Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Rambut


__ADS_3

Percayalah meskipun kak Rahman terlihat egois, dia juga ingin yang terbaik untuk Kiya adiknya. Meskipun dia tidak selalu ada untuk Kiya, tapi dia sangat menyayangi Kiya seperti dia menyayangi Aisyah. Tapi Kiya sendiri juga tidak tahu kalau kakaknya menyanyanginya dan selalu berambisi kalau kakaknya itu egois dan tidak akan pernah bisa mengerti dengan dirinya. Ini sudah biasa terjadi kepada kedua kakak beradik, harus ada yang mengalah di antara mereka berdua. Karena Kiya dan kak Rahman sama-sama keras kepala dan tidak bisa di nasehati, jadi mereka berfikir semau mereka sendiri.


"Ya udah, bang. Bang Rahman tenang aja. Oke." ujar Evan sambil tersenyum. Kak Rahman hanya tersenyum menanggapi ucapan Evan. Sedikit ada rasa takut di hatinya.


***


Roy dan Clara sudah berada di bandara Indonesia. Operasi yang di jalankan oleh Clara berjalan dengan sangat lancar, dia hanya perlu terapi untuk beberapa bulan saja. Roy mendorong kursi roda yang di naiki Clara menuju ke sebuah restoran bandara sambil menunggu supirnya untuk menjemputnya.


"Roy, makasih ya udah baik banget sama gue. Gue gak tau kepala lo habis kepentok apa sampai lo baik banget sama gue. Gue gak tau buat berbalas budi kayak gimana ke lo." ujar Clara kepada Roy.


"Sans aja kali, gak masalah juga." ujar Roy.


"Oh iya Roy, setelah ini gue mau pulang ke rumah... "


"Rumah gue." Roy memotong ucapan Clara.


"Lah? Kok ke rumah lo sih? Gue mau pulang ke rumah gue sendiri." ujar Clara.


"Gak boleh! Pokoknya lo harus tinggal di rumah gue sampai kaki lo itu bener-bener sembuh. Ngerti?" ujar Roy.


"Gue bisa jaga diri gue, Roy." Clara mulai merengek.


"Mau gue apain lo?" tanya Roy. Clara seketika diam saat mendengar pertanyaan Roy, dia tahu pertanyaan Roy menuju kemana.


Roy memandangi Clara yang sibuk makanannya. Saat di luar negeri Clara sangat pilih-pilih makanan karena makanan Amerika tidak sesuai dengan lidahnya. Roy sangat suka sekali saat Clara cemberut karena makanannya tidak sesuai lidahnya. Clara selalu bilang kalau dia rasanya ingin muntah saat memakan makanan itu, padahal menurut Roy rasanya juga sama saja dengan di Indonesia.


"Lara." panggil Roy.


Deg.


Clara terkejut mendengar panggilan Roy, ada yang menghangat di hati Clara. Sudah lama juga dia tidak mendengar panggilan itu.

__ADS_1


Saat mereka berdua pacaran dulu, Roy selalu memanggil Clara dengan sebutan Lara. Entah kenapa Roy ingin memanggil Clara seperti itu. Hanya dia saja yang memanggilnya Lara.


"Apa?" tanya Clara di sela makannya.


"Kenapa lo potong rambut?" tanya Roy balik. Clara meraba rambutnya yang hanya sebahu saja.


"Gak apa-apa, gue cuma mau rambut pendek aja." jawab Clara. Sebenarnya Clara memotong rambutnya juga karena ada alasannya.


"Lo lebih cantik kalau rambut lo panjang. Panjangin ya?" ujar Roy.


"Nanti gue pikir-pikir lagi." jawab Clara.


Ternyata lo udah berubah ya. Gue motong rambut gue juga karena lo, Roy. batin Clara.


Benar sekali, Clara memotong rambutnya karena Roy. Saat dia putus dengan Roy, Clara langsung memotongnya sendiri dengan gunting yang ada di rumahnya. Awal dia memotong rambutnya itu sangat berat sekali karena Roy menyukai rambut panjangnya. Karena tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan karena putus dengan Roy, alhasil Clara memotong rambutnya. Karena saat itu bagi Clara, dia sudah bukan apa-apa lagi untuk Roy. Jadi Clara harus mengubah dirinya dengan apa yang tidak di sukai Roy. Roy sangat menyukai rambut panjang, apalagi rambut Clara yang lurus dan harum itu. Dulu tidak mencium rambut Clara sehari saja rasanya seperti satu abad untuk Roy.


