
"Entahlah, aku juga tidak bisa menyimpulkannya juga. Saat sekolah dulu dia anak yang rapi dan juga bersih, meskipun terkadang juga sering membuang sampah di bawah kursinya sendiri. Tapi semenjak dia bertunangan dia jadi jarang untuk membereskan atau membersihkan rumahnya. Setiap hari dia kuliah, setelah kuliah dia selalu kencan dan makan malam di rumah calon mertuanya. Dan semenjak itu aku tahu, bahwa dia tidak pernah mengurus rumahnya sama sekali. Dia selalu memanggil cleaning service untuk membersihkan rumahnya setiap hari. Tapi karena disini ada aku jadi dia tidak memangil cleaning service karena akulah yang membersihkan rumahnya. Bukan maksud untuk membanggakan diriku atau menjelekkannya, hanya saja itu adalah kesimpulanku. Bahkan dia juga sering pulang tengah malam, aku takut terjadi apa-apa dengannya tapi dia selalu bilang kalau dia baik-baik saja." jelas Syakirah kepada Ahmad.
Bukan Syakirah ingin menjelekkan Aliya tapi memang begitu kenyataanya. Aliya adalah tipikal gadis yang bersih dan rapi, tapi semenjak bertunangan dia jarang sekali untuk membersihkan rumahnya. Saat Syakirah baru sampai kesini saja sangat terkejut, saat melihat ruang tamu yang kotor dengan bungkus makanan dan juga minuman, tisu juga.
"Oh begitu ya." hanya ucapan itu yang bisa Ahmad katakan saat ini. "Kalau begitu ayo membereskan barang dan pakaianmu." lanjut Ahmad. Syakirah pun menganguk.
Semenjak Syakirah ada disini, Aliya selalu membelikan Syakirah baju setiap dia pulang dari rumah calon mertuanya. Sebenarnya Syakirah tidak enak jika Aliya terus menerus membelikan baju untuknya, karena Syakirah sudah ada baju meskipun tidak banyak, tapi itu cukup untuk berganti pakaian setiap harinya. Jadilah baju Syakirah menumpuk di rumah Aliya ini. Aliya juga bilang kalau mau pulang ke rumah bawa saja baju yang dia belikan, karena tidak ada yang memakai karena jika di pakai oleh Aliya akan sempit mengingat tubuh Aliya yang sedikit gemuk, ingat hanya sedikit tidak banyak.
Ahmad pun mulai membantu Syakirah untuk membereskan pakaiannya. Syakirah menaruh baju-bajunya ke ruang tamu dan Ahmad yang melipat dan memasukkannya ke dalam tas.
"Syakirah." panggil Ahmad.
"Apa?" tanya Syakirah.
"Jika kau menikah nanti, kau ingin mahar yang seperti apa?" tanya Ahmad tiba-tiba.
Tidak ada petir, tidak ada hujan, angin juga tidak ada, tiba-tiba saja menanyakan tentang mahar. Apalagi yang di pikirkan oleh Ahmad sebenarnya? batin Syakirah.
"Apa saja, sesuai dengan pasanganku." jawab Syakirah.
"Kenapa jawabanmu seperti itu? Aku ingin jawaban yang sesuai dengan pertanyaanku tahu!" protes Ahmad.
"Aku pernah melihat video di sosmed. Dia bilang begini 'Jika aku di tanya ingin mahar apa, maka aku akan menjawab. Aku ingin mahar yang tidak terlalu tinggi untukku tapi lelaki yang baik akan memberikan mahar yang lebih tinggi dari yang wanita itu inginkan.' begitu." ujar Syakirah. Ahmad mengerutkan keningnya tanda tak mengerti. "Itu artinya aku juga ingin seperti itu. Apapun itu maharnya, jika lelaki itu baik maka maharnya akan lebih besar dari yang aku inginkan." lanjut Syakirah lagi.
"Apapun itu maharnya ya?" tanya Ahmad memastikan, dan Syakirah mengangguk mantap.
Mereka berdua pun melanjutkan untuk melipat baju Syakirah itu.
***
__ADS_1
Sampai malam pun telah tiba, akhirnya barang-barang Syakirah sudah selesai saat sore tadi dan dia tinggal perjalanan untuk pulang. Syakirah sedang berpamitan dengan Aliya, tasnya juga sudah ada di motornya dan juga motor Ahmad.
"Rah, kau yakin akan meninggalkanku?" tanya Aliya lagi dengan nada sedih. Syakirah menghela nafas.
