Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Asraf?


__ADS_3

"Mereka berdua tidak ada hubungan apa-apa, tapi mereka juga sudah sangat dekat." jawab Kiya.


Karena tidak ada yang melarangnya akhirnya Hanifa menulis surat juga untuk Ahmad. Hanifa mencoba untuk menulis isi hatinya sesuai dengan apa yang Kiya suruh tadi. Ada banyak kata-kata di hati Hanifa untuk Ahmad. Kiya bilang tidak apa-apa kalau menghabiskan note booknya kan? Jadi Hanifa akan menulis sesuai dengan isi hatinya, tidak peduli akan habis berapa lembar nanti.


Sekitar satu jam akhirnya surat untuk Ahmad selesai juga. Hanifa memperhatikan surat itu lagi dan membacanya dengan seksama, takut ada kata yang menyungging perasaan Ahmad.


"Ini." Hanifa menyerahkan kertas itu kepada Kiya. Kiya mengambil dan menghitung kertas itu.


10? Sudah gila apa ya? Tangannya pasti bergetar karena menulis surat sebanyak ini.


Surat untuk Ahmad berisi 10 lembar dan Hanifa sangat lega saat dia meluapkan isi hatinya meskipun di sebuah surat, yang penting dia sudah berusaha kan.


"Jadi kau mau memberikan ini untuk Ahmad dan Syakirah kan?" tanya Hanifa sambil menunjuk totebagnya.


"Iya, aku akan memberikannya." jawab Kiya. Hanifa bernafas lega.


"Terima kasih, Kiya." ujar Hanifa dengan tersenyum senang. Kiya hanya diam saja dengan wajah datarnya itu.


"Kiya, aku juga ada titipan salam dari seseorang untukmu." ujar Hanifa.


"Siapa?" tanya Kiya.


"Coba tebak siapa." Hanifa memberikan tantangan agar Kiya menebaknya. Kiya mau? Tentu saja tidak.

__ADS_1


"Aku tidak mau tebak-tebak'an. Kalau kau tidak mau memberitahu orangnya juga tidak masalah, aku juga tidak rugi kok." ujar Kiya.


"Huh! Kau itu kenapa sih? Aku heran melihatmu, kau tidak bisa bermain-main sedikit apa ya?! Sesekali bermain seperti ini seru tahu! Jangan selalu serius di setiap keadaan!" Hanifa mulai kesal melihat sikap Kiya yang selalu serius di setiap situasi. "Bagaimana ada lelaki yang mau denganmu jika kau selalu serius seperti ini?" lanjut Hanifa lagi.


"Pasti ada yang mau, karena aku serius dan tidak main-main. Oleh sebab itu kenapa aku selalu serius." ucapan Kiya berhasil membuat mulut Hanifa bungkam. Hanifa hanya mendengus kesal mendengar ucapan Kiya.


"Huh! Terserah kau saja!" ujar Hanifa dengan nada kesalnya. "Ayo, coba tebak siapa yang menitipkan salam untukmu." lanjut Hanifa lagi.


"Aku tidak mau!" tolak Kiya.


"Huh! Kalau begitu aku akan memberitahu. Kau mendapatkan salam dari... " ucapan Hanifa menggantung. Kiya hanya melihat datar saja, malas sekali dia jika harus meladeni Hanifa. "Asraf." lanjut Hanifa dengan senyum sempurna.


Deg.


Jantung Kiya langsung berdetak tidak normal mendengar nama Asraf yang baru saja Hanifa ucapkan.


Asraf, lelaki yang pernah berhasil membuat Kiya mengeluarkan sifat aslinya. Tapi tentu saja Asraf tidak menyesal karena sudah menjebak Kiya waktu itu. Asraf menjelek-jelekkan Kiya di depan teman-temannya dan anak pesantren lainnya, apalagi dia juga komplotan Hanifa dulu. Asraf baru membungkam mulutnya saat Kiya melabrak dan balas dendam. Dan membuat Asraf bertekuk lutut di hadapannya sambil meminta maaf, bahkan di depan semua anak pesantren, sampai dia menjadi bahan tontonan anak-anak. Kiya memang anak pesantren, meskipun dia di ajar agar tidak menjadi pendendam tapi kepribadian orang memilki karakteristik sendiri-sendiri, jadi tidak ada yang boleh menghakimi bahkan mengatur kepribadian orang.


