Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Tukang mengadu


__ADS_3

"Beruntung kau hanya di liburkan seminggu. Bagaimana tadi kalau sampai kau di pecat? Mangkanya kalau mau berbuat itu lihat tempat dulu jangan langsung nonjok saja." Rey.


"Namanya juga emosi." Ryan.


Ryan melihat Ahmad dengan tatapan musuh, yang di lihat hanya tersenyum saja.


"Sudah pulang sana. Tenangkan dirimu." Syakirah.


Ryan mengangguk, dia berjalan menjauhi teman-temannya. Lebih baik seperti ini dari pada di pecat, pikirnya.


Mereka berempat memandangi Ahmad, yang di pandang juga merasa bingung.


"Apa? Kenapa kalian melihatku seperti itu? Perasaan tidak ada yang aneh denganku." ujar Ahmad. Syakirah menghela nafas.


"Ayo ikut aku. Kalian bertiga kembali saja keruangan. Aku akan mengajak Ahmad berkeliling pabrik." ujar Syakirah.


"Ahmad, jangan macam-macam ya kau!" Wahyu.


"Memangnya apa yang akan aku lakukan?"


"Cih."


Mereka bertiga berjalan ke ruangan mereka meninggalkan Ahmad dan Syakirah berdua saja. Syakirah melihat Ahmad, yang dilihat hanya tersenyum memperlihatkan giginya.


"Ayo, aku ajak kau berkeliling pabrik."


Syakirah berjalan lebih dulu di ikuti oleh Ahmad dari belakang.


***


Sekitar 2 jam sudah berlalu, akhirnya Syakirah sampai di ruangannya. Syakirah menormalkan nafasnya yang tidak teratur akibat berjalan 2 jam tanpa henti.


"Ini ruangan kita. Disini ada aku, Wahyu, Ryan Rey dan Navile. Kita satu ruangan, hanya saja berkas yang kita kerjakan sedikit berbeda. Sekarang apa yang ada ingin kau tanyakan?" ujar Syakirah.


Ahmad tersenyum melihat wajah Syakirah yang tanpa ada senyum-senyumnya.


"Ada." jawab Ahmad.


"Apa? Cepat tanyakan! Aku juga ada pekerjaan."


"Apa kau masih mencintaiku?" Syakirah melotot mendengar ucapan Ahmad.


"Hei Ahmad, kita di pabrik. Yang harus kau tanyakan adalah tentang pabrik bukan tentang hubungan kita!"

__ADS_1


"Salah ya?"


"Ya jelas salah lah. Sudahlah lebih baik aku masuk. Kau cepat masuk dan kerjakan pekerjaanmu."


Syakirah sudah mau memegang handle pintu tapi tiba-tiba Ahmad menariknya dan membenturkan tubuhnya di tembok. Ahmad juga mengunci tubuh Syakirah dengan tangannya. Ahmad tersenyum manis melihat Syakirah, yang dilihat malah ketakutan.


"Syakirah, aku mencintainya." lirih Ahmad.


"Ahmad, jangan membuat masalah. Kita sedang ada di pabrik!"


Ahmad tidak menggubris ucapan Syakirah. Ahmad mendekatkan wajahnya ke wajah Syakirah. Tapi belum juga Ahmad membenturkan hidung mancungnya dengan hidung mancung Syakirah, Syakirah sudah menunduk dan berjalan di bawah tangannya dan langsung masuk ke dalam ruangannya. Ahmad hanya memandangi kepergian Syakirah dengan senyuman.


Ahmad masuk ke dalam ruangan, sementara Syakirah juga sedang menormalkan detak jantungnya yang tidak beraturan. Ahmad berjalan melewati meja kerja mereka berlima yang ada di sisi tembok, sementara mejanya terletak di tengah-tengah dan sedikit agak menjauh dari meja mereka berlima. Saat Ahmad melewati Syakirah, dia tersenyum ke arah Syakirah, yang di beri senyum hanya memberikan tatapan membunuh. Ahmad akhirnya duduk di meja kerjanya dan mulai mengerjakan berkas-berkasnya.


Lihat saja kau, aku akan membalasmu nanti! batin Syakirah.


***


Bel istirahat sudah berbunyi, Syakirah dan teman-temannya sudah menyantap makanan mereka. Tapi saat Syakirah sedang menikmati makanannya, dia di panggil oleh sekretarisnya pak Farel.


"Syakirah, kamu pergi ke ruangan pak Farel sekarang ya." pinta sekretaris itu. Syakirah mengangguk dan beranjak dari duduknya.


