Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Sepertinya


__ADS_3

"Itu menurut kakak saja. Dia bisa melindungi seseorang yang dia sayang, tapi tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Dia pandai melindungi seseorang tapi tidak pandai melindungi dirinya sendiri. Semua orang juga seperti itu. Ada yang bisa melindungi dirinya sendiri dan orang lain. Ada juga yang bisa melindungi orang lain, tapi tidak bisa melindungi dirinya sendiri atau malah sebaliknya. Dan Kiya termasuk orang yang bisa melidungi orang lain, tapi tidak bisa melindungi dirinya sendiri. Meskipun dari luar dia terlihat seperti wanita setegar karang dan juga wanita sakuat baja, tapi dia juga memiliki hati yang rapuh dan bisa tiba-tiba datang kapanpun hatinya akan terluka. Dan aku yakin sekali, kalau dia akan terluka saat mendengar hal ini." jelas Ahmad panjang lebar.


"Lalu, kau mau bagaimana? Kau tidak pandai mencari informasi kan?" tanya kak Rani bingung.


"Sudahlah, tidak perlu di bahas hal itu." jawab Ahmad seadanya. Dia sedang sangat malas berfikir saat ini.


Ahmad memakai bajunya lagi saat kak Rani selesai mengeroki punggungnya. Kak Rani keluar dari dalam kamar Ahmad, sementara Ahmad juga sudah membaringkan tubuhnya di ranjang empuknya itu. Dia pusing sekali memikirkan hal ini. Ahmad mulai memejamkan matanya dan pergi ke alam mimpinya.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Syakirah dan teman-temannya sudah duduk di meja kerjanya masing-masing. Hari ini keadaan Syakirah dan juga Ahmad sedang tidak baik-baik saja. Wajah mereka berdua sudah pucat sekali sejak datang ke pabrik, itu karena kemarin malam mereka berdua tidak tidur dengan benar.


"Hei Syakirah, Ahmad, apa kalian berdua baik-baik saja? Wajah kalian terlihat sangat pucat sekali, hampir di bilang seperti... mayat." ujar Navile yang menggantung di akhir kalimatnya.


"Aku baik-baik saja." jawab Ahmad dan Syakirah kompak tapi dengan nada yang sangat lemas sekali.


"Sepertinya apa yang kau katakan tidak sesuai dengan kenyataannya." ujar Wahyu.


"Kami baik-baik saja." jawab Ahmad mencoba untuk menyakinkan mereka bahwa dia baik-baik saja.


"Iya, aku hanya kurang tidur saja kemarin. Makanya jadi seperti ini." sambung Syakirah.


"Apa kalian kemarin begadang bersama?" tanya Ryan.


"Tidak. Kami tidak begadang bersama, kami tidak bisa tidur di rumah kita sendiri." jawab Syakirah.


Mereka berempat hanya mengangguk saja mendengar jawaban dari Syakirah dan juga Ahmad. Sepertinya mereka berdua sedang ada masalah, pikir mereka berempat.

__ADS_1


Sebenarnya Syakirah ingin bercerita dengam Wahyu, tapi mengingat Wahyu juga suka dengan Kiya membuat Syakirah mengurungkan niatnya untuk bercerita dengan Wahyu. Dia hanya bisa bercerita dengan Ahmad saja kali ini. Jika waktunya sudah tiba, maka dia akan bercerita dengan Wahyu juga.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 11:45, Syakirah dan Ahmad tidak pergi ke kantin. Mereka berdua memilih untuk pergi ke belakang pabrik dan membicarakan soal Kiya dan Evan. Belakang pabrik terlihat sepi sekali dan hanya ada mereka berdua, itu karena karyawan pabrik masih menikmati makan siang.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Syakirah panik.


"Entahlah, aku juga tidak tahu. Masalahnya kita tidak bisa bercerita dengan Wahyu dan juga temannya, karena Wahyu memiliki perasaan dengan Kiya. Aku takut jika kita bercerita dengannya, dia akan sakit hati." jawab Ahmad.


"Lalu, kita harus bagaimana? Aku juga sudah menyuruh teman geng motorku untuk mencari informasi juga, tapi mereka tidak menemukan apa-apa sampai sekarang ini." ujar Syakirah frustasi.


"Syakirah, coba kau telpon Kiya dan tanyakan tentang perasaannya kepada Evan.".usul Ahmad.


