
Kiya masih setia mendengar penjelasan dari Ahmad. Dia diam beberapa saat padahal Ahmad sudah selesai menjelaskan.
"Ahmad."
"Ya?" jawab di seberang sana.
"Kau lelaki br*ngs*k yang pernah aku temui!" jawab Kiya dengan amarah.
"Astaga Kiya, bukankah aku sudah menjelaskannya…"
Tut…
Bunyi sambungan telfon terputus. Kiya memang sengaja memutuskan sambungan telfonnya dengan Ahmad. Dia benar-benar kesal sekali pada Ahmad.
Sementara Ahmad sedang mengumpat kesal karena Kita memutuskan sambungan telfonnya.
Kiya kembali ke rumah Abel. Dia benar-benar kecewa sekali dengan Ahmad. Jika Ahmad memang di tugaskan di pabrik tempat Syakirah bekerja, kenapa Ahmad tidak menolak.
Kiya sampai di rumah Abel. Dia berjalan ke arah kamar dan melihat Syakirah dan Abel masih tidur. Karena dia tidak bisa tidur akhirnya dia pergi ke ruang tamu.
Kiya melihat Ahmad mengirimkan pesan kepadanya. Kiya berdecih melihat pesan Ahmad.
"Ahmad, berhenti untuk menganggu Syakirah atau aku akan membawanya pergi dari sini! Aku tidak segan-segan membawa Syakirah pergi dari sini, karena Syakirah pasti akan setuju jika aku mengajaknya menjauh darimu!"
Kiya mengirimkan pesan tersebut kepada Ahmad. Dia menatap langit-langit ruang tamu dan menghela nafas panjang.
Triingg…
Menandakan ada pesan masuk. Kiya membuka ponselnya dan mendapatkan pesan dari Ahmad.
"Kiya, ku mohon jangan bawa Syakirah menjauh dariku. Bukankah aku sudah menjelaskannya padamu tadi? Percayalah kepadaku Kiya aku tidak ada maksud untuk pindah ke pabrik tempat Syakirah bekerja." Ahmad mengirimkan pesan kepada Kiya.
Kiya hanya memandang pesan Ahmad. Memikirkan keadaan Syakirah yang saat ini sedang bingung tidak tahu harus bagaimana. Kiya tiba-tiba menelpon Wahyu dan tidak menggubris pesan dari Ahmad.
Ttuuutt…
Akhirnya tersambung dengan Wahyu.
"Kiya ada apa? Tumben tiba-tiba telpon?"
"Wahyu… apakah benar kalau Ahmad ada di pabrik tempat mu bekerja?" tanya Kiya memastikan.
"Iya kau benar."
"Apakah kau sudah menyelidiki kenapa Ahmad ada disana?" tanya Kiya lagi.
"Sudah. Tapi aku belum menemukan jawabannya. Aku masih berusaha mencari tahu. Memangnya kenapa?" tanya Ahmad di akhir kalimatnya.
"Wahyu, apa yang akan kau lakukan jika Ahmad benar-benar bekerja disana?"
Wahyu diam tidak menjawab, dia tahu apa yang akan di khawatirkan oleh Kiya saat ini.
"Kiya, apa kau mengkhawatirkan perasaan Syakirah?"
Bukannya menjawab malah bertanya balik. Dasar Wahyu, sudah tahu Kiya sedang khawatir masih saja bertanya.
"Iya. Hiks."
"Jangan menangis, Kiya. Kau tenang saja, jika Ahmad benar-benar bekerja disana maka aku akan resign dari pabrik bersama Syakirah. Aku tidak akan meninggalkan Syakirah begitu saja. Aku yang akan menemaninya nanti. Kau tenang saja."
"Wahyu, Syakirah itu sudah merasakan sakit hati yang cukup dalam. Aku tidak mau kalau sampai dia merasakannya lagi."
"Aku tahu. Aku tahu sekali. Aku sudah menyiapkan rencana jika Ahmad benar-benar bekerja disana. Kau tenang saja. Kau bisa memegang ucapanku."
__ADS_1
Hening sesaat. Tidak ada yang melanjutkan pembicaraan. Diam dengan pikiran masing-masing.
"Terima kasih Wahyu. Terima kasih karena kau telah menemani Syakirah sampai saat ini."
"Aku sudah menganggap Syakirah seperti saudaraku sendiri. Jangan berterima kasih."
"Ya. Kalau begitu aku tutup telponnya."
"Ya."
"Wassalamualaikum." pamit Kiya kepada Wahyu.
"Waalaikumsalam."
Kiya memutuskan sambungan telponnya. Tanpa dia sadari, Syakirah sedang mendengarkan pembicaraan antara Wahyu dan Kiya. Dia menitikkan air mata haru. Merasa bersyukur mendapat saudara seperti Kiya dan juga mendapatkan sahabat seperti Wahyu.
Syakirah berjalan ke arah Kiya.
"Kak."
Kiya terpingkal terkejut mendengar namanya disebut oleh Syakirah.
"Syakirah?"
Syakirah menghampiri Kiya. Dia memeluk sepupunya ini dan menangis sesenggukan Di pelukan Kiya.
"Kak, terima kasih karena sudah mengkhawatirkan perasaanku. Tapi aku mohon biarkan aku memutuskan pilihanku sendiri."
Syakirah berbicara dengan Kiya. Kiya tidak menjawab ucapan Syakirah. Dia tidak yakin tentang Syakirah memilih keputusannya sendiri, karena Syakirah pasti akan menyesal dengan pilihannya nanti.
