
"Kenapa gak kelihatan? Lo kurang menghisap, Clara!" gerutu Roy.
"Gue gak tau gimana caranya, Roy. Lo juga ngasih tau gue kan? Gue gak tau gimana caranya. Gue cium leher lo tadi juga gue niru di drakor, gue gak pernah tau gimana caranya, Roy. Lah lo sendiri juga langsung nyuruh gue buat tandai leher lo tanpa ngajari gue kan? Jadi lo gak boleh protes dan salahin gue, Roy!" Clara juga ikut menggerutu juga. Dia bahkan sampai duduk dengan keras di atas perut Roy sampai membuat sang empunya kesakitan, Clara sangat kesal sekali.
Roy bangun dari duduknya tapi tidak memperbolehkan Clara berpindah tempat, Roy menahan punggung Clara agar tidak pindah dari pangkuannya.
"Roy, pinjam hpnya serius gue butuh banget." Clara mencoba untuk memohon kepada Roy lagi.
"Lo buat apa sih?" tanya Roy heran. Bahkan Clara juga meminjam dengan cara paksaan.
"Gue mau hubungi tetangga gue. Bilang ke dia kalau gue gak akan pulang beberapa hari ke depan. Dia itu udah kayak ibu gue, Roy. Jadi gimanapun gue harus kasih tau dia, bisa aja sekarang dia khawatir." jelas Clara.
Tanpa berfikir panjang Roy menyerahkan hpnya, Clara tersenyum senang. Clara diam, mencoba untuk mengingat nomor hp ibu tadi, setelah dia ingat dia mengetikkan nomor hp itu. Sambungan telpon pun tersambung.
"Halo? Assalamualaikum? Ini siapa ya?" ujar di seberang sana.
"Halo, bu. Waalaikumsalam. Ini Clara, bu." jawab Clara.
"Ya Allah, Clara. Kamu dari mana aja, nak? Gak pulang 2 hari, ibu khawatir. Di telpon juga gak di angkat. Kamu baik-baik aja kan, nak?"
"Clara baik-baik aja kok, bu. Oh iya bu, Clara mau bilang ke ibu kalau beberapa hari ke depan Clara gak pulang ke rumah." jelas Clara kepada seberang sana.
"Loh kenapa?"
"Clara ada urusan, bu. Ini juga mendadak jadi Clara minta maaf ya gak bisa bilang langsung ke ibu." terdengar helaan nafas di seberang sana.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu, ibu cuma khawatir kamu kenapa-kenapa. Jaga kesehatan ya, Clara. Gak boleh sampai telat makan." tutur di seberang sana.
"Iya, bu. Kalau gitu aku tutup dulu ya telponnya. Assalamualaikum."
"Iya, Waalaikumsalam."
Sambungan telpon pun terputus, Clara mengembalikan hp Roy kepada pemiliknya. Clara sudah mau berdiri dari pangkuan Roy tapi Roy menahan punggungnya.
"Kenapa, Roy?" tanya Clara saat Roy menahan punggungnya. Roy menunjuk lehernya lagi, Clara semakin frustasi sekali.
"Roy, udah gue bilang gua gak bisa kan tadi." gerutu Clara.
Roy langsung menarik rambut pendek Clara agar Clara mendongak ke atas, setelah itu Roy menaruh wajahnya di leher Clara. Roy menjilat, menghisap bahkan sampai menggigit leher Clara, Clara menggigit bibirnya agar suaranya tidak keluar dari mulutnya. Setelah selesai Roy menjauhkan wajahnya dari leher Clara dan melihat tanda kepemilikannya, Roy tersenyum senang saat tanda kepemilikannya terlihat dengan sangat jelas dan sangat sempurna.
"Kayak gini, La. Lo harus tandai leher gue kayak gini." ujar Roy.
"Roy, gimana cara gue nutupinnya coba kalau kayak gini?! Rambut gue itu cuma sebahu lebih dikit, buat nutupi leher gue yang mungkin bisa lah!" gerutu Clara.