Saat di jalan Syakirah sedang berfikir apa kesalahannya sampai dia di panggil untuk ke ruangan pak Farel. Apa mungkin karena dia tadi mangacuhkan Ahmad dan Ahmad mengadu ke pak Farel? Sungguh Syakirah tidak habis pikir jika soal itu.


Syakirah mengetuk pintu ruangan pak Farel, setelah ada jawaban Syakirah langsung masuk. Syakirah bisa melihat ada istri dan anak bungsu pak Farel, dan jangan lupakan juga kalau ada orang yang sedang di mabuk cinta dengan Syakirah.


"Syakirah, silahkan duduk di sebelah Ahmad." ujar pak Farel.


"Baik, pak. Terima kasih."


Syakirah duduk di sebelah Ahmad, Ahmad tersenyum melihat Syakirah.


"Sebenarnya saya menyuruh kamu kesini hanya untuk mengajakmu makan. Karena Ahmad bilang kalau kamu paling dekat dengan dia. Jadi tidak masalah kan jika kamu makan siang dengan saya disini?" ujar pak Farel.


Tunggu! Apa? Apa aku tidak salah dengar? Aku di suruh kesini hanya karena Ahmad? Sungguh keparat sialan! batin Syakirah.


"Tentu saja, pak. Suatu kehormatan bisa makan siang dengan anda." jawab Syakirah dengan senyuman terpaksa.


"Kalau begitu silahkan di makan."


Mereka akhirnya memakan makanan siang mereka. Syakirah yang awalnya perutnya sudah kenyang merasa lapar lagi akibat ulah Ahmad.


Selesai dengan makan siangnya, Syakirah pamit ingin kembali ke ruangannya. Ahmad juga demikian, dia juga ikut pamit.

__ADS_1


Saat mereka berdua berjalan, Ahmad terus saja mengganggu Syakirah. Tapi Syakirah tidak menggubrisnya. Sampai akhirnya Ahmad memeluk tubuh Syakirah dari belakang Syakirah baru berhenti.


"Kenapa kau mangacuhkanku, Syakirah?" tanya Ahmad dengan nada manjanya.


Syakirah mencoba untuk melepaskan tangan Ahmad dari tubuhnya tapi tidak bisa.


"Ahmad, jangan seperti ini. Kita sedang di pabrik, tidak enak jika ada yang melihat." ujar Syakirah.


"Biarkan saja. Ini juga salahmu, kenapa kau mangacuhkanku?"


"Lepaskan dulu, nanti aku beritahu alasannya!"


"Tidak mau."


Syakirah terus mencoba untuk melepaskan tangan Ahmad dari tubuhnya, tapi terus tidak bisa. Sampai akhirnya kepikiran satu cara, biasanya cara ini paling ampuh untuk melawan Ahmad. Syakirah mulai tenang.


"Ahmad, lepaskan." ujar Syakirah.


"Tidak mau."


"Oke, kalau kau tidak mau melepaskan aku akan menelpon kak Kiya dan bilang kalau kau telah menyakitiku."


Ahmad langsung melepaskan tangannya dari tubuh Syakirah. Ya ampun, ternyata cara ini ampuh sekali ya.


"Dasar tukang mengadu!" ujar Ahmad.


"Biarin!"


Syakirah memeletkan lidahnya dan langsung berlari pergi meninggalkan Ahmad. Ahmad hanya tersenyum melihat kepergian Syakirah. Tanpa mereka sadari ada 3 pasang mata yang sedang memperhatikan mereka. Siapa lagi kalau bukan Wahyu, Rey dan Navile. Mereka bertiga mengamati Syakirah sejak Syakirah di panggil oleh sekretaris pak Farel. Satunya sedang di bakar api cemburu, satunya lagi sedang emosi karena melihat perlakuan Ahmad dan satunya lagi cuek-cuek saja.


"Kalian masih mencintainya?" tanya Wahyu saat melihat Rey dan Navile mulai terpancing emosi.


"Kau lihat bagaimana? Aku pikir Syakirah akan memilih salah satu dari kita tapi nyatanya dia lebih memilih lelaki brengsek seperti Ahmad." Navile.


"Kalian tidak bisa memaksa Syakirah untuk memilih salah satu dari kalian. Syakirah berhak memilih orang yang pantas untuk menjadi pendamping hidupnya. Jangan memaksanya atau Syakirah akan membenci kalian." Wahyu.


"Apa sesulit itu untuk mencintai salah satu dari kita?" Rey.


"Aku sudah bilang kan, jangan memaksa Syakirah. Dia berhak memilih pasangan hidupnya, kita hanya bisa menerima saja." Wahyu.


"Tapi apa sesulit itu untuk menghargai perasaan kita?" Navile.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2