Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Kiya, Syakirah dan Evan


__ADS_3

"Coba saja tanya kepada Kiya supaya kau tahu jawabannya." pesan Ahmad.


"Oke, aku akan bertanya jika bertemu dengannya." pesan Syakirah.


"Oke, sekarang tidurlah. Selamat malam." pesan Ahmad.


"Iya, too." pesan Syakirah.


Syakirah meletakkan hpnya dan berbaring di ranjangnya sambil menatap langit-langit kamarnya.


"Apa mungkin kak Kiya tidak mau menikah? Dia juga pasti kau menikah. Di dunia ini hanya orang gila yang tidak mau menikah." gumam Syakirah.


Flashback Off


Dan sekarang Syakirah merutuki kebodohannya karena sudah bertanya kepada kak Kiya tentang pernikahan, padahal Kiya juga tidak terlalu senang jika di tanya soal itu.


Setelah selesai berbelanja mereka berdua pulang. Saat sudah sampai di rumah, Syakirah meletakkan bahan-bahan yang dia beli tadi di kulkas. Syakirah berkutat dengan peralatan dapur, sementara Kiya melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


Tok... tok... tok...


Ada yang mengetuk pintu rumah, Kiya segera berdiri dan membuka pintu. Kiya menatap datar lelaki di depannya ini, entah tatapan apa yang di berikan Kiya kepadanya. Lelaki ini juga merasa was-was dan gelagapan. Kiya menutup pintu dan dia bersedekap dada di depan lelaki itu.


"Mau apa kau datang kesini?" tanya Kiya dengan nada datarnya.


"Gue mau cari Syakirah." jawab lelaki itu yang tak lain adalah Evan, sudah bisa di tebak dari gaya bicaranya.


"Syakirah sibuk, dia tidak bisa di ganggu." ujar Kiya.


"Gue mau ketemu sama dia." Evan tetap kukuh pada pendiriannya.


Yaelah, ngapain sih dia ada disini? Gue kira udah pulang tadi. Kalau kayak gini kan gue gak bisa mesra-mesra'an sama Syakirah.

__ADS_1


"Apa kau tidak mengerti arti kata sibuk? Apa aku perlu menjelaskannya kepadamu?" ujar Kiya.


"Gue yakin kok Syakirah mau ketemu sama gue meskipun dia sibuk. Coba deh tanya sama dia."


Kiya masuk ke dalam dan menutup pintunya kembali, meninggalkan Evan yang sedang mematung di depan pintu. Tak lama Kiya kembali dengan membawa Syakirah, Syakirah merasa was-was saat Kiya bilang kalau Evan mencarinya.


"Evan? Ada apa?" tanya Syakirah gagu berharap Evan kembali pulang dan tidak ada disini.


"Aku mau main lah, boleh kan?" ujar Evan sangat senang saat melihat Syakirah keluar. Syakirah melirik Kiya sekilas, wajahnya tidak berubah sama sekali, datar dan dingin.


Bagaimana ini? Evan lagian ngapain pakai kesini segala sih? batin Syakirah


"Ya udah, Van. Ayo masuk." akhirnya keputusan Syakirah adalah mengizinkan Evan masuk.


Andai ada Aliya, mungkin Evan akan di usir karena jika Syakirah yang mengusirnya sepertinya sangat tidak pantas, karena ini bukan rumahnya. Akhirnya Evan duduk di sofa single, Sementara Syakirah melanjutkan masaknya. Alhasil Evan dan Kiya hanya berdua di ruang tamu. Kiya memandangi laptop yang ada di depannya tanpa memperdulikan Evan, Evan sangat canggung sekali.


Ternyata Kiya pakai kacamata ya, wajar sih karena biasanya anak pesantren kan banyak yang pakai kacamata. batin Evan.


Kiya memang memakai kacamata tapi bukan kacamata untuk orang yang rabun, melainkan kacamata anti radiasi. Agar saat dia menatap layar hp atau laptopnya matanya tidak sakit.


Apa? Kiki? Namaku Kiya tahu! batin Kiya.


Kiya melepaskan kacamatanya dan menatap Evan dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.


"Apa? Kau memanggilku apa tadi?" tanya Kiya.


"Kiki." jawab Evan.


"Namaku Kiya bukan Kiki!" tegas Kiya.


