, Kiya mulai mengendarai motornya untuk pulang
__ADS_1
Sementara Ahmad masih di caffe tersebut. Memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa bertemu dengan Syakirah secara pribadi. Persetan dengan Kiya sangat membuatnya pusing tujuh keliling. Dia benar-benar mencari masalah dengan orang yang salah.
Ahmad mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan memencet salah satu nama yang ada dikontaknya.
Tut… tut… tut…
Akhirnya sambungannya tersambung.
"Ahmad, ada apa? Tumben sekali kau menelponku?" tanya di seberang sana.
"Kak Rani, aku baru saja bertemu dengan dua psikopat dalam satu hari ini." ujarnya.
"Apa! Lalu begaimana keadaanmu? Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka? Sekarang kau ada dimana? Biarkan aku menjeputmu!" ujarnya memberondong pertanyaan.
"Ya, aku terluka. Hatiku sangat terluka sekali, kak."
"Tunggu! Apa maksudmu? Kau bilang kau baru saja bertemu dengan psikopat, tapi kenapa hatimu sangat terluka?" tanya kak Rani polos.
"Aku baru saja bertemu dengan Kiya dan temannya Syakirah weekend ini, kak. Mereka menyuruhku untuk menjauhi Syakirah agar Syakirah bisa bisa bahagia tanpa mengenang masa lalunya."
"Jadi yang kau maksud psikopat itu adalah Kiya dan temannya Syakirah begitu?"
"Iya."
"Ahmad, kakak tidak tahu apa yang harus kakak lakukan karena ini adalah murni kesalahanmu sendiri. Apa mereka mengatakan sesuatu padamu setelah mengatakan untuk menjauhi Syakirah?" tanya kak Rani.
"Mereka menyuruhku untuk meminta maaf, sementara Kiya memberikan waktu seminggu padaku untuk bertemu dengan Syakirah, jika aku tidak menemui Syakirah, maka Kiya akan membawa Syakirah pergi."
"Ahmad pulanglah sekarang. Kita bicarakan ini di rumah. Sekarang sudah malam, kau juga harus bekerja besok. Kau tenang saja, aku akan membantumu."
Tut…
Setelah kak Rani mengatakan itu, Ahmad menutup panggilan telponnya. Pikirannya benar-benar kosong. Dia mengeluarkan empat lembar uang seratus ribu dan menaruhnya di bawah piring kopi tadi. Setelah itu dia pulang dengan perasaan campur aduk.
__ADS_1
Bersambung......