
Pagi ini mereka bertiga sudah bersiap-siap untuk berlibur. Jam masih menunjukkan pukul enam pagi, tapi Abel sudah bersemangat sekali.
"Baiklah, ayo teman-teman jangan malas!" Abel sangat bersemangat, sementara Syakirah dan Kiya hanya memalingkan wajah malas.
"Abel ini masih jam enam pagi. Apa kau tidak tahu?" Kiya bertanya pada Abel untuk memastikan.
"Memang, tapi perjalanan kita akan sangat lama karena aku ingin mengunjungi tempat-tempat bersama kalian. Paling kita akan pulang malam. Jadi kalian bersiap-siap saja!" Abel.
"Apa!" Kiya dan Syakirah menganga tak percaya dengan Abel. Memangnya Abel mau mengajak mereka kemana sampai pulang malam?
"Sudah, kalian cepatlah mandi dan segera bersiap-siap!" Abel.
Syakirah segera masuk ke kamar mandi, sementara Kiya sedang menunggu Syakirah, tidak mungkin juga mereka akan mandi bersama.
***
Mereka sudah bersiap dengan pakaian mereka. Syakirah dengan celana jeans dan kemeja berwarna putih, dan jangan lupakan juga kerudungnya yang berwarna putih, seperti hatinya. Sementara Kiya dengan gamis berwarna merah darah dan kerudung panjangnya yang berwarna hitam. Kiya memang suka sekali warna yang gelap. Dan, Abel dengan gamis berwarna merah muda yang cukup terang dan kerudung yang senada dengan gamisnya.
Kalau kalian bertanya kenapa Syakirah memakai celana jeans? Mengapa tidak memakai gamis seperti Kiya dan Abel? Itu karena Syakirah tidak terlalu suka memakai gamis saat sedang liburan seperti ini dan biasanya dia akan menyamakan tempat tujuannya dengan pakaiannya.
Mereka bertiga sudah ada dimobil dan bersiap untuk memulai perjalanan mereka.
"Huh! Syakirah pakaianmu mencolok sekali!" Abel berkomentar.
"Kau bilang kita mau berjalan-jalan dan pulang malam bukan? Jadi aku memakai celana supaya aku tidak terlalu susah untuk menyetir dan berjalan-jalan. Jangan salahkan aku mengapa aku memakai pakaian seperti ini, itu karena dirimu yang bilang kalau kita akan pulang malam!" Syakirah menuntut Abel.
"Ya kau benar, kita akan pulang malam. Aku juga tidak menyalahkanmu juga kok." Abel.
"Kalau begitu diamlah dan beritahu Syakirah kita mau pergi kemana!" ujar Kiya kesal.
"Iya iya. Pertama kita akan cari makan dulu. Aku punya langganan warung sate yang enak disini." Syakirah menuruti keinginan Abel untuk mencari warung sate langganannya.
__ADS_1
Mereka berhenti di warung sate pinggir jalan yang cukup ramai. Padahal ini masih pagi tapi ada penjual sate yang buka di jam segini.
"Penjual sate ini memang buka jam enam pagi sampai jam sembilan malam, jadi kalian tidak perlu heran." ujar Abel yang seolah-olah tahu isi pikiran Kiya dan Syakirah. Mereka berdua hanya mengangguk saja menanggapi ucapan Abel.
Setelah itu, mereka mencari tempat duduk dan memanggil penjual sate tadi. Abel berbicara bahasa Madura kepada penjual tadi, karena Syakirah dan Kiya tidak mengerti bahasa Madura jadi mereka diam saja. Setelah mencatat pesanan mereka, penjual tadi kembali untuk mempersiapkan pesanan mereka.
"Apakah kalian masih tidak tahu bahasa Madura? Padahal kalian sudah pernah aku ajari." Abel.
"Iya, kami masih tidak bisa." Syakirah menjawab. Abel hanya mengangguk saja.
"Syakirah, bagaimana keadaan lelaki br*ngs*k itu?" Syakirah yang mendengar pertanyaan Abel langsung menghentikan kegiatan memainkan ponselnya.
"Kenapa kau bertanya padaku? Memangnya aku siapanya, sampai aku tahu keadaannya?" jawab Syakirah ketus.
