
"Cari tau orang yang berhenti di depan rumah gue tadi. Dia pakai pakaian hoodie hitam dan celana pendek, memakai masker hitam dan juga kacamata hitam. Dan motornya adalah motor matic vario 125 warna hitam putih dengan plat nomor X XXXX X. Cari tahu tentang dia dan tujuan dia datang kesini. Gue curiga aja karena dari kemarin dia juga datang kesini malam-malam. Gue pikir dia ngikutin kak Cherly, tapi gue gak tau tujuannya apa. Lo cari tahu tentang dia sedetail-detailnya. Barang kali dia menginginkan sesuatu dari keluarga gue." ujar Evan kepada seberang sana.
"Oke, lo tunggu informasinya nanti malam ya." jawab di seberang sana.
Tut...
Sambungan telpon pun terputus, Evan masuk ke dalam dan menuju kamarnya. Sementara Syakirah sedang duduk di warung pinggir jalan dan menghabiskan 3 botol air mineral, penjual hanya melihat dan geleng-geleng kepala saja.
Ya ampun, Syakirah. Kau itu kenapa sampai nekat tadi? Kalau tadi ada salah satu dari penghuni rumah itu bagaimana? batin Syakirah.
Syakirah membayar air mineral dan bergegas pergi dari warung itu. Penjual hanya melihat dan garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Uang Syakirah juga lebih, tadi Syakirah bilang ambil saja kembaliannya.
Syakirah melajukan motornya dengan kecepatan penuh, untung jalan raya yang dia lewati sepi saat ini.
Sampailah dia di sebuah rumah yang begitu besar dan berlantai 2, dia mengenal rumah ini. Sudah lama aku tidak datang kesini, batin Syakirah. Saat Syakirah masuk ke rumah itu, Syakirah di sambut dengan semua orang yang ada di dalam dengan perasaan takut. Syakirah memandangi satu persatu dari mereka, mereka yang di pandang juga ketakutan.
"Gue butuh bantuan kalian." ujar Syakirah dengan datar. Salah satu dari mereka maju satu langkah.
"Apa yang bisa kita bantu?" tanyanya.
"Sembunyikan identitas gue selama beberapa hari ini. Jangan sampai ada yang membocorkan, kalau sampai bocor kalian tahu bukan akibatnya?"
Glek.
Semua orang yang ada di ruangan ini meneguk ludah kasar, takut. Semuanya mengangguk mengerti, lalu Syakirah berjalan keluar dari rumah besar itu. Syakirah menaiki motornya dan melajukan motornya memecahkan jalanan. Sementara di dalam rumah yang baru saja Syakirah tinggalkan, semua orang bernafas lega.
"Kenapa Syakirah tiba-tiba seperti itu? Datang tiba-tiba. Sudah lama dia tidak datang kesini." ujar salah satu dari mereka.
"Jangan kebanyakan tanya, turuti saja apa yang dia katakan. Kau masih mau umurmu panjang kan?"
"Iya, tapi gak datang tiba-tiba seperti ini."
__ADS_1
"Jangan kebanyakan omong, turuti saja jika kau masih menyanyangi nyawamu!"
Diam. Hening. Sampai mereka masuk ke dalam ruangan yang entah apa di dalamnya. Mereka adalah teman lama Syakirah, teman sekaligus anak buahnya. Syakirah sudah lama tidak datang kesini, mungkin sekitar 2 tahun. Dan selama 2 tahun ini Syakirah tidak datang, semua orang bernafas lega. Jangan di tanya seberapa besar ketakutan mereka, bahkan salah satu dari mereka kakinya ada yang gemetar saking takutnya.
***
Sementara di pabrik Wahyu sedang berjalan keluar dari pabrik. Rey, Ryan, Navile dan Ahmad mengikuti Wahyu, mereka berharap jika mengikuti Wahyu mereka bisa menemukan Syakirah.
Wahyu berhenti di sebuah warung pinggir jalan yang dekat dengan pabrik. Mereka berempat bisa melihat Wahyu sedang makan. Mereka berdecak kesal.
"Cih! Jika Wahyu makan, kenapa kita harus mengikutinya coba? Kenapa kita tidak ikut makan juga?" ujar Ryan kesal.
