
Setelah kejadian kemarin Wahyu masih memikirkan tentang Syakirah. Dia sudah duduk di meja kerjanya sambil memainkan ponselnya. Dia sedang mengirimkan pesan ke Kiya.
"Assalamualaikum Kiya." Wahyu.
"Waalaikumsalam Wahyu. Ada apa?" Kiya.
"Apa kau ada waktu?" Wahyu.
"Aku selalu ada waktu wahyu. Ya... kecuali saat pagi sampai siang. Kau tahu kan kan kalau aku mengajar. Apa ada hal penting yang kau ingin bicarakan denganku?" Kiya.
"Aku ingin bertanya kepadamu tentang Syakirah." Wahyu.
"Hmm... apa Syakirah sakit?" Kiya.
"Tidak, dia masih belum datang. Aku ingin bicara denganmu langsung. Apa kau bisa?" Wahyu.
"Ya, tentu saja." Kiya.
"Baiklah, apa kau bisa datang dicaffe biasanya kau dan Syakirah bertemu?" Wahyu.
"Ya, tentu saja." Kiya.
"Baiklah, kita bertemu dicaffe itu waktu weekend saja, karena weekend ini pabrik sedang libur." Wahyu.
"Baiklah, aku akan datang ke caffe itu saat weekend." Kiya.
Setelah berbalas pesan dengan Kiya. Wahyu meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya. Sementara ke empat sahabat Wahyu baru saja datang.
Sementara Kiya sendiri terlihat berfikir dan bingung.
Apa yang ingin Wahyu bicarakan kepadaku? Tidak biasanya dia mengajak ketemuan seperti ini, apalagi berdua secara pribadi. ujar Kiya dalam hati
"Hei, Wahyu tumben sekali kau datang pagi? Biasanya kau selalu berangkat bersama dengan kami?" ujar Ryan sambil duduk di meja kerjanya.
"Iya, aku sengaja berangkat pagi tadi. Soalnya aku ada tugas yang masih belum aku selesaikan kemarin." jawab Wahyu.
"Oh."
"Hm."
Bel masuk kerja sudah berbunyi. Mereka semua sudah duduk di tempat mereka masing-masing dan mengerjakan berkas-berkas yang ada dimeja mereka. Tapi tidak dengan Wahyu, Wahyu terlihat melamun dan juga berfikir. Para sahabatnya yang melihat Wahyu seperti itu merasa bingung.
Syakirah menatap ke arah Rey, Ryan dan Navile untuk meminta penjelasan. Mereka hanya mengangkat bahu mereka tanda tidak tahu apa yang terjadi dengan Wahyu.
Ada apa dengan Wahyu? Tidak biasanya dia melamun seperti itu. Apa ada masalah dengan keluarganya? ujar Syakirah dalam hati.
Sementara Wahyu sendiri sedang memikirkan saat nanti bertemu dengan Kiya.
Bagaimana nanti saat aku bertemu dengan Kiya? Aku masih menyimpan perasaan lebih kepadanya. Huh! Sudahlah jangan memikirkan hal itu, yang penting aku harus mencari tahu tentang Syakirah dulu. ujar Wahyu dalam hati
Ya, benar sekali. Wahyu menyimpan perasaan lebih kepada Kiya, tapi Wahyu tidak pernah mengungkapkannya kepada Kiya. Kiya juga tahu tentang itu, karena Kiya tidak sengaja mendengar percakapan antara Wahyu dan Syakirah.
Flashback on
Syakirah, Kiya dan Wahyu sedang ada di taman dekat rumah Wahyu. Hari ini adalah weekend, jadi mereka sedang berolahraga. Setelah olahraga Kiya menawari mereka minuman atau makanan karena Kiya mau ke mini market.
"Apa kalian mau menitip sesuatu? Aku mau ke mini market." ujar Kiya manawari Syakirah dan Wahyu.
__ADS_1
"Belikan kami air mineral dan juga biskuit saja." jawab Syakirah.
Setelah menawari Syakirah dan Wahyu, Kiya berangkat ke mini market. Dan di sisi lain, Syakirah sedang memojokkan Wahyu.
