
Ahmad juga kena mental seperti Rey, Ryan dan Navile. Kata-kata Wahyu sangat menancap di hatinya. Bagaimana bisa Wahyu bicara seperti itu tanpa ada saringan sama sekali? Ahmad juga baru kali ini di pojokkan seperti ini, biasanya dia yang akan memojokkan.
Mereka berempat diam mendengar ucapan Wahyu, tidak ada yang bergeming sama sekali. Takut jika menjawab langsung salah di mata Wahyu, jadi mereka diam saja. Wahyu menatap mereka satu-persatu dan langsung meninggalkan mereka berempat. Biarlah mereka merenungi kesalahannya, begitu pikir Wahyu.
Mereka berempat melihat kepergian Wahyu, selepas kepergian Wahyu mereka saling tatap. Kebingungan, benarkah mereka bersalah? Tentu saja iya, kalian itu benar-benar salah.
"Apa kesalahan kita terlalu fatal ya?" ujar Ryan. Mereka bertiga beralih menatap Ryan yang membuka pembicaraan.
"Sepertinya iya, jika di pikir-pikir lagi kita memang salah. Syakirah menghargai perasaan kita dengan cara berteman dengan kita. Kau tahu kan kalau Syakirah dulu anti dengan yang namanya hubungan, apalagi saat dia putus dengan Ahmad. Dia bahkan sangat kejam dulu, sewaktu SMP saja dia seperti itu, bahkan sekolahku tidak berani macam-macam dengan sekolah Syakirah. Jika Syakirah kembali lagi seperti dulu, mungkin bagi Syakirah kita bukan orang yang spesial lagi. Bagiku itu sangat menakutkan." Navile.
"Memangnya seperti apa Syakirah dulu saat di sekolah?" tanya Ahmad. Ahmad memang tidak tahu tentang Syakirah saat di sekolah, Kiya juga tidak pernah menceritakannya, apalagi saat hubungannya dengan Syakirah berakhir.
Rey, Ryan dan Navile menatap Ahmad. Benarkah Ahmad tidak tahu? Pikir mereka bertiga. Jika di lihat dari raut wajah Ahmad memang Ahmad tidak tahu, pikir Rey. Ryan langsung menarik kerah baju Ahmad dan membenturkan tubuh Ahmad ke tembok.
"Hei Ahmad, kau jangan pura-pura tidak tahu ya!" Ryan. Ahmad tambah mengerutkan keningnya bingung.
"Memangnya aku tahu apa? Aku tidak tahu saat Syakirah di sekolah, Kiya juga tidak pernah menceritakannya. Kau pikir aku satu sekolah dengan Syakirah? Kita itu berbeda sekolah, Syakirah sekolah di luar sementara aku sekolah di pesantren. Gunakan otakmu dengan benar!" ujar Ahmad.
__ADS_1
Ryan melepaskan kerah baju Ahmad. Apa yang di katakan Ahmad memang ada benarnya, pikir Ryan. Tapi mana mungkin Ahmad tidak tahu tentang Syakirah.
"Kau harus tahu. Dulu sewaktu di sekolah Syakirah di juluki psikopat. Dia sering tawuran, membully dan melanggar peraturan sekolah. Tidak ada yang tahu tentang Syakirah saat di sekolah, hanya orang satu sekolah, orang tua Syakirah, Wahyu, Kiya dan kami, selain itu tidak ada. Bahkan setiap hari tangan Syakirah tidak ada bagus-bagusnya, pasti ada warna biru keunguan di tulang jari-jari tangan Syakirah. Kau tahu? Syakirah bahkan sudah pernah mematahkan tangan dan kaki orang lain yang berani macam-macam dengannya. Tentu saja tidak ada yang berani dengannya, bahkan kepala sekolah pun juga tidak berani. Dulu dia sudah mau di keluarkan dari sekolah, tapi tidak jadi karena Syakirah memiliki kepintaran yang cukup tinggi. Aku berhubungan dengannya dulu, aku sendiri juga takut tapi aku tidak mengakhiri hubunganku dengannya karena aku mencintai Syakirah. Di SMK pun dia juga begitu, meskipun kami berempat tidak tahu seperti apa Syakirah saat di sekolah tapi kami tetap menyimpulkan kalau Syakirah tidak berubah. Dan tiba-tiba saja dia berubah menjadi lemah lembut seperti sekarang, entah siapa yang membuatnya berubah tidak tahu. Tapi yang pasti Syakirah berubah karena seseorang, kami tidak tahu siapa orang yang membuat Syakirah bisa berubah seperti sekarang, identitas orang itu di sembunyikan oleh Syakirah." jelas Rey panjang lebar.
