
"Huh! Ck! Tanganku rasanya mau putus!" aduh Ryan.
"Memangnya kalian tadi di hukum apa sama bu Ariana?" tanya Syakirah.
"Membersihkan toilet wanita!" jawab mereka bertiga kompak dengan nada yang emosi.
Syakirah dan Wahyu menahan tawa mereka mendengar jawaban dari mereka. Harusnya mereka di beri hukuman membersihkan toilet lelaki, tapi ini di beri hukuman membersihkan toilet wanita.
"Kau tahu tidak? Banyak sekali wanita yang memandangi kita bertiga tadi. Aku benar-benar kesal sekali. Lagi pula kenapa bu Ariana menghukum kita dengan cara seperti itu. Kalau mau membersihkan toilet setidaknya toilet laki-laki bukan toilet perempuan!" ujar Navile dengan sangat kesal sekali.
"Salahmu sendiri. Kau juga kenapa membuat masalah di pabrik?" ujar Syakirah.
Mereka tidak menjawab lagi, karena memang ini murni kesalahan mereka. Di hukum membersihkan toilet perempuan? Bukankah ini terlihat seperti anak yang sekolah? Dan juga ini pertama kalinya Navile mendapatkan hukuman. Dulu dia tidak pernah mendapatkan hukuman sebelum sahabatnya masuk ke dalam pabrik.
***
Hari sudah menjelang malam, tapi Roy masih belum menemukan Clara. Saat ini Roy sedang berada di pinggir jalan, tidak tahu mau mencari Clara kemana lagi. Dia sudah mencari di rumah Clara, tapi sayangnya tidak ada Clara. Dia bahkan memberanikan diri untuk pergi ke markas geng motornya, tapi yang ada dia kena amukan dari teman-teman Clara. Tapi untung saja tidak ada Syakirah, jadi dia sedikit lega.
"Lo kemana sih La?! Aaaarrrgggg!" ujar Roy kesal sambil memukul tangki motornya sendiri.
Roy mengusap wajahnya kasar. Lelah, itulah yang di rasakan Roy saat ini. Lelah mencari keberadaan Clara yang tidak tahu kemana.
"Tadi supir bilang kalau Clara ada di taman jalan XX, gue juga ada disana waktu itu. Apa dia ngilang gara-gara lihat gue di cium sama tuh anak ya? Lagian gue juga kenapa sih gak ngurus dia 2 hari ini, kalau gini jadinya gue juga yang susah." gumam-gumam Roy.
Roy mengeluarkan hpnya yang ada di saku jaketnya. Menekan sebuah nama yang tertera di benda pipih itu dan sambungan telpon yang ada di seberang sana tersambung.
__ADS_1
"Gimana? Lo udah nemuin dia?" tanya Roy kepada seberang sana.
"Belum, tapi dari data yang gue cari. Clara baru aja datang di danau XX, danau yang lumayan sepi itu. Tapi waktu gue kesana, gue gak lihat dia. Cuma ada orang yang lagi kasih makan bebek." jawab di seberang sana yang tak lain adalah Thomas.
Roy memang menyuruh sebagian dari temannya untuk mencari keberadaan Clara. Sejak tadi dia mengharapkan kalau Clara akan segera ketemu jika di cari bersama-sama seperti ini, tapi nyatanya Clara masih belum ketemu sampai sekarang.
Roy ingin menghubungi Syakirah dan menanyakan tentang Clara, tapi dia terlalu takut. Takut jika Syakirah tiba-tiba melarangnya untuk menemui Clara lagi, dan itu sangat menyakitkan untuk Roy.
"Ya udah, kalau udah ketemu langsung kabarin gue aja ya." ujar Roy kepada seberang sana.
Sambungan mereka berdua akhirnya pun terputus. Roy menghela nafasnya, lelah. Dia memakai helmnya kembali dan mulai mencari Clara lagi. Sebenarnya perut Roy terasa sangat perih sekali karena belum makan mulai tadi pagi dan hanya meminum air putih saja, tapi Roy tidak menghiraukan perutnya yang perih itu.
