
Mereka berdua sedang menikmati es cream, sesekali mereka bicara hal-hal yang tidak penting agar tidak merasa canggung.
"Syakirah, bagaimana pekerjaanmu?" tanya Ahmad.
"Pekerjaanku sangat baik, aku juga sudah mengajukan sebagai karyawan tetap tapi masih belum di setujui. Kata bu Ariana butuh waktu sekitar seminggu untuk aku ketahui disetujui atau tidak." jawab Syakirah.
"Oh, jadi kau melamar sebagai karyawan tetap ya." Syakirah mengangguk.
Ahmad melihat Syakirah yang begitu bersemangat memakan es cream. Entah ini pikirannya atau bukan, Ahmad merasa kalau Syakirah kelaparan.
"Syakirah." panggil Ahmad.
"Hmm." jawab Syakirah dengan gumam'an.
"Apa kau lapar?" Syakirah langsung menatap Ahmad.
"Apa aku terlihat seperti itu?"
"Iya."
"Kalau boleh jujur sih iya. Aku memang lapar." Ahmad tersenyum melihat Syakirah yang begitu jujur.
Ahmad membersihkan sudut bibir Syakirah yang terkena es cream.
"Kalau makan itu yang benar, masa sudah besar masih seperti anak kecil kalau makan es cream." Syakirah mematung dengan sikap Ahmad yang membersihkan sudut bibirnya.
"Namanya juga lapar." jawab Syakirah tak terima.
Mereka sudah menyelesaikan acara makan es cream mereka. Memang nyatanya enak sekali jika makan berdua dalam satu wadah.
"Sekarang kita pulang atau mau berjalan-jalan lagi?" tanya Ahmad. Syakirah nampak berfikir dengan ucapan Ahmad.
"Kita pulang saja." jawab Syakirah.
"Yakin?" tanya Ahmad memastikan. Syakirah pun mengangguk.
"Kalau begitu kita cari makan dimana?"
"Restoran jepang."
"Apa?" tanya Ahmad tak percaya.
Aku tidak mau makan-makanan mentah, Syakirah! Tidak mau! ujar Ahmad dalam hati panik.
"Iya, restoran jepang. Kau tahu kan? Yang ada di jalan XX."
"Aku tidak mau."
__ADS_1
"Kenapa?"
"Aku tidak mau memakan makanan mentah, Syakirah!" tolak Ahmad.
"Rasanya enak kok. Coba dulu, kalau gak suka kita pindah." Ahmad nampak berfikir sebelum akhirnya dia mengangguk.
Mereka berdua masuk ke dalam mobil. Mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang.
Mereka berdua sedang terjebak macet panjang. Ahmad beberapa membenturkan kepalanya ke setir mobil karena kesal. Pasalnya ini sudah satu jam mereka ada disini, bahkan mobil tidak ada yang jalan sama sekali.
"Ck!" ujar Ahmad kesal sambil membenturkan kepalanya ke setir mobil.
"Ahmad, tenanglah. Kau tidak akan mati jika terjebak macet." canda Syakirah.
"Bukannya begitu, perutku sudah lapar dan minta diisi, Syakirah." Syakirah juga bingung menanggapi ucapan Ahmad. Sebenarnya dia juga lapar tapi dia tidak berani bilang kepada Ahmad.
"Kita mampir ke minimarket bagaimana? Disini ada minimarket."
"Aku setuju, tapi masalahnya mobil yang ada didepan kita tidak berjalan sama sekali." Syakirah diam tidak tahu harus menjawab apa.
"Kalau begitu, biarkan aku turun."
"Apa? Syakirah, jangan membuat masalah!" ujar Ahmad panik.
"Apa? Aku hanya akan pergi ke minimarket itu. Aku akan membeli beberapa makanan untuk mengganjal perut kita." setelah mengatakan itu, Syakirah pergi keluar mobil tanpa persetujuan Ahmad.
Ahmad sangat khawatir jika sesuatu terjadi kepada Syakirah. Dia tidak akan bisa mendapatkan Syakirah lagi jika Syakirah kenapa-kenapa.
Sementara Syakirah sudah masuk ke dalam minimarket. Dia mengambil 2 cup mie instan, roti, susu, dan beberapa minuman dan camilan lainnya. Saat Syakirah sedang membayar pesanannya, dia bertanya kepada orang kasir tersebut.
"Maaf, apa disini dispensernya ada?" tanya Syakirah.
"Ada, nona. Apa anda ingin memakainya?" jawab kasir tersebut.
"Iya. Aku mau menyeduh mie instan ku ini." jawab Syakirah sambil menunjukkan 2 cup mie instan.
Orang kasir tadi menyuruh Syakirah untuk mengikutinya. Syakirah menyeduh mie instannya, setelah selesai dia kembali lagi.
Syakirah membuka pintu mobil Ahmad dan masuk kedalam.