"Apa kau suka dengan kak Kiya?" tanya Syakirah to the point. Wahyu langsung terkejut mendengar pertanyaan Syakirah.
"A… Apa yang… yang kau katakan? A… Aku tidak mungkin suka dengan Kiya!" jawab Wahyu gelagapan.
"Hah! Jika kau tidak suka dengannya, kenapa kau gelagapan seperti itu menjawab pertanyaanku?" ujar Syakirah kesal. Mendengar Syakirah seperti itu, akhirnya Wahyu tidak bisa berbohong lagi.
"Sepertinya aku tidak bisa berbohong lagi. Ya... kau benar, aku menyimpan perasaan lebih kepada Kiya." ujar Wahyu pasrah.
"Kenapa kau tidak mengungkapkannya? Aku yakin kak Kiya pasti menghargai perasaanmu."
"Aku tidak akan mengungkapkan perasaanku padanya, lebih baik aku mencintainya dalam diam, karena aku takut akan merusak hubungan persahatanku dengannya. Kau tahu kan kalau Kiya takut untuk merasakan sakit hati, jadi lebih baik aku tidak mengungkapkannya."
"Huh! Ya sudah terserah dirimu saja."
Dan disisi lain, Kiya sedang bersembunyi di balik pohon. Dia mendengar percakapan antara Wahyu dan Syakirah.
Jadi kau menyimpan perasaan lebih kepadaku Wahyu dan kau tidak mau mengungkapkannya. Terima kasih untuk hal itu dan maafkan aku karena aku egois. Aku tidak mau merasakan sakit hati seperti Syakirah. Aku masih belum kuat untuk hal itu. ujar Kiya dalam hati sambil meremas dadanya yang terasa nyeri.
Setelah bersembunyi di balik pohon cukup lama, akhirnya Kiya kembali dengan membawa air mineral dan juga biskuit. Dia memberikan itu kepada Syakirah dan Wahyu dan pura-pura tidak tahu apa-apa.
Flashback Off
***
Karyawan yang bekerja siff pagi sudah pulang. Syakirah dan teman-temannya juga sudah berada di parkiran.
Syakirah dan teman-temannya sudah menaiki motor mereka masing-masing dan sudah mengendarai motornya. Syakirah juga sudah mau menjalankan motornya, karena penasaran apa yang sedang terjadi dengan Wahyu, akhirnya Syakirah bertanya langsung kepadanya.
"Wahyu, apa kau baik - baik saja? Dari tadi aku lihat kau melamun saja dan terlihat berfikir. Apa ada masalah dengan keluargamu?" tanya Syakirah.
"Hah? Eh? Tidak. Aku tidak Ada masalah apapun. Hanya saja memikirkan hal yang tidak penting." jawab Wahyu gelagapan.
Dasar bodoh. Kenapa aku melamun dari tadi pagi dan memikirkan Kiya sih. Wahyu merutuki dirinya sendiri di dalam hati.
"Apa kau yakin tidak apa-apa?" tanya Syakirah lagi.
"Iya, aku tidak apa - apa. Jangan khawatirkan aku, aku baik - baik saja!"
"Ya sudah kalau begitu. Aku pulang dulu ya. Assalamualaikum."
"Ya, hati-hati dijalan. Waalaikumsalam."
Setelah berpamitan kepada Wahyu, Syakirah mengendarai motornya untuk pulang. Begitu pula dengan Wahyu, dia juga sudah mengendarai motornya.
***
Weekend pun tiba. Kiya sedang menunggu Wahyu di caffe tempat biasanya dia dan Syakirah bertemu. Jam masih menunjukkan pukul delapan pagi. Biasanya Kiya akan meluangkan waktunya untuk membantu ibunya, tapi tidak kali ini. Dia harus bertemu dengan wahyu.
Tak lama kemudian, Wahyu datang dengan membawa paperbags ditangannya. Dia segera menarik kursi untuk duduk.
