Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Menulis surat


__ADS_3

"Iya, Waalaikumsalam." Evan dan Syakirah.


Syakirah mengantarkan Kiya sampai ke halaman saja, setelah itu Kiya pergi berjalan sendirian untuk ke jalan raya. Padahal tadi Syakirah sudah menawarinya tapi Kiya menolak. Syakirah yang melihat kakaknya seperti itu jadi bingung 3 kali lipat.


Sementara Kiya sedang berlari ke sebuah caffe XX, dia tadi mendapatkan pesan agar segera kesana dan menemui seseorang. Kiya langsung duduk di kursi meja orang tersebut. Orang itu tersenyum melihat Kiya.


"Maaf, kalau aku mengganggumu." ujar orang itu.


"Jika ini penting kau tidak menggangguku. Katakan apa yang kau mau, Hanifa?" ujar Kiya.


Ya, orang yang menyuruh Kiya untuk menemuinya adalah Hanifa. Sudah lama juga Kiya tidak mendengarkan kabar tentang wanita yang ada di depannya ini. Hanifa menghilang bagai di telan bumi setelah putus dari Ahmad. Dan sekarang dia muncul di hadapan Kiya. Hanifa juga sudah putus kontak dengan teman-temannya, Kiya sendiri juga terkejut saat mengetahui nomor yang tidak di kenal adalah nomor Hanifa.


"Kurang beberapa hari lagi adalah ulang tahun Ahmad dan setelah Ahmad adalah Syakirah kan?


Deg.


Ah iya, kenapa bisa aku lupa hal ini? Aku terlalu banyak pekerjaaan. batin Kiya.


Kiya hampir lupa dengan ulang tahun Ahmad dan Syakirah, untung saja Hanifa mengingatkannya, jika tidak mungkin Kiya akan lupa sampai ulang tahun mereka.


"Iya, memangnya kenapa?" tanya Kiya.


Hanifa mengambil 2 bungkus totebag yang besar dari bawah meja, dia memberikannya kepada Kiya. Kiya mengerutkan keningnya bingung.


"Aku ingin kau berikan ini kepada mereka. Yang warna hitam milik Ahmad, yang warna putih milik Syakirah. Kau mau kan?" ujar Hanifa.


"Kenapa kau menyuruhku? Kenapa kau tidak memberikannya langsung kepada mereka?" tanya Kiya. Seketika wajah Hanifa langsung sedih tapi tidak lama dia tersenyum.

__ADS_1


"Aku tidak mau bertemu mereka sebelum aku mendapatkan pasangan." jawab Hanifa.


"Apa? Apa hubunganya ulang tahun mereka dengan pasangan?" tanya Kiya bingung.


"Aku masih belum ada keberanian untuk bertemu mereka. Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak bertemu dengan mereka sebelum aku mendapatkan pasangan. Aku juga sudah berjanji kalau aku akan menampakkan diriku saat penyebaran undangan dan pernikahanku. Kau tahu kan kenapa aku begitu? Oleh sebab itu aku tidak perlu menjelaskannya kepadamu lagi." jawab Hanifa.


"Turunkan sedikit ego dan malumu itu. Kau itu masa lalu, ini semua juga tidak ada hubungannya dengan masa lalu." ujar Kiya.


"Aku tidak bisa, aku tidak bisa jika melihat orang yang aku cintai lagi. Aku masih menyimpan perasaan kepada Ahmad, jika aku bertemu dengannya maka usahaku selama ini akan hancur dan usahaku akan sia-sia saja." jelas Hanifa.


Hanifa sudah belajar untuk move on kepada Ahmad, dia selalu mencari kesibukan dari pagi sampai malam agar dia tidak terus memikirkan Ahmad. Yang awalnya pengangguran menjadi pekerja keras. Jika Hanifa bertemu dengan Ahmad lagi, tembok yang dia bangun akan runtuh dan sia-sia saja usahanya selama ini.


"Ada baiknya kau memberikannya langsung kepada mereka, supaya mereka bisa mengerti."


"Aku tidak bisa." ujar Hanifa yang sudah menetes air matinya, Kiya merasa sedih melihat Hanifa yang seperti ini tapi Kiya sendiri juga tidak bisa melakukan apa-apa. "Aku mohon, Kiya. Bantu aku kali ini saja. Jika aku bertemu dengan Ahmad dan egoku kembali lagi, maka aku akan menyakiti hati Syakirah. Ku mohon, Kiya. Kali ini saja." lanjut Hanifa dengan air mata yang berderai.


