
Sudah satu minggu Syakirah di rawat di rumah sakit. Sebenarnya dia ingin pulang dua hari yang lalu dan minta di rawat di rumah, tapi orang tua Syakirah menolak, karena di rumah sakit lebih efektif.
Begitupun dengan Wahyu, dia selalu datang ke rumah sakit setiap waktu istirahat dan pulang kerja untuk melihat keadaan Syakirah.
Dan Kiya tidak bisa setiap hari menemani Syakirah karena harus mengajar. Meskipun Kiya berat untuk meninggalkan Syakirah yang sedang sakit, tapi Syakirah meyakinkan Kiya bahwa dia tidak apa-apa dan bila terjadi sesuatu ada suster yang menjaganya.
Ahmad hanya tiga hari menemani Syakirah di rumah sakit, karena dia harus menjemput kakaknya yang ada di Jawa Tengah. Syakirah pun memaklumi hal itu karena Syakirah sadar kalau dia bukan siapa-siapanya Ahmad. Dan Ahmad juga bilang kalau kakaknya akan menjenguk Syakirah nanti saat sudah sampai di rumah.
***
Syakirah sedang memainkan ponselnya. Dia melihat isi pesan yang ada di grupnya.
"Syakirah, apa keadaanmu sudah semakin membaik?" Rey.
"Aku sudah tidak apa-apa Rey. Jangan khawatir begitu!" Syakirah.
"Kau selalu bilang tidak apa-apa Syakirah, padahal kau sendiri juga tidak baik-baik saja." Wahyu.
"Haha. Jangan begitu Wahyu! Aku sudah tidak apa-apa. Kata Dokter, jika tiga hari ini aku tidak mengalami sakit perut lagi, aku sudah di perbolehkan untuk pulang." Syakirah.
"Benarkah? Syukurlah kalau kau cepat pulang. Kau tahu aku tidak tahan dengan sikap Wahyu, dia selalu menanyakan keadaanmu pada kita, apalagi saat dia lupa membawa ponselnya, dia selalu menanyakan keadaanmu. Aku sampai pusing sendiri." Ryan.
"Hah! Benarkah seperti itu? Aku pikir Wahyu bukan orang seperti itu. Syakirah.
"Syakirah percayalah kepada kami. Kau kan tidak tahu karena kau ada di rumah sakit sementara kami ada di pabrik." Navile.
"Haha. Iya ya aku lupa." Syakirah.
"Kenapa kalian malah berbicara tentang diriku?" Wahyu.
"Hei, apa yang kami ucapkan itu benar!" Ryan.
"Ah, sudahlah. Percuma berdebat dengan kalian. Syakirah, Apa kau ingin sesuatu? aku bisa membawakannya saat pulang kerja nanti." Wahyu.
"Tuh kan mulai lagi!" Navile.
"Aku tidak berbicara padamu, aku sedang berbicara kepada Syakirah!" Wahyu.
"Terserah dirimu saja!" Navile.
"Haha. Kalian lucu sekali ya. Wahyu kau tidak perlu repot-repot membawakanku makanan. Kau datang saja aku sudah senang." Syakirah.
"Tetap saja, aku akan membawakan mu makanan. Nanti coba aku lihat-lihat di jalan!" Wahyu.
"Ya sudah, terserah dirimu saja!" Syakirah.
Setelah berbalas pesan dengan teman-temannya, tak lama ada yang mengetuk pintu ruang rawatnya. Syakirah merasa bingung karena jam masih menunjukkan pukul sepuluh siang dan juga tidak mungkin Kiya datang kesini karena masih ada jam pelajaran untuknya.
__ADS_1
Syakirah pun menyuruh orang tersebut untuk masuk. Saat Syakirah melihat orang tersebut, dia begitu terkejut. Orang itu adalah kak Rani.
Kak Rani adalah kakak Ahmad yang ke empat. Kak Rani jarang ada di rumah karena dia sekolah di Jawa Tengah.