"Gak usah di tutupin, biar semua orang tau kalau lo itu udah ada yang punya." sahut Roy dengan santainya. "Sekarang giliran lo buat kasih tanda di leher gue. Ayo cepetan." Roy kembali tidur lagi.
"Tadi kan udah, Roy. Gue capek."
"Mau keluar dari kamar gue apa nggak?" tanya Roy. Clara pasrah, akhirnya dia menandai leher jenjang Roy lagi, dia mengulanginya beberapa kali karena tanda yang dia berikan tidak sesuai dengan tanda milik Roy. Setelah menandai bagian-bagian yang di tunjuk Roy tadi dan hasilnya sama dengan tanda yang ada di leher Clara.
Clara bangun dari tubuh Roy dan duduk di perut Roy lagi. Roy juga ikut bangun, dia memeluk tubuh Clara dengan sangat erat sampai Clara kebingungan sendiri.
__ADS_1
"Sakit." lirih Roy yang semakin membuat Clara kebingungan.
"Lo sakit, Roy?" Clara menyentuh leher dan dahi Roy, tapi tidak panas dan tubuh Roy juga terlihat normal. "Badan lo gak panas kok, Roy. Terus yang sakit apa lo? Leher lo? Lagian lo ngapain nyuruh gue buat tanda kepemilikan?!" lanjut Clara.
"Bukan." lirih Roy lagi yang membuat Clara pusing tujuh keliling.
"Terus apa lo yang sakit?" tanya Clara lagi.
Roy menggiring tangan Clara, Clara pun hanya ikut saja. Roy menempelkan tangan Clara ke j*n**rnya yang sudah mengeras, wajah Clara merah padam menahan malu.
"Ini yang sakit." lirih Roy lagi.
Roy menggiring tangan Clara agar mengusap j*n**rnya, Clara sebenarnya juga sangat risih tapi melihat wajah Roy yang seperti itu membuat dia tidak tega. Clara hanya menurut saja. Roy memeluknya, tangan Clara juga sudah memeluk Roy. Mereka berdua sama-sama berpelukan. Roy menarik tubuh Clara agar tidur di dalam dekapannya.
"Roy, gue mau balik ke kamar." ujar Clara yang mencoba untuk melepaskan pelukan Roy.
"Tidur disini aja sama gue." jawab Roy dengan mata yang terpejam sambil memeluk Clara dengan sangat erat.
"Gak mau!" tolak Clara dengan tegas. Clara mencoba untuk meronta-ronta tapi Roy malah mempererat pelukannya dan melingkarkan kakinya di kaki Clara.
"Clara, diam! Hasrat gue sedang ada di ujung sekarang ini! Kalau lo gak bisa diam, gue masukin lo sekarang juga! Mau lo?" lirih Roy yang mencoba untuk menahan hasratnya.
Clara langsung diam mendengar ucapan Roy, dia tidak bergeming sama sekali. Clara hanya diam saja saat Roy menenggelamkan wajahnya di lehernya, yang ada Clara malah mengusap rambut Roy dengan perlahan. Clara tidak berhenti untuk mengusap rambut Roy. Saat di pastikan Roy benar-benar tertidur, Clara mensejajarkan wajahnya dengan wajah Roy, Clara melihat wajah Roy yang sedang tenang, tampan.
Cup.
__ADS_1
Clara mengecup sekilas bibir Roy, ada rasa senang saat Roy bilang kalau dia mencintai Clara lagi tapi Clara juga takut Roy akan meninggalkannya nanti. Clara menenggelamkan wajah Roy ke lehernya lagi dan mengusap rambut Roy perlahan. Ujung bibir Roy tertarik samar, dia hanya pura-pura tidur untuk melihat reaksi Clara tapi yang ada Clara mencium bibirnya tanpa Roy suruh. Roy semakin mempererat pelukannya agar Clara tidak bisa kabur nanti saat Roy benar-benar tidur, padahal tadi Roy sudah mau berangkat ke markas tapi urung. Dia lebih memilih bersama Clara dari pada datang ke markas yang harus menyelesaikan masalah. Akhirnya 2 insan itu tidur dengan pelukan hangat mereka.
Bersambung......