"Kenapa harus di pikir-pikir dulu? Ini cuma rambut kan?" tanya Roy.


"Tapi gue gak suka!" ujar Roy memang tidak suka. Clara langsung diam kikuk mendengar ucapan Roy.


"Tapi inikan rambut gue, Roy. Jadi bebas dong gue mau ngelakuin apa aja sama rambut gue." ujar Clara gagu.


"Panjangin! Kalau lo gak panjangin, lihat aja apa yang terjadi sama kesucian lo itu!" ancam Roy. Clara langsung diam.


"I-iya." jawab Clara.


Mereka berdua pun melanjutkan makannya, sampai Clara ingat sesuatu yang dia lupakan sekitar seminggu ini. Clara menatap Roy ketakutan, yang di tatap langsung gelagapan.


"Roy, hp gue!" ujar Clara panik.


"Huh! Ck! Lo ngapain sih nanya hp lo yang rusak itu?! Kalau rusak ya rusak, gak bakalan bisa di benahi!" ujar Roy.

__ADS_1


"Terus gue harus gimana, Roy? Masa iya gue gak pegang hp?!" ujar Clara yang tiba-tiba sesenggukan. Pusat perhatian semua orang langsung tertuju kepada mereka berdua. Roy gelagapan.


"Hei, udah gak usah nangis, La." ujar Roy menenangkan Clara.


"Terus gue harus gimana? Hiks." tanya Clara di sela tangisannya.


"Nanti kalau udah sampai rumah gue belikan, lo tenang aja gak usah nangis." jawab Roy. Clara langsung antusias.


"Janji ya?" Clara menyodorkan jari kelingkingnya, Roy pun langsung membalasnya.


"Iya, janji." balas Roy. Clara tersenyum senang, tidak sia-sia juga aktingnya. Akting? Ya, Clara hanya akting saja, tidak dia buat serius.


Lo gak ngomong pun nanti gue juga bakal belikan. Lo kenapa sih bikin gue gemes aja tiap hari. Gimana gue gak cinta coba sama lo kalau kayak gini ceritanya. batin Roy sambil melihat Clara yang sangat antusias dengan makanannya.


Wajar jika Clara sangat antusias dengan makanannya karena dia sudah merindukan masakan Indonesia. Padahal hanya seminggu saja dia ada disana. Roy hanya geleng-geleng kepala saja melihat Clara.


***


Sementara Syakirah sedang mengajarkan anak buahnya untuk memasak. Mereka semua mengamati giatan yang Syakirah lakukan dari awal sampai akhir.


"Awal belajar buat masakan yang mudah aja, kayak nasi goreng. Nanti kalau udah bisa kalian bisa coba makanan yang sedikit susah." ujar Syakirah sambil menuangkan nasi goreng buatannya ke wadah.


"Masa iya kita makan nasi goreng aja, Rah?" tanya Vanya.


"Nanti kalian harus searching di internet kalau kalian mau masak yang lain. Kalian harus coba belajar sedikit-sedikit, lama-lama nanti kalian juga bisa dan udah terbiasa." jawab Syakirah. "Kalian juga jangan mengandalkan Clara juga, dia emang bisa masak tapi hanya masakan yang simple-simple aja. Kalian contoh Clara, nanti kalau dia udah kesini kalian minta Clara buat ajarin kalian." lanjut Syakirah.


"Iya ya, tuh anak sebenarnya kemana ya? Ngilang gitu aja kayak tenggelam di laut, tapi gak mungkin juga dia tenggelam di laut." ujar salah satu dari mereka.


"Iya, setiap gue cari ke rumahnya dia itu gak ada. Rumahnya juga di bersihin sama tetangganya itu. Setiap kali gue tanya ke tetangganya dia selalu jawab kalau Clara ada urusan sama temannya. Emangnya Clara punya teman selain kita ya? Perasaan gue sih nggak." ujar salah satu dari mereka lagi.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2