"Iya, Al. Maaf ya. Terima kasih karena telah menerimaku di rumahmu. Maaf karena aku tidak bisa memberikan apa-apa untukmu. Terima kasih juga telah memberikanku banyak sekali pakaian." ujar Syakirah.
Ada rasa berat saat meninggalkan rumah Aliya. Rumah dan pemilik yang selalu menerima kehadirannya di saat dia sedang terpuruk.
"Kalau begitu hati-hati nanti di jalan ya... hiks... nanti kalau sudah sampai di rumah jangan lupa kabari aku... hiks... " ujar Aliya sambil terisak. Syakirah tersenyum dan mengangguk.
"Iya, jangan lupa untuk berkunjung ke rumahku ya." ujar Syakirah. Aliya langsung mengangguk mantap.
Syakirah sudah mau berpelukan dengan Aliya sebagai tanda perpisahan mereka, tapi kegiatan berhenti saat mendengar suara mobil sport milik Evan.
"Yah... dia lagi." ujar Aliya malas.
"Memangnya siapa yang ada di dalam mobil itu?" tanya Ahmad.
Wajar Ahmad jika bertanya, karena saat Evan menghadangnya mobil sportsnya tidak sama dengan yang datang sekarang.
Evan keluar dari mobilnya dan melihat Syakirah yang sedang bersama dengan Ahmad dan Aliya. Dia mendengus kesal saat melihat wajah Ahmad, Ahmad sendiri juga sudah melayangkan tatapan permusuhan dengan Evan. Evan menghampiri Syakirah dengan sejuta senyuman yang menghiasi wajahnya.
"Evan? Ngapain lo kesini?" tanya Syakirah.
"Gue mau ketemu sama lo lah, masa iya mau ketemu sama si pendek ini." Evan melengos dengan ucapannya sendiri.
Siapa yang di sebut Evan si pendek? Siapa lagi kalau bukan Aliya. Memang sih tinggi tubuh Aliya di bawah rata-rata umurnya saat ini.
"Heh! Kau menghinaku?!" ujar Aliya sambil emosi.
__ADS_1
"Lo merasa? Bagus kalau gitu." ujar Evan acuh. Aliya sudah mau berbuat lebih, tapi Syakirah menghadangnya
"Oh iya, Van. Ini kenalin Ahmad, lo tau kan tentang dia? Jadi gue gak perlu jelasin lagi siapa dia." ujar Syakirah memperkenalkan Ahmad.
Ahmad mengulurkan tangannya dengan sangat berat sekali. Evan membalas uluran tangan Ahmad.
"Ahmad."
"Evan."
Ujar mereka berdua memperkenalkan diri, padahal juga sudah saling mengenal. Mereka bertatap dengan tatapan permusuhan, lalu mereka melepaskan uluran tangan mereka.
"Lo mau kemana, Syaki?" tanya Evan saat melihat motor Syakirah yang sudah di penuhi oleh tas Syakirah.
"Gue mau pulang ke rumah orang tua gue." jawab Syakirah.
Apa?! Pulang?! Pulang ke rumah orang tuanya gitu?! Yang ada di desa itu?! Kenapa?! Kenapa kok mendadak gini?! Kok gue gak tau sih?! Sial! Kalau Syakirah balik, gue akan susah dong deketin dia lagi. Yang ada si cunguk ini yang dapat Syakirah. batin Evan dengan sangat kesal.
"Kok mendadak banget, Syaki? Kok tak kabarin gue juga?" tanya Evan dengan nada tidak suka.
"Iya emang mendadak banget. Tapi emang gue mau pulang. Kangen sama ayah, sama ibu." jawab Syakirah.
"Terus Lo mau pulang naik apa?" tanya Evan.
"Ini motor." tunjuk Syakirah dengan motor maticnya. "Gue pulang naik motor ini sama Ahmad." lanjut Syakirah.
"Gimana kalau gue anterin aja? Kan lebih enak gitu kalau barang-barang lo di taruh di mobil." tawar Evan sangat berharap.
"Gak usah, Van. Ini juga bisa kok. Lagian rumah gue juga gak jauh-jauh amat kok. Nanti kalau gue lo anterin, terus motor gue gimana? Lebih baik gue naik motor aja. Ada Ahmad juga yang bantuin gue kok." ujar Syakirah. Ahmad sangat bangga sekali dengan dirinya, karena Syakirah terus menyebut namanya di depan Evan, yang membuat Evan naik darah.
__ADS_1
Bersambung......