"Kak Rani! Kenapa kakak datang kesini? Bukankah kakak ada di Jawa Tengah?" tanya Syakirah kepada kak Rani.
"Hm? Kenapa kamu terkejut begitu Syakirah? Apa Ahmad tidak memberitahumu kalau dia menjemputku? Apa kau tidak senang kalau aku datang kesini?" kak Rani.
"Dia memberitahu ku kak! Aku pikir kakak tidak akan datang ke sini karena lelah. Aku sangat senang kakak datang kesini. Maaf, aku hanya terkejut." Syakirah.
"Mana mungkin aku tidak menjenguk adik ipar ku yang sedang sakit ini." ujar kak Rani kepada Syakirah.
Jujur Syakirah merasa tidak nyaman dengan sebutan yang di berikan kak Rani padanya. Pasalnya dia sudah bukan siapa-siapa lagi, tapi kak Rani selalu menyebutnya dengan sebutan itu. Kalau Syakirah menentangnya, kak Rani akan marah, daripada kak Rani marah lebih baik dia diam saja.
"Bagaimana keadaanmu apakah sudah lebih baik?" tanya kak Rani kepada Syakirah.
"Iya, Kak. Aku sudah lebih baik. Dokter bilang kalau aku tidak sakit perut lagi aku akan di izinkan untuk pulang kak." jawab Syakirah.
"Alhamdulillah kalau begitu. Maaf ya kakak baru bisa berkunjung kemari."
"Tidak apa-apa kak. Aku sudah senang kalau kakak mengirimkan pesan untukku, apalagi kakak datang kesini, aku sungguh sangat senang."
"Hmm.... Oh iya Syakirah, ngomong-ngomong apa tidak ada yang menemanimu disini?"
"Sebenarnya ada kak, hanya saja mereka sedang sibuk. Mungkin nanti kalau pukul 12 siang mereka akan datang. Biasanya ada ibu disini, tapi ibu harus mengurus adikku yang sedang sekolah. Kalau ayah, dia sedang bekerja dan kak Kiya sedang mengajar. Jadi untuk pagi sampai siang aku hanya sendirian disini."
"Memangnya kakak mau tanya apa? kalau mau tanya, ya tanya saja."
"Kau boleh tidak menjawabnya jika kau merasa tidak nyaman."
"Iya kak."
"Apakah kau masih mencintai adikku Syakirah?Adikku Ahmad. Apakah kau masih mencintainya?"
Syakirah terkejut dengan pertanyaan dari kak Rani. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan kak Rani, karena dia tidak yakin dengan hal itu.
"Kenapa kakak bertanya seperti itu? aku tidak mengkin masih mencintai Ahmad. Ahmad kan juga sudah mempunyai kekasih, kenapa aku harus menyukainya?" jawab Syakirah gugup.
Kak Rani sungguh terkejut dengan jawaban Syakirah. Sebenarnya dia ingin sekali Syakirah menjadi adik iparnya, tapi Ahmad malah menjalin hubungan dengan Hanifa. Mendengar hubungan Ahmad dan Hanifa, kak Rani sungguh tidak percaya, dia kecewa sekali kepada Ahmad.
"Jadi kau tidak mencintai Ahmad?" tanya kak Rani lagi. Syakirah hanya menggelengkan kepalanya.
"Kak, maafkan aku. Ahmad tidak mencintaiku begitupun sebaliknya. Kami tidak saling mencintai. Kakak bisa menganggapku adik kandung kakak sendiri kalau kakak mau."
"Tapi bagaimana kalau Ahmad masih mencintaimu Syakirah? Bagaimana kalau dia masih mengharapkan mu?"
"Kak, aku tidak tahu perasaan Ahmad kepada ku. Kita boleh menebak tapi kita tidak tahu apa yang sebenarnya."
__ADS_1
Kak Rani sungguh sangat mengimpikan Syakirah untuk menjadi adik iparnya. Dia tidak rela jika adik satu-satunya menikah dengan wanita ular itu.
