
Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan taman. Mereka membeli sosis bakar dan juga es jeruk, setelah memesan pesanan mereka, mereka mencari tempat duduk untuk menunggu pesanan mereka dan mengobrol.
"Apa semenjak aku pulang ke Madura tidak ada hal yang terjadi apapun pada kalian?" tanya Abel kepada Syakirah dan Kiya. Syakirah melirik ke Kiya, Kiya pun juga sebaliknya dia juga melirik Syakirah.
"Apa kami harus memberitahumu tentang apa yang terjadi pada kami saat kau pulang ke Madura?" tanya Kiya kepada Abel.
"Hah! kenapa kalian bertanya seperti itu? Kalian itu seharusnya menjawab pertanyaanku bukan malah bertanya balik seperti ini. Zaman sekarang memang sedang tren ya, kita bertanya pada orang lain yang ditanya malah tanya balik. Aku sampai bingung sendiri." Abel menggerutu.
Bukannya mereka tidak mau memberitahu tentang apa yang terjadi pada mereka, tapi posisi mereka saat ini ada diluar rumah. Kalau mereka menceritakannya pada Abel, mereka sangat yakin kalau Abel akan berteriak-teriak seperti orang gila.
"Kita akan memberitahumu saat kita sudah sampai rumah saja. Kalau aku memberitahumu sekarang yang ada kau akan menjadi seperti orang gila." ujar Kiya.
"Huh! Kalian menyebalkan." ujar Abel kesal.
Setelah itu pesanan mereka datang. Mereka memakan sosis bakar mereka sambil berbincang mengenai pekerjaan mereka masing-masing.
Setelah memakan sosis dan meminum es jeruk tadi, mereka berjalan-jalan mengelilingi taman.
"Kiya, Syakirah " Abel memanggil Kiya dan Syakirah.
"Hm." jawab Kiya dan Syakirah dengan gumaman.
"Saat kalian menikah nanti, kira-kira kalian ingin menikah di umur berapa?" tanya Abel sambil melirik ke belakang untuk melihat Kiya dan Syakirah. Mereka tampak berfikir dengan pertanyaan Abel tadi.
"Entahlah, kalau aku sudah menemukan jodohku, ya aku akan menikah." jawab Kiya.
"Kalau kau Syakirah?" tanya Abel kepada Syakirah.
"Entahlah. Aku masih ingin membahagiakan orang tuaku terlebih dahulu. Kalau aku sudah menyelesaikan tugasku maka aku akan menikah." jawab Syakirah.
"Kalian itu cantik. Kenapa kalian tidak ingin menikah muda saja?" Abel.
"Hah?" Syakirah dan Kiya menganga tak percaya dengan ucapan Abel baru saja.
"Hei Abel, memangnya kau mau menikah muda?" tanya Syakirah kepada Abel.
"Tentu saja mau, kalau ada calonnya. Hehe." jawab Abel. Syakirah menganga tak percaya dengan jawaban Abel.
"Hei Abel, memangnya kau tidak mau mengejar impianmu?" sekarang giliran Kiya yang bertanya.
__ADS_1
"Kiya, kau memangnya tidak tahu impianku? Kau kan tahu. Aku iku ingin menjadi designer tapi yang ada aku malah menjadi guru." Abel.
"Kau menyerah Abel?" Syakirah.
"Iya. Sudah beberapa kali aku mencoba untuk menjahit baju tapi hasilnya selalu gagal. Aku menghabiskan uangku untuk itu, tapi sama sekali tidak membuahkan hasil." Abel
"Kau kurang teliti dan kurang bersabar, Abel!" Kiya.
"Iya kau benar sekali." Abel.
"Abel, kenapa kau tidak ikut belajar menjahit saja?" Syakirah.
"Kau pikir itu tidak mahal? Kalau aku tidak bekerja dan ikut belajar saja, lalu dapat dari mana aku uang untuk membayar belajar menjahitku? Meminta ibuku? Tentu saja aku akan dimarahi. Meminta abangku? Sepertinya tidak, karena dia ingin aku menjadi mandiri dan tidak bergantung pada orang lain, meskipun aku dikasih uang setiap bulannya oleh abangku, bukan berarti aku bertindak semauku, bukan." Abel.
"Ya, kau bisa bekerja sebagai karyawan minimarket atau supermarket." Kiya.
"Apa-apaan itu? Kau pikir aku ini apa? Aku tidak seperti wanita ular itu." Abel.
"Yang memiripkanmu dengan dia itu siapa? Aku memberi saran untukmu. Lagi pula kau terkadang juga suka melepas kerudungmu." Kiya.
"Hei Kiya, jangan bicara seperti itu! Itu dulu sekarang tidak!" Abel tidak terima.
"Kau yakin? Aku pikir kau masih sama seperti dulu." Kiya.
Kiya memalingkan wajah malas melihat kelakuan Abel. Syakirah hanya diam saja menyaksikan pertengkaran antara Kiya dan Abel. Berdebat dengan Abel akan membuat mulutnya pegal, karena Abel memiliki keras kepala yang cukup tinggi.
