Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Meminta izin


__ADS_3

Syakirah sedang makan malam bersama ayah, ibu dan adiknya. Dia berniat untuk meminta izin kepada orang tuanya saat selesai makan malam. Saat selesai makan Syakirah meminta izin kepada ayahnya untuk ke Madura.


"Yah, apa boleh Syakirah pergi ke rumah Abel?" tanya Syakirah kepada ayahnya.


"Rumah Abel? Memangnya rumah Abel ada dimana?" tanya ayah Syakirah balik. Syakirah gugup untuk mengatakan kalau rumah Abel jauh dari rumahnya, tapi bagaimanapun dia harus bicara dengan ayahnya karena dia sangat rindu dengan Abel dan juga ingin liburan.


"Rumah Abel ada di Madura yah." jawab Syakirah gugup.


"Di madura! Syakirah kamu tahu madura itu jauh, kamu bahkan baru saja keluar dari rumah sakit." ayah Syakirah.


"Syakirah tahu yah, tapi Syakirah sudah lama tidak ke rumah Abel. Lagi pula Syakirah juga sudah lama sekali tidak liburan, terakhir kali Syakirah liburan saat lulusan SMP setelah itu Syakirah tidak liburan sama sekali yah. Syakirah mohon yah!" Syakirah.


"Syakirah, apa yang dikatakan ayahmu itu benar nak. Kamu baru saja keluar dari rumah sakit, kondisimu juga belum pulih sepenuhnya. Kamu juga harus rutin untuk kontrol ke rumah sakit." ibu Syakirah.


"Syakirah tahu bu, tapi Syakirah sudah baik-baik saja sekarang. Syakirah juga bisa kontrol di rumah sakit lain kan, asalkan Syakirah membawa surat keterangan dari Dokter." Syakirah.


"Syakirah, kami sangat khawatir dengan keadaanmu sekarang nak. Tolong mengertilah!" ayah Syakirah.


Syakirah tidak berhenti memohon kepada ayah dan ibunya. Ayah Syakirah juga merasa bersalah kepada Syakirah, karena semenjak Syakirah menginjak umur enam belas tahun, ayah Syakirah tidak pernah mengajak Syakirah berlibur sama sekali, bukan tidak ada biaya tapi ayah Syakirah sibuk dengan urusan pribadinya.


"Syakirah janji, Syakirah akan rutin kontrol saat ada di Madura. Syakirah juga janji akan menjaga pola makan Syakirah!" Syakirah memohon kepada kedua orang tuanya.


Ayah Syakirah terlihat sangat berfikir, dia takut kalau Syakirah akan sakit lagi. Sekitar lima belas menit berlalu, ayah Syakirah memutuskan Syakirah untuk pergi ke Madura, tapi tidak boleh lebih dari empat hari.


"Baiklah, ayah mengizinkanmu untuk pergi ke madura, tapi dengan syarat kamu harus pulang setelah berada empat hari disana dan juga kamu harus kontrol disana!" ayah Syakirah.


"Iya, yah. Syakirah akan mengingat syarat dari ayah. Makasih yah." Syakirah.


Ibu Syakirah hanya menghela nafas lelah. Dia akan mendukung keputusan ayah Syakirah karena Ibu Syakirah yakin, kalau keputusan yang di berikan ayah Syakirah adalah keputusan yang terbaik.


Syakirah bergegas ke kamarnya untuk memberi tahu Kiya bahwa dia di izinkan untuk pergi ke madura.


Sementara Kiya sendiri sedang berdebat dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Ayah, Kiya itu sudah lama tidak liburan bersama Syakirah. Anggap saja ini seperti liburan yah!" Kiya.


"Kiya, apa kamu tidak tahu? Syakirah baru saja pulang dari rumah sakit dan kamu malah mengajak Syakirah untuk pergi ke Madura. Kamu tahu Madura itu sangat jauh, perjalanan ke sana membutuhkan waktu delapan jam dari sini. Apa kamu tidak kasihan dengan Syakirah?" ayah Kiya.


"Kiya tahu yah, tapi Syakirah yang mengajak duluan. Kalau seandainya terjadi apa-apa kepada Syakirah saat di Madura , Kiya janji akan bertanggung jawab atas hal itu!" Kiya.


"Kiya, berhentilah memaksa ayah untuk mengizinkanmu pergi ke Madura!" jawab kak Rahman.


