Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Dasar buaya!


__ADS_3

"Aku tidak tahu apa yang Evan pikirkan saat ini. Jika Evan memanfaatkan kak Kiya untuk mendekatiku, tidak mungkin juga dia mengeluarkan uang sebanyak itu untuk kak Kiya. Gaun yang di pilih kak Kiya sangat mahal sekali, dia bahkan sampai me booking seisi restoran XX semuanya hanya untuk dinner dengan kak Kiya. Dia tidak mungkin memanfaatkan kak Kiya, dia bahkan sudah keluar uang yang sangat banyak sekali." ujar Syakirah yang masih berfikiran positif tentang Evan.


"Aku tidak ada maksud apa-apa cerita tentang ini, sungguh percayalah." Ahmad mencoba untuk membuat Syakirah percaya kalau dia memang tidak Ada maksud apa-apa. Memang Ahmad tidak ada maksud apa-apa sama sekali di dalam hal ini, hanya ingin memastikannya saja. "Aku... hanya tidak ingin membuat Kiya sakit hati. Dia kan tidak mau merasakan sakit hati, jadi aku hanya ingin memastikannya saja. Bagaimanapun Kiya itu juga temanku, aku juga tidak mau jika dia di sakiti." lanjut Ahmad.


Ya, Ahmad selalu menganggap Kiya seperti keluarganya sendiri, meskipun Kiya sangat membencinya gara-gara dia pernah membuat Syakirah patah hati. Tapi bagaimanapun Kiya adalah teman Ahmad, jadi sebenci apapun Kiya kepadanya, Ahmad akan tetap menganggap Kiya temannya.


"Aku tahu itu, kau memang tidak ada maksud apa-apa dalam hal ini. Hanya saja aku tidak habis pikir dengan pola pikir Evan. Apa mungkin dia akan berbuat seperti itu? Yang aku tahu, Evan tidak akan pernah mengeluarkan uang seperak pun untuk orang yang tidak dia sukai atau dia sayangi. Sementara dia mengeluarkan banyak sekali uang untuk kak Kiya, bahkan jika aku hitung lagi hasilnya kurang lebih akan mencapai setengah triliun lebih. Dia tidak mungkin hanya memanfaatkan kak Kiya saja, aku yakin dia sayang tulus dengan kak Kiya." ujar Syakirah.


Ahmad memegang kedua tangan Syakirah, berusaha untuk menenangkan Syakirah yang sedang khawatir gara-gara ceritanya itu.


"Sudah, jangan di pikirkan. Mungkin ini hanya pikiranku saja, jadi kau tidak perlu terlalu memikirkannya. Bisa saja ini hanya perasaanku." ujar Ahmad menenangkan Syakirah.


Syakirah mengangguk lemah, tubuhnya seketika lemas saat mendengarkan cerita dari Ahmad. Dia hanya tidak menyangka saja kalau Evan akan bicara kalau dia adalah miliknya lagi, padahal secara kenyataan mereka berdua hanya berteman biasa tanpa adanya rasa.


Akhirnya Ahmad mengajak Syakirah pulang saat Syakirah sudah mulai berfikiran yang tidak-tidak. Dia menyesal karena sudah menceritakannya kepada Syakirah, seharusnya dia tadi tidak perlu menceritakannya kepada Syakirah dan hanya menyimpan informasi itu sendiri.


***


Sementara di rumah keluarga milik Evan, Evan sedang makan malam dengan keluarga Evan tanpa papanya pastinya karena papanya masih belum kembali dari Jakarta. Hanya suara dentingan sendok yang terdengar di meja makan.


"Van, gimana soal Kiya itu? Katanya kamu udah pernah dinner sama dia? Cerita dong sama mama." ujar mama Evan.

__ADS_1


"Ya biasalah, ma. Semuanya berjalan sangat lancar. Mama tau gak? Dia caaaaannnnntiiiik banget waktu aku dinner sama dia." ujar Evan memuji kecantikan Kiya.


"Oh ya? Ada fotonya gak? Mama mau lihat dong." pinta mama Evan.