"Tulis surat untuk mereka berdua, supaya mereka tahu kalau ini darimu." ujar Kiya.


"Aku tidak tahu harus menulis apa, Kiya." ujar Hanifa.


"Tulis saja sesuai dengan keinginan hatimu. Turuti kemauan isi hatimu, bukan isi otakmu. Jika kau menulis isi otakmu sama saja kau dengan berbohong. Tulis yang ada di hatimu sekarang, jangan tulis apa yang ada di otakmu. Karena terkadang hati dan otak tidak sejalan." jelas Kiya.


Hanifa mengambil note book dan bulpoin itu, lalu dia berfikir untuk menulis. Hanifa melihat sekeliling berharap ada ide tapi tidak. Hingga 10 menit kemudian Hanifa masih belum menulis satu kata sama sekali.


"Ck! Apa kau benar-benar tidak tahu dengan isi hatimu, Hanifa? Sepertinya hatimu benar-benar kosong ya." Kiya mulai kesal karena Hanifa tidak kunjung menulis.


"Jika aku menulis isi hatiku akan ada banyak kata-kata." ujar Hanifa.

__ADS_1


"Tulis saja. Kau tidak perlu khawatir jika note book itu sudah habis, aku bisa membelinya lagi." ujar Kiya yang masih kesal. Note book Kiya sangat tebal, tidak mungkin juga Hanifa menghabiskan note book itu.


Karena Kiya sudah menyuruh seperti itu akhirnya Hanifa bisa menulis, tapi tentu saja dengan perasaan campur aduk. Hanifa menulis, menulis dan menulis. Kiya yang melihat Hanifa seperti itu merasa kagum.


Sesekali berkorbanlah sedikit, sudah ada banyak orang yang berkorban demi dirimu, aku dan Syakirah saja juga ikut berkorban. Sekarang giliranmu, kau itu wanita tangguh, aku yakin kau pasti bisa. batin Kiya.


Karena melihat Hanifa yang sibuk menulis surat, akhirnya Kiya juga sibuk dengan nilai murid-muridnya. Kiya mengeluarkan laptopnya dan mulai mengetik nilai.


Sekitar 30 menit, Hanifa akhirnya sudah selesai menulis suratnya. Hanifa membaca surat-suratnya lagi, barang kali ada yang keliru.


"Ini." Hanifa menyerahkan kertas itu kepada Kiya, Kiya mengambilnya dan melipat-lipat kertas itu.


"Itu untuk Syakirah saja." ujar Hanifa. Kiya sangat terkejut saat mendengar ucapan Hanifa, ada 5 kertas dan semuanya juga penuh depan belakang. Dan Hanifa bilang kalau ini hanya untuk Syakirah saja. Kiya hanya menghela nafas saja tanpa banyak bicara.


"Iya, aku mengerti." ujar Kiya. Kiya mengambil amplop karakter di dalam tasnya, ini sudah menjadi kebiasaan Kiya untuk membawa note book dan amplop karakter itu.


"Aku sudah memasukkannya ke dalam amplop dan totebag yang berwarna putih. Apa kau tidak mau menulis surat untuk Ahmad juga?" ujar Kiya.


"Apa boleh memangnya?" tanya Hanifa ragu.


"Siapa memangnya yang melarang? Tidak ada yang melarangmu untuk menulis surat buat Ahmad." ujar Kiya.


"Lalu bagaimana dengan Syakirah?" tanya Hanifa lagi.


"Mereka berdua tidak ada hubungan apa-apa, tapi mereka juga sudah sangat dekat." jawab Kiya.


Karena tidak ada yang melarangnya akhirnya Hanifa menulis surat juga untuk Ahmad. Hanifa mencoba untuk menulis isi hatinya sesuai dengan apa yang Kiya suruh tadi. Ada banyak kata-kata di hati Hanifa untuk Ahmad. Kiya bilang tidak apa-apa kalau menghabiskan note booknya kan? Jadi Hanifa akan menulis sesuai dengan isi hatinya, tidak peduli akan habis berapa lembar nanti.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2