Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Takut berubah


__ADS_3

"Evan, apa kamu masih ingat denganku? Iya, aku Syakirah. Apa kamu mengingatku? Apa kamu masih mengingat aku? Wanita yang membuat mu berubah, yang awalnya kejam tiada tara menjadi lunak. Bagaimana kabarmu? Sudah lama kita tidak bertemu. Apa kamu tidak pernah mencariku selama ini? Aku pernah berharap kamu mencariku tapi yang aku harapkan tidak sesuai dengan kenyataan. Kamu malah pergi dari sini secara tiba-tiba tanpa memberikanku kabar. Marah? Tentu saja aku sangat marah. Kecewa? Sangat, sangat kecewa. Kamu pergi meninggalkan aku begitu saja seolah-olah aku adalah barang yang sudah tidak di butuhkan, padahal masalah kita belum selesai, hanya hubungan kita saja yang selesai. Aku ingin bertemu denganmu, aku ingin menceritakan kehidupanku sekarang padamu. Aku ingin menceritakan semuanya, semuanya tanpa ada yang tertinggal satu pun." gumam Syakirah, tanpa Syakirah sadari air matanya sudah menetes dan Syakirah sudah pergi ke alam mimpi.


***


Malam telah di gantikan oleh pagi. Gelap telah di gantikan oleh terang. Bulan telah di gantikan oleh matahari. Orang yang awalnya tidur menjadi bangun dan melakukan aktifitasnya setiap hari seperti biasa. Kiya juga sudah bangun dan berpakain rapi, dia sekarang ini sedang berjalan ke rumah orang tua Syakirah. Kiya ingin bertanya kepada ibu Syakirah, apa Syakirah sudah pulang apa belum. Kiya melihat ibu Syakirah yang sedang menyapu halaman rumah, Kiya menghampiri ibu Syakirah.


"Assalamualaikum, bu." salam Kiya. Ibu Syakirah menoleh dan terkejut dengan kedatangan Kiya.


Ya Allah, bagaimana ini? Aku sudah jujur kepada Syakirah untuk tidak memberitahukan keberadaannya sekarang. Aku yakin sekali kedatangan Kiya adalah mencari Syakirah, aku tidak mungkin jujur karena aku sudah berjanji kepada Syakirah. Ya Allah, bagaimana ini? batin ibu Syakirah. Dia harus bicara bersikap sekhawatir mungkin agar Kiya percaya kepadanya.


"Waalaikumsalam. Eh? Nak Kiya? Ada apa, nak? Ayo masuk dulu!" Kiya mencium punggung tangan ibu Syakirah.


"Tidak usah, bu. Kiya kesini cuma nanya soal Syakirah. Apa Syakirah sudah pulang, bu?" ujar Kiya.


Kan apa aku bilang. batin ibu Syakirah.

__ADS_1


Ibu Syakirah secepatnya menggelengkan kepalanya, tanda jika Syakirah tidak ada di rumah. Ibu Syakirah bersikap sesedih mungkin agar Kiya percaya kepadanya. Untuk saat ini hanya ini yang bisa dia lakukan.


"Jadi Syakirah belum pulang juga, bu?" tanya Kiya memastikan saat melihat ibu Syakirah menggeleng dan menampilkan wajah kesedihan.


"Belum, Kiya." jawab ibu Syakirah dengan raut wajah kesedihan.


"Ibu sudah menghubungi Syakirah?"


"Sudah, tapi ponselnya tidak aktif. Lalu 2 hari yang lalu ada teman Syakirah yang menelpon, katanya sekarang Syakirah ada di rumahnya." jelas ibu Syakirah.


"Ibu percaya?"


Kiya terlihat memicingkan mata curiga, tapi saat dia melihat raut wajah ibu Syakirah sepertinya ibu Syakirah tidak berbohong. Kiya menghela nafas lelah, apa mungkin Syakirah berusaha untuk menjauhi orang-orang terdekatnya? Begitu pikir Kiya. Karena sudah mendapatkan jawaban dari ibu Syakirah, Kiya memilih untuk pergi dan berjalan ke arah sekolah. Tapi saat dia sudah sedikit agak menjauh dari rumah Syakirah, Kiya mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Wahyu. Panggilan telpon pun tersambung.


"Assalamualaikum, Kiya. Apa kau sudah mendengarkan kabar tentang Syakirah?" tanya di seberang sana.