Glek.
Ahmad meneguk ludahnya mendengar penjelasan dari Rey. Antara percaya dan tidak percaya tapi dilihat dari raut wajah Rey, sepertinya Rey tidak berbohong sama sekali.
"Mana mungkin Syakirah seperti itu, dia sekarang baik hati sekali. Aku juga masih ingat kalau Syakirah baik-baik saja saat umurnya 15 tahun, tidak seperti apa yang kau katakan." Ahmad.
"Ah! Ck! Syakirah itu bisa menyamar sesuka dia. Jika depannya baik, belum tentu juga belangkangnya juga baik. Gunakan otakmu dengan baik!" Navile
"Syakirah berubah dulu juga gara-gara dirimu, dia sakit hati dan melampiaskan semuanya kepada semua orang, khusus kau saja tidak terkena imbasnya." Ryan.
Ahmad cukup tertegun dengan kenyataan tentang Syakirah yang baru saja dia dengar. Jika Syakirah berubah seperti dulu, apa dia masih menjadi orang yang di sayangi oleh Syakirah atau malah sebaliknya? Pertanyaan itu berputar-putar di kepala Ahmad. Takut jika Syakirah benar-benar berubah seperti dulu.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan? Syakirah bahkan tidak membuka ponselnya sama sekali, bagaimana aku bisa melacaknya?" Ahmad. Dia akan ikut andil tentang hal ini, bagaimanapun Ahmad tidak mau Syakirah jadi seperti dulu.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu. Aku mau tanya Kiya tapi sepertinya tidak mungkin, secara Kiya pasti tahu tentang masalah ini. Wahyu pasti juga sudah cerita kalau kita menjauhi Syakirah. Yang ada Kiya akan benci dengan kita karena telah membuat Syakirah pergi dari rumah. Mau tidak mau kita juga butuh bantuan Wahyu." Rey.
"Tapi, apa memangnya Wahyu mau?" Ryan.
"Aku juga tidak tahu. Tapi pasti dia akan mempermalukan kita dan aku cukup malu terhadap hal itu. Kita mengatakan apa, tapi kenyataannya apa. Aku benar-benar tidak habis pikir." Rey.
"Ya, Wahyu pasti berfikir kalau urat malu kita sudah putus. Sudahlah, yang penting sekarang jangan pikirkan urat malu. Kita pikirkan saja tentang Syakirah." Navile
"Ya, kau benar sekali. Dan apa tadi yang Wahyu katakan? Syakirah sedang ada urusan dengan teman lamanya? Perasaan Syakirah tidak memiliki teman lama selain kita, kecuali teman psikopatnya." Rey
Ryan, Navile dan Ahmad sangat terkejut dengan perkataan Rey. Jangan sampai Syakirah bertemu dengan komplotannya lagi, pikir mereka bertiga. Mereka sudah bergidik ngeri melihat Syakirah yang dulu, lalu bagaimana kalau Syakirah yang sekarang berubah menjadi seperti dulu? Pasti akan lebih kejam.
"Hei Rey, jangan bicara seperti itu!" Ryan.
"Apa? Apa memangnya aku salah bicara? Memangnya ada lagi teman Syakirah selain kita dan teman psikopatnya dulu? Tidak kan. Jika Syakirah sedang ada urusan dengan teman lamanya, kemungkinan besar kalau Syakirah bertemu dengan teman psikopatnya dulu. Memangnya kalian tidak ada kepikiran sampai kesitu?" Rey.
Mereka diam, apalagi Ahmad yang baru saja mengetahui hal kenyataan yang membuatnya terkejut. Mereka semua diam, pekerjaan yang seharusnya mereka kerjakan harus tertinggal gara-gara masalah mereka sendiri. Percayalah, di hati kecil mereka juga ada rasa bersalah yang amat besar.
__ADS_1
Bersambung......