Syakirah melongo dan langsung menatap Ahmad tak percaya.


"Apa kau mau mati?! Mana mungkin aku bertanya seperti itu kepadanya, langsung lagi!" ujar Syakirah kesal.


"Kau saja yang telpon."


"Kau kan sepupunya."


"Kau kan yang membutuhkan informasi itu, jadi kau lah yang harus menelponnya."


"Sebenarnya aku juga tidak butuh. Terserah kau mau menelponnya atau tidak, ini juga tidak merugikanku juga."


"Apa-apaan ucapanmu itu!"

__ADS_1


Mereka berdebat dan akhirnya Syakirah lah yang menelpon Kiya. Sebenarnya dia enggan, takut jika Kiya tiba-tiba marah tapi mau bagaimana lagi. Sambungan telpon mereka berdua tersambung. Syakirah mengaktifkan speakernya agar Ahmad juga mendengar kata-kata Kiya.


"Halo? Assalamualaikum, Syakirah? Ada apa?" terdengar suara Kiya dari seberang sana.


"Ah, iya. Waalaikumsalam, kak. Aku mau bertanya sesuatu kepadamu." jawab Syakirah gagu.


"Mau tanya apa? Kenapa kau tidak langsung bertanya saja?" tanya Kiya lagi yang ada di seberang sana.


"Tapi kau jangan marah ya, kak. Bagaimana perasaanmu kepada Evan? Apa kau menyukainua?" Syakirah takut-takut saat bertanya.


Yang ada di seberang sana diam, tidak menjawab. Bahkan yang awalnya tangannya menulis di buku menjadi berhenti gara-gara pertanyaannya Syakirah.


"Entahlah, sepertinya aku tidak menyukainya. Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau masih menyukainya?" jawab yang ada di seberang sana.


"Apa yang kakak bicarakan?! Aku sudah tidak menyukainya lagi! Aku hanya bertanya saja, apa tidak boleh!" ujar Syakirah kesal kepada seberang sana.


"Sepertinya aku tidak menyukainya, Syakirah. Berhentilah untuk menjodohkanku dengannya dan terus berusaha untuk mendekatkan diriku dengannya. Aku bukan selera yang tepat untuknya, jadi jika kau punya rencana sesuatu lebih baik kau batalkan saja. Dari pada aku kecewa padamu." ujar Kiya yang ada di seberang sana panjang lebar.


"Aku tidak memiliki rencana apapun, kak. Kau yakin tidak menyukainya? Dia adalah lelaki sempurna."


"Tidak. Di dunia ini tidak ada yang sempurna, semuanya juga memiliki kecacatan. Entah itu sifat, fisik ataupun tingkah laku. Jadi kau jangan terus menyuruhku untuk dekat dengannya. Bagiku dia sama seperti lelaki pada umumnya, tapi sedikit konyol."


"Kak, apa kau membenci Evan?" tanya Syakirah tidak percaya. Dia sendiri juga terkejut dengan pertanyaannya sendiri yang tiba-tiba keluar dari mulutnya.


"Tidak, aku tidak membencinya sama sekali. Aku hanya malas dekat dengan lelaki seperti dia. Aku juga tidak terlalu suka dengannya." jawab yang ada di seberang sana.


Setelah menanyakan beberapa hal dengan Kiya, Syakirah memutuskan sambungan telponnya. Dia menatap nanar hpnya itu. Tidak percaya kalau Kiya tidak menyukai Evan, padahal Evan sudah mengeluarkan banyak uang untuknya tapi Kiya masih tidak menyukai Evan.

__ADS_1


Syakirah sampai bingung melihat perasaan kakaknya yang sulit sekali di tebak. Syakirah berfikir kalau hati kakaknya sudah membeku atau mungkin karena dia pernah merasakan sakit hati? Tapi dengan siapa? Secara Kiya tidak pernah berhubungan dengan lelaki manapun. Asraf? Apa mungkin Kiya suka dengan Asraf? Dan hatinya membeku karena Asraf pergi meninggalkannya? Tapi apakah itu mungkin? Kiya bahkan tidak menyukai Asraf sama sekali, karena perbuatan Asraf di masa lalu. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala Syakirah secara tiba-tiba. Bingung dengan jalan perasaan kakak sepupunya itu.


Bersambung......


__ADS_2