"Maaf telah membuatmu menunggu, tadi sedikit ada masalah di rumah." ujar Wahyu. Kiya hanya tersenyum menampakkan giginya, yang membuat jantung Wahyu berdetak lebih kencang daripada biasanya, ditambah lagi dengan gingsulnya itu yang membuat senyuman Kiya tambah manis.
Aku mohon jangan tersenyum seperti itu Kiya, kau membuatku salah tingkah. ujar Wahyu dalam hati.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku tidak keberatan untuk hal itu." jawab Kiya sambil tersenyum.
"Ini untukmu." Wahyu menyodorkan paperbagsnya kepada Kiya.
"Apa ini?"
"Hadiah dariku. Kita sudah lama tidak bertemu, anggap saja itu hadiah karena kita bertemu kembali. Bagaimana kabarmu?"
"Kau tidak perlu repot-repot membawakan hadiah untukku. Kita jarang ketemu gara-gara kita mempunyai pekerjaan masing-masing. Kabarku baik, kau sendiri bagaimana?
"Aku baik - baik saja."
Setelah saling menyapa tadi. Wahyu memanggil pelayan untuk memesan makanan. Mereka memesan satu es cappuccino, satu jus jambu dan dua potong kue blackforest.
"Ngomong-ngomong kenapa kau ingin mengajakku bertemu? Apa ada hal penting yang ingin kau bicarakan?" tanya Kiya kepada Wahyu.
"Sebenarnya aku ingin bertanya soal Syakirah."
"Hm, ada hal terjadi padanya?"
"Minggu kemarin dia terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Aku bertanya kepada Rey bahwa dia melihat Syakirah bersamamu berjalan-jalan di pasar malam. Apakah itu benar?"
"Ya, itu benar."
"Apa ada sesuatu terjadi padanya?"
"Ya, kami bertemu dengan Ahmad dan Hanifa disana, bahkan kami sempat bertengkar."
Apa jadi benar yang selama ini aku curiga'i? Jadi kau menyembunyikannya dariku supaya aku tidak marah Syakirah? Justru ini sangat membuatku marah sekali. ujar Wahyu dalam hati dengan kesal.
"Apa yang kalian bertengkarkan?" tanya Wahyu.
Setelah mendengar pertanyaan Wahyu. Kiya langsung menceritakan kejadian waktu malam minggu kemarin di pasar malam. Mendengar cerita dari Kiya membuat Wahyu marah sekali.
"Jadi begitu ceritanya. Awalnya kami tidak bertemu dengan Ahmad, hanya saja kami tidak sengaja menabraknya." ujar Kiya di akhir ceritanya.
"Haaaah...... jadi begitu ya..... terima kasih ya sudah menceritakannya padaku."
"Iya sama-sama."
Setelah berbicara dengan Wahyu cukup lama. Kiya memutuskan untuk pulang, karena orang tuanya mencarinya.
"Maaf Wahyu, aku harus pulang. Orang tuaku mencariku!" ujar Kiya sambil memasukkan buku dan bulpoin ke dalam tasnya.
"Ya sudah. Apa aku perlu mengatarmu?" tanya Wahyu.
"Tidak, tidak usah. Aku membawa motor tadi. Kalau begitu aku pulang dulu ya. Assalamualaikum." pamit Kiya kepada Wahyu.
"Ya, hati-hati dijalan. Waalaikumsalam."
Setelah berpamitan dengan Wahyu. Kiya bergegas untuk pulang karena orang tuanya mencarinya. Tidak lama setelah kepergian Kiya, Wahyu duduk dan bernafas lega.
Jadi, kau menyembunyikannya sampai kapan Syakirah? Bangkai yang disembunyikan pasti akan tercium juga. Kiya.... aku masih sangat mencintaimu. Bolehkah aku berharap lebih kepadamu? Andai aku punya keberanian, aku pasti akan mengungkapkannya padamu. ujar Wahyu dalam hati.
Setelah cukup lama berada dicaffe itu, Wahyu memutuskan untuk pulang. Dia juga ingin istirahat, karena semenjak dia bekerja waktu istirahatnya jadi sedikit.
Bersambung.........
__ADS_1