__ADS_1


"Belum, Wahyu. Aku baru saja bertanya kepada ibu Syakirah, tapi sepertinya ibu Syakirah juga tidak tahu dimana keberadaan Syakirah. Ibu Syakirah bilang kalau 2 hari yang lalu dia di telpon oleh teman Syakirah dan bicara kalau Syakirah ada urusan dengan teman lamanya." jelas Kiya kepada di seberang sana.


"Lalu, apa ibu Syakirah percaya?"


"Dia bilang iya. Karena pada saat ibu Syakirah di telpon, Syakirah juga ada disana. Ibu Syakirah pun juga percaya. Tapi aku sedikit curiga, apa mungkin Syakirah menjauhi orang-orang terdekatnya? Bahkan orang tua Syakirah pun juga terkena imbasnya. Aku takut Syakirah kembali memberontak seperti dulu. Kau tahu kan bagaimana Syakirah dulu sebelum dia berubah seperti sekarang? Aku hanya takut Syakirah kembali kejam seperti dulu." jelas Kiya panjang lebar.


"Aku juga seperti itu, tapi apakah yang bisa kita lakukan? Kita bahkan tidak tahu dimana keberadaan Syakirah sekarang. Aku juga sangat yakin kalau Syakirah juga berbohong kepada ibunya juga."


Kiya dan Wahyu takut Syakirah berubah seperti dulu lagi. Dulu sewaktu Syakirah sekolah di SMP dan baru saja putus dengan Ahmad, Syakirah benar-benar berubah. Dia bahkan di juluki psikopat sekolah apalagi Syakirah juga bisa ilmu bela diri, Syakirah terlibat dalam tawuran besar-besaran, bahkan tangannya setiap hari tidak bersih sama sekali, pasti ada warna biru keunguan di tulang jari-jari Syakirah dan Wahyu sangat yakin kalau Syakirah baru saja ikut tawuran. Tidak ada yang tahu jika Syakirah terlibat tawuran, hanya Orang tua Syakirah, satu sekolah Syakirah, Kiya, Wahyu dan teman-temannya. Syakirah benar-benar memberontak dulu, tidak ada yang bisa menyainginya sama sekali. Semua siswa maupun siswi tunduk kepadanya, takut di bully oleh Syakirah.


Syakirah sendiri juga keluar masuk ruang BK, tapi dia tidak ada kapok-kapoknya. Sekolah yang ingin mengeluarkan Syakirah juga merasa enggan karena Syakirah memiliki nilai prestasi yang sangat tinggi, jadi mereka hanya memberi Syakirah surat skors saja agar Syakirah tahu kesalahannya. Tapi bukan Syakirah jika tidak mengulang kesalahannya, bahkan kepala sekolah pun juga di buat pusing oleh Syakirah. Itu adalah Syakirah yang dulu sebelum Syakirah bertemu dengan Evan. Pertemuan Evan dan Syakirah berdampak besar kepada sikap Syakirah. Syakirah bisa berubah 180 derajat karena Evan, wajar jika Syakirah menganggap Evan bagian terpenting dari hidupnya dulu.


Wahyu dan Kiya mencoba mengulang memori ingatan mereka tentang Syakirah, hanya Wahyu yang tahu Syakirah berubah gara-gara siapa sementara Kiya tidak, karena waktu itu Kiya masih ada di pesantren. Terdengar helaan nafas mereka berdua. Sungguh mereka takut jika Syakirah seperti dulu lagi.


"Wahyu, apa kau berfikiran yang sama denganku?" tanya Kiya saat mereka berdua diam tidak berbicara apa-apa.

__ADS_1


"Tentu saja. Kau tahu sendiri bagaimana kejamnya Syakirah dulu, bahkan dia bisa mematahkan tulang manusia dalam sekejap. Dan aku tidak mau hal itu terjadi lagi. Cukup sekali saja, tidak usah berkali-kali!" jawab Wahyu di seberang sana. Sudah beberapa kali Syakirah mematahkan tulang orang-orang yang berani dengannya, tapi Syakirah tidak gencar saat ada orang yang mengancamnya, justru dia malah menjadi.


"Ya, kau benar. Aku juga tidak mau Syakirah berubah lagi, tapi kita harus secepatnya menemukan Syakirah sebelum terlambat. Orang berubah menjadi jahat lebih cepat di bandingkan dengan orang yang berubah menjadi baik. Percayalah Wahyu, jika Syakirah berubah seperti dulu lagi, teman-temanmu bisa habis di tangan Syakirah."


__ADS_2