Mereka semua mengangguk dan berjalan menjauhi Wahyu. Sampai mereka semua menjauh, barulah ada seorang gadis berpakaian seperti anak jalanan. Celana sobek, memakai jaket yang lengannya sobek, bibir yang sangat merah. Wanita itu turun dari motor yang dia modifikasi, dan berjalan ke arah Wahyu.
"Ngapain lo nyuruh gue kesini?" tanya gadis itu sambil duduk di sebelah Wahyu.
Wahyu berdecak kesal. Ternyata bahasanya masih sama ya, batin Wahyu. Wahyu melihat wanita yang ada di sebelahnya.
"Dimana Syakirah?" tanya Wahyu to the point. Gadis itu terlihat terkejut dengan pertanyaan Wahyu.
Wahyu tidak bergeming, dia malah melihat gadis di sebelahnya dengan tatapan membunuh. Beritahu saja jika kau mau pulang dengan selamat, seperti itu arti tatapan Wahyu. Gadis itu menciut saat Wahyu memberikan tatapan tajamnya.
"Oke oke. Gue jujur, gue gak tau sekarang Syakirah ada dimana tapi yang jelas Syakirah baru saja datang ke markas."
Wahyu langsung terkejut dengan ucapan gadis itu. Bisa di bilang dugaannya benar kalau Syakirah akan kembali lagi seperti dulu.
"Kenapa Syakirah datang kesana?" tanya Wahyu.
"Gue gak tau. Waktu dia datang kesana gue masih ada di rumah, jadi gue gak tau apa yang dia suruh. Tapi gak lama dia pulang."
Wahyu tambah frustasi lagi, gadis di sebelahnya terlihat bingung melihat Wahyu yang mengusap wajahnya dengan kasar.
__ADS_1
"Lo kenapa sih?" tanya gadis itu.
Bukannya menjawab pertanyaan gadis, Wahyu malah pergi meninggalkan dia sendirian. Gadis itu berdecak kesal melihat Wahyu yang pergi meninggalkannya sendirian.
"Ck! Ngapain coba tadi gue kesini? Kalau seandainya gue gak kesini, gue gak akan kayak gini. Percuma juga ngomong sama Wahyu. Dasar es batu!" gerutu gadis itu. Gadis itu akhirnya pergi mengendarai motornya.
Sedangkan Wahyu sedang di landa kebingungan, bingung harus melakukan apa. Jika Syakirah sudah begini, Syakirah akan sulit untuk di kontrol, pikir Wahyu.
Wahyu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya, mencoba untuk menghubungi Kiya tapi ponsel Kiya tidak aktif. Wahyu semakin bingung lagi. Rey, Ryan, Navile dan Ahmad yang melihat Wahyu sedang kebingungan langsung menghampirinya.
"Wahyu, ada apa? Kau kelihatan bingung." Rey. Wahyu menoleh ke arah mereka, dan bernafas lelah.
"Syakirah... " lirih Wahyu.
"Syakirah kenapa?" tanya mereka kompak, Wahyu juga sampai terkejut.
"Syakirah sepertinya akan berubah seperti dulu." lirih Wahyu lagi.
"Apa?! Itu tidak mungkin!" kompak lagi.
"Kemungkinan besar iya, karena Syakirah baru saja datang ke markas besarnya dan memerintahkan mereka lagi."
Apa-apaan ini? batin Ahmad
Kenapa harus berubah? batin Navile
Sial! Kita kalah cepat. batin Rey.
Aku takut mati di tangannya. batin Ryan.
"Lalu, apa yang harus kita lakukan?" tanya Rey.
__ADS_1
"Aku tidak tahu. Jika itu pilihan yang terbaik bagi Syakirah, aku hanya bisa membiarkannya. Aku juga masih sayang nyawaku. Lagi pula dia juga tidak memiliki teman selain teman lamanya itu, kalian sendiri juga tidak mau jadi temannya kan. Jadi terima saja kenyataannya. Aku akan mencoba untuk memberitahu Kiya baik-baik. Semoga dia tidak marah dan tidak melampiaskan kemerahannya kepada kalian."
Bersambung......