Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Dinner Kiya ( Part 2 )


__ADS_3

Rambut Evan memang berponi, ada tindik di kedua telinganya tapi tindik itu hanya dia pakai saat sedang tidak bekerja saja.


"Silahkan berjalan mengikuti karpet merah ini, nona." ujar pelayan itu.


"Bapak tidak ikut saya?" tanya Kiya heran.


"Tidak, nona. Tugas saya hanya mengantar anda sampai sini saja." jawab pelayan itu. Kiya pun mengangguk.


Kiya mulai berjalan bak pengantin, tapi ini dinner kan ya. Kiya mulai menyusuri karpet merah itu dan melihat sekelilingnya, tapi tidak ada seorang pun. Sampai Kiya melihat sebuah meja makan untuk dinner dengan hiasan bunga mawar putih di meja, Kiya menghampiri meja itu.


"Ini tempatnya kan? Kok tidak ada orangnya ya?" gumam Kiya lirih. Tiba-tiba saja ada suara yang mengagetkan Kiya.


"Silahkan duduk terlebih dahulu, nona." ujar pelayan perempuan tiba-tiba.


Kiya pun duduk di kursi itu sambil melihat pelayan yang menuangkan minuman sirup berwarna merah di kedua gelas itu. Setelah pelayan itu selesai, pelayan tadi langsung melenggang pergi.


Sebenarnya kemana sih orangnya? Apa aku dinner sendirian disini? Huh! Ck! batin Kiya emosi.


"Selamat malam, nona cantik." ujar seseorang tiba-tiba. Kiya merasa tidak asing dengan suara itu, dia pun berbalik untuk memastikan. Dan betapa terkejutnya saat melihat orang tersebut.


"Evan!" ujar Kiya terkejut. Evan tersenyum manis ke arah Kiya. Seketika Kiya langsung berdiri dari duduknya.


"Apa kau adalah bos kakakku?!" tanya Kiya emosi.


"Iya." jawab Evan.


"Oh jadi semua ini sudah kalian siapkan matang-matang ya? Aku tidak habis pikir jika harus dinner dengan dirimu!" ujar Kiya emosi.


"Kenapa?" tanya Evan. Kiya mengerutkan keningnya. "Kenapa lo gak habis pikir jika dinner sama gue?" lanjut Evan dengan pertanyaan.


"Aku tidak akan pernah sudi jika harus berdinner denganmu! Apapun itu alasannya! Menyesal sudah aku!" ujar Kiya emosi. Evan diam tidak menjawab, dia berjalan lalu duduk di kursinya.


"Silahkan duduk." ujar Evan.


"Kau pikir aku mau? Tentu saja tidak sama sekali!" ujar Kiya yang masih emosi.

__ADS_1


"Lo mau gua apain kakak lo?" tanya Evan dengan tenang.


"Memangnya apa yang akan kau lakukan pada kakakku?!" tanya Kiya menantang.


"Gue akan memecat kakak lo dan gue pastiin kakak lo gak akan pernah hidup dengan tenang." ancam Evan. Kiya langsung duduk di kursi itu.


Ada beberapa pelayan yang datang untuk menyajikan makanan, Kiya hanya menampakkan wajah muramnya saja kepada Evan, sementara Evan tersenyum secerah matahari meskipun bulan sudah bersinar dengan terang.


"Silahkan di nikmati makanannya, tuan dan nona." ujar pelayan itu yang langsung melenggang pergi setelah mengucapkan perkataannya tadi.


Evan mengambil gelas yang berisi air sirup yang berwarna merah tadi, dia menyodorkan gelasnya kepada Kiya.


Apa? Apa dia mau cheers denganku? batin Kiya.


Tiiing...


Mereka berdua langsung meminum minuman mereka saat sudah cheers tadi. Setelah minum mereka mulai menyantap makanan mereka. Kiya memakan steak daging itu dengan kesedihan.


"Kiki." panggil Evan.


"Gue suka sama lo."


Deg.


Jantung Kiya langsung berdetak tak karuan saat mendengar ucapan Evan. Dia tiba-tiba terdesak sampai terbatuk-batuk, Evan segera memanggil pelayan perempuan untuk membantu Kiya.


"Apa lo baik-baik aja? Apa makanannya gak enak? Atau gak sesuai sama selera lo?" tanya Evan khawatir sambil menatap pelayan tadi. Pelayan tadi langsung berkeringat dingin.


