
"Sorry, gue cuma iseng aja tadi. Gak usah marah kenapa sih! Gue tadi niatnya ngeprank lo, eh taunya lo udah tau gue. Btw, gue dapat nomor lo dari anak buah gue. Jadi lo jangan marah." pesan dari Evan.
Dari pada meladeni Evan lebih baik Kiya pergi untuk mencuci piring. Bisa gila dia kalau meladeni Evan. Sementara Evan sedang menggerutu kesal karena Kiya mengabaikan pesannya, padahal Evan sudah berbaik hati karena sudah mengucapkan kata maaf. Karena kata maaf dari Evan sangat berharga, jarang-jarang dia mengatakan maaf kepada seseorang.
"Si Kiya itu cewek apa bukan sih?! Masa iya ada cewek sedingin es kayak gitu?! Aneh tau gak!" gerutu Evan. "Chat gue cuma di read doang lagi." lanjutnya lagi.
***
Sementara Wahyu dan ketiga temannya sedang berkumpul, 2 sedang bermain kartu, 1 sedang menyanyi dengan gitar, satunya lagi sedang bermain dengan ponselnya.
"Woi Wahyu, kapan kita ketemu sama Syakirah?" tanya Ryan.
"Weekend minggu depan." jawab Wahyu singkat.
"Lama sekali, kenapa tidak weekend minggu ini?" tanya Ryan lagi.
"Kiya tidak bisa weekend minggu ini, pekerjaannya sedang menumpuk karena ujian tengah semester sudah tinggal beberapa minggu lagi." jawab Wahyu lagi.
"Kenapa harus ada Kiya? Kalau tidak ada Kiya juga tidak apa-apa kan?" tanya Ryan lagi. Wahyu langsung memberikan tatapan kematian untuk Ryan.
"Eh? Memangnya ada yang salah dengan ucapanku? Perasaan tidak ada." ujar Ryan gelagapan.
"Syakirah tidak mau bertemu dengan kita kalau tidak ada Kiya. Jangan salahkan dia, ini juga karena kalian juga!" ujar Wahyu yang mulai tersulut emosi.
"Iya-iya kami minta maaf. Aku tahu kok bagaimana keadaan posisi kita sekarang." ujar Ryan. Wahyu tidak menjawab, dia lebih memilih untuk bermain dengan ponselnya.
"Oh iya, kurang beberapa minggu lagi adalah ulang tahun Syakirah kan? Kira-kira kita mau melakukan apa untuk ulang tahunnya?" tanya Navile.
__ADS_1
"Sebelum ulang tahun Syakirah adalah ulang tahun Ahmad. Apa kalian tidak mau membuat kejutan untuk Ahmad?" tanya Wahyu.
"Apa? Benarkah?" tanya Ryan tak percaya.
"Hmm. Ulang tahun mereka berdua hanya berjarak 16 hari saja, Ahmad yang lebih dulu." jawab Wahyu.
"Memangnya kita mau membuat kejutan apa untuk dia? Kita juga tidak terlalu dekat dengan dia." ujar Rey.
"Dia teman kerja kita, teman dinas kita, teman satu ruangan kita, anggap saja begitu." ujar Wahyu.
"Lalu, apa kau mau memberikannya kejutan?" tanya Ryan. "Dia kan laki-laki, masa iya di kasih kejutan juga? Kan cucok gitu ya kan?" lanjut Ryan lagi. Rey dan Navile tertawa dengan ucapan Ryan.
"Apakah kau tidak bisa untuk tidak bermain-main? Kita tidak akan memberikannya kejutan. Dari apa yang aku dengar, saat Ahmad ulang tahun dia akan mengadakan acara makan-makan di rumahnya. Biasanya dia akan mengundang teman-temannya. Kita bisa kesana saat ulang tahunnya." jelas Wahyu.
"Tapi kita kan tidak di undang." ujar Ryan.
"Apa kita perlu memberi dia hadiah?" tanya Navile.
"Sepertinya iya, tapi jika tidak juga tidak apa-apa." jawab Wahyu.
"Apa kau akan memberikannya hadiah?" tanya Rey. Wahyu tersenyum licik, ada rencana di dalam otaknya saat ini.
"Kenapa kau tersenyum begitu? Ada yang lucu?" tanya Rey.
