
Saat Ahmad sampai di rumah, dia benar-benar sangat lesu. Pikirannya kacau sekali. Bagaimana bisa dua orang mengancamku sekaligus dalam satu hari, begitu gumamnya.
Ahmad membuka pintu dan di sambut oleh kak Rani.
"Ahmad, apa kau baik-baik saja? Kau terlihat tidak sehat." tanya kak Rani khawatir.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya lelah saja." jawabnya. Kak Rani hanya menggelengkan kepalanya melihat keadaan Ahmad. Kak Rani menarik tangan Ahmad untuk duduk di sofa.
"Coba ceritakan dari awal sampai akhir." perintah kak Rani.
Ahmad menceritakan kejadian sampai akhir tanpa melupakan sedikit pun, kak Rani mendengarkan Ahmad dengan seksama. Dia tahu, dia tidak bisa berbuat apa-apa tapi setidaknya dia bisa membujuk Syakirah untuk bertemu dengan Ahmad.
"Ahmad, maafkan kakak. Kakak tidak bisa membantu banyak. Semuanya tergantung keputusan Kiya dan Wahyu karena kau lah yang memulai masalah terlebih dahulu. Kakak tidak pernah mengajarimu seperti itu! Kau harus bertanggung jawab atas kesalahanmu sendiri! Kakak akan membantumu sebisa mungkin." ujar kak Rani.
"Lalu, bagaimana kalau Kiya dan Wahyu tetap membawa Syakirah pergi?" tanya Ahmad lesu.
"Kau harus mengejarnya!" Ahmad hanya mengusap wajahnya kasar. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi, pikirannya sangat buntu saat ini.
"Sekarang kau istirahatlah, besok jangan bekerja! Aku tidak yakin kau bisa bekerja dengan keadaanmu saat ini!" ujar kak Rani.
Ahmad berjalan ke arah kamarnya. Sementara kak Rani sedang memikirkan cara.
Ini gawat! Ini benar-benar gawat! Kiya akan sulit dikelabui jika sudah seperti ini. Aku harus bergerak cepat. Aku tidak mau calon adik iparku menghilang begitu saja. ujar kak Rani dalam hati.
Kak Rani berjalan ke arah kamarnya untuk mengambil ponselnya. Dia harus menghubungi Syakirah secepatnya.
Tut… tut… tut…
Sambungannya beberapa kali putus, tapi itu tidak membuat kak Rani berhenti untuk terus menelpon Syakirah. Sekitar sepuluh menit, akhirnya sambungan telponnya tersambung juga.
"Assala… " di seberang sana tidak melanjutkan ucapannya karena sudah di potong oleh kak Rani.
"Kita harus bertemu!" ujar kak Rani.
"Kenapa?"
"Pokoknya kita harus bertemu! Sekarang masih jam delapan, bagaimana kalau kita bertemu sekarang?"
"Kak Rani, aku tidak tahu kakak kenapa, tapi setidaknya jangan sekarang. Ini sudah malam, kalau besok saja bagaimana?"
"Syakirah, lebih cepat lebih baik!"
"Ya tergantung juga masalahnya apa, kak."
"Ya ampun, Syakirah."
__ADS_1
"Besok saja ya?"
"Kalau besok, apa bisa pagi?"
"Tidak bisa. Aku harus bekerja kak. Bagaimana kalau pulang kerja saja? Kakak berikan alamatnya saja, nanti sewaktu pulang kerja aku akan kesana. Bagaimana?"
"Ya sudah. Kita bertemu di restoran XX saja. Aku tunggu kau disana."
"Iya kak."
Setelah itu sambungan pun terputus. Kak Rani benar-benar pusing. Ahmad yang punya masalah, kenapa kak Rani yang pusing ya? Ya beginilah seorang kakak, selalu berusaha untuk membuat adiknya bahagia.
Sementara Syakirah sedang bingung sendiri melihat kelakuan kak Rani.
"Kak Rani itu kenapa sih? Terkadang santai, terkadang buru-buru. Kalau buat janji selalu mendadak lagi. Memangnya aku masih sekolah apa, sampai aku punya banyak waktu untuk hal yang tidak penting seperti ini. Aku itu sudah bekerja, kalau mau ngajak ketemuan itu minimal tiga hari sebelum pertemuan. Kalau kak Rani ngga, ngajaknya besok nelponnya malam baru ngajak. Emangnya aku bodyguard gitu sampai-sampai harus stand by setiap waktu?" gerutu Syakirah.
***
Malam ini kak Rani sudah ada di restoran XX, dia sedang menunggu Syakirah. Syakirah masih dalam perjalanan dan kak Rani masih setia untuk menunggu.
Kak Rani menunggu sekitar lima belas menit dan akhirnya orang yang di tunggu-tunggu datang juga. Syakirah menarik kursinya untuk duduk.
"Maaf ya, kak. Aku terlambat." ujar Syakirah. Kak Rani hanya tersenyum menanggapi ucapan Syakirah.
"Kakak mau ngomong apa?" ujar Syakirah sambil meminum minumannya.
"Memangnya kakak mau ngomong apa, sampai sepenting itu?"
"Syakirah, Ahmad ingin bertemu denganmu." ujar kak Rani. Syakirah hanya mematung mendengar ucapan kak Rani.
