
Syakirah mengangguk dengan ucapan Ahmad. Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Ahmad pulang. Kalian tahu apa yang di maksud Ahmad tekad Syakirah saat smp? Dulu waktu smp Syakirah sudah memikirkan masa depannya karena dia tidak kuliah. Syakirah selalu bilang kalau saat dia lulus sekolah nanti, dia akan bekerja dan membangun rumah impiannya yang sesuai dengan kriterianya. Dan Syakirah juga bilang kalau dia akan tinggal di rumah itu dengan suami dan anaknya nanti. Ahmad yang mendengar masa depan Syakirah membuat dirinya tertawa terbahak-bahak, karena waktu itu umur mereka masih 13 tahun. Seharusnya mereka memikirkan sekolah mereka, bukan malah memikirkan soal masa depan dan membangun rumah.
***
Pagi akhirnya datang, Clara baru saja selesai dengan kegiatannya mandi. Dia keluar dari kamarnya dan melihat Roy yang sedang turun dengan pakaian yang sudah rapi. Sudah 2 hari ini Clara di biarkan oleh Roy, tidak di sapa, tidak di antar periksa ke rumah sakit. Dia ke rumah sakit saja di antar oleh kak Dara.
"Udah, gak usah di pikirin. Ngapain juga lo mikirin dia."
Itulah kata-kata yang kak Dara ucapkan kemarin untuk Clara. Ada rasa sakit di hati Clara saat Roy mengabaikannya.
Saat ini Clara sudah ada di meja makan, hanya ada dia dan orang tua Roy. Roy dan kak Dara? Kak Dara menemui kak Cherly. Sementara Roy tidak pernah ikut sarapan karena pertengkaran 2 hari yang lalu.
"Pa, ma. Nanti Clara mau main ke rumah temen Clara, gak apa-apa kan?" tanya Clara.
"Iya, gak apa-apa. Mama juga tau kalau kamu bosen di rumah terus." jawab mama Roy.
"Mama beneran gak apa-apa? Atau Clara antar kemana gitu?" ujar Clara tak enak.
"Gak apa-apa. Lagian mama juga mau ikut papa ke kantor."
"Makasih ya."
"Iya, sama-sama."
Setelah sarapan, Clara mengantarkan mama papa Roy sampai teras. Clara sangat senang melakukan hal ini, dia seperti mengantarkan kedua orang tuanya berangkat bekerja.
__ADS_1
Clara sudah siap dengan pakaiannya, niatnya dia mau pergi ke taman untuk latihan berjalan dulu, baru dia pergi ke markasnya. Karena Roy tidak menyapanya, alhasil Clara harus berlatih sendiri. Clara di antar oleh supir untuk menuju taman.
Saat sudah sampai di taman, Clara keluar dari mobil.
"Emmm, itu... lebih baik bapak balik aja. Saya bisa sendirian kok." ujar Clara kepada supir itu.
"Maaf, nona. Saya di tugaskan mengantarkan anda kemanapun anda pergi dan mengawasi anda jika anda keluar dari rumah." jawab supir itu.
"Nggak, nggak, nggak. Bapak pergi aja gak apa-apa, saya bisa sendiri kok." tolak Clara langsung.
"Maafkan saya, nona. Anda sendirian jadi saya tidak bisa meninggalkan anda begitu saja."
Clara langsung celingukan, entah mencari apa.
"Itu, itu, itu. Bapak lihat cewek-cewek itu kan?" tunjuk Clara pada gerombolan cewek-cewek yang sedang berkumpul di bawah pohon. "Itu teman-teman saya, pak. Saya udah di tungguin dari tadi sama mereka." lanjut Clara lagi.
"Nona yakin kalau itu teman anda?" tanya supir itu menyelidik.
"Iyalah, lihat tuh mereka lagi nungguin saya. Lebih baik bapak pergi aja deh." jawab Clara.
"Nanti jika anda mau pulang, anda harus menelpon saya terlebih dahulu."
"Iya, nanti saja telpon."