"Syakirah, aku bahkan belum mengizinkanmu! Bagaimana kalau nanti terjadi sesuatu kepadamu?!" protes Ahmad.
"Sudahlah, Ahmad jangan takut begitu, aku hanya sebentar kok. Ini aku membeli 2 cup mie instan rasa bakso. Makan ya, lumayan untuk mengganjal perut." Syakirah menyodorkan mie instan. Ahmad menerima dan memakannya.
Mereka berdua masih memakan mie instan mereka, bahkan kali ini Ahmad juga sudah mematikan mesin mobilnya karena ada orang yang menyuruhnya untuk mematikan mesin mobil, karena di depan ada anak tawuran dan kecelakaan beberapa kendaraan. Ahmad pun mematikan mesin mobilnya, dari pada bensinnya habis lebih baik dia mematikannya.
"Ahmad, apa tidak ada lagu yang bisa kau putar disini? Aku bosan jika harus menunggu seperti ini." ujar Syakirah di sela makannya.
__ADS_1
"Aku juga mempunyai mikrofon. Apa kau mau berduel denganku?" Syakirah mengambil mikrofon yang diberikan Ahmad.
Mereka berdua bernyanyi bersama, sarasa sepasang kekasih yang baru saja menikah. Mereka akhirnya menyanyi sampai macet mulai reda.
***
Saat ini Syakirah dan Ahmad sudah berada di restoran jepang. Syakirah memilih beberapa makanan jepang, sementara Ahmad tidak sama sekali. Ahmad tidak terlalu suka makanan jepang karena menurutnya tidak enak. Syakirah yang melihat piring Ahmad kosong pun langsung bingung.
"Ahmad, apa kau tidak memilih makanan?" tanya Syakirah bingung.
"Aku tidak mau. Rasanya tidak enak."
"Ahmad, jangan bicara begitu. Cobalah dulu. Aku ambilkan ya."
"Syakirah, aku tidak terlalu suka. Aku takut muntah nanti." Syakirah meletakkan kembali makanan yang dia ambil untuk Ahmad.
"Seharusnya kau bilang begitu tadi, supaya aku tidak bersih keras untuk mengajakmu makan disini. Kalau begitu kita pindah saja." Syakirah meletakkan piringnya kembali dan mau berjalan untuk keluar.
"Pilihkan aku beberapa makanan yang cukup enak untuk pemula yang baru makanan jepang." Syakirah berbalik.
"Kau yakin?" Ahmad pun mengangguk.
Syakirah memilihkan beberapa makanan untuk Ahmad. Mereka sudah duduk dan memakan makanan mereka. Ahmad mencoba sedikit makanan jepang itu, lidahnya terasa getir saat merasakan makanan itu tapi dia akan mencobanya lagi.
Setelah selesai makan, mereka berdua memulai perjalanan untuk pulang. Ahmad cukup bisa menerima makanan jepang tadi, perutnya masih bisa menerimanya saat ini, tidak tahu kalau nanti.
***
Syakirah sudah sampai di rumah lebih tepatnya dia sudah sampai di tempat saat menunggu Ahmad tadi pagi. Syakirah turun dari mobil Ahmad dan Ahmad membuka jendela mobilnya.
"Kau yakin tidak ingin aku antar ke rumah saja?" tanya Ahmad memastikan. Syakirah tersenyum mendengar ucapan Ahmad.
"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Terima kasih untuk hari ini." jawab Syakirah.
"Seharusnya aku yang berterima kasih. Aku berterima kasih karena kau sudah mulai mempercayaiku meskipun tidak seperti dulu. Aku harap kita bisa lebih dekat lebih dari ini." Syakirah tidak menanggapi ucapan Ahmad.
"Aku pulang, Syakirah. Hati-hati saat di jalan nanti. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Syakirah melihat kepergian Ahmad, dia tidak bisa berharap apa-apa kepada Ahmad untuk saat ini. Hatinya masih terasa sangat sakit jika berjalan dengan Ahmad, dia sangat menahannya tadi agar dia tidak terbawa suasana. Syakirah memegang dadanya yang terasa sakit dari pagi tadi saat bertemu dengan Ahmad.
"Apa sesakit ini mencintaimu, Ahmad? Seharusnya kita hanya mengagumi saja dulu tanpa melibatkan perasaan kita. Jika kau memang berjodoh untukku, aku yakin Allah akan mepersatukan kita, tapi jika tidak kita berdua tidak bisa berbuat apa-apa. Jodoh sudah diatur, kita hanya bisa menerima dan menjalaninya saja." gumam Syakirah.
Syakirah berjalan untuk pulang karena jarak rumah dengan tempatnya saat ini lumayan dekat. Ada perasaan senang dan sedih. Syakirah berjalan dengan pikirannya yang sedang bimbang. Syakirah sampai dirumah dan mulai membersihkan dirinya.
Bersambung......
__ADS_1