
Memangnya ada lagi teman Syakirah selain kita dan teman psikopatnya dulu? Tidak kan. Jika Syakirah sedang ada urusan dengan teman lamanya, kemungkinan besar kalau Syakirah bertemu dengan teman psikopatnya dulu. Memangnya kalian tidak ada kepikiran sampai kesitu?" Rey.
Mereka diam, apalagi Ahmad yang baru saja mengetahui hal kenyataan yang membuatnya terkejut. Mereka semua diam, pekerjaan yang seharusnya mereka kerjakan harus tertinggal gara-gara masalah mereka sendiri. Percayalah, di hati kecil mereka juga ada rasa bersalah yang amat besar.
Mereka semua tiba-tiba terkejut saat ada orang yang membuka pintu ruangan mereka. Saat mereka melihat orang itu, mereka menghela nafas dan bernafas lega. Ternyata bu Ariana, pikir mereka berempat.
"Kalian sedang apa?" tanya bu Ariana saat melihat ke empat orang ini sedang berdiri dan bergerumbul. Mereka gelagapan mau menjawab apa.
"Eh? Tidak apa-apa, bu. Ibu datang kesini mau apa?" ujar Ahmad.
"Tadi ada yang lapor kepada saya. Katanya kalau di ruangan kalian terdengar suara gebrakan meja, dan pukulan seseorang. Apa kalian sedang bertengkar? Tapi kelihatannya tidak ada apa-apa." ujar bu Ariana.
"Ah, tidak ada apa-apa kok, bu. Kita hanya sedang bercanda saja." Ahmad.
Bu Ariana memicingkan matanya curiga melihat mereka. Dia melihat satu persatu dari mereka, terasa ada yang mengganjal.
"Dimana Wahyu dan Syakirah? Syakirah juga tidak masuk beberapa hari ini, dimana dia? Dia juga tidak mengirimkan surat tidak masuk kerja." ujar bu Ariana saat melihat mereka kurang lengkap.
"Wahyu ke toilet, bu. Kalau Syakirah... Syakirah..." Ahmad melirik mereka bertiga, mereka bertiga hanya mengangkat bahu mereka.
"Kalau Syakirah apa, Ahmad?" tanya bu Ariana.
"Kalau Syakirah saya tidak tahu, bu. Soalnya beberapa hari ini dia tidak ada di rumah."
Bu Ariana terlihat memijat pelipisnya, dia berharap Syakirah bisa serius bekerja tapi nyatanya Syakirah selalu saja tidak masuk kerja.
Nanti saja aku laporan ke pak Farel. batin bu Ariana.
__ADS_1
Bu Ariana melihat Ahmad.
Anak ini sudah menjadi direktur, kalau saja Syakirah mau menjadi direktur pasti saat ini dia yang akan duduk di kursi itu bukan Ahmad. batin bu Ariana lagi.
Sebenarnya Syakirah sudah di tawari untuk menjadi direktur tapi Syakirah menolak dengan tegas, karena dia masih belum cukup pantas dan masih belum memenuhi wawasan seorang direktur.
"Ya sudah kalau begitu, kalian lanjutkan pekerjaan kalian. Kalau begitu saya keluar. Permisi."
"Ya."
Bu Ariana keluar dari ruangan mereka, mereka terlihat bernafas lega tapi mereka tetap gusar juga. Ahmad terlihat beberapa kali memijat pelipisnya karena banyaknya masalah.
"Nanti kalau Syakirah di keluarkan dari pabrik bagaimana?" ujar Ryan. Rey, Navile dan Ahmad langsung melotot.
"Hei, jangan pernah berfikiran seperti itu, bodoh!" ujar Ahmad emosi. Mana mungkin Syakirah akan di keluarkan, Syakirah itu pintar. Kedatangannya ke pabrik membawa pengaruh besar, jadi tidak mungkin dia akan di keluarkan, pikir Ahmad.
Ucapan Ryan membuat mereka tambah gusar. Entahlah mereka juga bingung harus bicara apa. Kemungkinan besar apa yang di ucapkan Ryan akan terjadi. Karena jam menunjukkan pukul 9 siang, mereka akhirnya melajutkan pekerjaan mereka yang tertinggal. Sepertinya mereka akan lembur hari ini.
***
Sementara Wahyu sedang duduk di toilet, dia benar-benar tidak habis pikir dengan Syakirah. Seharusnya Syakirah tidak perlu menghilang tanpa kabar begini, pikir Wahyu.
