
"Iya, setiap gue cari ke rumahnya dia itu gak ada. Rumahnya juga di bersihin sama tetangganya itu. Setiap kali gue tanya ke tetangganya dia selalu jawab kalau Clara ada urusan sama temannya. Emangnya Clara punya teman selain kita ya? Perasaan gue sih nggak." ujar salah satu dari mereka lagi.
"Iya, sebenarnya dia kemana coba? Lo tau gak, Rah?" tanya salah dari mereka kepada Syakirah.
"Gue juga gak tau. Gue juga udah cari dia kerumahnya tapi kata tetangganya dia ada urusan sama temannya." jawab Syakirah.
"Kita cari aja apa ya? Gue takut dia kenapa-napa." saran temannya.
"Gue sih oke-oke aja, tapi kita harus cari dia kemana coba? Kita kan gak pernah tau tempat yang dia sukai, rumah keluarganya juga kita gak tau."
"Emang dia punya keluarga?"
"Ada kok, tapi Clara gak di anggap."
"Terus kenapa lo ngomong keluarga segala?"
"Ya barang kali aja dia ada disana, kan gak ada yang tau dia ada dimana."
"Gak mungkin juga dia ada disana, dia gak akan di terima sama keluarganya. Sekarang keluarganya itu kita bukan mereka."
"Iya sih."
"Oh iya, Clara langsung ngilang habis dari rumah Aliya kan? Apalagi waktu itu ada Roy juga. Apa jangan-jangan Clara di culik sama Roy?" ujar salah satu dari mereka panik yang membuat satu kumpulan ini ikut panik juga.
"Gak mungkin! Roy gak bakalan culik dia. Apa untungnya Roy nyulik Clara?" ujar Syakirah berbohong, padahal dia tahu kalau Clara ada bersama Roy saat ini.
"Iya juga ya, secarakan Clara udah bukan selera Roy lagi. Terus dia ada dimana dong? Pusing gue mikirin dia. Pusing, panik, bingung jadi satu."
"Kita tunggu aja seminggu lagi, kalau masih belum muncul juga kita bakalan cari dia." ujar Syakirah.
"Kemana?" tanya mereka semua dengan kompak.
"Soal itu gue masih belum tau, nanti gue juga minta bantuan Evan juga." jawab Syakirah.
__ADS_1
"Rah, tumben lo biasa-biasa aja, biasanya kan lo panik bukan main?" tanya temannya heran. Pasalnya Syakirah selalu panik jika Clara menghilang tanpa kabar begitu saja.
"Gue panik kok tapi gue berusaha tetap tenang supaya gue juga bisa dapat cara buat nemuin dia." jawab Syakirah. "Nih nasi gorengnya udah matang, berbagi ya." lanjut Syakirah sambil menyodorkan wadah yang berisi nasi goreng.
"Oke, lo tenang aja kalau urusan berbagi mah kita gak pernah ketinggalan." Vanya mengambil wadah itu dari tangan Syakirah. Mereka semua langsung pergi menuju ke ruang tamu sambil membawa piring masing-masing. Syakirah menyadarkannya tubuhnya di meja dapur.
Kemana sebenarnya Roy bawa Clara? Gak ada kabar lagi. Mau panik dan cari ke rumah dia pun gue juga sungkan. Gue bener-bener gak ngerti sama pikiran Roy kali ini. Bukannya dia gak suka banget ya sama Clara? Tapi kenapa dia nyembunyiin Clara gitu aja. Aneh tau gak. batin Syakirah.
Syakirah sudah beberapa kali tanya kepada Evan dan jawaban Evan selalu sama, tidak tahu dimana Roy sekarang. Syakirah sangat pusing sekali jika memikirkan Clara yang tiba-tiba menghilang. Syakirah berjalan menuju ke ruang tamu. Syakirah duduk di sofa single yang selalu di kosongkan teman-temannya untuk dirinya.
"Rah, lo gak makan juga?" tanya temannya.
"Gue udah makan tadi, gue masih kenyang." jawab Syakirah.
