
"Terserah kau saja, Syakirah. Kau bilang kepribadian seseorang berbeda-beda kan, kalau kau tidak masalah lepas saja. Aku tidak berhak melarangmu, karena aku bukan siapa-siapamu." perkataan Ahmad mengandung makna, Syakirah tahu itu.
Syakirah tersenyum dan berjalan menuju ruanh ganti, sementara Ahmad masih menunggu di depan kasir.
Syakirah melepas kerudungnya, Syakirah menaruh kerudungnya ke dalam tas ransel mini yang selalu dia bawa. Syakirah mencari kunciran rambut yang selalu dia bawa, tapi tidak ada. Syakirah terpaksa keluar dari ruang ganti dengan rambut yang tergerai, banyak pasang mata yang melihatnya tapi Syakirah tidak memperdulikannya.
Syakirah keluar dari toko dan menghampiri Ahmad.
"Ahmad." panggil Syakirah. Ahmad mendongakkan wajahnya, betapa terkejutnya dia saat melihat Syakirah dengan rambut yang tergerai dan sebagian rambutnya menutupi mata kanannya. Syakirah terlihat cantik, tak kalah cantik jika dia mengenakan hijab.
"Ada apa?" tanya Ahmad masih tidak percaya. Syakirah menyelipkan rambut bagian kanannya ke belakang telinga, supaya dia lebih bisa melihat.
"Aku lupa untuk membawa kunciran rambut, kita beli ya. Aku tidak mungkin berjalan dengan rambut yang menutupi mata seperti ini."
Rambut Syakirah sangat lurus, sangking lurusnya sampai matanya juga tertutupi.
Ahmad mengangguk dan berjalan ke toko accessories. Mereka berdua masuk ke dalam toko accessories itu dan melihat-lihat. Syakirah mulai melihat-lihat kunciran rambut dan juga menjepit rambut. Syakirah mengambil satu masing-masing, dia juga membayarnya.
Mereka berdua keluar dari toko, Syakirah mengikat rambutnya ke atas dan dia juga tidak lupa untuk memakaikan menjepit rambut.
"Sudah?" tanya Ahmad saat melihat Syakirah sudah mengikat rambutnya.
"Sudah." jawab Syakirah.
Mereka nampak terlihat serasi dari pada sebelumnya. Mereka masih berjalan-jalan di mall, membeli makanan dan juga melihat-lihat barang. Mereka berdua juga membeli jam tangan couple.
Mereka berdua keluar dari mall dan masuk ke dalam mobil, mereka sudah puas berbelanja. Apalagi Ahmad, jangan di tanya soal kepuasannya. Ahmad terlihat bahagia saat dia sedang memakai barang couple dengan Syakirah.
Mereka berdua keluar dari parkiran mall dan mulai mencari suasana lagi.
Adzan dhuzur berkumandang, mereka berhenti di sebuah masjid besar. Mereka menjalankan ibadah wajib mereka. Setelah sholat mereka mulai perjalanan lagi.
Sekitar 2 jam perjalanan mereka, akhirnya mereka sampai di sebuah taman besar. Ahmad memarkirkan mobilnya ke parkiran. Ahmad melihat ke arah Syakirah dan mendapati Syakirah sedang tidur, mungkin Syakirah lelah. Ahmad tersenyum, dia menyelipkan rambut-rambut halus ke belakang telinga Syakirah, supaya dia lebih leluasa melihat wajah cantik Syakirah.
"Cantik." gumam Ahmad.
Ahmad mulai menggeliat, sebenarnya dia juga lelah tapi semua itu hilang karena bersama Syakirah. Ahmad mulai mengalarm ponselnya agar dia bangun nanti. Ahmad mulai pergi ke alam mimpinya.
__ADS_1
Sekitar 40 menit, ponsel Ahmad berdering dan membangunkan tidur nyenyak Ahmad. Ahmad menoleh ke arah Syakirah yang masih tertidur, dengan terpaksa Ahmad harus membangunkan Syakirah.
"Syakirah, ayo bangun. Kita sudah sampai." ujar Ahmad.
Syakirah menggeliat, merasa tidurnya terganggu. Syakirah mulai membuka matanya perlahan.
"Kita sudah sampai?" tanya Syakirah yang masih setengah sadar.
"Sudah."
"Maaf ya, Ahmad. Aku tadi tertidur di mobilmu. Aku ngantuk sekali soalnya."
"Tidak apa-apa. Ayo turun, kita cari makan. Tadi kita cuma nyemil saja kan waktu di mall, sekarang kita makan."