Aku tidak akan membiarkan Hanifa menikah dengan Ahmad. Bagaimanapun caranya Syakirah harus menikah dengan Ahmad! Syakirah kak Rani akan berusaha untuk menyatukan dirimu dengan Ahmad. Kakak tidak rela Syakirah. Kakak tidak rela, kalau kau menjadi milik orang lain! ujar kak Rani dalam hati.
Ya Allah, kenapa sesakit ini untuk menyembunyikan perasaan ku? ujar Syakirah dalam hati.
"Maaf kalau kau tersinggung dengan pertanyaan kakak, Syakirah." kak Rani.
"Tidak kak, aku tidak merasa tersinggung. Bukankah itu wajar kalau kakak bertanya seperti itu."
Kak Rani hanya tersenyum menanggapi ucapan Syakirah. Sementara di balik pintu mereka, Ahmad sedang mendengarkan pembicaraan dua wanita itu. Dia mendengarkan dengan seksama. Dia juga merasakan perih di dadanya saat Syakirah bilang kalau Syakirah tidak mencintainya.
Syakirah apa yang kau ucapkan itu benar atau hanya alasan mu saja, agar perasaanmu tidak diketahui oleh orang lain, kecuali sahabatmu sendiri? ujar Ahmad dalam hati.
***
Kak Rani berpamitan kepada Syakirah untuk pulang, karena dia harus membereskan barang-barangnya. Syakirah pun tidak keberatan akan hal itu dan mengucapkan terima kasih karena sudah menyempatkan untuk datang kemari.
Kak Rani juga sudah di jemput oleh Ahmad sepuluh menit yang lalu, padahal sebenarnya Ahmad sudah sampai satu jam yang lalu.
Kak Rani sudah keluar dari ruang rawat Syakirah.
Kak Rani apa yang akan kakak lakukan? Aku tahu kakak menginginkan aku untuk menjadi adik ipar kakak, tapi adik kandung kakak tidak mencintai ku dan aku hanya bisa berdoa untuk hal itu. ujar Syakirah dalam hati.
Syakirah beristirahat, karena dia merasa pusing memikirkan hal yang di bicarakan kak Rani tadi.
Sementara di sisi lain, Ahmad sedang termenung di dalam mobilnya. Dia memikirkan apa yang diucapkan Syakirah tadi.
"Ahmad, kakak tidak mau tahu, pokoknya kamu harus menikah dengan Syakirah. Dia itu gadis baik, dia juga cantik, dia juga lebih cantik dari Hanifa, lebih tinggi dari Hanifa." ujar kak Rani ketus.
"Aku akan mendukung penuh usaha kak Rani." jawab Ahmad.
"Apa! Kamu mendukung usaha kakak?" tanya kak Rani tak percaya.
"Ya, aku akan mendukung kakak. Kalau boleh jujur, aku masih mencintai Syakirah kak. Sangat mencintai Syakirah. Kakak harus membuat aku dan Syakirah bersatu!"
"Kalau kau masih mencintai Syakirah, kenapa kau masih menjalin hubungan dengan wanita ular itu, bodoh!"
"Hanifa hanya aku jadikan pelampiasan ku saja. Lagi pula jika aku mengakhiri hubunganku dengan Hanifa, yang ada Syakirah akan celaka. Hanifa pasti berfikir kalau Syakirah lah yang membuat hubungannya dengan ku berakhir."
"Ya sudah, kalau begitu. Kalau seperti ini kakak akan lebih mudah untuk menyakinkan Syakirah. Pokoknya kau harus menikah dan menjalin rumah tangga dengan Syakirah seumur hidup! "
"Tentu saja. Aku akan sangat senang kalau aku berumah tangga dengan Syakirah."
Mereka menghabiskan perjalanan mereka dengan membicarakan Syakirah. Bahkan sampai rumah mereka tidak habis-habis membahas Syakirah, sampai orang tua mereka pusing sendiri.
Dasar adik dan kakak yang sama-sama keras kepala.
__ADS_1
Bersambung......