Sekitar pukul 10 malam lewat, Roy masih saja mencari keberadaan Clara yang tidak tahu kemana. Karena sudah mulai larut malam dan juga Roy sudah sangat lelah, Roy memutuskan untuk pulang dan menyerahkan ini semua kepada anak buahnya.
Saat Roy sudah sampai rumah dan masuk ke rumahnya, mamanya tiba-tiba berucap.
Roy membanting tubuhnya di sofa, rambutnya sudah acak-acak'an sekali.
"Roy nyari Clara, Ma." jawab Roy.
Mama Roy mengerutkan keningnya bingung mendengar jawaban dari Roy.
"Nyari Clara? Ngapain kamu nyari Clara? Clara kan ada di kamarnya." ujar mama Roy kebingungan.
Roy yang mendengar ucapan mamanya langsung terkejut bukan main.
__ADS_1
"Mama ngomong apa sih, Ma? Clara itu ilang gara-gara Roy!"
"Nggok kok. Clara ada di kamarnya, lagi tidur. Katanya kakinya nyeri."
"Mama kalau ngomong gak usah ngaco deh!!"
"Heh! Anak ini! Kalau ngomong sama mamanya itu yang sopan dikit napa sih! Clara ada di kamarnya, dia lagi tidur! Kalau gak percaya lihat aja sendiri!" kesal mama Roy. Mama Roy sampai memukul lengan Roy dengan buku yang dia pegang.
Roy langsung naik ke atas, melihat apakah benar Clara ada di kamarnya. Dan benar saja, tubuh Roy langsung lemas saat melihat Clara yang tidur dengan pulas. Roy mengusap wajahnya dengan kasar.
Roy masuk ke dalam kamarnya sendiri untuk membersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket gara-gara mencari Clara tadi.
Roy langsung membaringkan tubuhnya di samping Clara saat sudah selesai mandi. Roy hanya ingin tidur dengan Clara saat ini, meskipun perutnya perih sekali minta di isi.
Sebenarnya tadi Clara bukan menghilang. Selepas dari danau, Clara langsung menuju rumah Roy dengan berjalan kaki. Pikiran Clara benar-benar kosong saat itu, sampai dia memutuskan untuk pulang dengan berjalan kaki. Oleh sebab itu kenapa tadi mama Roy bilang kalau Clara sedang tidur karena kakinya yang sedang nyeri. Itu karena dia berjalan sangat jauh tadi.
Akhirnya Roy terlelap sambil memeluk tubuh Clara dari belakang. Tapi sebelum dia terlelap, dia memberikan tanda stempel di bahu Clara. Bukti bahwa Clara adalah miliknya, dan Clara tidak boleh pergi begitu saja.
***
Keesokan paginya Clara menggeliatkan tubuhnya. Dia merasa ada sebuah yang sangat berat di perutnya, dia pun refleks menatap ke perutnya. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat sebuah tangan besar yang melingkarkan di perutnya. Clara langsung bangun terduduk sambil berteriak.
"Aaaaaaaaaaaaa!" teriak Clara menggelegar ke seluruh penjuru rumah.
Roy sampai menutup telinganya sendiri gara-gara teriakan Clara. Roy seketika membekap mulut Clara. Tiba-tiba saja mama Roy dan kak Dara datang ke kamar Clara saat mendengar teriakan Clara. Mama Roy memegang alat penggorengan karena dia sedang memasak tadi. Sementara kak Dara mulut dan rambutnya penuh dengan busa karena dia sedang mandi tadi. Kedua wanita ini langsung melotot saat melihat tubuh Roy yang ada di atas tubuh Clara, apalagi Roy juga membekap mulut Clara. Mereka berdua sudah berfikir yang tidak-tidak tentang Roy.
__ADS_1
"Rooooooooyyyyy!" teriak kedua wanita itu dengan sangat kencang sekali. Bahkan bisa di bilang seisi rumah mendengar teriakan tersebut.
Bersambung......