"Tidak. Aku tidak apa-apa. Aku hanya terkejut saja." jawab Kiya. Evan langsung menyuruh pelayan tadi untuk pergi.


"Lebih baik makan dulu, baru kita akan membahasnya."


Akhirnya mereka berdua pun makan dalam diam dengan di iringi lagu harmonis yang membuat hati menjadi tenang. Sementara di semak-semak tumbuhan yang di rawat, mereka semua memandangi kegiatan dinner Kiya dan Evan dari jauh. Syakirah yang dari tadi mengamati mereka berdua tidak sadar bahwa ada 4 orang lagi yang ada di sampingnya.


"Kayaknya gak berjalan terlalu lancar." ujar Roy. Syakirah langsung menoleh ke samping kanannya dan terkejut saat melihat Clara yang naik kursi roda.

__ADS_1


"Clara?! Lo kemana aja, Ra? Gue panik tau gak nyariin lo! Terus ini kenapa sama kaki lo? Kok bisa kayak gini?" tanya Syakirah panik, lalu dia melihat Roy. "Lo apain dia, Roy?" tanya Syakirah sinis sambil bersedekap.


"Ini bukan salah Roy kok, Ra. Justru Roy malah nolongin gue. Ceritanya panjang, Ra. Lain kali gue akan cerita semuanya ya?" jelas Clara agar Syakirah tidak menyalahkan Roy.


"Gue agak tenang kalau lo udah muncul. Awas aja lo kalau lo gak cerita!"


"Iya gue janji bakalan ceritain semuanya." Akhirnya Syakirah bisa bernafas lega saat melihat Clara lagi.


"Itu dinner ya namanya? Bukan seperti perang mata gitu ya?" ujar Aliya memastikan. Karena Evan dan Kiya sedang saling menatap seperti tatapan permusuhan.


"Udah, lo gak usah ngurusi hidup orang, biarin aja merekasa kayak gitu. Kita disini cuma buat memastikan keadaan aja." ujar Thomas. Aliya langsung mendengus kesal saat mendengar ucapan Thomas.


Kiya dan Evan saling menatap, Kiya menatap Evan dengan tatapan kebencian, sementara Evan menatap Kiya dengan tatapan lembut namun tajam.


"Kiki, gue suka sama lo." ujar Evan lagi. Kiya langsung menaruh garpu dan pisaunya, lalu dia menaruh kedua tangannya di kedua meja.


"Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan. Aku tidak menyukaimu dan kau sangat mencintai Syakirah, bukan aku." ujar Kiya serius.


"Itu dulu, sekarang beda lagi." ujar Evan.


"Tapi aku tidak menyukaimu."


"Lo gak perlu terlalu terburu-buru untuk memutuskan, masih ada satu tahun lagi untuk memutuskan. Gue suka sama lo, Kiki. Gue akan dapetin lo apapun itu caranya dan jangan pernah coba-coba untuk lari!" tegas Evan.


"Apa kau sudah gila?! Aku tidak menyukaimu dan aku juga mencintaimu. Cinta itu tidak bisa di paksa, Van. Aku ingin memilih lelaki yang aku cintai." ujar Kiya menjelaskan.


"Lebih baik di cintai dari pada mencintai. Apa lo gak bersyukur kalau gue suka sama lo? Gue gak minta lo buat jawab perasaan gue, gue ngomong tentang perasaan gue agar hati merasa lebih tenang dari sebelumnya." jelas Evan.


"Maaf, Van. Aku tidak bisa menerimamu meskipun satu tahun lagi."


"Kenapa? Apa karena Wahyu?" tanya Evan. Kiya langsung terkejut saat mendengar pertanyaan Evan.


"Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan Wahyu! Kau jangan membawa-bawa namanya soal hal ini! Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengannya! Aku punya alasan sendiri kenapa aku menolakmu!" jelas Kiya karena Evan tiba-tiba membawa nama Wahyu.


"Lalu apa? Beri aku satu alasan yang tepat dan kuat agar aku bisa menghargai keputusanmu itu." ujar Evan. Kiya langsung diam tidak berani menjawab, Kiya punya alasan sendiri kenapa dia menolak Evan. Dan alasan ini harus dia bicarakan dengan Syakirah dan juga kak Rahman, karena alasan Kiya tidak main-main.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2