"Jangan ketus begitu. Aku kan hanya bertanya saja." Syakirah tak menggubris ucapan Abel.
"Bagaimana bisa wanita cantik dan baik sepertimu di permainkan oleh lelaki br*ngs*k seperti dia?" Abel.
"Abel!" Kiya.
"Iya iya. Aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk menyakiti perasaanmu." Abel. Syakirah hanya menghela nafas lelah. Setelah itu, pesanan mereka sampai dan mereka memakan makanan mereka masing-masing.
Mereka bertiga sudah masuk ke dalam mobil dan bersiap-siap untuk memulai perjalanan mereka.
"Kita mau kemana Bel?" tanya Syakirah kepada Abel sebelum dia menancapkan gasnya.
"Sebenarnya aku ingin pergi ke Bukit Tinggi Daramista, tapi apakah kau mau Syakirah?"
Syakirah seketika murung mendengar permintaan Abel tadi. Bukannya dia tidak mau kesana tapi jika dia pergi kesana, maka dia akan mengingat masa lalunya saat Ahmad mengungkapkan perasaannya.
"Maaf ya Bel, sepertinya aku tidak bisa kesana. Meskipun aku berusaha untuk melupakannya tapi aku tetap tidak bisa. Aku pernah kesana sendirian untuk mencoba apakah perasaanku kuat atau tidak, tapi kenyataannya aku tidak bisa. Aku... tidak ingin mengingat masa laluku." ujar Syakirah tersenyum sambil mengingat masa lalunya.
__ADS_1
"Apa! Jadi kau pernah ke Madura saat kau sudah putus dengan Ahmad?" Abel.
"Iya, waktu itu kalian masih belum pulang dari pesantren. Aku memberitahu kak Kiya kalau aku pergi kesana, tapi aku melarang kak Kiya untuk memberitahumu." Syakirah. Kiya merasa prihatin melihat Syakirah tapi dia diam saja.
"Oh begitu ya, maaf ya." Abel.
"Tidak apa-apa." Syakirah.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi ke Mall saja? Kita ke Mall Bangkalan Plaza saja, lagipula kita tidak pernah kesana. Bagaimana?" Abel.
"Baiklah, kita kesana saja." Syakirah.
Akhirnya, mereka memulai perjalanan mereka dengan canda dan tawa. Abel sering melontarkan candaan kepada Syakirah, yang membuat Syakirah tertawa.
***
Sekitar dua jam perjalanan mereka untuk pergi ke Mall Bangkalan Plaza, dan akhirnya mereka sampai. Mereka turun dari mobil mereka dan menuju ke Mall tersebut.
Mereka berjalan-jalan ke Mall, sesekali Syakirah melihat accessoris yang terlihat unik baginya. Mereka berhenti di toko baju perempuan. Mereka melihat-lihat baju yang ada di toko tersebut.
Bajunya bagus-bagus, tapi apakah kak Kiya akan memakai baju seperti ini? ujar Syakirah dalam hati.
Kiya begitu sangat antusias melihat baju-baju tersebut, tapi sesekali dia berfikir apakah dia pantas memakai baju seperti ini?
"Kak, belilah satu atau dua baju seperti ini. Pakai saat di rumah saja. Aku tahu kakak sangat suka dengan baju seperti ini, jadi tidak ada salahnya membeli baju seperti ini. Kakak juga bisa memakai rok panjang juga saat memakai baju seperti ini." ujar Syakirah menyarankan Kiya.
Kiya terlihat berfikir dengan ucapan Syakirah tadi. Tiba-tiba saja Abel menepuk pelan bahu Kiya, yang membuat Kiya terkejut.
"Itu benar, tidak ada salahnya beli baju seperti ini. Lagi pula bajunya juga tertutup dan juga lengan panjang bukan?" tambah Abel.
Kiya terlihat berfikir sebentar untuk mempertimbangkan saran dari Syakirah dan juga Abel.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan membeli dua baju ini saja." ujar Kiya memutuskan. Syakirah dan Abel tersenyum menanggapi ucapan Kiya. Akhirnya Kiya membeli dua baju yang ukurannya sedikit besar dari tubuhnya, agar dia tidak memperlihatkan bentuk tubuhnya saat memakai baju tadi.
Bersambung......