"Tidak ada, aku sudah menyiapkan hadiah untuknya." jawab Wahyu.
"Apa? Sudah? Cepat sekali. Kapan kau membelinya? Kau memberi dia hadiah apa?" tanya Navile tak percaya.
__ADS_1
"Rahasia." jawab Wahyu sambil menyengir.
"Huh! Kau pelit sekali jika soal seperti ini!" ujar Ryan. "Aku bahkan tidak memikirkan Ahmad, aku hanya memikirkan tentang ulang tahun Syakirah. Aku sih inginnya kita memberi kejutan untuk dia." lanjut Ryan lagi.
"Kita tidak bisa membuat kejutan sendiri seperti dulu lagi. Syakirah sudah kembali ke dalam geng motornya, jadi geng motornya pasti akan mendahului kita." ujar Wahyu.
"Lalu bagaimana?" tanya Rey.
"Kita harus berdiskusi dengan mereka." jawab Wahyu.
Apalagi ada Evan, dia pasti tidak akan mau kalah dengan semua orang! Ck! Meresahkan sekali! batin Wahyu.
"Hah?! Berdiskusi dengan mereka?! Sudah gila apa ya! Aku masih sayang dengan nyawaku! Apa kau mengerti itu?!" ujar Ryan tak percaya dengan apa yang di ucapkan Wahyu.
Berdiskusi dengan geng motor Syakirah? Bagi Ryan itu sungguh menakutkan. Karena setiap geng motor Syakirah bertemu dengannya, Ryan yakin sekali kalau mereka akan memberikan tatapan mautnya. Dan Ryan tidak akan pernah mau jika harus berdiskusi dengan mereka. Jangankan berdiskusi, untuk melihat mereka saja Ryan sudah tidak sudi l.
"Terserah jika kau tidak mau, tapi aku akan tetap mendiskusikan ini kepada mereka. Kalian setuju atau tidak, aku tidak peduli." ujar Wahyu.
Bagaimanpun Evan sudah kembali dari Jakarta dan yang paling utama adalah, Evan tidak mau ada yang mendahuluinya. Evan harus jadi yang pertama untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada Syakirah. Tapi masalahnya bukan itu.
Jika geng motor Evan ikut merayakan, itu artinya geng motor Syakirah juga harus berdiskusi dengan geng motor Evan. Dan dia dan ketiga temannya harus ikut berdiskusi juga. Dan yang paling Wahyu takutkan adalah bagaimana kalau sampai teman-temannya tahu kalau Evan adalah mantan Syakirah juga? Apakah mereka akan marah karena Syakirah sudah menyembunyikan hubungannya tanpa sepengetahuan mereka? Mereka pasti bertanya-tanya siapa mereka, dan Wahyu akan kebingungan saat menjelaskannya kepada mereka. Memikirkannya saja sudah membuat Wahyu pusing tujuh keliling. Masalah ini harus dia diskusikan dengan Kiya, karena Wahyu yakin kalau Kiya bisa tahu jawabannya.
***
Sementara di markas geng motor Evan, Evan sedang menceramahi anak buahnya tentang ulang tahun Syakirah. Ya, Evan sama-sama memikirkan ulang tahun Syakirah, sama seperti Wahyu saat ini. Evan selalu menyiapkan kejutan jauh sebelum ulang tahun Syakirah, agar tidak terjadi hal-hal yang tidak di inginkan.
Waktu Evan ada di Jakarta, dia selalu memerintahkan anak buahnya untuk berbuat ini itu saat ulang tahun Syakirah. Meskipun dia tidak bisa datang dan tidak bisa membuat kejutan langsung untuk Syakirah, dia berusaha semaksimal mungkin untuk menyiapkan kejutan yang sempurna untuk Syakirah. Dan saat ini dia sudah kembali dari Jakarta, dan Evan lah yang akan merencanakan semuanya tanpa membutuhkan pikiran anak buahnya. Evan egois? Ya tentu saja, dia kan ketua geng motor, dia kan anak bungsu dari keluarga yang kaya, apa saja yang dia minta pasti akan di turuti, apalagi dia yang paling kaya di antara teman-temannya. Sombong? Oh tentu saja, bukan Evan namanya jika tidak sombong.
__ADS_1
Bersambung......