"Apa kau sudah siap, Syakirah?" tanya Kiya.
"Hah? Sudah siap untuk apa?"
"Itu…"
"Jika kau tetap ada pabrik saat Ahmad sudah bekerja disana, maka kau harus siap untuk bertemu dengan musuh bebuyutan kita, Hanifa. Kau tahu setiap kali ada Ahmad pasti sembilan puluh persen Hanifa juga ada bersama Ahmad."
"Aku tahu itu."
"Kalau begitu, apakah kau sudah siap?" tanya Kiya lagi.
Syakirah nampak berfikir. Apa yang di ucapkan Kiya ada benarnya, melihat Ahmad berjalan dengan Hanifa membuat hatinya sakit. Tapi bagaimanapun Syakirah tidak ingin terus-terusan terjebak dalam masa lalu.
"Aku… sudah siap, kak."
Kiya dibuat terkejut oleh ucapan Syakirah.
"Apa kau yakin?" tanya Kiya memastikan.
"Aku yakin kak. Aku tidak akan bersembunyi di balik tubuh kakak terus. Aku sudah dewasa. Aku bisa memilih antara mana yang benar dan mana yang salah. Aku sudah siap kak!"
Kiya menatap Syakirah, merasa terharu karena akhirnya Syakirah memberanikan dirinya untuk berhadapan dengan Ahmad. Kiya memeluk Syakirah erat.
"Jika ada apa-apa bilang saja. Kakak akan membantumu."
"Iya kak. Tapi… "
Kiya melepaskan pelukannya dan menatap Syakirah.
"Tapi apa?"
"Tapi, aku akan pergi ke Dokter psikiater dulu."
__ADS_1
Kiya dibuat terkejut lagi dengan Syakirah. Bagaimana bisa Syakirah berfikiran seperti itu?
"Kenapa harus ke Dokter psikiater?" tanya Kiya panik.
"Kak, bagaimanapun Dokter psikiater lebih tahu dari pada kita. Dia lebih berpengalaman memperbaiki hal-hal seperti ini."
"Syakirah…"
"Kau tenang saja, kak. Aku akan baik-baik saja."
Kiya mengangguk. Dia akan membiarkan Syakirah mencari jalan hidupnya sendiri dengan caranya sendiri. Dia hanya bisa menasehati Syakirah saat ini. Syakirah sudah ada pada tekadnya maka ini akan sulit berubah jika Syakirah sudah bertekad seperti ini.
Syakirah dan Kiya keluar dari rumah Abel untuk berjalan-jalan dan mencari udara segar, agar sesak di hati mereka sedikit berkurang.
***
Sementara suasana di pabrik begitu sangat tidak mendominasi. Wahyu benar-benar tidak fokus dengan pekerjaannya sama sekali. Dia memikirkan keadaan Syakirah saat ini. Dia berfikir kalau Syakirah sedang tidak baik-baik saja saat ini.
"Wahyu, kau jangan terlalu memikirkan hal itu." ujar Ryan.
"Ck. Kau itu tahu apa sih! Lebih baik kau diam saja!"
"Cih."
Wahyu keluar dari ruangannya. Rey, Ryan dan Navile hanya melihat Wahyu berjalan keluar tanpa mengikutinya.
Wahyu pergi ke toilet. Bagi dia tidak ada yang lebih baik dari pada toilet. Saat dia sampai di toilet, dia membuka satu-persatu pintu toilet untuk memastikan tidak ada orang. Setelah memastikan tidak ada orang, Wahyu berteriak frustasi sambil menatap pantulan dirinya di cermin.
Aku harus menghubungi Ahmad. Harus.
Wahyu mengeluarkan ponselnya dari saku celananya. Dia menekan nama Ahmad pada ponselnya. Lama tidak ada jawaban. Sambungannya terputus, lalu Wahyu menekannya lagi. Panggilan pun tersambung.
"Hallo, siapa ya?" tanya di seberang sana. Wahyu memang meminta nomor Ahmad dari Kiya untuk berjaga-jaga jika ada hal seperti ini.
"Hei Ahmad, kita harus bertemu!" jawab Wahyu.
"Maaf, ini siapa ya?"
"Ini aku, Wahyu."
"Oh Wahyu. Kenapa kau mengajakku bertemu?"
"Ada yang harus kita bicarakan!"
"Tentang apa?"
"Jangan banyak bicara. Lakukan saja!"
"Kalau tidak mau bagaimana?"
"Maka kau harus bersiap untuk kehilangan Syakirah."
"Beritahu alamatnya!"
"Kita bertemu di caffe XX saat weekend, jam sembilan. Aku tunggu kau disana."
Setelah mengatakan itu, Wahyu mengakhiri pembicaraannya dengan Ahmad. Dia berjalan menuju ruangannya kembali.
Dasar, kalau menyangkut tentang Syakirah langsung cepat tanggap. Kalau kau begitu, kenapa kau dulu menyia-nyiakannya, bodoh! gumam Wahyu yang sedang berjalan menuju ruangannya.
Sementara Ahmad sedang menatap layar ponselnya bingung. Ahmad akan bertindak langsung jika menyangkut Syakirah.
Apa yang sebenarnya Wahyu sedang rencanakan? Aku tidak akan membiarkan Syakirah pergi begitu saja. Aku harus mendapatkannya kembali. Harus.
__ADS_1
Bersambung......