Dipersatukan Oleh Perjodohan

Dipersatukan Oleh Perjodohan
Aksi Rey, Ryan dan Navile


__ADS_3

Syakirah masih memikirkan kata-katanya. Dia bingung harus berkata apa, tapi jika dia mengatakan semuanya apa dia sanggup?


"Syakirah, kau tidak perlu pusing-pusing. Katakan saja apa yang ingin kau katakan." ujar Kiya.


Syakirah akhirnya mengatakan semua yang selama ini dia pendam dengan Ahmad. Wahyu sudah siap dengan kameranya.


"Ahmad, aku ingin jujur kepadamu. Sebenarnya saat kita ke wisata XX aku tidak bahagia. Aku hanya tersenyum di hadapanmu tapi tidak di hatiku. Aku hanya ingin memaafkanmu, itu saja. Permintaan maafmu sudah cukup untukku. Aku akui, selama ini aku memendam rasaku kepadamu. Aku tidak ingin mengungkapkannya karena aku sadar kalau aku bukan siapa-siapa mu lagi. Kak Kiya selalu mengajakku untuk pergi dari sini dan melupakan semua masa laluku yang sangat kelam. Tapi, aku selalu menolaknya. Dan… saat ini… " Syakirah menjeda ucapannya. Hatinya tidak kuat untuk menahannya, akhirnya air mata Syakirah jatuh begitu saja.


"Dan saat ini… aku menyetujui permintaan kak Kiya. Aku pikir ini akan menguntungkan kedua belah pihak. Aku akan bahagia tanpa mengenang masa lalu ku, sementara kau akan bebas tanpa rasa bersalah. Ahmad, aku berterima kasih kepadamu karena pernah hadir di hidupku. Aku sangat berterima kasih kepadamu. Dan, aku ingin pamit kepadamu. Aku akan pergi dari sini dan memulai hidupku yang baru. Aku harap kau tidak menganggu ku lagi saat kita bertemu di lain hari. Aku akan pergi untuk melupakanmu. Kita sepertinya memang tidak bisa bersama, oleh sebab itu kita tidak perlu memaksanya. Aku ucapkan terima kasih sekali lagi karena pernah hadir di kehidupanku. Semoga kau bahagia dengan pilihanmu."


Rekaman selesai. Syakirah benar-benar tidak sanggup untuk mengatakan yang sesungguhnya. Kiya menghampiri Syakirah dan memeluknya.


"Sudah, jangan menangis. Takdir kita sudah di tentukan. Jika kau memang berjodoh dengan Ahmad, maka kalian akan di pertemukan oleh Allah." Syakirah masih terus menangis di pukulan Kiya.


"Rekaman selesai. Lalu Kiya kita harus apa lagi? Menghampiri Ahmad dan menjalankan misi?" tanya Rey.


"Tidak. Jalankan aksi kalian besok malam. Untuk sekarang aku dan Wahyu akan membawa Syakirah pergi. Besok pukul 8 malam, hampiri Ahmad dan bicara dengan dia. Kalian lakukan apa saja yang bisa membuat kalian puas. Lagi pula orang tua Ahmad tidak ada di rumah saat ini, mereka pergi selama sebulan untuk keluar kota. Lakukan saja apa yang ingin kalian lakukan." jawab Kiya. Mereka mengangguk.


Akhirnya Kiya dan Wahyu membawa Syakirah pergi dari sini. Ke tempat dimana Syakirah akan mencoba hidup lebih tenang. Mereka akhirnya memulai perjalanan mereka setelah berpamitan tadi.


"Apa kita akan mengendarai mobil ini untuk ke Bandung?" tanya Wahyu saat sudah sampai di jalan raya.


"Memangnya kau mau naik apa? Naik pesawat? Lalu mobil kakakku bagaimana? Kau pikir aku punya pesawat pribadi sampai aku harus membawa mobil ini juga!" jawab Kiya ketus.


Saat ini yang di depan adalah Kiya dan Ahmad dan di belakang hanya Syakirah seorang yang sedang merenungi nasibnya. Syakirah terus melamun.


Apa dengan kepergianku Ahmad akan sadar? Atau malah Ahmad bersikap biasa-biasa saja? batin Syakirah.


"Bukan begitu maksud ku. Kita akan naik pesawat dan kita akan berjalan kaki saat sudah sampai di Bandung." jelas Ahmad.


