Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Bukan muhrim


__ADS_3

Kiya menatap wajah Evan sangat datar, Evan sendiri sedang berdecak kesal karena Wahyu meninggalkannya begitu saja. Evan beralih menatap Kiya, Evan melihat tubuh Kiya dari atas sampai bawah.


Jadi ini yang namanya Kiya? Emang sih penampilannya sangat tertutup tapi bukan berarti kelakuannya kayak penampilannya kan? Gue udah tau gelagat dia, paling juga dia pakai baju gini buat gaya-gaya'an doang. batin Evan meremehkan Kiya.


Mereka berdua saling tatap, berusaha untuk mengamati karena pertemuan mereka juga baru pertama kali ini. Meskipun Kiya tahu tentang Evan tapi Kiya tidak pernah bertemu dengan Evan sekali saja.


Kiya sudah berjalan kembali untuk ke mobilnya tapi saat sedang berpapasan dengan Evan, Evan tiba-tiba saja menghadang jalannya dengan tangan kanannya. Kiya melihat tangan yang hampir saja menempel pada tubuhnya, Kiya memandang tangan itu dengan tatapan amarah. Sementara Syakirah sedang panik karena Evan tiba-tiba saja menghadang jalan Kiya.


Evan ngapain sih pakai menghadang kak Kiya?! Bisa habis dia nanti! batin Syakirah panik.


Apa-apaan Evan itu?! Kenapa dia pakai acara menghadang Kiya segala sih?! Dia udah tau tentang Kiya kan. batin Wahyu tak kalah panik dengan Syakirah. Wahyu akhirnya turun dari mobil dan mengamati mereka berdua dari kejauhan.


"Lo pasti Kiya kan?" tanya Evan. Kiya hanya memasang wajah datarnya. "Kenalin gue Evan, calon suami dan imamnya Syakirah kelak." lanjut Evan dengan percaya dirinya. Evan bahkan juga mengulurkan tangan kanannya, Kiya hanya memandangi tangan itu tanpa berniat untuk membalasnya.


Dia pakai bahasa seperti itu, wajar karena dia anak kota. Apa aku harus menirunya juga? Tapi terlihat tidak sopan sekali, apalagi umurnya juga lebih tua dariku. batin Kiya. Meskipun Kiya tidak terlalu suka dengan Evan tapi Kiya berusaha untuk menghormati orang yang lebih tua darinya.


"Ya, aku Kiya. Aku juga sudah mengenalmu jadi kau tidak perlu mengenalkan dirimu padaku! Dan tanganmu itu, singkirkan dari hadapanku karena kita bukan muhrim!" jawab Kiya dengan tegas tanpa membalas tangan Evan.


Byuurr.

__ADS_1


Bagai di siram air es tubuhnya mendengar ucapan Kiya. Benar saja omongan Kiya sangat menancap sekali di hatinya, sepertinya Evan akan susah untuk mendapatkan restu dari Kiya. Evan menarik tangannya menjauh dari hadapan Kiya, seperti apa yang di ucapkan Kiya baru saja. Evan meraba tengkuknya yang tidak gatal.


Seberapa dingin dia? Di lihat dari bicaranya saja dia sudah sedingin es. Apa dia sebelas dua belas dengan Syakirah yang dulu? Apa mungkin keluarga Syakirah itu cuek dan dingin seperti ini ya? batin Evan.


"Oke, kalau lo udah tau gue. Gue juga mau mengenalkan diri aja, supaya lo tau gue." ujar Evan. Kiya tidak menjawab. "Apa gue dapat restu dari lo?" lanjut Evan dengan pertanyaan. Kiya langsung mendongakkan kepala melihat Evan, karena memang tubuhnya hanya sampai di telinga Evan.


"Apa maksudmu?" tanya Kiya dengan datarnya.


"Gue mau lo ngerestuin hubungan gue sama Syakirah dan juga lebih baik restui gue dari pada restui Ahmad. Hidup gue juga udah mapan, semuanya juga udah terjamin. Jadi kalau Syakirah jadi istri gue, dia bakalan senang lahir dan batin." jelas Evan. Kiya sangat tidak suka dengan ucapan Evan.