"Sudahlah, percuma bicara tentang ini dengan kalian." ujar Abel.
Setelah perdebatan tadi, mereka memutuskan untuk pulang dan berbicara di rumah saja, karena banyak sekali orang yang melihat perdebatan mereka tadi.
***
Mereka bertiga sudah sampai dirumah Abel. Mereka masuk ke kamar Abel dan ingin beristirahat karena lelah. Tapi keinginan Syakirah dan Kiya untuk istirahat seketika sirna, saat Abel membawakan mereka beberapa camilan dan juga minuman untuk melihat film horor.
"Ayo kita lihat film horor, sudah lama aku tidak melihat film horor." ajak Abel bersemangat.
"Abel, ini sudah malam. Aku ingin istirahat, besok saja ya." ujar Syakirah.
"Jangan begitu, besok itu kita akan pergi berlibur. Kalian kesini itu untuk berlibur bukan untuk istirahat!" Abel.
__ADS_1
"Abel, sebaiknya kita tidak usah menonton film horor, nanti kau akan ketakutan saat mau ke kamar mandi nanti!" Kiya.
"Jangan menakutiku begitu! Kalau kalian tidak mau menonton film, bagaimana kalau kalian bercerita tentang apa saja yang terjadi dengan kalian saat aku berada di Madura? Kalian sudah berjanji bukan?" Abel.
"Itu besok saja. Kau bilang, kita besok akan berlibur bukan? Maka aku akan menceritakannya besok. Untuk sekarang, ayo kita tidur agar besok kita bersemangat!" Kiya.
"Huh! Kalian begitu sangat menyebalkan. Ya sudah, ayo kita istirahat tapi kalian harus berjanji akan menceritakannya dengan detail tanpa ketinggalan sedikitpun!" Abel.
"Iya iya. Sekarang berhentilah mengomel dan segera taruh camilan dan minuman itu. Lebih baik kita tidur, aku sudah mengantuk dari tadi." Syakirah.
Abel meletakkan camilannya kembali, dia bergegas untuk naik ke ranjangnya dan bersiap untuk tidur. Akhirnya mereka bertiga terlelap dengan mimpi mereka.
***
Sementara disisi lain, saat pagi hari Syakirah dan Kiya berangkat untuk ke Madura, teman-teman Syakirah menghadapi masalah yang cukup membingungkan.
Wahyu benar-benar terkejut dengan kehadiran orang yang dia benci saat di pabrik. Dia tidak menyangka orang itu ada disini sekarang. Sementara teman-teman Syakirah yang lain juga menatap tak suka pada orang tersebut.
"Hei, kenapa kau datang kesini?" tanya Wahyu tidak suka. Yang ditanya hanya tersenyum licik.
"Itu bukan urusanmu!" jawab orang tersebut.
"Cepat katakan apa tujuanmu kemari!" ujar Rey tak suka.
"Sudah aku katakan, itu bukan urusan kalian!" jawab orang tersebut.
"Ck." Wahyu mengumpat dengan kesal.
Orang tersebut adalah Ahmad. Entah kenapa Ahmad datang ke pabrik tempat mereka bekerja. Padahal yang mereka tahu, Ahmad sudah memiliki pekerjaan dan tidak mungkin juga dia akan melamar di pabrik ini.
Perdebatan yang cukup sengit antara Ahmad dan teman-teman Syakirah di lerai oleh Bu Ariana. Teman-teman Syakirah tentu saja terkejut dengan kehadiran Bu Ariana yang membela Ahmad.
"Maaf Pak Ahmad, mereka tidak mengenal anda, jadi saya mohon maaf tentang hal ini." Bu Ariana membungkukkan badannya meminta maaf kepada Ahmad.
Teman-teman Syakirah pun terkejut mendengarkan Bu Ariana meminta maaf dengan sopan. Sebenarnya kenapa Ahmad begitu dihormati disini? Mereka bertanya-tanya di dalam hati mereka. Sementara, Ahmad sudah menyeringai licik melihat teman-teman Syakirah yang sedang terkejut.
"Tidak apa'apa. Aku mengenal mereka. Mereka adalah temanku, lebih tepatnya teman Mantan Pacarku ." ujar Ahmad sambil menekankan kata mantan pacarku. Wahyu melihat Ahmad tidak suka.
Sementara, Bu Ariana mengatarkan Ahmad ke ruangan pemilik sekaligus CEO pabrik ini dan menyuruh Wahyu, Rey, Ryan, dan Navile untuk pergi ke ruangan Bu Ariana.
__ADS_1
Saat Bu Ariana kembali keruangannya, dia memarahi mereka atas kelakuan mereka kepada Ahmad. Bingung? Tentu saja mereka bingung dengan apa yang terjadi. Saat keluar dari Bu Ariana, mereka mengumpat dengan kesal dan melontarkan banyak sekali pertanyaan. Bagaimana kalau Syakirah tahu tentang hal ini? Pasti dia akan pindah pabrik.
Bersambung......