Kiya tersenyum licik mendengar nama itu dan mengingat masa lalunya. Asraf langsung pindah saat Kiya membully nya habis-habisan gara-gara kelakuannya. Kiya dan kak Rahman sangat di hormati oleh ustad dan ustadzah karena dia adalah cucu dari orang yang membangun pesantren ini. Bahkan Syakirah yang bukan anak pesantren saja di hormati oleh ustad dan ustadzah, karena dia memang cucu dari orang yang membangun pesantren ini. Meskipun Kiya adalah cucu dari orang yang membangun pesantren ini, tapi Kiya tetap menerima hukuman dari ustad akibat perbuatannya, dia di skors selama 2 minggu dan harus hafal 2 juz Al-Qur'an saat kembali lagi ke pesantren.


Kiya bisa mengingat kelakuan bejatnya dulu kepada Asraf, bahkan kak Rahman saja membiarkan Kiya untuk membalas perbuatan Asraf. Kak Rahman sendiri adalah pemimpin pesantren, tidak ada yang berani memerintahkan kak Rahman sama sekali. Kak Rahman sempat turun tangan dengan perbuatan Asraf, tapi Kiya melarangnya dan membiarkan Kiya untuk turun tangan sendiri dalam kejadian itu.


"Bilang kepadanya, apa dia mau mati di tanganku?" ujar Kiya dengan seringai liciknya.

__ADS_1


"Hei Kiya! Jangan seperti itu! Kau membuatku takut tahu!" Hanifa emosi. Hanifa tahu bagaimana waktu itu Kiya mempermalukan Asraf di depan anak-anak pesatren dan Hanifa tidak mau sampai terlibat dalam hal itu. "Dia juga mengirimkan surat untukmu. Ini." lanjut Hanifa sambil menyodorkan surat yang di tulis oleh Asraf sendiri.


"Kau pikir aku mau menerimanya? Tentu saja tidak!" tolak Kiya dengan tegas.


"Setidaknya baca dulu, barangkali Asraf mau berbicara yang penting kepadamu." saran Hanifa.


"Berbicara apa? Menjelek-jelekkan aku di surat itu?" Kiya menyeringai licik.


"Itu tidak akan pernah terjadi lagi. Coba baca dulu, barangkali ada yang penting. Beri dia kesempatan sekali lagi. Aku yakin dia tidak akan pernah menjelekkanmu lagi. Mengingat perbuatanmu yang keji itu, dia pasti tidak akan berani lagi denganmu." ujar Hanifa.


Kiya nampak ragu untuk mengambil surat yang di sodorkan Hanifa kepadanya. Kiya tidak mau membuat orang lain menderita lagi, cukup Asraf saja dan itu harus di jadikan pelajaran untuknya dan anak-anak lainnya.


Dengan penuh keterpaksaan akhirnya Kiya mengambil surat itu. Dia memasukkannya ke dalam tas dan akan membacanya nanti saat dia sudah ada di rumah.


"Bilang kepadanya, jika dia menjelekkanku lagi. Siap-siap saja untuk menghadapi mentalku!" Kiya menekan kata-katanya agar Hanifa bisa mengerti. Hanifa meneguk ludahnya dengan kasar mendengar ucapan Kiya. Beruntung dulu Kiya tidak memperlakukannya seperti Asraf.


"Kau tenang saja, dia tidak akan pernah menjelekkanmu lagi. Yang ada dia jatuh cinta denganmu." goda Hanifa sambil menumpu kepalanya dengan kedua tangannya.


"Tutup mulutmu itu!" ujar Kiya. Hanifa langsung diam, tidak berani bereaksi lebih lagi.


"Iya iya, maaf." hanya kata maaf saja yang bisa terucap dari mulut Hanifa.


Karena hari sudah mau sore, akhirnya Kiya memutuskan untuk pulang. Tapi tidak dengan Hanifa, dia masih berada di caffe dan melihat kepergian Kiya. Tak lama kemudian ada seorang lelaki yang langsung duduk di meja Hanifa, Hanifa hanya mendengus kesal saja.

__ADS_1


"Kau sudah tahu reaksinya kan? Jadi kau tidak perlu lagi bertanya kepadaku. Aku sudah membantumu. Aku harap kau tidak merepotkanku lagi. Kau sudah tahu seperti apa Kiya itu, jangan coba-coba untuk macam-macam lagi dengannya!" ujar Hanifa memperingati.


Bersambung......


__ADS_2