Mereka semua makan dengan sangat lahap sekali, wajar karena mereka juga belum makan dari pagi tadi. Apalagi yang datang ke pasar tadi sambil debat sama Thomas, beh makannya 2 kali lipat dari biasanya.
***
"Bang, nanti ini kasih ke Kiya." ujar Evan sambil menyodorkan sebuah kertas kepada kak Rahman. Kak Rahman mengambil kertas itu dan membaca.
"Lo mau ngajak dia dinner di restoran terkenal itu?" tanya kak Rahman terkejut karena restoran yang Evan pilih terkenal dengan makanannya yang sangat mahal.
"Iya, suruh dia ke restoran itu ya. Malam pukul 6. Gue juga udah sewa restoran itu." jawab Evan.
"Van, lo gak perlu sampai segininya. Lo ngajak dia dinner di restoran biasa aja itu udah cukup kok. Lo gak usah pakai keluarin uang sebanyak ini." ujar kak Rahman.
"Gak apa-apa, bang. Barangkali Kiya suka." ujar Evan sambil tersenyum senang.
"Kalau gini ceritanya adek gue yang minder buat datang, Van." ujar kak Rahman khawatir.
"Bang Rahman tenang aja, gue udah siapin rencana kok." ujar Evan menenangkan. "Nanti urusan baju, Syakirah yang bakal urus semua. Kiya cuma tinggal ngikut aja." lanjut Evan.
"Van, lo gak usah pakai ngeluarin uang sebanyak ini juga. Nanti kalau gak jodoh gak nyesek apa lo?" ujar kak Rahman tidak enak.
__ADS_1
"Gak apa-apa, bang. Itung-itung buat bahagia'in temen." jawab Evan.
"Terserah lo deh, Van. Ini juga gak maksa gue." ujar kak Rahman.
***
Sementara di pabrik tempat Wahyu dan teman-temannya bekerja, semua karyawan sedang istirahat tapi tidak dengan teman-teman Wahyu. Mereka sibuk memikirkan sesuatu sampai Wahyu ikut jengah juga.
"Hei, makan makanan kalian!" suruh Wahyu dengan emosi. Karena dari tadi mereka bertiga tidak menyentuh makanan mereka sama sekali. Piring Wahyu dan juga Ahmad sudah kosong dari tadi.
"Wahyu, hadiah apa yang cocok untuk Syakirah?" tanya Ryan.
"Syakirah tidak butuh hadiah, dia hanya mau kalian menjadi temannya!" jawab Wahyu.
"Kau ini tidak asik sama sekali! Namanya orang minta maaf itu juga harus bawa sesuatu juga!" ujar Ryan. Ryan beralih melihat Ahmad.
"Ahmad, apa hadiah yang cocok untuk Syakirah?" tanya Ryan kepada Ahmad.
"Aku juga tidak tahu juga, mungkin sebuah baju atau sepatu, atau mungkin accessories perempuan. Kau tahu kan kalau Syakirah suka dengan accessories? Kau bisa membelikannya itu." jawab Ahmad. Dia saja sudah pusing memikirkan hadiah untuk ulang tahun Syakirah, apalagi ini di tanya soal hadiah permintaan maaf seperti ini.
"Kalau aku membelikannya baju, harus warna apa?" tanya Ryan.
"Syakirah tidak suka yang terlalu terang, dia suka warna yang gelap." jawab Ahmad.
"Aahh, pusing sekali kepalaku rasanya." ujar Ryan frustasi. "Bagaimana dengan kalian berdua? Apa kalian sudah mendapatkan hadiah untuk Syakirah?" tanya Ryan kepada Rey dan Navile.
"Belum." jawab mereka berdua kompak.
"Huh! Ck! Aku sudah bilang, Syakirah tidak membutuhkan hadiah apapun dai kalian! Kenapa kalian ingin memberinya hadiah sih?!" ujar Wahyu kesal.
"Hei Wahyu, kau itu bagaimana sih?! Namanya orang minta maaf juga harus membawa hadiah, supaya dia juga senang." ujar Ryan. Wahyu tambah berdecak kesal karena dari tadi Ryan menjawab saja.
Bersambung......
__ADS_1