"Huh! Ck!"


Apa? Dia mengumpat? Apa ini yang di namakan anak pesantren? Udah gue bilang apa, kelakuannya gak akan sama kayak bajunya. batin Evan terkejut.


Evan melongo mendengar ucapan Kiya yang sangat tegas. Evan berfikir wanita di depannya ini mengumpat di hal tertentu saja dan akan mengumpat di depan orang yang tidak di sukai olehnya, seperti sekarang ini dan sepertinya Kiya tidak menyukainya. Syakirah segera menghampiri mereka saar mendengar nada bicara Kiya yang sudah meninggi. Syakirah menarik lengan Evan agar tubuh Evan ada di belakangnya.


"Hahaha, kak Kiya kau tidak perlu mendengar kata-kata Evan yang tidak penting ini. Dia memang seperti ini, jadi jangan kak Kiya respon jika dia bicara." ujar Syakirah gagu.


"Kakak pamit dulu, segera tidur. Ini sudah malam, dan ada baiknya kalau kau tidak membawa lelaki masuk ke dalam rumah tanpa ada orang tua di dalamnya!" ucapan Kiya seolah-olah di tujukan oleh Evan. Evan hanya meneguk ludahnya kasar.

__ADS_1


Bagaimana ada wanita yang bicara ceplas-ceplos seperti dia? Dia sama seperti Syakirah tapi kata-katanya sangat menancap sekali. Baru kali ini gue dapat respon kayak gini dari cewek. batin Evan.


Kiya berjalan lagi dan segera masuk ke dalam mobil, akhirnya Kiya pulang dengan Wahyu yang mengendarai mobilnya. Sementara Syakirah sedang menatap kepergian mobil milik kak Rahman.


Bugh.


Satu pukulan mendarat di dada Evan, Evan meringis karena Syakirah memukulnya dengan sangat kuat. Syakirah berkacak pinggang di hadapan Evan.


"Van, lo jangan cari mati ya! Kalau lo udah tau kak Kiya berarti lo udah tau kan sifatnya? Lo jangan coba-coba ya, Van. Kak Kiya itu lebih ganas dari gue. Lo kayak kagak tau orang cuek kalau lagi marah aja!" ujar Syakirah.


"Ya aku kira informasi tentang Kiya gak akan sesuai kenyataan. Lagian aku juga gak percaya sama dia, penampilannya aja yang kayak gitu buktinya dia juga mengumpat." ujar Evan.


"Van, kak Kiya itu lulusan pesantren. Asal lo tau ya, kak Kiya mengumpat itu gara-gara lo ngomongnya aneh-aneh. Coba lo gak ngomong soal restu, kak Kiya gak bakalan kayak tadi dia juga gak akan mengumpat. Kak Kiya juga gak akan ngomong kasar juga sama lo. Ini juga salah lo sendiri." jelas Syakirah.


Sementara di dalam mobil milik kak Rahman, Kiya sedang menggerutu tentang Evan. Wahyu hanya melihat dari kaca mobil yang ada di tengah, karena memang Kiya duduk di belakang.


"Apa memang dia seperti itu? Aku pikir Syakirah salah orang. Di cerita Syakirah, Evan itu baik dan ramah tapi kenapa kenyataanya berbanding terbalik seperti ini?" ujar Kiya yang masih emosi saat mengingat kejadian beberapa menit lalu.


"Evan memang seperti itu, dia selalu ingin mendekatkan dirinya dengan orang yang dekat dengan Syakirah agar dia bisa mengenal Syakirah lebih dalam lagi." ujar Wahyu.

__ADS_1


"Apa kau juga seperti itu dulu saat kau bertemu dengannya?" tanya Kiya kepada Wahyu. Entah kenapa Kiya sedikit tertarik dengan kepribadian Evan, ingat hanya sedikit tidak banyak. Apakah Evan lebih baik dari Ahmad? Atau malah sebaliknya? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Kiya.


Bersambung......


__ADS_2