Kak Rahman adalah kakak kandung dari Kiya. Jarak umur antara Rahman dan Kiya adalah tiga tahun. Rahman memiliki dua adik perempuan, yaitu Kiya dan Aisyah. Rahman bekerja sebagai karyawan pabrik di Surabaya. Dia jarang pulang ke rumah karena jarak rumah dan tempat dia bekerja lumayan jauh. Dia pulang sebulan sekali untuk memberi ibunya uang, setelah itu dia akan kembali lagi ke Surabaya.


"Kenapa kakak ikut campur? Ini urusanku! Kakak selalu diizinkan kemanapun kakak pergi sementara aku tidak. Harus meminta izin dulu lah, begini lah. Kenapa kak Rahman selalu di izinkan kemanapun dia pergi yah?" Kiya.


"Hei Kiya, kau itu perempuan! Apa kau lupa apa yang diajarkan ustadz dan ustadzah kita saat di pesantren?" kak Rahman.


"Aku masih ingat, tapi aku tidak terima kalau kakak selalu mendapat izin dari ayah, sementara aku tidak." Kiya.


"Kau sangat keras kepala Kiya." kak Rahman.


"Kau juga." Kiya.


Ayah Kiya terlihat berfikir, dia bingung harus bagaimana. Dia berada di posisi yang salah. Kalau dia mengizinkan Kiya untuk pergi ke Madura, dia takut akan terjadi sesuatu kepada Kiya dan Syakirah, terlebih lagi Syakirah juga baru pulang dari rumah sakit. Tapi, jika dia tidak mengizinkan Kiya untuk ke Madura, Kiya akan terus memberontak dan akan marah kepadanya. Dia juga berasa bersalah kepada Kiya karena tidak bersikap adil kepadanya dan Rahman.


"Baiklah, ayah mengizinkanmu untuk pergi ke Madura. Tapi, kamu harus menjaga dirimu dan Syakirah dengan baik! Ayah tidak mau terjadi apa-apa kepada kalian. Kamu mengerti Kiya?" ayah Kiya.


"Ayah!" jawab Rahman tak terima.


"Makasih yah. Kiya janji akan menjaga diri baik-baik." jawab Kiya senang. Kiya beranjak dari duduknya untuk pergi ke kamar dan memberitahu Syakirah. Saat dia sudah melangkah tiga langkah, dia berbalik dan menatap kakaknya.


"Mmweeek." Kiya mengolok kakaknya dengan memeletkan lidahnya dan mata juling. Rahman tentu saja tidak terima dan berniat untuk mengejar Kiya, tapi Kiya sudah mengunci pintu kamarnya. Rahman hanya mendengus kesal.


Setelah mengunci pintu kamarnya dan memastikan kalau kakaknya tidak akan masuk. Kiya mengambil ponselnya untuk membalas pesan dari Syakirah.


"Syakirah, aku sudah mendapat Izin dari ayahku." Kiya.

__ADS_1


"Wah, aku juga sudah mendapatkan izin dari ayahku, tapi dengan syarat aku harus berada disana empat hari saja, tidak boleh lebih dan juga harus kontrol disana." Syakirah.


"Tidak apa-apa. Empat hari itu sudah lebih dari cukup untuk kita. Bagaimana kalau lusa kita berangkat? Besok kita harus membereskan pakaian dan perlengkapan kita dulu." Kiya.


"Iya, kita berangkat lusa saja." Syakirah.


"Ya sudah, kita tidur dulu besok kita harus bersiap-siap untuk ke Madura." to Syakirah.


"Iya kak." to Kiya.


Setelah berbalas pesan dengan Syakirah. Kiya mengirimkan pesan kepada Abel untuk memberitahunya bahwa lusa mereka akan kesana.


"Assalamualaikum Bel." Kiya.


"Waalaikumsalam. Ada apa tumben malam-malam ngirim pesan?" Abel.


"Aku cuma mau kasih tahu, kalau lusa aku dan Syakirah akan datang ke rumahmu." Kiya.


"Serius?" Abel.


"Ya, serius lah. Aku tidak mungkin berbohong kan?" Kiya.


"Wah, aku senang sekali. Ya sudah lusa aku tunggu ya." Abel.


"Iya, siapkan makanan yang banyak ya!" Kiya.


"Siap." Abel.


"Kalau begitu, aku mau tidur dulu ya. Wassalamualaikum." Kiya.


"Waalaikumsalam." Abel.


Setelah berbalas pesan dengan Abel, Kiya mematikan ponselnya dan bergegas untuk tidur.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2