Evan mengeluarkan hpnya dan menunjukkan foto Kiya yang sedang berjalan di atas karpet merah. Ya, foto itu di ambil tanpa sepengetahuan Kiya. Sudah ada beberapa kamera yang di sembunyikan agar bisa memotret Kiya, karena Evan sangat yakin jika Kiya tidak akan mau foto berdua dengannya. Mata mama Evan seketika berbinar saat melihat seorang wanita yang begitu sangat cantik, apalagi wanita itu juga memakai gaun berwarna putih seperti bidadari.


"Waaaah..... cantik banget ini, Van. Udah langsung ajak nikah aja, sekalian sama buatin mama cucu juga. Biar nambah gitu cucu mama sama papa." celetuk mama Evan dengan sangat entengnya.


"Sabar, ma. Semuanya itu butuh proses, gak bisa langsung sat set sat set gitu aja. Semuanya itu pasti ada prosesnya." ujar Evan dengan sangat bangganya. Kak Cherly hanya melengos saja melihat Evan yang membanggakan dirinya sendiri.


"Belum tentu juga dia mau." cerocos kak Cherly tiba-tiba.


"Heh! Kak! Doa'in yang baik dong, bukan malah doa'in yang buruk! Gimana sih!" ujar Evan emosi. Kak Cherly kembali melengos lagi.


Bagaimana kak Cherly bisa tahu? Itu karena kak Cherly mencari tahu keesokan harinya setelah Evan dinner. Kak Cherly bertanya kepada pelayan restoran, bahwa Evan sedikit memaksa Kiya untuk dinner dengan Evan. Tentu saja kak Cherly marah karena Evan telah memaksa perempuan begitu saja, tanpa memikirkan perasaannya.


Saat mendengar ucapan kak Cherly, mama Evan beralih melihat Evan dan meminta penjelasan kepada Evan.


"Apa itu benar, Van?" tanya mama Evan.


"Ngaku gak lo!" ancam kak Cherly sambil memperlihatkan pisaunya. Evan langsung garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu.

__ADS_1


"Iya, ma. Aku emang agak maksa dia dikit kok, ingat ma dikit gak banyak. Hehe." ujar Evan. Mama Evan menghela nafas.


"Lain kali gak usah di paksa, Van. Kamu jangan egois dan mikirin perasaan kamu terus menerus gitu, hargai dia sebagai perempuan." nasehat mama Evan.


"Iya, ma. Evan gak akan ngulangi lagi." ujar Evan.


"Halah, paling juga ngomong doang! Cowok emang gitu ya, dikit-dikit janji, dikit-dikit janji, tapi ujung-ujungnya juga gak di tepati. Manis di mulut doang tapi gak sebanding sama tingkah lakunya. Dasar buaya!" cerocos kak Cherly begitu saja.


Evan langsung diam membeku mendengar ucapan kak Cherly, merasa kalau ucapan kak Cherly sangat menancap sekali di hatinya, karena dia sendiri juga seorang lelaki.


"Kak, kalau ngomong jangan asal ceplos gitu aja dong. Sakit tau!" protes Evan.


"Emang gitu kenyataanya kok. Lo sendiri juga kadang janji sama gue kalau lo mau beli'in gue tas atau sepatu atau barang lainnya, mana? Gak ada tuh perasaan barang yang lo kasih ke gue. Yang ada lo pulang langsung ngorok juga!" cibir kak Cherly.


"Yaelah, kak. Kalau mau tas atau sepatu ngomong aja dong, namanya juga orang lupa." ujar Evan.


"Bukan barangnya yang di cari, Evan. Tapi janjinya. Percuma janji kalau gak di tepati, udah dosa lagi. Lo aja sama gue kayak gini, kakak sendiri nih. Apalagi kalau sama cewek lain, gimana coba jadinya."


"Yaelah, kak. Iya maaf, maaf. Namanya juga lupa."


"Kalau lo mah gak lupa tapi emang gak niat buat beli'in. Cuma manis di bibir doang, kenyataannya juga kagak. Bikin cewek sakit hati tau! Kalau lo bukan adik gue, udah gue ceburin lo ke kandang buaya. Biar lo di makan tuh sama temen lo sendiri. Enak kan? Teman makan teman sendiri!"

__ADS_1


Evan rasanya tercekik sekali mendengar ucapan kak Cherly yang begitu sangat menancap hatinya. Bagaimana bisa dia punya kakak yang mulutnya ceplas ceplos tidak ada saringannya seperti ini.


Bersambung......


__ADS_2