"Sama aja menurut gue, apa lo mau gue panggil yaya kayak temannya boboiboy yang pakai jilbab itu? Kan sama kayak lo, sama pakai hijabnya, sama sifatnya kalau gak suka sama orang langsung nunjukkin, pura-pura baik padahal aslinya juga jahat. Sama kan kayak lo." celetuk Evan dengan bahagianya tanpa memikirkan Kiya.

__ADS_1


Taakkk.


Kiya meletakkan bulpoin yang dia pegang dengan sangat keras, Evan sampai tertegun dan gelagapan melihat reaksi Kiya. Kiya menatap Evan dengan raut wajah kebencian.


Gawat! Kayaknya gue udah membangunkan singa yang tidur. batin Evan gelagapan.


"Terserah kau mau memanggilku apa, aku tidak peduli! Tapi satu yang perlu kau tahu! Jangan berlagak sok dekat denganku, karena kita tidak sedekat itu! Dan satu lagi, jangan pernah mengajakku bicara jika tidak penting!" ujar Kiya. Evan hanya mempu menelan ludahnya dengan kasar.


"Gue pengen deket sama lo karena gue mau dapat restu da.... "


"Sampai kapanpun kau tidak akan pernah mendapatkan restu dariku! Kau termasuk dalam daftar orang yang pernah menyakiti Syakirah! Ingat itu baik-baik!" potong Kiya dengan tegasnya. "Dan juga yang kau butuhkan itu restu dari orang tuanya, bukan dariku! Kalau Syakirah memilihmu, aku akan mendukungnya tapi jika Syakirah tidak memilihmu, enyahlah kau dari hadapannya!" lanjut Kiya dengan sangat tegasnya


Evan tidak mampu untuk berkata lagi, lidahnya terasa kelu saat mau mengucapkan kata-katanya. Sepertinya Kiya memang memiliki sifat arogan, pikir Evan. Sementara Syakirah melihat perdebatan mereka berdua dari dapur. Syakirah mulai panik saat Evan memanggilnya dengan nama Kiki.


"Si Evan ngapain sih pakai ngomong kayak gitu? Masa iya dia belum tau sifatnya kak Kiya. Harusnya tadi gue nyuruh dia pulang bukan malah nyuruh dia masuk! Salah besar kayaknya gue ini." gumam-gumam Syakirah.


Kiya melanjutkan pekerjaannya yang tertunda gara-gara Evan, tugasnya menumpuk tapi masih belum selesai juga. Evan sendiri lebih memilih untuk melihat hpnya.


"Thom, selidiki tentang Kiya sepupunya Syakirah lebih lanjut. Cari informasi sampai ke akar-akarnya. Gue percaya sama lo untuk kali ini, gue yakin lo bisa." pesan Evan terkirim. Evan sangat tertarik dengan sikap dan sifat Kiya yang sangat dingin. Entah kenapa hatinya tiba-tiba berdetak sangat kencang jika dekat dengan Kiya dan rasa tertarik tiba-tiba muncul begitu saja.


Syakirah datang membawakan minum dan camilan, Syakirah duduk di pinggir Kiya yang sedang sibuk.


"Syaki, ayo menikah denganku!" ajak Evan dengan sangat bersemangat.


Duarr.


Tubuh Syakirah langsung menegang mendengar ucapan Evan, Kiya juga ikut menganga tak percaya dengan ucapan Evan.


"Apa?! Menikah?!" ujar Kiya dan Syakirah kompak. Evan hanya mengangguk dengan sangat senang. Kiya dan Syakirah saling tatap tak percaya.


Kemarin Ahmad, sekarang Evan. Sebenarnya apa yang terjadi dengan 2 orang ini sih? Aku sampai bingung sendiri. batin Syakirah.

__ADS_1


Terlihat dari wajah Evan kalau dia tidak main-main, apa jawaban Syakirah jika di tanya soal ini? Apa dia memilih Evan atau Ahmad? Mereka berdua memiliki karakteristik yang sedikit berbeda, selisih mereka adalah 50:50. Mereka sama-sama imbang. Jika Syakirah memilih Evan maka Ahmad akan sangat patah hati, mengingat perjuangan Ahmad menjemput Syakirah ke Bandung saja sudah tahu seberapa cinta dia dengan Syakirah. Tapi kalau Evan, aku lihat Syakirah menerima kehadirannya dengan tangan terbuka padahal dulu dia pernah di tinggal oleh Evan. Ini benar-benar sangat meresahkan. batin Kiya.


Bersambung......


__ADS_2