Wahyu sudah beberapa kali meneteskan air matanya karena terlalu khawatir dengan Syakirah. Dia sudah mencoba untuk menghubungi Syakirah tadi tapi hasilnya sama, ponsel Syakirah tidak aktif. Wahyu sangat frustasi sekali. Percayalah, meskipun Wahyu terlihat sangat tegar tapi hatinya juga sangat rapuh, apalagi saat kehilangan Syakirah saat ini. Wahyu sangat terobsesi dengan Syakirah, baginya Syakirah adalah bagian dari hidupnya. Dia juga sudah menganggap Syakirah saudaranya sendiri, jadi jika Syakirah menghilang seperti ini itu sama saja dia kehilangan saudaranya.
Wahyu tidak tahu harus bagaimana lagi untuk mencari Syakirah. Dia ingin mencari tapi tidak tahu Syakirah ada dimana. Inginnya dia bertanya kepada teman-teman Syakirah yang psikopat tapi Wahyu sangat yakin mereka tidak akan memberitahu, yang ada mereka akan bicara begini "Aku masih sayang nyawaku, jika kau mau mencari informasi tentang dia, cari saja sendiri." Pasti kata-kata itu yang akan keluar dari mulut mereka. Sampai sekarang pun juga tetap sama, meskipun mereka tahu dimana keberadaan Syakirah mereka tidak akan pernah bilang siapa-siapa jika ada orang yang bertanya. Bahkan menyogok dengan uang pun belum tentu akan di beritahu.
"Syakirah, ada dimana kau? Kau tahu seberapa paniknya aku saat ini? Lebih panik dari apa yang kau bayangkan. Jika ada masalah itu cerita, jangan menghilang seperti ini. Aku tahu masalahmu, masalahmu adalah masalahku jadi kita pasti akan menyelesaikan bersama-sama. Apa kehadiranku masih tidak berarti apa-apa bagimu? Syakirah, pulanglah." gumam Wahyu sendu.
__ADS_1
Wahyu membuka pintu toilet, dia membasuh wajahnya di wastafel. Setelah membasuh wajahnya, dia menatap pantulan dirinya di cermin. Wahyu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya dan memgetikkan sesuatu di benda pipih itu.
"Aku akan mencari Syakirah. Kau coba cari tahu dulu dimana keberadaannya sebisa mungkin, aku akan coba bertanya kepada teman lama Syakirah. Kemungkinan besar mereka tahu dimana Syakirah." pesan yang di ketik Wahyu terkirim di Kiya.
Triing.
ada notifikasi masuk, sepertinya balasan dari Kiya.
Kiya❤
"Apa mereka mau memberitahumu keberadaan Syakirah? Bukankah kau dulu pernah mencobanya tapi yang ada mereka tidak memberitahu mu." pesan balasan dari Kiya.
Wahyu
"Mau tidak mau, aku harus bertanya kepada mereka. Kemungkinan besar mereka tahu dimana Syakirah saat ini. Hanya mereka satu-satunya cara untuk mengetahui keberadaan Syakirah."
Setelah membalas pesan dari Kiya, Wahyu memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya tanpa melihat balasan dari Kiya.
Wahyu sudah mau keluar dari toilet tapi ponselnya tiba-tiba berbunyi menandakan ada di telpon. Saat Wahyu melihatnya, orang yang tidak di kenal tiba-tiba menelponnya. Wahyu nampak ragu, akhirnya Wahyu menggeser tanda hijau barang kali orang yang menelponnya butuh.
"Siapa?" tanya Wahyu kepada di seberang sana.
"Wahyu, ini gue." ujar di seberang sana. Wahyu tampak mengerutkan keningnya bingung.
"Siap..... pa.....? " nada bicara Wahyu melemah saat mendengar suara di seberang sana.
Wahyu seperti mengenal suara itu, suara itu sudah tidak asing lagi di telinganya. Tapi mana mungkin itu dia, pikir Wahyu. Sambungan telpon mereka masih tersambung dan tidak terputus hanya saja mereka sama-sama diam. Wahyu melihat ponselnya yang tertera nomor yang tidak di kenalnya. Antara percaya dan tidak percaya, tapi lebih banyak tidak percayanya.
__ADS_1
"Ini tidak mungkin." lirih Wahyu sambil menatap ponselnya nanar.