Akhirnya supir itu pergi meninggalkan Clara sendirian. Ya sendirian, tadi dia hanya menunjuk cewek-cewek itu sebagai alasan saja supaya supirnya bisa pergi.
__ADS_1
Clara menuju ke taman dengan tongkatnya, karena dokter menyarankan untuk memakai tongkat dari pada terus naik kursi roda. Clara duduk di kursi taman, nafasnya terengah.
"Capek." gumamnya pelan.
Clara meletakkan tongkatnya, dia lalu berdiri dengan satu kakinya lalu mencoba untuk menginjak tanah dengan kaki kanannya, tapi sayangnya tidak bisa bertahan lama. Clara duduk lagi di kursi taman itu.
"Kak, bisa tolong tendang bolaku!" teriak anak kecil kepada Clara.
Clara melihat bawah, memang ada bola yang menggelinding ke arahnya. Clara reflesk menendang bola itu dengan kaki kanannya yang baru saja di operasi. Dia meringis kesakitan saat merasakan rasa sakit yang ada pada kakinya.
"Makasih, kak!" teriak anak kecil itu lagi.
Clara hanya tersenyum sambil meringis kesakitan saja. Sekitar 15 menit berlalu, Clara tidak melakukan apa-apa dalam waktu 15 menit. Dia hanya melamun saja selama 15 menit itu. Karena sudah tidak ada lagi yang dia lakukan, akhirnya Clara memilih untuk jalan-jalan di taman dengan tongkatnya itu, sendirian.
Saat sedang berjalan, tiba-tiba saja dia melihat Roy yang berjalan memungunginya. Dia tahu Roy karena gaya rambut dan postur tubuhnya. Clara mengikuti Roy dari belakang sambil tersenyum senang. Roy berhenti di sebuah pohon besar, menyandarkan punggungnya sambil menghisap rokoknya, Clara sudah mau menghampirinya. Tapi langkah kakinya terhenti saat melihat seorang wanita yang datang menghampiri Roy, bahkan wanita itu juga mencium pipi Roy. Roy hanya tersenyum senang tanpa ada rasa marah. Clara sakit hati melihat hal itu. Dia segera bersembunyi di pohon saat Roy tiba-tiba menoleh ke arahnya.
Kok kayak ada yang ngikutin gue ya? Apa perasaan gue aja ya? batin Roy.
Roy mengedarkan pandangannya mencari seseorang, tapi tidak ada seorang pun yang lewat. Roy berfikir kalau itu hanya perasannya saja.
Sementara Clara sedang menitikkan air matanya, sakit sekali hatinya saat ini. Dia sakit hati saat melihat Roy di cium oleh wanita lain, selain dirinya. Clara mengusap air matanya dengan kasar sekali.
Kenapa gue nangis gara-gara dia? Gue kan bukan siapa-siapa dia? Gue juga gak berhak marah sama dia. Terserah juga dia mau sama siapa, itu urusannya. Gue gak punya hak untuk itu. batin Clara.
Memangnya siapa Clara dalam hidup Roy? Pacar? Bukan. Tunangan? Juga bukan. Clara hanya menumpang hidup di keluarga Roy, dia juga bukan siapa-siapa Roy. Mama Roy memang bilang kalau Clara harus menjadi menantunya bukan? Tapi apakah Clara menyetujuinya? Tidak kan? Dan jika di sebut pacar Roy, bukankah itu terlalu agresif. Secara Roy tidak pernah menembak atau mengajak kencan Clara. Jadi Clara hanya menumpang hidup saja di keluarga Roy.
__ADS_1
Clara pergi dari taman itu dengan air mata yang terus menetes, padahal dia sudah tidak mau menangis karena dia bukan siapa-siapa Roy. Clara menghentikan taksi yang lewat, dia segera masuk ke dalam taksi itu dan meninggalkan taman yang cukup menyakitkan ini, padahal dia juga baru saja datang ke taman ini. Tapi awal dia kesini sudah membuat hatinya sakit sekali.
Bersambung......