"Syakirah, apa kau mau menemui Ahmad?" tanya kak Rani.
"Memangnya Ahmad mau berbicara apa padaku?" tanya Syakirah balik.
"Ini sangat penting, Syakirah!"
"Ya kak, aku tahu. Tapi masalah penting apa? Kalau kakak gak ngomong masalah apa, aku gak akan mau buat ketemu Ahmad!"
"Syakirah ini soal… " ucapan kak Rani menggantung.
"Soal apa?"
"Soal… hubunganmu dengannya." ujar kak Rani lirih. Syakirah terkejut bukan main mendengar ucapan kak Rani.
"Aku tidak ada hubungan apapun dengan Ahmad, kak!"
__ADS_1
"Tidak! Kalian itu masih ada hubungan, hanya saja kau tidak tahu, Syakirah. Kakak mohon bertemulah dengan Ahmad."
"Maaf kak, aku tidak bisa. Bertemu dengan Ahmad berdua saja, bisa membangkitkan masa lalu ku yang menyakitkan." ujar Syakirah sedikit sedih.
Kak Rani benar-benar tidak bisa membujuk Syakirah sama sekali. Kak Rani tahu, Syakirah pasti sakit hati akibat perbuatan dari adiknya sendiri. Tapi, bagaimanapun kak Rani harus membujuk Syakirah agar dia mau bertemu dengan Ahmad.
"Syakirah, kakak mohon bertemulah dengan Ahmad. Ini menyangkut masa depan kalian."
"Aku tidak pernah ada masa depan dengan Ahmad, kak!"
"Syakirah, kakak mohon."
"Kak Rani... Aku tahu, aku tahu sekali jika kak Rani menginginkan aku untuk menjadi adik ipar kakak. Tapi, gak begini caranya. Hubunganku dan Ahmad sudah lama renggang, kak. Aku sudah tidak memiliki hubungan apapun dengannya, kecuali hanya sebatas mantan dan sebatas teman. Ahmad tidak menyukaiku. Kak Rani, sebaiknya kakak mencari wanita lain yang lebih baik dariku. Masih ada wanita yang lebih baik dariku di luar sana." Kak Rani tercengang mendengar ucapan Syakirah. Bagaimana bisa Syakirah berkata seperti itu? Begitu gumamnya.
"Syakirah, kakak tahu kau masih sakit hati dengan Ahmad. Tapi… setidaknya temui dia dulu. Dia akan menjelaskan semuanya padamu. Syakirah percayalah kepadaku, Ahmad benar-benar ingin bertemu denganmu. Dia ingin meminta maaf denganmu." ujar kak Rani sendu.
"Kak, tolong… aku lelah. Aku mohon biarkan aku bahagia dengan caraku sendiri. Aku bukan adik kakak yang bisa kakak atur sesuka kakak." Bagai di tusuk ribuan duri, kak Rani benar-benar sangat sedih.
"Kak, aku pernah bertemu dengan Ahmad dulu tapi nyatanya apa, dia malah menghinaku. Dia menyebutmu wanita j*l*ng. Aku takut untuk bertemu berdua dengannya lagi. Aku takut dia akan menghinaku lagi. Tolong kak, mengertilah." lanjut Syakirah.
"Baiklah Syakirah, jika kau memang mau seperti itu. Tapi, temui lah dia, sekali ini saja. Jika, Ahmad menyakitimu lagi, kakak berjanji akan melepaskanmu meskipun hati kakak tidak ikhlas untuk hal itu. Kakak akan membiarkanmu bersama dengan lelaki lain dan membiarkanmu bahagia dengan caramu sendiri, tapi tolong temuilah dia sekali ini saja. Tapi, jika Ahmad tidak menyakitimu maka kakak akan tetap pada pendirian kakak." ujar kak Rani menangis.
Aku takut.
Syakirah benar-benar tidak habis fikir dengan kak Rani.
Bagaimana ini? Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku takut. Aku takut sekali. ujar Syakirah dalam hati.
"Baiklah kak, aku akan menemui Ahmad. Tapi, kakak harus memegang janji kakak itu!"
"Iya, Syakirah. Kakak akan menepati janji kakak."
"Hari rabu aku libur. Aku akan menunggu Ahmad di… "
"Bolehkah kakak menentukan tempatnya?" tanya kak Rani memotong ucapan Syakirah. Syakirah mengangguk meskipun dihatinya ada rasa tidak ikhlas.
"Kalian bertemu di wisata XX. Bagaimana?"
Apa? Kenapa harus di wisata itu? Itu kan wisata yang sangat romantis. Memangnya aku dan Ahmad kesana untuk kencan apa? gerutu Syakirah dalam hati.
"Baiklah."
"Nikmatilah, Syakirah. Berjalan-jalan lah dengan Ahmad disana. Habiskan waktumu dengan Ahmad sehari saja, sebelum kakak melepaskanmu. Anggap saja itu kencan terakhirmu dengan Ahmad." Syakirah mengangguk.
Setelah perdebatan hebat tadi, akhirnya mereka berdua pulang. Syakirah pulang dengan perasaan takut bercampur sedih, sementara kak Rani pulang dengan rasa senang bercampur takut, takut kalau hal yang dia janjikan akan menjadi kenyataan.
__ADS_1
Bersambung......