Mereka berdua turun dari mobil dan berjalan-jalan untuk mencari makan. Mereka masih belum memasuki area taman, Syakirah juga tidak sadar bahwa saat ini dia berada di taman.
Mereka berdua duduk di warung nasi pecel lesehan. Lebih baik makan nasi karena dari tadi perut Ahmad juga sudah mulai perih hanya saja dia tahan. Ahmad juga heran, Syakirah memiliki riwayat sakit lambung tapi kenapa dia baik-baik saja, telat makan sedikit saja bisa membuat Syakirah opname.
Mereka berdua mulai memakan makanan mereka masing-masing. Saat sudah selesai makan, Ahmad membayar makanan tadi dan bergegas pergi dari warung nasi pecel itu.
"Jadi kita tadi di taman?" ujar Syakirah.
"Iya."
Mereka menyusuri jalanan taman yang lumayan ramai, apalagi ini juga sudah sore banyak pasangan lalu lalang lewat. Ahmad mengajak Syakirah duduk di bangku taman, Syakirah pun dengan senang hati untuk duduk.
"Syakirah." panggil Ahmad.
"Apa?"
"Apa perutmu tidak sakit?" tanya Ahmad sedikit khawatir.
"Tidak. Kenapa memangnya?"
"Tidak apa-apa. Kau kan tadi belum makan, aku takut nanti penyakit lambungmu kumat, seperti waktu itu."
Deg.
__ADS_1
Syakirah cukup terkejut dengan ucapan Ahmad. Dia tidak menyangka bahwa Ahmad masih mengingat penyakit Syakirah. Hati Syakirah menghangat. Dia akui, perutnya sempat sakit tadi saat dia belum makan siang tapi sekarang susah tidak.
"Tidak, perutku tidak sakit." bohong Syakirah.
"Syukurlah kalau begitu."
Mereka diam, ada kecanggungan saat duduk berdua di bangku yang sama seperti ini. Wajar, satunya tidak peka satunya sedang di mabuk cinta.
"Syakirah, bolehkah aku bertanya?" tanya Ahmad memecahkan keheningan.
"Tentu saja." jawab Syakirah. Ahmad menghela nafas berat.
"Maukah kau menjadi kekasihku lagi seperti dulu?"
Duarr.
Bagai di sambar petir, tubuh Syakirah kaku mendengar perkataan Ahmad. Saat ini Ahmad mengatakannya dengan sunguh-sungguh. Syakirah melihat Ahmad, dia bisa melihat keseriusan di wajah Ahmad. Syakirah sendiri juga bingung harus menjawab apa, dia tidak punya jawaban untuk Ahmad. Orang tuanya juga tidak melarangnya untuk mencari kekasih, tapi bagaimanapun Syakirah juga tidak mau sakit hati lagi.
"Aku... aku... " Syakirah gagu.
"Kau boleh menolaknya. Aku tidak memaksamu."
Syakirah menghela nafas berat, sebenarnya dia ingin tapi Syakirah juga mementingkan egonya. Hatinya ingin, tapi egonya selalu menolak.
"Aku menolakmu, Ahmad. Maaf." lirih Syakirah.
Nyeess.
Hati Ahmad rasanya sakit sekali. Ahmad pikir Syakirah akan menerimanya tapi dugaannya salah. Cinta memang butuh waktu.
"Maaf, bukannya aku sombong atau apa. Untuk sekarang ini biarkan aku meraih kesuksesanku dulu. Aku masih ingin sendiri. Aku belum mau seperti dulu lagi. Aku masih ingin menikmati masa kesendirianku. Kita masih bisa berteman. Jujur saja, aku tidak ingin menjalani hubungan lagi, aku ingin langsung menikah tanpa menjalani hubungan. Aku ingin seperti kak Syakirah, dia ingin langsung menikah tanpa menjalani hubungan. Aju pikir itu lebih baik dari pada kita menjalani hubungan tapi zina." ujar Syakirah.
"Aku mengerti, Syakirah. Lagi pula aku juga tidak memaksamu. Jika kau mau langsung menikah, aku bisa menuruti permintaanmu itu. Tapi kau harus menungguku. Berjanjilah kau akan menungguku, sampai saatnya tiba aku akan datang ke rumahmu bersama orang tuaku."
Syakirah cukup tertegun dengan ucapan Ahmad, Syakirah bisa melihat jelas keserisusan di wajah Ahmad.
Bersambung......
__ADS_1