"Aku tidak mau! Lebih baik seperti ini meskipun perjalanannya lama!" jawab Kiya ketus. Maklum lagi pms, bawaannya marah mulu.


Wahyu hanya mengangguki ucapan Kiya tanpa menjawabnya.


***


Rey sedang menyiapkan rencananya dengan sangat matang. Dia tahu harus berbuat apa tapi dia juga harus bisa menerima resikonya.


"Rey, aku harap kita menggunakan kontak fisik untuk memberitahu Ahmad." ujar Navile.

__ADS_1


"Kalau itu sudah pasti. Kau tidak mungkin berfikir kita akan bicara saja kan kepada Ahmad, Rey?" ujar Ryan.


"Soal itu kita bicarakan besok pagi saja. Sekarang kita latihan dulu. Kita tidak pernah bisa akting bukan? Jadi lebih baik kita latihan dulu." Mereka mengangguk dan mulai latihan.


***


Keesokan paginya, Rey sedang menelpon Wahyu untuk menanyakan kabar mereka. Tidak mungkin dia menelpon Kiya untuk itu, pasti yang ada Kiya akan marah dan menjawab dengan ketus.


"Ada apa?" tanya di seberang sana.


"Bagaimana? Apa kalian sudah sampai?" tanya Rey.


"Sudah."


"Apa? Sudah? Cepat sekali." tanya Rey heran.


"Kita melewati tol, jadi lebih cepat." jelas Wahyu.


"Apa kalian sudah sarapan?" tanya Rey sambil mengoleskan selai ke rotinya. Rey akan sarapan roti jika cuti seperti ini.


"Kita masih mencarinya."


"Sepertinya kontrakkan. Karena jika kami menginap di hotel selama sebulan, maka biaya pengeluaran akan banyak."


"Begitu ya. Ya sudah kalau begitu, aku tutup panggilannya ya."


"Ya."


Akhirnya Rey istirahat lagi. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk istirahat saat cuti begini.


***


Jam menunjukkan pukul 8 malam. Rey, Ryan dan Navile sudah ada di depan rumah Ahmad. Mereka cukup gugup. Akankah mereka bisa berakting di depan Ahmad?


"Rey, aku takut tidak bisa." ujar Ryan berbisik.


"Ck. Kau pikir aku juga tidak begitu!" jawab Rey berbisik juga.


"Navile, kau yang menjalankan aksinya ya?" Rey.

__ADS_1


"Tidak. Aku tidak bisa, aku terlalu gugup. Aku tidak terbiasa untuk acting seperti ini." tolak Navile.


Akhirnya mau tidak mau Rey yang akan melakukannya. Rey mengetuk pintu rumah Ahmad.


Tok… tok… tok…


"Rey, hati-hati." Ryan.


"Diamlah!" Navile.


"Ya, tunggu sebentar." jawab dari dalam. Mereka mendengar itu seperti ucapan Ahmad.


"Rey, bersiap-siap." Ryan.


"Tidak kau suruh pun aku juga sudah tahu!" Rey.


Terdengar suara pembukaan kunci. Navile melihat dari jendela kalau itu adalah Ahmad.


"Rey, Ahmad." kode Navile. Rey mengangguk.


Pintu terbuka dan…


Buuukkh.


Rey langsung memukul wajah Ahmad. Ahmad tentu saja terkejut. Ahmad melihat kalau ada teman Wahyu. Sudut bibir Ahmad berdarah. Rey Ryan dan Navile terus memukul Ahmad. Mereka benar-benar sangat natural saat menjalankan aksinya. Kak Rani yang mendengar ada keributan di rumah langsung keluar dari kamar. Kak Rani melihat kalau adiknya sedang dikeroyok.


"Berhenti! Apa yang kalian lakukan kepada adikku?!" ujar kak Rani menghentikan mereka. Mereka mundur sementara kak Rani membantu Ahmad untuk berdiri.


"Oh, jadi kau yang bernama Rani, Rani itu ya. Aku tidak menyangka caramu sangat licik sekali." ujar Rey.


Bersambung......


***


Happy eid mubarak🙏🏻


Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1-2 Syawal 1142 H. Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir dan batin🙏🏻🙏🏻


Author minta maaf ya sama kalian, kalau author punya salah dan pernah khilaf ke kalian🙏🏻 Karena Author juga manusia biasa seperti kalian yang tidak luput dari kesalahan. 🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2